Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.204 (S2) Anggi melahirkan


__ADS_3

Ruangan serba putih itu kini tengah riuh dengan persiapan persalinan Anggi. Tampak Diwangga masuk ke ruangan serba putih itu dengan mengenakan pakaian khusus. Ia pun mengambil tempat tepat di sebelah kanan Anggi.


Ini adalah kali pertama untuk Diwangga melihat dan menemani istrinya itu melahirkan. Hatinya gugup bukan kepalang. Jantungnya seakan dipacu sangat kencang hingga hampir keluar dari sarangnya. Hati suami mana yang bisa tetap tenang saja saat melihat sang istri sedang berjuang jiwa dan raganya demi kelahiran buah hati tercinta? Kalaupun ada, mungkin hati suami itu sudah membatu seperti dikutuk oleh ibu Malin Kundang.


Hati Diwangga makin perih seakan diiris sembilu saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Anggi meringis menahan sakit. Wajahnya sampai memucat dengan peluh tak berhenti mengalir di sekujur tubuhnya. Diwangga hanya bisa menggenggam erat tangan Anggi seraya melafalkan doa dan salawat, berharap proses persalinan istrinya berjalan lancar. Ia juga berdoa agar istri tercintanya itu diberikan kesehatan, begitu pun ketiga anaknya yang akan segera lahir ke dunia.


"Bismillah sayang, terus beristighfar, Mas yakin kamu kuat, demi anak-anak kita sayang. Mas mencintai kamu, sangat." bisik Diwangga memberi kekuatan seraya mendaratkan sebuah kecupan hangat yang cukup lama di kening Anggi.


Sambil meringis , Anggi tersenyum. Ia bahagia karena merasa begitu dicintai dan disayangi oleh kekasih halalnya tersebut.


"Terima kasih, Mas atas segala cinta yang kau beri. Anggi juga sangat mencintaimu." lirihnya pelan.


Lalu ia makin menggeram saat rasa sakit itu datang hingga bertubi-tubi. Dalam genggaman tangannya, Diwangga dapat merasakan betapa sakit yang Anggi rasakan saat sang calon baby itu akan segera keluar. Mereka seakan tak sabar lagi ingin melihat dunia sehingga membuat Anggi tersengal karena hantaman rasa sakit yang menjalari di sekujur perut, pinggang, hingga kaki.


Genggaman tangan Anggi melemas saat kepala bayinya mulai keluar membuat Diwangga panik. Ia lalu mengecup wajah Anggi dan memanggilnya berulang kali agar kesadaran Anggi tetap terjaga hingga tak lama bayi pertama pun lahir. Perawat yang sudah siap siaga pun segera menyambut bayi yang masih menangis itu untuk dibersihkan terlebih dahulu karena bayi kedua tampaknya sudah ingin menyusul sang kakak.


Anggi menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan kemudian ia menggeram saat dorongan itu kembali datang hingga tak lama baby kedua pun lahir dengan tangisan tak kalah kencang dari sang kakak. Bayi kedua pun segera dokter serahkan ke perawat lainnya untuk dibersihkan.

__ADS_1


Wajah Anggi kian memucat. Nafasnya pun sudah tersengal. Berkali-kali matanya hendak menutup hingga membuat Diwangga meneteskan air matanya, terharu melihat perjuangan sang istri.


"Mas mohon sayang, jangan tutup matamu! Ingat, masih ada satu lagi bayi kita yang menunggu kamu perjuangkan. Mas mohon sayang, bertahanlah. Kamu dengar kan sayang, betapa indah suara tangisan anak-anak kita. Mereka sepertinya tak sabar lagi ingin mencicipi asi darimu secara langsung." ucap Diwangga sambil terkekeh pelan untuk menutupi rasa gundahnya.


Setelah sedikit memberikan semangat, tiba-tiba dorongan ketiga datang lagi. Mungkin karena ini yang ketiga, Anggi tidak perlu berupaya keras, hingga hanya dengan satu tarikan nafas, bayi berjenis kelamin laki-laki itu pun lahir. Sedangkan bayi pertama dan kedua berjenis kelamin perempuan.


Baru saja bayi itu berpindah tangan ke perawat, tiba-tiba kondisi Anggi drop. Menurut dokter, kemungkinan besar itu efek kelelahan dan kehabisan banyak darah. Diwangga panik bukan kepalang. Rasanya ia ingin menjerit saat melihat wajah dan bibir Anggi yang sudah seputih kapas. Matanya pun perlahan tertutup sempurna hingga tangisan Diwangga pun pecah.


Untuk pertama kalinya, Diwangga menangis. Ya ini untuk pertama kalinya setelah ia dewasa. Bahkan ia tak ingat pernah menangis sebelumnya. Namun kini, hatinya berdenyut perih saat melihat wajah pucat pasi istrinya dengan mata tertutup. Diwangga terus bergumam dalam hati, memohon pada yang kuasa agar istri tercintanya diberi kesehatan dan keselamatan.


Dokter yang ada di ruangan itu pun ikut panik. Ia segera mengambil tindakan, sedangkan beberapa perawat tampak sibuk membersihkan sisa-sisa darah persalinan yang belum keluar sempurna, membersihkannya, lalu memberikan jahitan parineum yang mengalami sedikit robekan.


Lalu dokter itu meminta Diwangga keluar ruangan sebab Anggi akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Ingin rasanya Diwangga menolak sebab ia ingin selalu mendampingi Anggi, tapi dokter mengatakan keberadaannya hanya akan mengganggu konsentrasi dokter dan perawat yang bekerja. Mereka berjanji akan berupaya sebaik mungkin demi keselamatan Anggi.


Dengan berat hati, Diwangga pun keluar. Sedangkan bayi-bayinya, saat ini sedang dibawa ke ruang perawatan untuk tindakan lebih lanjut.


"Ngga, gimana keadaan Anggi?" tanya Ajeng panik.

__ADS_1


Ya, kini keluarga besarnya sudah berkumpul di rumah Anggi. Baik orang tuanya, orang tua Anggi, Bu Yanti, Aglian dan Luna. Sedangkan Tita, Raju, Lia, dan Aji diminta menemani trio bocil yang pasti juga sedang mengkhawatirkan sang mama.


"Anggi drop, ma. Dia kehabisan banyak darah juga kelelahan. Ia sedang tak sadarkan diri sekarang." ujar Diwangga dengan nafas tercekat. Air mata yang tadi saja belum kering, kini kembali mengalir.


Ingatkan ini, bila seorang lelaki sampai meneteskan air matanya karena seorang perempuan, jangan ragukan lagi, betapa besar cintanya untuk perempuan itu.


Nafas semua orang yang mendengar penuturan Diwangga turut tercekat. Mata mereka ikut berkaca-kaca. Bahkan tangis Ajeng, Sofi, Yanti, dan Luna pun sudah pecah. Mereka begitu mengkhawatirkan keadaan Anggi sekarang.


Aglian pun duduk di samping Diwangga. Ia merangkul Abang iparnya itu, mencoba memberi kekuatan. Matanya pun juga sudah memerah. Jujur saja, ia merasa amat sangat takut sekarang. Mereka saja belum lama berkumpul lagi. Ia takut kali ini justru terpisah selamanya.


Aglian menepis pikiran buruknya itu. Dalam hati ia berdoa, semoga saudara kembarnya itu diberikan keselamatan dan umur yang panjang sebab mereka sangat mencintai Anggi.


'Kau harus bertahan Nggi, demi suamimu, demi anak-anakmu, dan demi keluargamu yang sangat mencintaimu.' batin Aglian.


...***...


Aku yang nulis kok aku yang sedih sendiri ya part ini. 😥

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2