
Di sebuah perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perdagangan batubara yang berkantor Jakarta, tampak seorang pria paruh baya duduk di singgasana kekuasaan tertinggi di perusahaan itu. Di usianya yang telah mencapai setengah abad, ia masih nampak gagah dengan sorot mata tajam.
Perusahaan itu bernama Indomarco Coal Tbk, sedangkan nama presiden direkturnya adalah Derian Wijaya.
Tak lama kemudian masuk seseorang yang telah ia tunggu sebelumnya. Setelah membungkukkan badan, ia pun duduk di kursi seberang meja kerja pria paruh baya tersebut.
"Bagaimana, sudah dapat informasi tentang keberadaan anak itu?" tanya presdir perusahaan Indomarco Coal TBK itu.
"Maaf Tuan, kami belum mendapatkan informasi apapun." sahut pria itu dengan kepala tertunduk. Ia tak berani menatap tuannya tersebut.
Brak ...
Derian Wijaya menggebrak meja kerjanya.
"Mencari seorang anak perempuan saja tidak becus. Untuk apa saya bayar mahal-mahal kalau hanya mencari seorang anak perempuan saja kau tidak mampu." sergah Derian Wijaya.
"Maafkan kami, Tuan."
"Maaf, maaf. Apa dengan kata maafmu semua akan beres, hah! Yang aku mau cuma anak itu. Pokoknya upayakan apa saja agar kamu bisa menemukan anak itu." tukas Derian Wijaya.
"Baik, Tuan. Akan kami upayakan sebaik mungkin."
"Apa anak buahmu yang mengawasi pengacara sialan itu mendapatkan informasi? Atau ada pergerakannya yang mencurigakan?" tanya Derian.
"Tidak tuan. Tidak ada pergerakannya yang mencurigakan."
"Sialan. Dikemanakan anak itu oleh pengacara brengsek itu. Aku harus segera menemukannya sebelum dia genap 19 tahun." gumam Derian dengan sorot mata berapi-api. "Pergi sana! Lakukan pekerjaanmu dengan baik! Waktumu tidak sampai 2 bulan lagi. Bila dalam waktu itu, kau belum juga berhasil menemukannya, maka kau harus menanggung semua risikonya." pungkas Derian dengan sorot mata tajam penuh intimidasi.
__ADS_1
"Baik, Tuan." sahut pria yang bernama Aldo itu. Setelah ia membungkukkan badannya, ia pun keluar untuk segera melaksanakan tugas yang diembankan kepadanya sejak beberapa tahun lalu.
Di luar ruangan
"Cepat, kerahkan anak buah kita lebih banyak lagi. Kalau perlu rekrut yang baru untuk mempercepat kita menemukan anak perempuan itu. " titah Aldo pada anak buahnya yang lain.
Anak buahnya pun mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya sesuai perintah.
'Sialan, dimana sebenarnya anak itu! Awas kau Luciana Calista.' geram Aldo.
...***...
Setelah acara pameran dan bazaar hasil UMKM selesai, Adinda tampak sedang membereskan barang-barang untuk segera ia bawa pulang. Tangannya memang sedang bekerja tapi pikirannya sedang semerawut memikirkan segala hal yang berhubungan dengan Anggi. Ia benar-benar tak menyangka Anggi bisa berubah sejauh itu. Bahkan yang lebih mencengangkannya ternyata Anggi adalah pemilik Mall tempat ia sedang mengikuti bazar.
Saat sedang mengangkut barangnya keluar menuju mobil pick up Bu Dina, tiba-tiba ia menabrak tubuh seseorang sehingga barang yang ia angkat jatuh berserakan di lantai. Kepala Adinda pun mendongak seraya mengucap maaf hingga berkali-kali, namun dalam beberapa detik kemudian ia terkejut bukan main saat menatap wajah orang yang ia tabrak itu.
Namun, tenggorokannya mendadak tercekat saat menatap tubuh yang menjulang tinggi di hadapannya.
"M ... mas Adam." ucapnya seraya menelan salivanya sendiri akibat terlalu terkejut. 'Kebetulan macam apa ini, kenapa dari sekian banyak orang yang ada di mall ini, aku harus bertemu dengan Mas Adam.' rutuknya dalam hati.
"Dinda ..." ucapnya. Lalu Adam perhatikan barang-barang yang dibawa oleh Adinda. "Sedang apa kau di sini? Dan barang-barang itu ..." ucap Adam penuh tanda tanya seraya menunjuk barang-barang yang baru saja dibereskan Adinda.
"Oh, ini ... Dinda ikutan pameran dan bazar, Mas. Barang-barang ini hasil buatan Dinda sama Bu Dina." sahut Adinda. "Dinda pergi duku ya, Mas. Udah ditunggu di belakang." ujar Adinda.
Namun, baru beberapa langkah Adinda berjalan, panggilan Adam menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Adinda setelah ia membalikkan badannya.
__ADS_1
"Kaki kamu ... kenapa pincang?" tanya Adam heran. Sebab dulu sewaktu Adam mengusirnya, Adinda dalam keadaan baik-baik saja tanpa kurang satu apapun.
"Oh, ini ... ada sedikit trouble, jadi ya gini, kaki Dinda jadi pincang. Mungkin ini hukuman buat Dinda Mas karena udah sering menghancurkan rumah tangga orang lain, termasuk Mas Adam dan Anggi. Sebelum Dinda pergi, Dinda mohon maaf sebesar-besarnya pada Mas atas semua perbuatan dan kesalahan Dinda. Tolong sampaikan juga permohonan maaf Dinda pada Sulis dan mama atas perbuatan buruk Dinda selama ini. Kalau begitu, Dinda pamit pulang dulu, Mas." ucap Adinda dengan sorot mata penuh ketulusan. Lalu ia pun pergi meninggalkan Adam yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Maafin Mas juga, Din. Semoga kamu bisa hidup lebih baik lagi." pekik Adam saat Adinda belum terlalu jauh.
Saat masih berdiri mengawasi kepergian Adinda, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Adam, sontak Adam pun menoleh ke arah orang itu.
"Hei, bro! Kenapa loe nggak ajak balikan aja si Dinda, kan dia juga kayaknya udah berubah." ujar Yudi.
Adam mendengus saat melihat ternyata Yudi lah yang menepuk bahunya.
"Nggak, gue sekarang cuma mau fokus memperhatikan anak-anak gue, mama, dan Sulis. Gue bersyukur, Anggi tidak mengajarkan anak-anak membenci gue. Jadi sekarang gue udah bisa lebih dekat sama anak-anak. Walaupun sedikit terlambat dan juga nggak bisa setiap hari bertemunya, tapi itu nggak masalah. Gue akan membayar waktu yang hilang selama ini. Terus gue juga mau fokus mengurus mama yang sakit dan Sulis yang tengah hamil. Loe tau kan, Anton suaminya Sulis dipenjara. Vonisnya 2 tahun. Kalau gue menikah lagi otomatis perhatian gue akan terbagi lagi." ujarnya seraya tersenyum.
"Gue dukung apapun pilihan yang terbaik buat loe, Dam. Semoga semua yang terjadi di masa lalu bisa menjadi pelajaran buat loe di masa depan." ujar Yudi bijak. Yudi bersyukur, Adam sekarang sudah lebih bijak. Padahal di sekelilingnya masih banyak perempuan yang mencoba menggodanya, tapi ia tak terpancing sama sekali. Akhirnya, sahabatnya telah kembali seperti dahulu.
"Thanks, Yud sudah selalu ada buat gue ." ucap Adam tulus yang diangguki Yudi dengan senyum hangatnya.
...***...
Kediaman Ratna
"Ma, sepertinya kecurigaan kita bener, Ma! Tapi Kenta masih belum mau jujur. Azam butuh bantuan mama untuk mengorek informasi dari Kenta. Kita nggak bisa biarin ini berlarut-larut. Azam kasihan bila benar Kenta telah menghamili seorang gadis. Gimana nasib gadis itu dan calon anak mereka. Azam jadi ingat Jelita saat bayanginnya." ujar Azam saat sedang duduk bersantai di ruang tamu.
"Astaghfirullah, anak itu. Kamu bener Zam, kita harus segera bertindak. Mama nggak mau Kenta jadi orang yang nggak bertanggung jawab. Kasihan nasib gadis itu dan calon cucu mama. Mama juga sama kayak kamu, Zam. Mama membayangkan kalau gadis itu Jelita. Udah hamil di luar nikah, dipaksa menggugurkan kandungannya demi untuk dinikahkan dengan orang lain yang butuh calon penerus. Nggak ada keluarga yang mendampingi, nggak ada suami, pasti hari-harinya nanti akan makin berat. Belum lagi cemoohan orang-orang." desah Ratna yang ikut prihatin atas apa yang menimpa Jelita. "Zam, kamu mau nggak nikahin Jelita? Kamu juga nggak ada calon kan! Kasihan dia, Zam. Mending kamu nikahin dia supaya anaknya punya status. Jadi mama juga bisa memiliki menantu dan calon cucu sekaligus." ucap Ratna dengan mata berbinar membuat Azam melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan mamanya.
...***...
__ADS_1
...Happy Reading 🥰🥰🥰...