
Flashback on
"Anggi." panggil Sulis saat Anggi sedang menemani Bu Tatik hingga tertidur. Anggi pun menoleh.
"Ya, kenapa Lis?"
"Ada yang nyariin kamu tuh di luar."
Anggi mengernyitkan dahinya. Bingung.
"Siapa?"
Wajar ia menanyakan siapa sebab ini bukan rumahnya. Aneh bila tiba-tiba ada seseorang yang mencarinya.
"Nggak tau. Cewek cantik." Beritahu Sulis.
Anggi tambah bingung. Tapi gegas ia berdiri dan keluar hendak menemui seseorang yang mencarinya itu.
Anggi menatap heran pada perempuan yang berdiri di hadapannya dengan senyum yang sangat manis.
"Anggi, ya?" tanya wanita itu. Lantas Anggi pun mengangguk.
"Kamu ..." Belum sempat Anggi melanjutkan pertanyaannya, dering ponselnya memekik seakan meminta segera diangkat. Ia tau telepon dari siapa itu sebab Anggi telah mengatur nada dering khusus untuk orang-orang terdekatnya.
"Tunggu sebentar, ya! Suami saya telepon." Anggi meminta izin sebentar untuk mengangkat telepon Diwangga. Lalu ia sedikit menepi agar pembicaraannya tidak dicuri dengar orang lain.
"Assalamualaikum, mas."
"Wa'alaikum salam, sayang. Sayang , nanti ada perempuan yang akan menemui kamu. Nanti kamu suruh dia masuk terus ganti baju kamu pakai baju yang ada di dalam paperbag, ya! Terus baju yang kamu pakai kasi ke perempuan itu, suruh dia pakai di dalam." titah Diwangga. "Nanti Reno harus pergi sama perempuan itu, jadi kamu tetap di rumah itu tungguin mas jemput. Please, jangan kemana-mana. Jangan keluar-keluar juga. Tetap stay di dalam rumah, okay!" lanjutnya lagi.
Anggi mengerutkan keningnya. Ia benar-benar bingung sekarang. Mengapa ia harus ganti pakaian? Mengapa pakaian yang ia pakai harus ia berikan pada perempuan lain dan memintanya memakainya? Pikiran Anggi tampak berkecamuk.
"Kamu pasti bingung, ya sayang? Tapi mas nggak bisa cerita sekarang. Nanti selepas jemput kamu, mas pasti cerita. Mungkin jemputnya agak sorean. Mas ada kerjaan sebentar sama Lian. Kamu paham kan ucapan, mas?" tanya Diwangga saat tak mendengar sepatah katapun yang diucapkan Anggi.
__ADS_1
"Iya mas. Tapi apapun kerjaan mas itu, aku mohon hati-hati ya!"
"Iya sayang. Kamu juga hati-hati di sana. Kalau ada apa-apa, segera hubungi mas."
"Baik, mas. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam, sayang." sambungan telepon pun ditutup.
Setelah tahu bahwa wanita yang ternyata bernama Erika itu merupakan utusan suaminya, Anggi segera mempersilakannya masuk dengan terlebih dahulu meminta izin Sulis. Bagaimana pun, itu bukanlah rumah miliknya.
Anggi pun segera mengganti pakaiannya dan mempersilakan Erika mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia pakai tadi. Setelah selesai, Erika segera pamit undur diri dengan menaiki mobilnya yang Reno kemudikan tadi.
"Nggi, kok kalian tukaran baju kayak gitu?" tanya Sulis yang juga penasaran mengapa wanita cantik yang bertamu ke rumahnya itu malah saling bertukaran pakaian. Tapi Anggi mengenakan baju yang baru, sedangkan Erika memakai baju yang Anggi pakai tadi.
"Aku juga belum tau alasannya, Lis. Suamiku belum bisa cerita." ujar Anggi.
"Oh ya Nggi, aku lagi buat rujak nih, kamu mau nggak?" tawar Sulis.
Anggi yang melihat sepiring penuh berisi mangga muda itu langsung meneguk salivanya. Matanya seketika berbinar seolah baru saja menemukan harta karun. Tanpa malu-malu, Anggi pun menerima tawaran dari Sulis itu.
Flashback off
.
.
.
Lea yang telah pulang ke rumah tampak mondar mandir di teras rumahnya. Ia begitu khawatir karena ayahnya tak kunjung pulang.
"Apa Daddy belum berhasil lenyapin perempuan sialan itu?" umpat Lea kesal sambil menggigiti kuku jemarinya.
Lea segera meraih ponsel yang terkapar di meja , lalu ia menekan nomor ayahnya, namun hingga ke sekian kalinya panggilannya tak kunjung dijawab.
__ADS_1
Lea makin gusar. Tubuhnya gemetar. Peluh mulai membasahi dahi dan tubuhnya. Ia coba menenangkan diri dengan membuka status WhatsApp milik teman-teman kantornya. Tiba-tiba matanya membelalak saat melihat hampir seluruh status WhatsApp temannya berisi tentang atasannya yang pergi entah kemana dengan dikelilingi banyak pria bertubuh kekar seperti bodyguard. Lantas ia memperbesar layar untuk melihat jelas raut wajah Aglian dalam foto itu, tersirat ketegasan , ketegangan, dan kemarahan dalam ekspresinya itu.
Lea tampak makin cemas bahkan kini degup jantungnya meningkat drastis hingga berkali-kali lipat. Berbagai hal yang mungkin saja terjadi pada ayahnya berputar-putar di otaknya bagai kaset rusak .
Gegas ia masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaiannya secara sembarang dan memasukkannya ke dalam koper besar yang memang selalu ada di dalam kamarnya. Ia juga memasukkan berbagai macam barang yang sering ia gunakan dan perhiasan serta uang cash yang tersimpan di dalam lemarinya. Tak mau menunggu banyak waktu, Lea segera menarik koper itu dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Dalam hitungan menit, Lea segera melajukan mobilnya menuju bandara. Ia berniat pergi sejauh-jauhnya sementara waktu ini. Masa bodoh dengan ayahnya toh ia juga tak terlalu dekat dengan ayahnya yang baru membersamainya selama 3 tahun ini. Ia hanya dekat dengan sang ibu, namun ibunya telah tiada sejak 2 tahun yang lalu. Jadi ia tak khawatir bila ingin pergi jauh karena memang tak ada orang yang perlu ia khawatirkan.
Setibanya di bandara, ia segera menuju kursi tunggu. Ia segera membuka ponselnya untuk memesan tiket terserah kemana saja yang penting penerbangannya yang tercepat agar ia bisa meninggalkan kota yang penuh kenangan itu. Belum selesai Lea melakukan pembayaran, tiba-tiba sudah berdiri beberapa pria bertubuh kekar di hadapan Lea membuat Lea menegang kaku. Bahkan tenggorokannya kini terasa sangat kering, hingga ingin menelan salivanya sendiri saja terasa sulit.
"Nona Lea, bisa ikut kami segera?" pinta para pria berbadan kekar itu dengan sopan. Bagaimana pun bandara adalah tempat umum, mereka tak mau membuat keributan di sana kecuali orang yang diminta ikut bertindak sebaliknya.
"Si-si-siapa ka-kalian?" tanya Lea gugup.
"Anda tak perlu tahu kami siapa nona. Cukup saja ikut kami secara baik-baik, maka kami akan memperlakukan Anda dengan baik." ucapnya pelan namun dengan penuh tekanan dan nada intimidasi.
Tubuh Lea makin gemetar saat melihat raut wajah orang-orang itu yang sebenarnya tampan tapi terlihat sangat garang dan kejam. Dengan perlahan, Lea berusaha berdiri walau kakinya sedikit bergetar bahkan makin terasa lemas saat ia mencoba menegakkan tubuhnya.
"Ta-tapi saya mau dibawa kemana? Kalian tidak akan berbuat macam-macam kan pada saya?" tanya Lea ragu dengan peluh yang mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya.
Para pria bertubuh kekar itu hanya tersenyum sinis. "Mengapa Anda takut? Mengapa Anda tidak takut saat merencanakan ingin melenyapkan saudara atasan kami? Seharusnya Anda takut sebelum melakukan kesalahan fatal agar hal seperti ini tidak pernah terjadi. Apa karena tuan kami selalu bersikap baik jadi Anda bisa berbuat semaunya? Anda salah besar nona. Bersiap-siaplah di penjara seumur hidup bahkan mungkin hingga kau membusuk." ucap salah seorang bertubuh kekar pelan namun begitu menghujam hingga membuat Lea semakin pucat dan tak lama ia pun kehilangan kesadarannya hingga jatuh ke lantai bandara yang dingin.
"Cih, lemah!" ejek pria itu. "Angkat dia ke dalam mobil dan bawa barang bawaannya ke dalam bagasi ." titah pria itu
"Baik, bos." sahut salah satu dari mereka pada pria yang tadi berbicara pada Lea yang ternyata dia merupakan pimpinan para pria bertubuh kekar tersebut.
.
.
.
.
**Yuhuuu, selamat malam semua! Terima kasih ya sudah setia membaca ceritaku ini. Semoga suka. Oh ya, terima kasih sebesar-besarnya juga pada para readers yang udah rajin like, komen, kasih hadiah juga, dan ada yang kasi vote juga. Sekali lagi makasih.
__ADS_1
Happy reading.🥰**