
Seminggu telah berlalu, akhirnya kondisi kesehatan Anggi telah benar-benar stabil begitu juga triple baby nya, Arditta, Arletta, dan Arasya . Hari ini adalah hari yang ditunggu Anggi dan keluarga sebab akhirnya ia dan ketiga buah hatinya itu bisa pulang ke istana mereka. Setibanya di rumah, Anggi dan ketiga buah hatinya disambut hangat oleh keluarga besarnya termasuk trio bocil yang sudah tidak sabar ingin melihat, memeluk, dan mencium adik-adik mereka.
"Mama .... " teriak trio bocil serempak saat melihat mobil yang menjemput Anggi telah tiba di carport.
Tak lama kemudian Anggi turun seraya menggendong Arditta, lalu Diwangga yang menggendong Arletta, dan Sofi yang menggendong Arasya.
Tau kalau Damar, Karin, dan Kevin sudah tidak sabar ingin memeluk mamanya, Ajeng pun segera meraih tubuh mungil Arditta sehingga trio bocil pun bisa segera menghambur ke pelukan Anggi.
Anggi merentangkan tangannya lebar dan mendekap erat tubuh ketiga anaknya. Tak lama kemudian, ketika buah hatinya itu terisak membuat Anggi terkejut dan langsung memintanya masuk ke rumah agar ia bisa menanyakan kenapa mereka menangis.
"Kenapa kalian bertiga kompak menangis, hm? Ada yang jahatin kalian?" tanya Anggi penasaran.
Ketiga bocah cilik itu menggeleng, lalu makin mengeratkan pelukannya.
"Jadi kenapa? Ngomong sama mama sayang, biar mama paham!" Anggi meminta penjelasan dari ketiga anaknya itu.
"Kami kangen mama. Ayin , Abang, sama Epin takut, ma." ucap Karin terisak di pangkuan Anggi.
"Takut apa?" tanya Anggi lembut seraya mengusap air mata yang membasahi pipi Karin.
"Kami takut kehilangan mama." timpal Damar membuat Anggi mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Abang, Epin, syama Kalin waktu itu dengal mama ndak sadalkan dili." ujar Kevin.
"Iya ma, waktu itu kan kami dengal onty dan om ngoblol syambil nangis gitu. Kami takut, ma. Mama nggak akan tinggalin kami kan! Ayin ndak mau mama pelgi ... kami ndak mau mama syakit ... kami ndak mau mama hilang ..." ujar Karin terbata sambil terisak.
Bukan hanya Anggi, semua yang mendengar penuturan ketiga bocah itu pun ikut sedih hingga berkaca-kaca. Anggi lantas mengusap air mata yang mengalir di pipi ketiga bocah tersebut secara bergantian lalu tersenyum.
"Sudah, jangan bersedih lagi kan mama sekarang sudah ada di hadapan kalian. Yang penting, kalian harus sering berdoa supaya semoga selalu sehat jadi bisa sama-sama kalian terus. Kalian udah pingin ketemu adik kan? Kalau iya, sekarang hapus air mata sama ini nih yang mengalir lewat lubang hidung ini, hiii ... " ujar Anggi sambil berpura-pura bergidik ngeri "Baru setelah ini kalian liat dan cium adik kalian." ujar Anggi membuat wajah yang mendung tadi karena menangis menjadi tersenyum. Lalu mereka segera mengambil tisu dan mengelap wajah mereka kemudian mereka mulai berhambur melihat dan mencium adik-adik mereka.
"Mama, adik lucu banget." puji Karin.
"Adek ... ini Abang, mulai sekarang Abang akan jaga adik. Kalau ada yang nakalin adik kasi tau ya dik. Abang sayang adik." ujar Damar dengan wajah berbinar.
"Mama , nama adik syapa?" tanya Kevin.
"Wah, nama adik bagus!" puji Karin sambil mengusap pipi bayi-bayi itu dengan ibu jarinya.
"Ngga, bantu Anggi ganti baju gih, pak ustadz sama anak-anak panti serta para tamu udah datang tuh." ujar Ajeng menginterupsi pembicaraan mereka.
"Eh, memang kita ngadain acara apa?" tanya Anggi yang mulai bingung.
Diwangga menepuk dahinya karena lupa menyampaikan sesuatu hal yang penting.
__ADS_1
"Maaf sayang, mas lupa kasi tau kamu kalau kita mau ngadain Aqiqah anak kita. Sekarang kamu ganti baju dulu ya!" lalu mata Anggi beredar memperhatikan penampilan semua orang.
"Hm ... pantes aja penampilan semua orang rapi banget, kamu ini gimana sih mas kok hari penting anak sendiri lupa kasi tau aku." Anggi mendengus kesal sambil beranjak menuju kamarnya dibantu Diwangga.
Diwangga tersenyum simpul sambil memapah langkah Anggi dengan hati-hati.
"Maaafin mas ya sayang. Pikiran mas lagi penuh banget ini. Sekarang kamu ganti baju dulu ya , sayang. Setelah itu,kita turun. Semua udah beres kok tinggal menunggu kedatangan kita aja terus acaranya di mulai.
Lalu Anggi pun mulai mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak untuk acara Aqiqah putra putrinya tersebut.
Acara berlangsung secara hikmad. Anggi senang bukan main, sebab bukan hanya ketiga bayi kecil mereka saja yang di Aqiqah, tapi Diwangga juga memotong kambing untuk Aqiqah si kembar Karin dan Kevin yang memang belum terealisasi. Hanya Damar saja yang pernah di Aqiqah. Anggi bahagia, sebab Diwangga memperlakukan putra putri sambungnya dengan sangat baik. Diwangga tak pernah membedakan perlakuan diantara mereka. Kasih sayangnya tulus dan sama rata. Anggi berharap kebahagiaan mereka akan kekal abadi. Walaupun kerikil tajam dalam berumah tangga itu kadang bisa saja muncul kapan pun dan dimana pun, harap Anggi, cinta kasih mereka akan selalu sama dan tak pernah tergoyahkan hingga akhir hayat mereka.
"Terima kasih, mas atas cinta kasih mas selama ini. Anggi sungguh-sungguh bahagia sekarang. Anggi nggak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Anggi sangat bersyukur dipertemukan dengan mas Angga dan memiliki jodoh seperti mas. Anggi mohon, selalu seperti ini, jangan berubah. Tuntun Anggi, tegur Anggi bila Anggi salah, dan tetap cintai Anggi seperti ini. Anggi nggak tau apa yang akan terjadi bila kejadian masa lalu terulang kembali. Mungkin bila hal itu terjadi, Anggi akan benar-benar hancur hingga tak bersisa lagi."
"Ssst ...!" Diwangga meminta Anggi berhenti bicara seperti itu. "Mas lah yang harusnya berkata seperti itu. Kamu itu sumber kebahagiaan Mas, mas sangat-sangat beruntung dipertemukan dengan kamu, sayang. Mungkin kalau mas nggak ketemu kamu, mas akan jadi bujang lapuk." ujar Diwangga sambil terkekeh. "Mas cinta kamu, sayang. Tak perlu kamu memohon, mas janji cinta mas nggak akan berubah dan mas nggak akan pernah kasih sedikit pun celah untuk orang ketiga masuk dan merusak rumah tangga kita. I love you more and more than you know. " ucap Diwangga tulus lalu mereka pun saling berpelukan.
Tanpa sadar, interaksi kedua pasangan itu menjadi tontonan keluarga besar mereka. Semua orang bertepuk tangan bahagia. Semua orang pun mendoakan yang terbaik untuk pasangan itu. Termasuk seseorang yang berdiri di sudut tirai, dengan tersenyum tipis ia mendoakan tulus dari dalam hati.
"Semoga kau selalu bahagia, Anggi. Maaf atas luka yang pernah ku torehkan di masa lalu. Aku tau, ini pantas aku dapatkan, hukuman yang setimpal, hanya bisa mencintai, tanpa bisa memiliki lagi. Bodohnya aku menyia-nyiakan dirimu dulu. Tapi aku turut bahagia melihatmu bahagia, Nggi walaupun tidak bersamaku. Berbahagialah selalu, sayang. Aku akan selalu mendoakan dirimu dan anak-anak kita." lirih Adam pelan nyaris tak terdengar.
...***...
__ADS_1
...happy reading 🥰🥰🥰...