Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.191 (S2) Gerak Cepat


__ADS_3

Ternyata bukan hanya Robi yang kepikiran kejadian siang tadi, tapi juga Safa.


Tampak Safa sesekali cemberut, sesekali mengoceh, sesekali ngomel-ngomel, sesekali juga tersenyum-senyum, persis orang gila.


"Dasar, lelaki nggak ada akhlak, kemarin-kemarin cuek bebek, ketus, terus ninggalin orang seenaknya. Eh hari ini sok perhatian, sok baik pake ngobatin luka segala, dan yang paling parah pake cium-cium segala. Dasar, kang soang tukang sosor sembarangan. Kalau nggak ada Emaknya, udah gua sleding tuh kepala." sungut Safa dengan bibir meliuk-liuk dan hidung kembang kempis.


"Eh, tapi emang aku bisa ya sleding dia? Jangan-jangan malah aku yang disleding di atas ranjang!" gumam Safa sambil cekikikan. "Eits, apa-apaan itu di sleding di atas ranjang!" plak ... Safa memukul kepalanya sendiri karena kinerja otaknya yang berpikir aneh-aneh. "Duh, ngapain aku nyalahin otak, kan mulut yang ngoceh sembarangan." Safa menggeleng-geleng kepala sendiri seperti orang salah makan obat. 😅


"Tapi bang Robi gemesin juga ya! Tapi nyebelin juga iya. Gemesin, nyebelin, ngeselin. Aaaarg, ciuman pertamaku kok nggak ada manis-manisnya sih!" lagi-lagi ngomel sendiri.


"Safa, kalau gila jangan di rumah ini! Periksa sana ke rumah sakit jiwa sebelum tambah parah!" teriak Amel dari luar kamar Safa sambil cekikikan.


"Mamaaa ....Safa nggak gila!!!" teriak Safa kesal.


...***...


tok tok tok ...


"Le, kamu udah tidur?" panggil si emak.


Ceklek ...


"Belum mak, nih kopi Robi aja masih panas gini gimana mau tidur. Masuk Mak, kita ngobrol di balkon aja." ajak Robi ke balkon kamarnya.


Lalu si Emak pun ikut Robi menuju balkon dan duduk di kursi yang ada di sana.


"Ada apa Mak? Jangan bilang Emak mau nanyain Robi kapan bawa calon mantu ke hadapan emak?" tanya Robi dengan mata memicing curiga.

__ADS_1


"Curigaan mulu anak emak satu ini. Eh, tapi emang anak emak cuma satu yah! ckckck ..." si emak terkekeh. "Kayaknya kamu udah hafal ya sama isi otak emak, tau aja emak mau nanyain calon mantu emak, tapi sekarang nggak nanya kapan kamu bawa lagi tapi kapan kamu halalin." ujar Si Emak membuat Robi menggaruk-garuk kepalanya.


"Maksud Emak?"


"Duh, nanya maksud Emak lagi siapa lagi kalo bukan si Eneng Safa yang baik hati dan cantik jelita ." ujar Emak sambil bersungut-sungut. "Dia pacar kamu kan? Calon mantu emak."


"Ng ..."


"Ng apa? Kamu sengaja nggak mau kenalin ke emak? Takut dia nggak mau nerima keberadaan emak? Emak yakin dia nerima kok lah dia aja demi nolong emak sampai luka-luka gitu. Kalaupun dia nggak mau jagain emak, kan masih ada Leha yang bisa bantu jaga emak atau kalau perlu emak tinggal di kampung juga nggak masalah, asal kamu bisa bahagia, Le. Emak pingin liat kamu bahagia. Punya istri yang urusin kamu, nungguin kamu pulang. Terus punya anak-anak yang lucu, emak yakin kamu pasti bakal bahagia banget." tukas Si Emak


Robi nampak berpikir, Safa memang terlihat baik, tapi apa dia mau menerima dirinya yang penuh kekurangan? Belum dekat aja dia udah 2 kali membuat gadis itu kesal dengan meninggalkannya dan membiarkannya pulang sendiri.


"Tapi dia bukan pacar Robi, Mak." ucap Robi jujur sembari meneguk kopinya. "Robi hanya ditugaskan atasan Robi menemani dia selama beberapa hari kemarin."


Mata Si Emak memicing, "Menemani? Menemani apa?" tanya si Emak penuh selidik.


"Menemani makan siang sama menemani ke pesta pernikahan temannya."


"Tugasmu udah selesai apa belum?"


"Belum ada informasi selanjutnya, Mak."


"Berarti kamu masih ada tugas temenin dia dong, Bi? Kalau iya, besok ajak makan malam di sini ya! Bilang aja sebagai ucapan terima kasih emak karena udah ditolongin. Emak nggak tau harus gimana kalau tas emak kemarin nggak kembali soalnya kan di dalamnya ada KTP bapakmu , kenang-kenangan terakhir bapak buat emak. Bapak kan anti di foto, kamu masih inget kan!" ujar Si Emak pura-pura sedih padahal ekor matanya sedang memperhatikan wajah si anak.


"Iya Mak, Robi masih ingat kok. Besok Robi usahakan ngomong sama dia ya Mak! Tapi Robi nggak janji bisa atau nggak nya."


"Pokoknya usahain. Titik. Nggak pake koma." pungkas si Emak membuat Robi menggaruk tengkuknya frustasi.

__ADS_1


'Dasar map plastik laminating, bilangnya bukan pacar tapi udah berani nyosor! Mak kuncir juga tuh mulut biar monyong sekalian.' dengus si Emak pelan sebelum keluar dari kamar Robi tapi masih bisa didengar jelas oleh Robi.


Deg ...


'Jadi tadi si Emak liat waktu aku cium Safa? Astaga ... ini bibir juga kok bisa-bisanya cium anak orang tanpa permisi. Mana itu ciuman pertamaku. Tapi bibirnya kok manis banget sih jadi pingin lagi. Eh ....'


...***...


"Bagaimana, sudah kamu selesaikan urusan kamu sama Safa?" tanya Aglian yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan tatapan penuh selidik .


Sedangkan Luna sedang duduk di sofa turut mendengarkan pembicaraan dua orang tertinggi di Angkasa Grup tersebut.


Gleg ...


'Apa Safa kemarin masih nampak marah karena aku belum minta maaf padanya ? Gimana aku bilang emak nyuruh dia ke rumah ya? Apa aku minta nomor ponselnya sama pak bos aja ya?'


Brakkk ...


Aglian tiba-tiba melemparkan sebuah botol bekas minuman ke arah Robi hingga mengenai tepat di kepalanya.


"Awww ... pak bos doyan bener sih lempar-lemparan barang ! Sakit tau!" Robi menggerutu sambil mengusap-usap pelan kepalanya.


"Itu hadiah buat kamu yang udah bertindak bodoh saat diberi tugas. Sudah, tugas kamu selesai hari ini. Besok juga dia udah mau balik ke Aussie kata Tante Amel."


.deg ...


"No ... jangan!" lirih Robi dalam hati. "Aku harus apa? Oh iya, gerak cepat. Aku harus gerak cepat sebelum semuanya terlambat." lirih Robi lagi tanpa sadar membuat Aglian dan Luna tersenyum dalam hati.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2