Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.74 Rencana Aglian dan Diwangga


__ADS_3

"Kamu kenapa ,Dam? Kok pucat gitu?" tanya Bu Tatik saat melihat raut wajah Adam tiba-tiba memucat saat ia memberitahu bahwa calon suami Anggi adalah seorang pengacara.


"Ng... nggak kenapa-kenapa,ma." kilah Adam.


"Kamu mau kan balikan lagi sama Anggi?"


"Emang mama udah nggak masalah sama asal usulnya?" tanya Adam , mengabaikan pertanyaan mamanya sebelumnya sambil mengerutkan dahi.


"Nggak masalah sih." Bu Tatik mengedikkan bahunya.


"Tapi kayaknya berat ,ma." Adam mendesah kasar. Tentu ia sadar, lawannya tak sebanding. Terlalu tinggi malah. Ia baru saja melakukan pencarian di ponselnya tentang siapa itu Diwangga. Ya, dia hanya tau nama pria itu Diwangga, selebihnya tak tahu karena itu ia mencoba peruntungan mencari lewat mesin pencarian online alias Mbah google. Ia shock bukan main, lawannya benar-benar tak setara. Ia tak menyangka Anggi akan dinikahi orang hebat seperti Diwangga. Apa mungkin ia memiliki kesempatan untuk mendapatkan mantan istrinya kembali. "Mama sih dulu ngompor-ngomporin aku biar cepat talak Anggi, kalo udah gini, repot sendiri kan jadinya. "


"Lah, mama nggak tau kalau dia bakal jadi sukses kayak gini! Kalo dari dulu dia bisa cantik , modis, dan sukses kayak gini, mana mungkin mama nyuruh kamu lepasin dia." kilah Bu Tatik.


"Ya gimana dia mau cantik dan modis sih ma, uang belanjanya aja dulu aku kompres jadi pas-pasan banget gimana dia mau beli baju sama alat make up trus buat modal usaha. Aku sadarin itu kok."


"Ya itu salah kamu, Dam. " seru Bu Tatik.


"Kok salah aku doank, kan mama yang ngasi ide gitu, buat apa kasi dia banyak-banyak, ntar dia boros terus foya-foya, mama kan bilang gitu " kilah Adam jengkel.

__ADS_1


"Lho kok kamu malah mau mendebat mama sih, Dam! Mau jadi anak durhaka kamu." desis Bu Tatik.


"Ah, udah ah malas ngomong sama mama, ujung-ujungnya ngomong kayak gitu." ucap Adam sambil melengos. Ia pun segera berdiri dari tempatnya duduk, hendak pergi dari hadapan mamanya.


"Dam, ngomong-ngomong, masalah rumah sama tanah kita gimana, sudah ada kabar siapa pelakunya?" tanya Bu Tatik menghentikan langkah Adam.


"Belum ada kabar, ma. Nanti kalau ada, pasti aku kasi tau." sahut Adam sebelum benar-benar pergi dari hadapan Bu Tatik.


.


.


.


Ya, mereka berdua sudah mengatur janji temu di sebuah cafe tak jauh dari gedung Angkasa Grup . Pertemuan itu tentunya tanpa sepengetahuan Anggi. Mereka ingin membahas hal penting karena itu mereka pun segera masuk ke ruang VIP yang telah lebih dulu Aglian reservasi.


"Hai, Lian. Apa kabar?" tanya Diwangga.


"Alhamdulillah baik bang, gimana kabar saudara kembarku yang cantik itu? Kalau kabar Abang kan nggak perlu ditanyain kabarnya, udah keliatan jelas di depan mata." tanya Aglian sambil menyesap cappucino yang baru saja dihidangkan oleh pelayan.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik dia baik. Dia baik, anak-anaknya juga. Tapi anak-anak sementara waktu ini aku minta tinggal di rumahku. Kamu paham kan alasannya." Aglian mengangguk paham. Apalagi kalau bukan demi keamanan dan kesehatan mental anak-anak itu yang sewaktu-waktu bisa saja kembali down bila tiba-tiba ayah kandungnya datang ke rumah mereka.


"Oh ya, gimana persiapan buat malam ini? Nggak ada kendala kan! " Yang dimaksud Diwangga persiapan adalah persiapan ulang tahun Tante Ajeng, yang merupakan mama Anggi dan Aglian. Malam ini juga pasti akan menjadi kejutan terindah bagi Anggi dan kedua orang tuan mereka. Ya, Aglian belum memberitahukan pada orang tuanya kalau ia telah menemukan saudara kembarnya yang telah hilang 23 tahun yang lalu.


"Semua beres , tenang aja. Eh, by the way Anggi kan punya adik angkat, nah yang baru aku tahu itu si Raju sama Luna, emang ada berapa adik angkatnya, bang?" tanya Aglian penasaran.


"Ada 5, 3 cewek , 2 cowok. Ada Tita, Lia, Luna, Raju, dan Aji." jelas Diwangga.


"Wah, bagus banget tuh! Akhirnya ... tahun ini benar-benar tahun keberuntunganku, selain aku bisa ketemu lagi sama saudara kandungku satu-satunya, aku juga bisa ngerasain punya adik. Abang tau nggak, udah lama banget aku pingin punya adik, tapi sayang mama nggak bisa kasi lagi, semenjak kecelakaan yang nimpa mama 20 tahun yang lalu, rahim mama diangkat jadi mama nggak bisa hamil lagi." jelas Aglian sedih. Diwangga pun mendengarkan cerita calon iparnya tersebut dengan seksama. "Ntar malam ajak mereka juga ya bang, biar rame. Biar kita berbagi kebahagiaan bersama. Aku juga udah undang om Suseno sama Tante Sofi biar datang juga.


"Kamu tenang aja. Buat aja persiapannya seapik mungkin. Ntar malam juga Abang mau sekalian lamar Anggi secara resmi di hadapan orang tua kalian. Nggak mungkin kan Abang cuma ngundang aja apalagi acara pernikahan Abang tinggal 1 Minggu lagi."


"Iya sih bang. Oh ya bang, aku udah liat video Anggi dipermalukan di pesta pernikahan. Kenapa Abang nggak segera tindak wanita itu sih! Sumpah, aku emosi banget liatnya. Videonya udah viral di sosmed. " ungkap Aglian emosi.


"Nggak semua perbuatan harus dibalas dengan kekerasan, Lian. Liat aja, tanpa perlu kekerasan, Anggi mampu membungkam mulut Lea. Lea itu sebenarnya teman abang. Abang pun nggak nyangka, dia bisa berbuat nekat kayak gitu."


"Tapi aku nggak bisa biarin itu bang, aku harus balas. Mereka bakal terus bertingkah kalau nggak dikasi peringatan." ujar Aglian. "Lagian dia itu karyawan aku di Angkasa Grup cabang pusat. Walau dia termasuk karyawan yang kompeten, tapi kalau dia sudah bertindak memalukan kayak gitu, pasti akan ada sanksi. Apalagi yang coba ia permalukan itu kakak kembarku sendiri, salah satu pewaris Angkasa Grup, tentu ia harus dapat peringatan. Cuma nggak sekarang. Nanti, saat pernikahan kalian, sekaligus pengumuman telah ditemukannya pewaris Angkasa Grup yang hilang, aku yakin orang-orang yang sudah menyakiti Anggi, pasti akan shock, termasuk Lea, mantan suami dan mertua Anggi juga. Aku udah nggak sabar nungguin hari itu, bang." Aglian berujar dengan bangga.


"Aku dukung apapun yang ingin kamu lakukan, Lian. Sudah cukup Anggi diremehkan. Sekarang giliran mereka yang gigit jari." ujar Diwangga sambil menyeringai. Lalu mereka pun tergelak bersama.

__ADS_1


__ADS_2