Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.149 (S2) Sudah jadi suami istri


__ADS_3

Mata Luna tampak berkaca-kaca, ia memang kecewa, bahkan sangat kecewa dengan perbuatan Kentaro padanya. Padahal ia mempercayai, ia juga menganggap Kentaro sebagai sahabatnya. Tapi mengapa Kentaro justru memperlakukan dengan keji. Bila saja Aglian tidak datang tepat waktu, entah apa yang terjadi. Mungkin ia akan benar-benar terpuruk.


Tapi Luna juga bukan tipe wanita pendendam. Saat pertama masuk ke tempat Kentaro ditahan, hati Luna mendadak ngilu. Kentaro yang biasa hidup bebas kini terkurung di balik jeruji besi. Dan saat iruna makin ngilu saat melihat penampilan Kentaro yang berantakan dan tampak pucat, sepertinya ia sedang kurang sehat.


Luna memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. 'Bismillahirahmanirrahim' ucapnya dalam hati, lalu Luna pun membuka matanya.


"Bangunlah Ken, nanti kaki loe sakit." ucap Luna seraya tersenyum. Namun, Kentaro tetap tak bergeming. Ia belum mendengar jawaban permintaan maafnya jadi ia belum mau berdiri.


"Loe mau dimaafin, nggak?" tanya Luna dengan alis yang disatukan. Kentaro pun mengangguk dengan antusias. "Kalo loe mau dimaafin, cepetan berdiri atau gue keluar sekarang nih!" ancam Luna seraya berdiri dari tempat duduknya.


"Ya ya ya, gue berdiri sekarang, Lun. Please, jangan pergi dan jangan marah lagi. " ucap Kentaro dengan wajah memelas setelah ia berdiri dan kembali duduk di tempatnya semula.


Luna pun ikut duduk kembali. Aglian yang duduk tepat di samping Luna bersedekap di dada. Ia terus memperhatikan interaksi kedua orang itu. Pun Diwangga dan Azam, mereka hanya mengawasi dari jarak tak terlalu jauh, tapi masih dapat mendengar percakapan kedua orang itu dengan jelas.


"Lun, jadi gue dimaafin kan!" Kentaro menuntut kejelasan. Ia takut Luna belum memaafkannya.


"Asal loe janji akan berubah, maka gue akan memaafkan kesalahan loe." tegas Luna.


"Gue janji, Lun, gue akan berubah menjadi lebih baik lagi." sahut Kentaro penuh semangat.


Kentaro mengulurkan tangannya hendak menggenggam tangan Luna, namun belum sempat tangan itu memegang tangan Luna, tangannya telah terlebih dahulu ditepis oleh Aglian.


"Jangan sentuh tangan istri gue!" tegas Aglian dengan sorot mata mengancam.


Mata Kentaro seketika membelalak saat mendengar ucapan Aglian.


"Ap ... apa kata kamu tadi, om? Istri? Jangan ngelawak di sini deh om, ini bukan waktunya stand up comedy." dengus Kentaro tak terima. Sedangkan ia saja masih memiliki niat untuk mendapatkan Luna tapi dengan cara yang benar.


"Ngelawak?" Aglian tertawa sinis. Lalu ia mengangkat lengan kiri Luna dan menyatukannya dengan lengan kirinya. "Lihat ini! Ini cincin pernikahan kami. Kalau loe nggak percaya, tanya aja sama yang bersangkutan." ketus Aglian dengan sebelah bibir terangkat.


Kentaro pun mengalihkan pandangannya ke arah Luna dengan sorot mata meminta penjelasan.


"Apa yang Mas Lian emang bener, sehari setelah kejadian malam itu, tepatnya pagi harinya, gue udah dinikahin Mas Lian. Sekarang Mas Lian adalah suami gue. Kami sudah jadi suami istri sekarang. " ujar Luna. Ia harus menjelaskan agar Kentaro tidak lagi mengharapkannya.

__ADS_1


Kentaro terkekeh tak mempercayainya. Ia yakin, itu hanya konspirasi agar ia tidak lagi mendekati Luna.


"Nggak usah bohong deh Lun kalau tujuan loe cuma supaya gue nggak mendekati loe lagi. Gue nggak sebodoh itu untuk percaya."


Aglian menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sifat keras kepala Kentaro. Aglian pun mengeluarkan ponselnya lalu membuka galeri untuk menunjukkan foto-foto saat ia dan Luna menjalani prosesi akad nikah.


"Nih, loe liat dengan mata kepala loe sendiri sebagai buktinya!" ujar Aglian seraya menunjukkan foto-foto akad nikahnya. "Gimana? Sekarang loe percaya?"


Hati Kentaro mencelos saat melihat satu persatu foto itu. Ia tak menyangka gadis yang ia cintai telah menikah dengan orang lain.


"Lun, boleh gue tanya satu hal sama loe?"


Luna mengangguk.


"Apa loe mencintai om itu?" tanya Kentaro.


"Yes, i do. Gue mencintainya. Sangat mencintainya." tegas Luna. "Sekarang loe udah tau kan, nah gue mohon lupain gue. Gue udah nikah. Jangan harapin gue lagi! Masih banyak cewek lain di dunia ini. Dan gue yakin, diantara salah satu dari mereka, ada yang bakal mencintai loe setulus hati."


"Jangan panggil saya , om! Saya nggak setua itu dan saya nggak pernah menikah sama Tante kamu." ucap Aglian lalu ia merangkul bahu Luna, mengajaknya keluar. Diwangga terkekeh geli mendengar ucapan Aglian karena sempat-sempatnya ia mengatakan hal itu.


...***...


Selepas kepergian Luna, Kentaro langsung masuk ke dalam ruang tahanannya. Ia duduk bersandar di dinding dengan kaki ditekuk. Ia benamkan wajahnya diantara lututnya. Tanpa sadar, ia pun terisak. Ia tak menyangka cintanya bukan hanya bertepuk sebelah tangan, tapi juga telah dimiliki orang lain.


Tiba-tiba perutnya kembali bergejolak, beruntung di ruangannya telah disediakan kotak berisi pasir untuk ia memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan.


Azam segera datang untuk melihat kondisi adiknya itu. Ia heran, apa benar dugaan dokter yang kemarin menangani Kentaro bahwa adiknya itu tengah mengalami sindrom kehamilan simpatik. Bila benar, artinya adiknya telah menghamili seorang perempuan, tapi siapa? Ia harus segera menanyakannya.


"Ken ..." panggil Azam saat adiknya tidak muntah-muntah lagi.


"Hmm, kenapa bang?" tanyanya lemas. Energinya sudah terkuras habis karena muntah-muntah sialannya itu.


"Apa kamu pernah menodai atau sampai menghamili seorang perempuan ?" tanya Azam dengan sorot mata penuh intimidasi.

__ADS_1


"Eh, ck ... pertanyaan macam apa itu, Bang? Jangan ngaco deh! Mana ada yang seperti itu. Gue cuma ngelakuinnya sama Luna, itupun gagal." dusta Kentaro. " Kenapa Abang nanya gitu?"


"Soalnya pas kemarin dokter periksa dia bilang kamu nggak sakit apa-apa. Terus dia curiga kalau kemungkinan kamu mengalami sindrom kehamilan simpatik . Itu kadang dirasakan oleh seorang lelaki bila pasangannya sedang hamil." jelas Azam.


deg ...


'Sama seperti yang dikatakan mama. Tapi apakah mungkin?'


"Ah, mana mungkin lah , bang! Siapa juga yang hamil? Ken aja nggak pernah ngelakuin itu sama siapa-siapa." dusta Kentaro. "Paling ini cuma masuk angin karena belum terbiasa tidur tanpa alas kayak di sini." dustanya lagi.


"Baguslah kalau bukan. Kalau iya, Abang mohon kamu jujur, kasian gadis itu dan bayinya bila benar dia hamil karena kamu. " ujar Azam sembari melirik Kentaro. Setelah mengatakan itu, ia pun pergi dari sana.


Setelah kepergian Azam, Kentaro tampak merenung. Ia pun sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Jelita. Apalagi ia adalah orang pertama yang menyentuh Jelita. Rasa khawatirnya kini menggerus perasaan sedihnya akibat Luna yang telah menikah dengan orang lain .


...***...


Hari ini, setelah beberapa Minggu tidak mengunjungi Angkasa Mall, akhirnya Anggi kembali menginjakkan kakinya di sana. Sebenarnya ia masih dilanda rasa mual, tapi karena hari ini di Angkasa Mall sedang diadakan pameran dan bazar hasil UMKM masyarakat sekitar, ia pun memaksakan dirinya untuk datang walau hanya sekedar melihat-lihat dan memperhatikan kelancaran acaranya.


Saat sedang sibuk melihat-lihat beberapa produk hasil karya masyarakat yang dipamerkan, tiba-tiba mata Anggi bersirobok dengan mata seseorang yang pernah ia temui dulu. Dipandanginya orang itu dari atas kepala hingga ujung kaki, nampak sangat berbeda.


Begitu pun orang itu, ia turut memandangi Anggi dari ujung kaki hingga ke kepala. Penampilan mereka kini terbalik, bahkan Anggi tampak jauh lebih baik dan cantik. Orang itu sampai kesulitan menelan salivanya sendiri. Ia malu sekaligus takut.


"Kamu ..." ucap mereka bersamaan.


.


.


.


.


Happy Reading 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2