
Kesibukan Aglian akhir-akhir ini makin meningkat. Banyak investor asing yang silih berganti menawarkan kerja sama yang tentunya sangat bagus bagi kemajuan Angkasa Grup.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam melakukan meeting dengan investor dari Negeri Tirai Bambu, Aglian menyempatkan diri menelpon Luna yang kini aktif mengurus Anggrek Fashion cabang Angkasa Mall.
"Siang my sweet heart." ucap Aglian saat panggilannya diangkat Luna.
"Siang juga Mas." sahut Luna dari seberang sana. Saat itu, Luna baru saja selesai mengawasi para karyawan memasang stok pakaian baru di display.
"Ck ... sekali-sekali romantis kek, Na! Masa' Mas terus yang romantis." protes Aglian membuat Luna mengerutkan keningnya. Lantas ia tertawa saat sadar ia memang tak pernah bersikap romantis pada suaminya itu. Bahkan cara memanggil pun ia masih sama seperti sebelum menikah.
"Maaf Mas, bukannya nggak mau, cuma ..." Luna menggaruk pelipisnya. "Luna bingung, gimana caranya. Maklumlah, Luna kan masih polos." ujarnya sambil cekikikan.
"Iya, masih polos dan suka polosan juga." Aglian terbahak sendiri karena kata-katanya. Sedangkan, wajah Luna sudah memerah paham akan maksudnya.
"Yeee, itu mah, sukanya Mamas Lian. Mamas yang suka minta gitu, masa' nggak diturutin, ntar diprotes 'Nanti dosa lho'. Selalu aja gitu " protes Luna balik sambil mencebikkan bibirnya.
"Hahaha ... Maklumlah Na, Mamasmu ini kan baru ini tau nikmatnya nananina gimana jadi nagih, siapa tau cepet jadi." ujar Aglian sambil terkekeh.
"Emangnya Mamas aja yang baru tau, Nana kan juga gitu. Semuanya malah baru pertama dan semuanya sama Mamas, nggak kayak Mamas yang pasti udah pernah kan sama mantan." sindir Luna.
"Pernah, tapi yang sewajarnya aja. Nggak pernah lebih. Mamas masih takut dosa lho. Karena itu Mamas pingin cepet nikahin kamu biar halal mau ngapain aja. Eh taunya ada peristiwa itu yang bikin segalanya jadi lebih cepat dari ekspektasi." ujar Aglian seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "Tapi beneran deh, Mamas bahagia dan bangga banget dapetin semua yang pertama. Bahkan Mamas cinta pertama kamu, kan!" ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Yayaya ... enak banget yah jadi Mamas Aglian Saputra." ujar Luna sambil mendengus. "Mamas Udah makan siang?"
"Belum."
"Ya udah, makan dulu sana!"
"Ya udah, Nana ke sini!"
"Kok kesana? Mau ajak makan bareng?"
"Bukan."
"Lha, jadi ngapain Nana kesana? Minta temenin makan?"
"Bukan juga." sahut Aglian seraya tersenyum nakal. Tapi sayang senyum itu tidak dapat dilihat oleh Luna.
"Lha jadi? Gimana sih mau Mas Lian yang bener tuh?" tukas Luna mulai kesal.
"Mas ... mau makan ... kamu." ujar Aglian seraya tersenyum simpul.
__ADS_1
"Idih, Mamas Lian nyebelin. Omes banget sih! Sempat nggak sempat mikirnya kesana." pekik Luna kesal. Wajahnya kini telah memerah karena otaknya pun sudah mulai traveling.
Aglian tergelak membayangkan ekspresi kesal Luna yang sangat menggemaskan baginya.
Tok tok tok ...
Terdengar suara pintu diketuk sesaat setelah panggilan telepon Luna dan Aglian ditutup.
"Masuk." titah Aglian.
Tak lama kemudian, terlihat Robi membuka pintu dan masuk ke ruangan Aglian.
Aglian mendongakkan kepalanya menatap Robi.
"Ada apa, Rob?" tanya Aglian saat Robi telah masuk. Soalnya tak ada yang perlu dilaporkan asisten pribadinya itu, jadi untuk apa Robi meminta izin untuk masuk ke ruangannya.
"Pak, tadi ada orang yang mengantarkan sebuah paket untuk Anda. Tadi pihak keamanan telah menolak sebab saat ditanyakan siapa pengirimnya, orang tersebut diam. Tak mau memberi jawaban tapi ia memaksa agar paket itu disampaikan kepada Anda. Jadi keamanan memanggil saya untuk menemui orang itu. Lalu orang itu memohon agar paket ini diserahkan kepada Anda secara langsung. Katanya sangat penting. Jadi saya pun menerimanya." ujar Robi seraya menyerahkan sebuah kotak persegi berwarna merah yang ukurannya sekitar 15cmx15cm.
Aglian mengerutkan keningnya saat menatap kotak itu. Lalu kotak itu ia terima dan buka secara perlahan. Ternyata di dalamnya terdapat sebuah kertas terlipat. Ia ambil kertas itu dan membukanya. Terlihat ada sebuah kalimat di dalamnya. Aglian langsung mengerutkan dahinya saat membaca tulisan tersebut.
...Tolong perketat penjagaan Nona Luna!...
...***...
Untuk mengungkapkan benarkah Kentaro telah menghamili seorang perempuan, Ratna dan Azam pun datang ke lapas guna menginterogasi Kentaro.
Azam sengaja meminta sipir yang berjaga untuk sedikit menjauh sebab pembicaraan ini ia anggap cukup pribadi jadi ia tak ingin ada orang luar yang curi dengar.
Dan di sinilah Kentaro berada sekarang, di sebuah ruangan yang memang biasa dijadikan tempat penghuni lapas menemui para pengunjungnya. Namun, aura yang dirasakan Kentaro agak berbeda.
Ratna yang sudah diberitahu Azam kalau Kentaro meminta dibuatkan rujak pun segera mengeluarkan rujak buah yang terdiri atas jambu air, mangga muda, nanas, dan bengkoang dengan sambalnya yang terbuat dari campuran kacang tanah goreng, cabai, dan gula merah yang diberi sedikit garam. Melihatnya saja membuat Kentaro hampir meneteskan air liurnya.
Kentaro menelan ludahnya saat rujak buah itu telah terhidang tepat di depan matanya. Gegas Kentaro memakan satu persatu irisan buah itu sambil dicolek ke dalam bumbunya dengan nikmat. Azam dan Ratna makin meyakini kalau bungsu keluarganya itu tengah mengidap sindrom kehamilan simpatik sebab Kentaro sangat anti dengan buah yang rasanya asam. Sedangkan dalam rujak tersebut terdapat 3 macam buah yang rasanya asam, yaitu nanas, jambu air, dan mangga muda. Jambu air dan nanas yang dipilih Ratna memang yang rasanya asam, alih-alih memilih yang manis, semua semata untuk membuktikan dugaan mereka.
Tampak wajah Kentaro berubah dari mendung menjadi cerah dan segar tidak seperti tadi saat baru saja keluar menemui mereka.
Usai makan, Kentaro segera membereskan peralatan makannya yang kotor, dan mengelap mulutnya dengan tisu basah yang telah disediakan sang mama.
Kentaro merasa sangat senang karena apa yang diinginkannya beberapa hari ini akhirnya bisa terwujud. Ia pun mengucapkan terima kasih pada sang kakak dan mamanya.
"Makasih ya, Ma, bang. Akhirnya, lega banget Kenta bisa makan rujak juga." ucap Kentaro seraya mengusap perutnya.
__ADS_1
Azam dan Ratna mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Udah lega kan! Kalo udah mama dan Abang mau nanya sesuatu sama kamu. Mama dan Abang harap , kamu jujur." tukas Ratna membuat Kentaro mengerutkan keningnya ikut penasaran apa yang ingin dibicarakan mama dan abangnya itu.
"Mama sama Abang mau nanya apa? Tanya aja." tukas Kentaro.
"Oke, mama langsung aja karena waktu kita sedikit." Ratna tampak menghela nafas. "Ken, jujur sama mama dan Abang, apa kamu pernah meniduri seorang gadis? Atau kamu memperkosanya seperti kamu ingin memperkosa Luna?" cecar Ratna dengan sorot mata tajam. Pun Azam, ia menunggu jawaban dari Kentaro dengan sorot mata penuh intimidasi.
Kentaro seketika tergagap, haruskan ia jujur. Tapi ...
"Jawab, Ken! Jangan diam aja!" tegas Azam membuat nafas Kentaro.
"Itu ... itu nggak mungkin, Ma. Mama sama Abang ini kenapa sih? Ken nggak pernah kayak gitu sama perempuan lain selain Luna. Itupun gagal. Jangan mikir aneh-aneh deh!" kilah Kentaro.
"Mama bilang apa tadi? Jujur kan! Kamu mau jujur atau mama minta Abang kamu menyelidikinya dan membuat kamu lebih lama lagi mendekam di balik jeruji besi itu, hah!" ancam Ratna membuat Kentaro terhenyak.
"Itu benar, Ma. Kenta nggak bohong kok!" Kentaro masih bersikeras untuk berdusta.
"Ya sudah Zam, sepertinya adik kamu pingin lebih lama mendekam di dalam penjara. Mulai saat ini, mama minta kamu nggak perlu pedulikan anak kurang ajar itu. Mama juga nggak sudi mengakuinya anak." ucap Ratna tegas seraya berdiri. Ia membenahi pakaiannya yang tampak berantakan lalu berjalan hendak keluar dari ruangan itu.
"Ma ..." pekik Kentaro saat langkah kaki Ratna hendak menjauh.
Ratna menoleh, menatap putranya yang nampak tergugu.
"Ma , maafin Kenta Ma, Kenta salah, dugaan mama dan Abang itu memang benar. Kenta telah menodai seorang gadis, Ma. Kenta sudah memperkosanya, Ma. Maafin Kenta, Ma!" ujarnya sambil terisak. Air mata mengalir dari pelupuk matanya, pun Ratna.
Ia menangis bukan karena sedih melihat anaknya yang tengah menangis tapi menangisi perbuatan bejat putranya. Ia menangisi nasib gadis yang telah dinodai oleh putranya. Ia menangis kemalangan gadis yang telah diambil mahkotanya secara paksa oleh putranya.
"Dasar brengs*k! Anak kurang ajar. Sialan!" umpat Azam emosi.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
Sebuah pukulan mendarat di pipi kanan, kiri, dan perut Kentaro membuat Kentaro terhuyung dan terhempas ke lantai yang dingin.
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1