Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.123 (S2) Saat Hati dan Otak Tak Sejalan


__ADS_3

Luna kini sudah berada di kamarnya. Setelah kepulangan Aglian, Luna segera masuk ke dalam kamar, membersihkan diri kemudian lanjut berganti pakaian. Hari sudah kian larut, bahkan sudah sangat larut, hanya dengan hitungan menit saja, jarum jam akan menunjukkan pukul 12 malam. Namun, hingga waktu sudah selarut itu, Luna tak kunjung bisa memejamkan matanya. Justru sebaliknya, ia sibuk berguling ke kanan dan ke kiri dengan tubuh yang terbungkus selimut. Sesekali ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah dengan bibir terkembang sempurna.


Luna bingung dengan apa yang ia rasakan. Jantungnya terus berdegup kencang. Senyuman pun seperti tak mau luntur dari bibirnya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Pipinya memanas hingga mencetak rona merah setiap mengingat apa yang Aglian lakukan padanya di dalam mobil. Hanya karena sebuah kecupan di dahi, Luna jadi salah tingkah. 'Kok gue jadi baperan gini sih!' Luna berdecak dalam hati.


Luna tak mengerti mengapa ia seperti sangat bahagia saat mendapatkan perlakuan yang sangat manis dari Aglian. Padahal Kentaro juga memperlakukannya sangat manis dan suka mengajaknya ke tempat-tempat yang romantis tapi ia tak merasakan kesan apapun selain perasaan senang yang biasa. Tapi saat dengan Aglian, perasaannya berbeda.


'Kok Mas Lian jadi manis banget kayak gitu sih? Gula sama madu, manisnya lewat. Terus apaan tadi, pake nyosor-nyosor segala. Ni juga jidad, mau-maunya aja dikecup tanpa izin!' omel Luna dalam hati sambil mentoyor jidadnya sendiri. 'Tapi kok gue malah seneng ya! Aaargh ... gue kenapa sih?' racaunya sambil guling-guling tak jelas .


brukkk ...


Awww ...


"Hadeuh ... pinggangku ..." Luna meringis mengusap pinggangnya yang sakit karena terjatuh dari tempat tidur.


Bruak ...


Pintu kamar Luna didorong paksa oleh Lia, disusul Tita.


"Loe nggak papa, Lun?" tanya Tita panik saat melihat tubuh Luna yang masih terbungkus selimut terkapar di lantai . Tita gegas membantu Luna berdiri dan melepaskan selimutnya.


"Gue nggak papa, kok! Cuma pinggang gue aja yang sakit ..." ujar Luna sambil tersenyum lebar padahal aslinya ia benar-benar malu.


"Loe mimpi jorok ya, Lun sampai terjatuh kayak gitu?" tanya Lia sok tau.


"Ish, enak aja, emang gue ,elo." Luna mendelik seraya melemparkan bantal ke wajah Lia. Lia hanya menyengir setelah berhasil memungut bantal yang sempat mengenai wajahnya.

__ADS_1


"Ya, kali aja, Lun! Nggak usah pake ngegas!"


"Dasar, temen nggak ada akhlak!" Luna mencibir.


"Terus bisa loe jelasin, kok bisa sih loe tidur sampai jatuh kayak gini! Kita tidur bertiga aja tempo hari dan posisi loe di pinggir loe nggak pernah jatuh, lha kok ini bisa jatuh! Loe abis mimpi dirampok? Atau mimpi ditembak cowok?" Kini Tita yang penasaran mendengar penjelasan Luna.


'Mampus nih kalo mereka berdua udah kepo. Nggak mungkin kan gue ceritain yang sebenarnya.' Luna tampak berfikir mencari alasan supaya kedua sahabat rasa saudaranya itu tidak berpikir macam-macam.


"Oh, itu, gue tadi mimpi dikejar mbak Kunti. Awalnya mbak Kunti-nya cantik banget, eh lama-kelamaan jadi serem. Jadi gue ngacir ketakutan sampai gue jatuh ke becekan, eh pas gue buka mata rupanya gue udah jatuh ke lantai. Ternyata gue cuma mimpi doang." dusta Luna dengan memasang ekspresi ketakutan.


Lia yang memang seorang penakut langsung bergidik ngeri. Ia sampai menarik-narik ujung piyama Tita minta ditemani tidur.


"Ta, temenin gue tidur, ya! Gue takut ... Gimana kalo mbak Kunti-nya giliran datang ke mimpi gue. Oh no, please temenin gue ya!" mohon Lia sambil memasang puppy eyes.


'Hah, selamat-selamat!'


Karena mata yang tak kunjung mau terpejam, Luna akhirnya iseng-iseng membuka aplikasi perpesanan berwarna hijau. Saat ia sibuk melihat story dari beberapa temannya, tiba-tiba terdengar suara pesan masuk. Mata Luna sontak membola saat melihat siapa yang mengirim pesan tersebut.


[Kok belum tidur?] bunyi pesan itu.


'Lho, kok Mas Lian bisa tau aku belum tidur?' gumam Luna. 'Apa Mas Lian tadi emang pingin kirim pesan ke aku ya jadi pas dia buka riwayat chat terus liat status aku sedang online dia jadi langsung kirimin pesan!' Luna tampak bertanya-tanya dalam hati sampai ia lupa belum membalas pesan Aglian.


[Lho, kok cuma dibaca?] balas Aglian lagi.


[Pasti lagi mikirin, Mas ya?] pesan masuk dari Aglian lagi.

__ADS_1


Luna menarik nafas panjang sebelum membalas pesan Aglian. Luna salut akan kepercayaan diri dari seorang Aglian. Bagaimana bisa ia mengira Luna sedang memikirkannya, walaupun yang sebenarnya memang iya.


[Idih, kayaknya tingkat kepercayaan diri Mas Lian makin gede ya!] cibir Luna.


[Oh, tentu! Tingkat kepercayaan diri yang tinggi memang harus dimiliki oleh setiap pemimpin apalagi pemimpin perusahaan besar seperti Mas.]


Luna sontak tersenyum membaca balasan pesan itu.


[Udah malam, tidur sana! Sweet dream, my naughty girl. 😘]


Deg ...


Lagi-lagi, hanya karena sebuah pesan , Luna jadi dah dig dug sendiri.


'Aduh jantungku! Kok Mas Lian romantis banget sih! Apa coba maksudnya? Please hati, jangan mudah baper dong!!!' racau Luna sambil menghentak-hentakkan kakinya di kasur. Otak Luna tampak memerintahkan jangan mudah baper, tapi hatinya justru berbunga-bunga. Memang urusan cinta kadang membuat hati dan otak kita tak sejalan. Saat hati berkata apa, tapi otak berpikir sebaliknya.


...


Steven dan putranya , Stefano sedang dalam ruang perawatan yang disediakan khusus untuk mereka. Mereka baru saja menjalani pemeriksaan kesehatan. Setelah itu mereka akan melakukan tes kecocokan HLA, tim medis akan mengambil sel induk darah dari pendonor, yaitu Steven dan Stefano. Pengambilan dapat dilakukan melalui aliran darah atau langsung dari sumsum tulang.


Pemeriksaan dan pengujian ini dipimpin langsung oleh dr. Alan selaku dokter onkolog. Ia juga didampingi beberapa dokter spesialis penyakit dalam lainnya yang memang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam mengatasi penyakit ini.


Sedangkan di luar ruangan tampak Melani menunggu kedua orang itu diperiksa dengan santai. Tampak sekali, tak ada beban dalam dirinya saat ini. Ia memang tak pernah memikirkan keadaan Stefani. Ia yang awalnya mati-matian menolak suami dan anaknya diperiksa, jadi berbalik mendukung bukan karena alasan peduli pada Stefani, tapi karena imbalan yang ditawarkan. Siapa yang mau memberinya uang ratusan juta secara cuma-cuma? Tak ada. Tapi hanya dengan suami dan anaknya menjadi pendonor sel punca untuk transplantasi sumsum tulang belakang, ia akan mendapatkan uang bernilai fantastis itu. Sudah lama sekali ia tak memegang uang yang nominalnya sangat fantastis tersebut. Melani sampai berfikir, betapa kayanya pria yang mendatangi rumahnya tersebut dan apa hubungan keduanya. Apa mungkin seorang teman mau mengeluarkan uang sebanyak itu? Apa ia kekasih anak tirinya itu? Bila benar, bukankah itu menyenangkan pikirnya. Bila benar, bukankah ia pasti akan ikut kecipratan kekayaan dari pria itu. Pikiran tamak pun mulai memenuhi otaknya yang kerdil.


'Ah, aku harus bersikap baik pada gadis itu? Pasti menyenangkan punya menantu kaya raya seperti dia. ' batin Melani.

__ADS_1


__ADS_2