Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.167 (S2) Janji Aglian


__ADS_3

Di ruangan serba putih, beberapa dokter dan perawat tampak sibuk memeriksa keadaan organ vital seorang gadis cantik. Begitu juga di dua ruangan lain, tampak seorang anak kecil tengah berjuang untuk bertahan hidup, dan sebuah ruangan ada seorang pemuda yang juga mengalami luka-luka tak kalah parah.


Jerit tangis di luar ruangan sepertinya tak dihiraukan para tim medis sebab mereka kini tengah fokus pada pasien-pasiennya yang terluka parah akibat kecelakaan yang mereka alami.


"Mas, Damar mas, gimana keadaannya. Mas, aku takut. Mas kenapa harus Damar yang alami ini." jerit tangis Anggi menggema di depan ruang UGD tempat Damar di periksa.


Diwangga tak mampu berkata, ia hanya mampu menggumamkan kata, "Mas yakin Abang anak yang kuat. Yang penting kita harus banyak berdoa, sayang. Ingat doa seorang ibu itu mampu mengetuk pintu langit. Mari kita berdoa, sayang! Mas yakin, Abang akan baik-baik saja." Diwangga mencoba menguatkan Anggi. Ia sebenarnya juga terpuruk, namun ia tak mungkin menunjukkannya. Bagaimana pun Anggi membutuhkannya untuk menguatkannya. Walaupun Damar bukan anak kandungnya, tapi rasa cinta dan sayangnya murni, ia sudah menganggap anak-anak sambungnya seperti anak kandungnya sendiri. 'Bang, papa mohon bertahanlah! Papa, mama, Oma, opa, grandpa, grandma, adik-adik, semuanya menyayangi Abang. Abang harus sembuh. Kasihan mama, nak. Mama sedang mengandung adik-adik. Mama butuh Abang. Abang sayang mama, kan sayang? Ya Allah, mohon berikanlah kesembuhan pada putra hamba.' ucap Diwangga dalam hati.


Di depan ruang UGD tepat dimana Luna sedang menjalani pemeriksaan, tampak Aglian duduk sambil mengepalkan tangannya. Ia tampak sangat-sangat kacau hari ini. Bagaimana tidak kacau, istrinya, teman hidupnya, pujaan hatinya kini tengah berjuang untuk bertahan hidup. Ia menyesal tidak bisa melindungi istrinya dengan baik. Dalam hati ia membatin, tak peduli bagaimana keadaan Derian saat ini, ia akan menjebloskannya ke penjara hingga tubuhnya membusuk dan berkalang tanah.


Ya, dia sudah mendapatkan laporan dari bawahannya bahwa Derian selamat. Namun, ia mengalami luka bakar 70%. Nyawa pria tua bangka itu cukup panjang rupanya. Mungkin tujuannya agar ia bisa menebus semua dosa dan kesalahannya yang sangat-sangat besar itu.


Aglian tak habis pikir, bukannya semakin tua kita harusnya memikirkan bagaimana menikmati hari tua kita dengan damai dan tenang, tapi Derian sama seperti Carlos, mereka malah lebih memilih hidup dalam ketidaktenangan dan hasil akhirnya harus mendekam di penjara selama sisa hidupnya. Setidaknya Carlos masih lebih baik, ia tidak mengalami cacat di tubuhnya, hanya putrinya saja yang menjadi gila, sedangkan Derian, dia harus menderita seumur hidup karena tubuhnya yang sudah pasti takkan mungkin kembali seperti semula karena luka bakar yang hampir memenuhi semua bagian tubuhnya. Lalu berita terakhir yang ia juga dengar, anak dan istrinya lebih memilih pergi ke luar negeri. Mereka tak sanggup menahan malu karena disebut keluarga pembunuh. Keluarga penipu. Keluarga perebut harta orang lain. Padahal mereka selama ini tidak mengetahui hal itu. Mereka malah mengira kematian saudara Derian itu memang murni akibat kecelakaan. Mereka tak menduga, ternyata itu adalah perbuatan suami sekaligus ayah anaknya.


Sedangkan di ruangan lain, tampak sepasang suami istri dan putrinya yang masih berseragam putih abu-abu, menangis histeris di depan ruang UGD. Ya, mereka adalah keluarga dari Reno. Mereka tak menyangka putranya akan mengalami kecelakaan tragis seperti ini. Menurut keterangan dokter, Reno mengalami benturan keras di sisi kanan kepala dan dada kanannya, dan lengan kanan patah.


Sedangkan Luna, akibat tabrakan di bagian belakang mobil yang cukup keras, tubuhnya yang melingkar memeluk Damar terjepit, hingga leher dan beberapa tulangnya patah. Belum lagi banyaknya pecahan kaca yang berjatuhan menimpa kepala dan tubuh bagian belakangnya. Hal itu yang membuat Aglian tambah meradang. Tak dapat ia bayangkan betapa sakit luka-luka yang Luna alami.


Untuk Damar, karena tubuh Luna tidak begitu lebar, ia tidak bisa melindungi sepenuhnya tubuh Damar. Pecahan kaca itu ternyata juga mengenai bagian tubuhnya. Hanya bagian kepalanya saja yang aman. Tapi luka-luka ketiga orang itu, membuat mereka kehilangan banyak darah. Sehingga mengharuskan mereka melakukan transfusi darah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan Damar terlebih dahulu. Wajahnya nampak muram membuat semua orang harap-harap cemas mendengar apa yang ingin disampaikan dokter tersebut.


"Maaf, bisa bicara dengan orang tuan Damar?" tanya dokter itu dengan raut wajah serius.


"Saya, ibunya, dok. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Anggi dengan raut wajah khawatir yang terlihat kentara.


"Maaf, nak Damar sekarang dalam keadaan kritis. Dia membutuhkan transfusi darah segera. Namun, yang membuat sulit adalah golongan darah nak Damar adalah golongan darah langka, yaitu B-. Golongan darah B- hanya bisa menerima golongan darah B- dan O- . Apakah ibu memiliki golongan darah salah satu dari itu atau ada saudara yang punya? Di rumah sakit ini maupun bank darah tidak memilikinya." ujar dokter itu dengan tenang.


Anggi panik. Golongan darahnya O+, artinya ia tidak dapat mentransfusikan darahnya pada Damar.


Anggi menggeleng pilu. "Golongan darahku O+, dok. " sahutnya lemah. Lalu ia mengedarkan arah pandangannya pada keluarganya, mereka juga menggeleng, artinya mereka pun juga tidak memiliki golongan darah itu. Dokter yang paham itu pun lalu kembali bertanya, "Bagaimana dengan ayahnya? Apakah ayahnya ada di sini?" tanya dokter itu.


Anggi serasa disiram air dingin, ia langsung bersemangat. Ia menoleh pada Diwangga meminta izin menghubungi Adam, dan Diwangga mengangguk. Bagaimana pun ia tidak bisa egois , putra sambungnya itu membutuhkan darah ayahnya. Ia berdoa dalam hati, semoga darah Adam cocok untuk putranya.


"Assalamualaikum, mas Adam." sapa Anggi dengan suara bergetar.


Adam mengernyitkan dahinya, ia dapat menangkap sesuatu yang berbeda dari suara mantan istrinya yang belum lama ini ia sadari, bahwa ia masih memiliki rasa yang begitu besar padanya. 'Astaga, mikir apa sih loe, Dam! Dia udah jadi bini orang. Ikhlas ... ikhlas ...'


"Wa'alaikum salam, Nggi. Ya, ada apa?" Tumben nelpon.

__ADS_1


"Mas ... Damar Mas, Damar ..." ucap Anggi sambil terisak membuat jantung Adam seketika berdebar hebat. Dari nada suaranya, ia tahu, sesuatu yang buruk telah terjadi pada putra sulungnya itu.


"Iya, Nggi, Damar kenapa? Nggak terjadi sesuatu yang buruk, kan sama Damar?" tanya Adam mencoba tenang.


"Mas, Damar ... Damar kecelakaan dan dia butuh transfusi darah golongan B- atau O- segera, apa darah kamu cocok , Mas? Mas, aku mohon tolong Damar!" suara Anggi makin bergetar. Adam dapat merasakan kesedihan luar biasa dari suara mantan istrinya itu. Bukan hanya Anggi, dirinya pun shock mendengar kabar itu. Tapi bukan berarti Anggi harus memohon, bagaimana pun, Damar adalah putranya, jadi sudah sewajibnya ia mendonorkan darahnya bilamana cocok.


"Beritahu aku dimana rumah sakitnya, aku akan segera kesana. Bersiaplah, aku akan mendonorkan darahku. Sebanyak apapun itu akan aku berikan asal putraku diberi kesembuhan." ucap Adam tegas membuat Anggi mendesah lega.


"Terima kasih, Mas. Aku tunggu di depan ruang UGD rumah sakit Cinta Medika." ujar Anggi memberitahukan keberadaan Damar pada Adam.


Saat Anggi sedang sibuk menelepon Adam, tampak dua orang dokter keluar dari dua ruangan berbeda.


"Dok, bagaimana keadaan Luna?" tanya Aglian didampingi Ajeng dan Davindra. Mereka tidak menemani Anggi sebab Anggi sudah ditemani Diwangga dan mertuanya, sedangkan Aglian sendirian.


"Untuk sementara kondisinya sudah stabil,, beruntung golongan darahnya O+ dan stoknya masih ada. Tapi dia belum sepenuhnya bisa bebas dari masa kritis. Nona Luna juga masih harus mengalami serangkaian operasi mengingat banyaknya luka dan ada beberapa tulangnya yang patah juga benturan di sisi kanan kepalanya. Nanti kami akan melakukan CT scan untuk memeriksa kondisi kepala nona Luna." ujar dokter itu menjelaskan.


Hati Aglian begitu pilu mendengarnya. Ia tak menyangka istrinya yang belum lama ia nikahi mengalami kejadian buruk seperti ini. Belum lama ia bisa mereguk madu cinta, tapi kini ia harus dipisahkan dengan cara seperti ini. Ia tak menyangka, ada manusia berhati iblis seperti Derian. Ia berjanji dalam hati, ia takkan pernah memaafkan pria iblis itu. Pria berhati iblis itu harus merasakan sakit melebihi apa yang Luna rasakan saat ini. Itu janjinya.


Sedangkan, di ruangan Reno, ia juga sudah menjalani operasi pada tangan kanannya dan juga akan pemeriksaan dan CT scan. Biarpun, Reno di posisi balik kemudi, tapi lukanya tidak separah milik Luna. Itu karena Luna posisinya di belakang tepat di bagian mobil itu mengalami benturan sangat keras. Kedua orang tua Reno beserta adik perempuannya pun langsung bersujud syukur saat mendengarnya.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2