
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Perhelatan Akbar pernikahan antara pengacara kondang Indonesia dan putri kerajaan bisnis multinasional Angkasa Grup telah di depan mata. Grand ballroom Deluxe Hotel pun telah didekorasi sedemikian rupa untuk merayakan hari pernikahan antara dua insan yang saling mencinta.
Di pagi yang cerah ini, di sebuah kamar presidential suite hotel, nampak calon pengantin perempuan sedang duduk di depan meja rias dengan senyum yang terkembang sempurna. Ya, dia adalah Anggi Saraswati Putri Angkasa. Ia baru saja selesai dirias oleh MUA terkenal Indonesia. Hasil make up nya ternyata sungguh luar biasa. Bahkan ia sendiri pangling melihat wajahnya sendiri yang sangat jauh berbeda dari kesehariannya.
Dengan tubuh dibalut kebaya putih pun kepala juga dibalut hijab senada, ditambah sebuah mahkota menjadikan Anggi bak putri dari kerajaan.
Begitu pun di kamar lainnya, Diwangga telah siap dengan setelan tuxedo berwarna putih yang sengaja ia pilih untuk menambah kesan kesucian dalam pernikahan. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ini akan ia jadikan pernikahan pertama dan terakhir baginya. Hanya Anggi yang akan selalu bertahta dalam hatinya. Tak ada yang lain, hanya seorang Anggi Saraswati semata.
Di sisi lain grand ballroom Deluxe hotel, tampak sebuah ruangan cukup luas yang telah dihias sedemikian rupa untuk dijadikan tempat diadakannya akad nikah antara pasangan calon pengantin Anggi dan Diwangga. Tak lupa diletakkan sebuah meja dengan beberapa kursi untuk tempat berlangsungnya ijab kabul.
Tak lama kemudian, satu persatu tamu baik dari keluarga besar Anggi maupun Diwangga beserta para kolega dan rekan bisnis mulai berdatangan dan duduk di kursi yang telah tersedia.
"Rob, gimana keadaan di sana?" tanya Aglian via ponsel pada Robi yang sejak pagi-pagi sekali telah stand by di lokasi akad nikah.
"Semua aman terkendali, tuan. Para tamu juga sudah banyak yang hadir dan mulai memenuhi meja-meja tamu. Nah, penghulunya juga sudah datang tuan." Lapor Robi pada Aglian.
"Baiklah, sebentar lagi kami turun." ucap Aglian lalu segera menutup teleponnya.
"Pa, ma, semua sudah siap di bawah. Para tamu dan penghulu juga sudah datang." lapor Aglian pada Davindra.
Lalu Davindra berjalan mendekati Anggi yang sedang berbincang dengan Ajeng.
"Kamu sudah siap, sayang?" tanya Davindra.
Anggi yang sedang berbicara dengan Ajeng sontak menoleh ke arah Davindra.
"Insya Allah siap, pa." sahut Anggi dengan tersenyum lebar.
"Sayang, mama nggak bisa banyak berpesan apa-apa padamu sebab kamu pun sudah pernah menjalani biduk rumah tangga. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, sekarang kamu punya tempat kembali, bila terjadi sesuatu padamu, kembalilah pada kami, tangan kami akan selalu terbuka lebar untukmu, sayang. Tapi kalau mama sih yakin sama Angga. Dia anak yang baik, santun, dan soleh jadi dia nggak akan mungkin menyakiti kamu. Ini aja tiap hari mama Sofi ngasi kabar ke mama tentang tingkah calon suamimu yang mendadak jadi kekanakan karena nggak bisa ketemu kamu." ujar Ajeng sambil terkekeh saat mengingat cerita Bu Sofi tentang tingkah Diwangga. "Bener kata Lian, dia sudah bucin banget sama kamu sayang." tambahnya lagi.
"Udah belum sih, ma? Papa juga mau ngomong lho sama Anggi." sergah Davindra saat istrinya tak berhenti bicara.
"Eh,papa mau ngomong juga toh! " ujar Ajeng sambil terkekeh. "Tuh, giliran papa mau ngomong." ucapnya pada Anggi.
"Karena semua udah disampaikan mama, nggak banyak yang akan papa sampaikan. Perlu kamu ingat, selama nafas kami masih berhembus, selama itu pula doa kami selalu menyertaimu, putriku." ucap Davindra dengan mata berkaca-kaca. "Yuk, kita turun! Angga pasti udah nggak sabar nungguin calon pengantinnya." tambahnya lagi.
Anggi mengangguk dengan antusias. Sebelum melangkahkan kakinya menuju tempat diikrarkannya janji suci , Anggi terlebih dahulu berhambur memeluk kedua orang tuanya.
"Makasih ma, pa, sudah hadir dan kembali ke dalam kehidupan Anggi. Anggi bahagia memiliki kalian. Love you ma, pa." ucap Anggi dengan mata berkaca-kaca.
.
.
__ADS_1
.
Kini Anggi didampingi kedua orang tuanya telah memasuki tempat diadakannya akad nikah. Dari jauh terlihat Diwangga yang tengah duduk bersama Suseno dan penghulu. Semua mata tampak sibuk memindai penampilan Anggi. Tak sedikit yang mengabadikan kedatangan Anggi dengan kamera ponselnya, baik berupa foto maupun video.
Semua orang tampak sibuk menebak-nebak siapakah gerangan mempelai wanita itu sebab mereka belum dapat mengenali wajah asli Anggi yang diberi full make up.
Namun tak sedikit pula khususnya kaum hawa yang sibuk kasak kusuk seperti mengenali wajah Anggi. Tapi mereka masih belum berani berasumsi apalagi membahasnya di ruang publik. Apalagi sebelumnya para tamu yang hadir telah diminta tidak menyebarkan identitas Anggi sebelum acara resepsi dimulai jadilah mereka hanya bisa kasak kusuk dengan sesama mereka saja.
Kini Anggi telah duduk tepat di sebelah Diwangga. Diwangga yang sejak tadi khusuk berzikir dalam hati memohon ketenangan batin karena khawatir gugup tiba-tiba melanda, lantas menoleh. Ia sontak tertegun memandang betapa cantiknya rupa Anggi saat ini hingga membuatnya tidak bisa mengontrol debaran jantungnya.
"Ekhem ..." penghulu berdeham. "Pandang-pandangannya ditunda dulu, ya! Kalau udah ijab kabul, mau pandangi dari pagi ketemu pagi juga nggak masalah. Mau lebih juga boleh, udah halal." canda sang penghulu membuat semua tamu terkekeh, sedangkan kedua calon pengantin hanya bisa tersenyum sambil menunduk malu.
Tak lama kemudian, setelah penghulu selesai memberikan beberapa wejangan tentang berumah tangga dan pembacaan sighat taklik oleh mempelai laki-laki, maka ijab kabul pun dimulai.
Namun anehnya, Anggi hanya bisa fokus pada jawaban Diwangga.
"SAYA TERIMA NIKAHNYA ANGGI SARASWATI PUTRI ANGKASA BINTI DAVINDRA PUTRA ANGKASA DENGAN MAS KAWIN CINCIN BERLIAN BLUE DIAMOND RING SEBESAR 8 KARAT DAN SEBUAH RUMAH DIBAYAR TUNAI." ucap Diwangga dengan tegas dan lantang dalam satu tarikan nafas.
"Bagaimana semua, sah?" seru sang penghulu.
"SAH."
"SAH."
"SAH."
Usai mengucapkan itu, Anggi diminta mencium punggung tangan Diwangga dan Diwangga pun balas mencium kening Anggi. Setelah segala prosesi akad nikah selesai, mereka pun kembali ke kamar, namun kali ini kamar mereka sudah tidak terpisah lagi.
"Ingat, jangan diiya-iya dulu menantunya mama, Ngga. Kalian masih harus lanjut resepsi sampai malam." pesan Bu Sofi pada putranya saat berada di dalam kamar Anggi dan Diwangga.
"Diiya-iya apaan sih, ma? Suka ngomong nggak jelas." Diwangga mendelik.
"Is, gitu aja nggak ngerti. Gini nih, kalo perjaka ting ting , polosnya nggak ketulungan." ledek Ajeng. "Tapi itu bagus sih, berkah buat Anggi. Jadi tugas kamu nanti, Nggi, ajarin nih suami polos kamu ini. Oke!" ujar Ajeng sambil terkekeh.
"Emang aku harus ajarin mas Angga apaan,ma?" tanya Anggi dengan polosnya.
"Ya salaaam, Sofiiii. Mereka berdua ternyata masih ... hadeuh ... Udah anak 3 aja tapi masih polos kayak anak remaja." ujar Ajeng terbahak, pun Bu Sofi ikut terbahak.
"Mama ..." pekik trio bocil.
"Eh ganteng dan cantiknya mama. Kesini sama siapa sayang?" tanya Anggi.
"Sama onty Luna dan onty Tita, ma." jawab Damar.
"Wah, mama cantik banget! Kayak tuan puteli." ucap Karin dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Om papa juga kayak pangelan." timpal Kevin.
"Sayang," panggil Anggi pada ketiga anaknya. "Mulai sekarang panggil om papa kalian dengan panggilan papa, ya! Kan sekarang om papa udah jadi papa kalian." Anggi memberi tahu ketiga anaknya.
"Waaa ... Asikkk ...! Yeay, Ayin punya papa lagi." pekik Karin.
"Epin sama Abang juga ,yeayyy!" pekik mereka girang yang langsung berhambur memeluk Diwangga.
"Eh eh, hati-hati sayang, nanti papa Angga ya jatuh!" seru Anggi saat melihat ketiga anaknya memeluk Diwangga serentak.
"Kami sayang papa." ujar mereka bertiga seraya memberikan kecupan di pipi Diwangga.
"Papa juga sayang kalian. Sini gantian papa yang cium. ummuach ... ummuach ... ummuach." Giliran Diwangga yang menciumi wajah anak-anaknya sambil menggesek-gesekkan hidungnya yang mancung membuat mereka terkekeh geli.
'Alhamdulillah ya Allah, engkau telah mengirimkan jodoh yang sangat baik padaku. Semoga keluarga kami bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.' ucap Anggi dalam hati saat melihat raut kebahagiaan yang terpancar jelas di wajah suami dan anak-anaknya.
.
.
.
.
"Ma ... Sulis ... udah siap belum sih! Lama bener !" pekik Adam seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya ... iya ... ini udah siap. Sabar kenapa sih!" Bu Tatik mendelik.
"Ma, tamu yang diundang ini jumlahnya nggak main-main lho. Semakin cepat kita datang, kita bisa duduk di kursi depan. Emang mama nggak mau melihat dengan jelas pengantinnya. Aku juga mau fotoin mereka. Aku yakin Anggi nggak bakalan datang. Jadi sepulang dari sana aku bakal ke rumah Anggi buat nunjukin foto-foto pernikahan calon suaminya itu. Biar dia kesel trus nggak jadi mau nikah sama dia." ucap Adam dengan bangganya.
"Ah, kamu bener juga ,Dam! Kamu ntar panas-panasin tuh Anggi biar dia benci sama pengacara itu. " timpal Bu Tatik.
"Kalau perlu kami ikut aja mas, biar si Anggi makin panas, tau sendiri kan kalau kita ngomong, pasti dia bakal ikutan panas. Kalau dia udah mutusin batal nikah sama orang itu, langsung ajak aja ke rumah ini biar dia nggak berubah pikiran. Besoknya mas langsung ajak ke penghulu terus nikah deh. Gampang kan!" sambung Sulis .
"Wah, ide kamu bagus juga, Lis! Kita juga bisa panas-panasin anak-anak, bilangin ke mereka kalau calon papa mereka itu udah nyakitin mamanya dengan nikah sama orang lain, pasti mereka marah dan mau nerima aku lagi ." tambah Adam dengan semangat menggebu.
Lalu mereka pun berangkat menuju hotel tempat diadakannya pesta pernikahan Anggi dan Diwangga.
**Jeng jeng jeng ... Mereka udah otw gaes!
Yang mau nyumbang ambulance, Monggo dihaturi! 😂😂😂
Selamat malam ya semua. Selamat istirahat.
Maaf, kelanjutannya dilanjut besok.🙏**
__ADS_1