Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.189 (S2) Romantisnya anak Emak


__ADS_3

Dengan bersusah payah karena menahan perih, akhirnya Safa berhasil mengantarkan si Emak dan Bik Leha ke rumahnya. Dengan tertatih, Safa membantu Si Emak turun dari dalam mobil dan membantu membawakan belanjaan Si Emak hingga ke teras rumahnya.


"Bu, Safa pamit pulang dulu, ya!" ucap Safa hendak berpamitan pulang.


"Tapi luka kamu kita obatin dulu, nduk. Nanti infeksi kalo nggak segera diobatin." ucap Si Emak.


Baru saja mulut Safa hendak menjawab, terdengar suara deru mobil yang masuk ke dalam halaman rumah itu.


Si Emak dan Safa pun menoleh, sedangkan Bik Leha sedang membawa belanjaan ke dalam rumah.


Brukkk ...


Terdengar suara pintu mobil dan ditutup dengan keras membuat Safa dan Si Emak terjengit kaget.


"Mak, emak nggak papa kan? Nggak ada yang luka kan?" cecar Robi. Rasa panik dan khawatir terlihat jelas di wajahnya.


Sedangkan Safa yang berdiri di dekat Si Emak tampak melongo saat melihat pria di hadapannya itu


'Emak? Apa ibu ini ibunya bang Robi ya? Astaga, ternyata dunia emang beneran sempit ya! Kenapa harus dia sih? Kayak nggak ada pria lain aja di dunia ini.' gumam Safa kesal dalam hati.


"Emak nggak papa kok, Le. Justru nak Safa itu yang terluka karena nolongin emak." ucap Si Emak sambil menatap Safa dengan binar kagum.


'Safa? Apa mungkin Safa yang itu ? Ah, mana mungkin!' kilahnya sendiri.


Ibarat gerakan slow motion, Robi pun menolehkan kepalanya secara perlahan hingga dua pasang mata itu pun saling bertatapan.


Gleg ...


Robi menelan ludahnya sendiri saat melihat wajah Safa tepat di hadapannya saat ini.


"Sa ... Safa ..." sebutnya, namun Safa diam tak bergeming.


"Bu, Safa pulang dulu ya! Assalamualaikum." ucapnya.


"Nduk, kok kamu malah mau pulang? Luka kamu gimana? Nanti infeksi. Emak obatin dulu, ya!" bujuk Si Emak membuat mata Robi memicing memperhatikan tubuh Safa.

__ADS_1


Robi membelalakkan matanya saat menangkap beberapa luka di siku dan sepanjang tangan Safa.


"Nggak usah, Bu. Safa bisa obatin sendiri kok. Safa pulang dulu, ya Bu." pamit Safa lagi.


"Fa, kamu marah sama aku?" tanya Robi tiba-tiba membuat si Emak terkejut.


"Kamu kenal Bi, sama nak Safa?" tanya si Emak penasaran dan Robi mengangguk.


"Sepertinya kalian sedang ada masalah. Kalau begitu Mak masuk dulu ya. Kalian selesaikan masalah kalian baik-baik. Ingat Le, jangan buat calon menantu emak sedih! Awas kalo kamu nyakitin calon mantu emak yang super ayu ini!" tekan Si Emak sambil menyeringai.


Lalu Si Emak pun masuk ke dalam rumah seraya terkekeh geli.


"Wah, diam-diam den Robi udah punya pacar ya Mak!" bisik Bik Leha saat melihat Si Emak masuk ke dalam rumah.


Ternyata bik Leha tadi mengintip dari balik pintu.


"Emak aja nggak nyangka, Ha!" ujarnya sambil terkekeh.


"Wah, nggak lama lagi Emak bakal dapat mantu dong! Cantik dan baik lagi."


"Map plastik? Maksud Emak?"


"Itu tuh, anak Emak satu itu, udah kayak map plastik, kaku, keras, kayaknya tuh pacarnya lagi marah sama dia. Pasti karena sikapnya yang kaku itu." ujar Si Emak berdecak kesal.


"Leha doain semoga si map plastik meleleh sama Eneng Safa ya, Mak!"


"Bukan cuma meleleh, tapi jadi bucin." ujar Si Emak sambil terkekeh.


"Bucin? Bucin itu apa Mak?" tanya Bik Leha bingung.


"Ah, gitu aja nggak tau. Kalah sama emak, kamu Leha. Bucin itu budak cinta." jelas si Emak.


Bik Leha menggaruk-garuk kepalanya, bingung.


"Udah ah kalau nggak tau. Kudet banget . Masa' kalah sama Emak yang usianya udah setengah abad." ejek si Emak seraya terkekeh geli.

__ADS_1


...***...


"Marah?Emang kamu siapa? Buat apa aku arah sama kamu? Toh aku juga bukan siapa-siapa kamu kan!" ketus Safa.


"Kalau kamu nggak marah kamu nggak akan ketus kayak gini, Fa."


"Lah, nggak ngaca kamu bang, yang selama ini suka ketus siapa coba?" sinis Safa.


Robi yang mendengar ucapan ketus Safa nampak menghela nafas panjang.


"Kamu obatin luka kamu dulu, ya!" bujuk Robi.


'Ish, kirain mau minta maaf!' kesal Safa dalam hati.


"Iya, di rumah aku pasti obatin." sahut Safa ketus seraya membalik badan hendak pergi dari hadapan Robi.


Robi yang melihat langkah Safa yang tertatih dan sedikit terpincang-pincang lantas melihat ke arah kakinya. Robi menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menghembuskan nafas kasar. Dengan langkah panjangnya, ia mendekati Safa lalu menyelipkan sebelah tangannya di bawah lipatan kaki Safa dan tangan sebelahnya lagi menahan pundak Safa, kemudian dengan santainya Robi mengangkat tubuh Safa masuk ke dalam rumahnya.


"Aaarh ..." Safa memekik kaget saat tubuhnya tiba-tiba melayang di udara. "Lepas! Lepasin , Safa! Bang Robi ih, ngapain gendong-gendong Safa? Turunin Safa cepetan atau nggak Safa teriak nih!" ancam Safa sambil meronta-ronta di dalam gendongan ala bridal style Robi.


"Teriak aja kalau kamu mau minta aku cium!" ancam Robi sambil menyeringai.


Deg ...


"Ish, ancamannya nggak mutu banget! Safa beneran teriak nih!" Aa ..."


Cup ...


"Oalah, romantisnya anak emak!" puji Si emak sambil tersenyum lebar yang entah sejak kapan tau-tau sudah berdiri di hadapan Robi dan Safa membuat wajah Safa merona karena malu.


'Kurang ajar nih kutu kupret, kirain ngancam doang taunya baru aja mau buka mulut teriak udah dicium. Bikin malu di depan si Emak aja. Oh my God, ciuman pertama ku.' teriak Safa dalam hati.


'Astaga, kok aku berani-beraninya cium si Safa sih padahal kan tadi aku cuma mau main-main! Kalau dia marah lagi gimana mana kepergok emak lagi. Haduh!'


...***...

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2