Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.88 Karma


__ADS_3

Bu Tatik kini sudah dibawa ke ruang pemeriksaan. Dengan sigap dokter segera memeriksakan keadaan organ-organ vital dibantu beberapa perawat.


Setelah menunggu hampir 30 menit, dokter pun keluar. Adam dan Sulis pun segera mendekat.


"Bagaimana dok keadaan ibu saya?" tanya Adam.


"Bisa ikut ke ruangan saya sebentar?" pinta dokter itu.


Adam dan Sulis mengangguk, lalu mereka berjalan mengikuti dokter itu menuju ruangannya. Dokter pun segera menjelaskan kondisi kesehatan Bu Tatik.


"Ibu Anda mengalami serangan jantung ringan, Anda tidak perlu khawatir. Tapi bila kejadian ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan memperparah kondisi jantungnya." jelas dokter itu.


"Lalu apa yang harus kami la ...."


"Dok, segera ke ruangan pasien barusan, tubuhnya mendadak kejang-kejang." panggi perawat terburu.


Dokter yang bernama Satrio itu lantas berdiri dan segera memasuki ruangan Bu Tatik. Adam dan Sulis pun mengikuti dan berdiri di depan pintu dengan raut kecemasan.


"Mas, bagaimana ini? Aku takut sakit mama tambah parah." ujar Sulis lirih.


"Sudah, kamu nggak usah khawatir. Mas yakin, mama akan baik-baik aja." ujar Adam mencoba menenangkan Sulis. "Kamu sakit , Lis" tanya Adam saat melihat wajah adiknya itu tampak pucat.


"Aku cuma nggak enak badan aja kok, mas,' tuturnya. Namun Adam belum percaya 100% . Jadi ia memaksa Sulis memeriksakan diri ke dokter mumpung mereka masih berada di rumah sakit.


"Bagaimana dok keadaan adik saya?" tanya Adam.


"Mas, Sulis cuma nggak enak badan aja kok, iya kan dok?" ujar Sulis jengkel.


Dokter pun tersenyum ke arah Adam dan Sulis.


"Adiknya sehat kok ..."


"Tuh kan , nggak percayaan banget jadi kakak." potong Sulis.

__ADS_1


"Maaf, tapi saya belum selesai." ujar dokter wanita itu.


"Hah, jadi saya kenapa dok? Kalau saya sehat, artinya kan sehat-sehat aja, nggak sakit ." omel Sulis.


"Iya, Anda memang tidak sakit, tapi Anda sedang mengandung calon keponakan kakak Anda." jelas dokter itu.


Adam dan Sulis sontak membelalakkan matanya karena terkejut.


"A-apa dok? Sa-saya hamil?" tanya Sulis parau dengan mata berkaca-kaca antara senang dan sedih. Senang sebab penantiannya selama 5 tahun akhirnya berbuah manis dan sedih karena harus mengandung tanpa suami.


"Iya Bu, selamat, Anda akan jadi seorang ibu." ujar dokter itu mantap. "Untuk mengetahui lebih jelasnya, Anda bisa langsung ke bagian obgyn. Menurut perkiraan saya usia kehamilan Anda adalah 9 Minggu."


.


.


Adam dan Sulis kini sudah berada di ruang perawatan Bu Tatik. Mereka berdua sedang terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, sedangkan Bu Tatik kembali drop dan belum sadarkan diri.


Tiba-tiba saja Sulis terisak menyentak lamunan Adam.


"Mas, mungkinkah ini karma kita? Kita sudah terlalu jahat pada Anggi, mas. Kita selalu menyakitinya, menghinanya, kita jahat mas, kita sudah sangat jahat. Ini karma kita , mas. Aku harus membesarkan anakku seorang diri, mama sakit, dan mas Adam ... hiks hiks hiks ... dikhianati Dinda sama seperti mas mengkhianati Anggi, bahkan dia selingkuh dengan suamiku sendiri. Ini hukuman kita , mas, ini hukuman atas kejahatan kita." Raung Sulis.


Adam segera memeluk tubuh adiknya yang sedang bergetar hebat karena tangisnya sembari mengusap punggungnya, mencoba menenangkan.


"Ssst ... kamu sedang hamil ,Lis, jadi nggak boleh banyak pikiran. Kasian anak kamu kalau kamu terus nangis kayak gini."


"Tapi gimana aku nggak mikirin ya mas, sebab semua datang bersamaan seperti badai. Kita bertiga yang paling andil dalam menyakiti Anggi padahal ia wanita yang benar-benar baik. Ia tak pernah membalas sedikit pun kejahatan kita. Ia selalu sabar. Semua salah kita , mas. Andai kita nggak jahatin Anggi semua pasti takkan terjadi."


"Iya, mas tau. Ini juga semua salah mas, andai mas tidak egois dan kejam pada Anggi, andai mas tidak pernah menduakan Anggi, semua pasti takkan terjadi. Ini salah mas. Tapi semua sudah terjadi. Mari kita mencoba merubah diri dan meminta maaf pada Anggi. Mas juga menyesal sangat-sangat menyesal sudah mengabaikan anak-anak. Mas seakan lupa bagaimana pengorbanan Anggi saat hamil dan melahirkan. Mas ingin sekali rasanya meminta maaf tapi mas merasa belum pantas untuk menemui Anggi dan anak-anak." desah Adam frustasi. " Sekarang yang penting, kamu tenangkan dirimu, Lis. Kamu tenang saja, mas akan selalu menjagamu dan anakmu. Mas mohon jangan terlalu banyak pikiran. Ingat di dalam tubuhmu ada buah hatimu, kasian dia kalau kamu terus seperti ini." lanjutnya.


"Mas janji ya, nggak akan nelantarin Sulis! Sulis takut mas nelantarin Sulis seperti mas nelantarin Anggi dulu. Sulis nggak punya siapa-siapa lagi, mas, selain mas Adam dan mama. Mas Anton nggak pernah hubungin Sulis lagi semenjak pergi dari rumah mas tempo hari. Mas janji, ya!" ucap Sulis dengan wajah memelas.


"Iya, mas janji. Mas nggak akan pernah menelantarkan kalian." janji Adam.

__ADS_1


Saat Adam dan Sulis berbincang, tiba-tiba tangan Bu Tatik bergerak. Sulis yang lebih dahulu menyadarinya, segera memberi tahu Adam. Adam pun segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan ibunya. Awalnya Adam sangat bahagia saat melihat sang mama mulai membuka matanya, tapi hatinya mencelos ketika melihat sesuatu.


"A-a-am ..." racau Bu Tatik tak jelas. Mulutnya pun jadi sedikit miring. Bola matanya bergerak kesana-kemari seperti kesulitan untuk fokus. Bahkan tubuhnya seakan kaku , sulit tuk digerakkan.


"Dok, mama saya kenapa?" tanya Adam gusar saat sang dokter selesai memeriksa bu Tatik.


"Mas, mama, mas!" lirih Sulis sambil menyembunyikan wajahnya di dada sang kakak. Ia terisak pilu.


"Maaf pak, ibu Anda terkena stroke sehingga ia tak memiliki kuasa untuk mengendalikan tubuhnya. Akibatnya ibu Anda bicaranya tak jelas dan tubuhnya juga kaku tak bisa ia gerakkan." ucap dokter itu dengan wajah penuh penyesalan.


"A-apa? Mama terkena stroke." lirih Adam hingga tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipinya. "Mama ...!" lirihnya pilu.


.


.


.


"Ih, senangnya bisa shopping terus kayak gini!" gumam Adinda dengan senyum terkembang seraya memeriksa belanjaannya saat sudah berada di dalam taksi. "Kira-kira gimana kabar mas Adam,ya? Ah, ngapain mikirin pria egois macam dia." rutuk Adinda sambil terkekeh.


Namun tawanya tiba-tiba berubah saat ia menyadari sesuatu. Taxi yang ia pesan tidak melewati jalan yang biasa ia lalui.


"Pak, kok lewat sini? " tanya Adinda pada sopir taksi tapi sang sopir tak bergeming. Adinda makin kalut. "Pak, jawab pertanyaan saya kenapa bapak bawa saya lewat jalan ini? Ini bukan jalan menuju rumah saya." tapi lagi-lagi sopir taksi itu hanya diam "Pak, bapak tuli apa, hah? Jawab saya, bapak mau bawa saya kemana?" teriak Adinda yang mulai panik.


"Tutup mulut kamu kalau kau tak mau saya habisi di sini!" bentak pria itu sambil menatap tajam Adinda. Adinda seketika bergidik ngeri saat melihat raut wajah sopir taksi itu yang di pipi kanannya terdapat bekas goresan luka yang cukup besar.


"Pak, saya mohon turunkan saya. Silahkan ambil semua uang dan barang yang saya bawa, tapi saya mohon turunkan saya di sini." ucap Adinda dengan memelas.


Pria itu menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. "Baiklah."


"Terima kasih, pak. Turunkan saja saya di sana, nanti saya berusaha pulang sendiri." ucap Adinda penuh semangat.


"Tapi setelah kamu memuaskan saya dan anak buah saya. hahaha ...." ucap pria itu sambil terbahak membuat Adinda mencelos seketika.

__ADS_1


Adinda paham apa maksud pria itu. Ucapan pria itu sungguh menakutkan. Tubuhnya bergetar hebat. Memandang pria itu saja Adinda sudah bergidik ngeri apalagi melayaninya. Adinda tak mampu membayangkan bagaimana nasibnya nanti. Ia ingin kabur dengan melompat keluar mobil tapi ternyata pintunya terkunci. 'Bagaimana ini, mas Adam tolong aku. Anton, tolong selamatkan aku.' racaunya dalam hati bahkan tanpa sadar air matanya telah mengalir karena rasa takut yang begitu besar.


__ADS_2