Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.109 (S2) Aku Menyayangimu


__ADS_3

Sudah 3 hari semenjak Stefani meninggalkan Aglian sendirian di cafe dan semenjak itu pula Stefani tak muncul sama sekali di kantor bahkan ia tak bisa dihubungi sama sekali.


"Bagaimana, ada info ?" tanya Aglian dengan seseorang yang sedang dihubunginya.


"Hingga sekarang nona Stefani belum keluar juga dari apartemen, tuan. Tapi barusan ada seseorang berpakaian rapi mengunjungi apartemennya tapi tak kunjung dibuka jadi ia pergi lagi tuan."


"Baiklah, kabari terus info selanjutnya."


"Baik, tuan." sambungan telepon pun ditutup.


Selama 3 hari ini memang Aglian tidak menemui Stefani secara langsung, tapi ia selalu memantu dari jauh. Ada perasaan tak tenang dalam dirinya. Mengenal 8 tahun tentu ia paham mana cara bicara yang jujur dan mana yang bohong. Dan apa yang dikatakan Stefani saat itu adalah bohong.


'Bila saat ditanya kau tak mau jujur, berarti aku harus bertindak dengan cara lain.' gumam Aglian dengan keduan lengan berada di saku celananya.


ddrttd....


"Ya, ada apa?"


"Tuan, ternyata orang tadi memanggil pihak keamanan. Ia meminta bantuan kepada pihak keamanan apartemen. Saat ini pintu sudah terbuka dan orang tadi sudah masuk ke apartemen nona Stefani."


Aglian mengernyitkan dahinya. 'Siapa orang itu? Bukankah selama ini, Stefani tak pernah mengundang satu orang pun ke apartemennya,, selain aku. '


"Sekitar berapa usianya?" Aglian menanyakan ini, kan bisa saja ternyata Stefani sudah bertemu dengan ayahnya kembali. Ia harap begitu.


"Sepertinya tak jauh berbeda dengan usia Anda tuan. Dia masih tampak sangat muda. " Dahi Aglian makin berkerut-kerut karena memikirkan siapa orang itu.


"Terus kau awasi ...."


"Tuan, sepertinya nona Stefani pingsan. Ia sedang digendong orang itu ke mobilnya, sepertinya mereka akan ke rumah sakit."


deg ....


"Ikuti mereka lalu kabarkan di rumah sakit mana Stefani di bawa!" titah Aglian.


"Baik, tuan."


Aglian tampak memijit-mijit dahinya frustasi. Akhir-akhir ini ia terlalu sibuk mengurusi banyak hal. Bahkan pagi ini saja ia baru pulang dari pertemuan antar pengusaha di Milan. Mengabaikan jetlag karena harus menempuh perjalanan udara berjam-jam, ia justru segera pergi ke Angkasa Mall untuk memeriksa berbagai hal. Bagaimana ia tak pusing, ia harus mengurus Angkasa Grup yang anak cabangnya ada dimana-mana, lalu saat itu fokusnya sedang pada melindungi Anggi jadi ia tidak memperhatikan Stefani dengan baik. Ia harap dengan bertanya , Stefani akan jujur, tapi ternyata gadis yang dikenalnya sejak 8 tahun yang lalu malah memilih tuk berbohong. Lalu kini ia harus mengurus Angkasa Mall kembali, jadi pekerjaannya tidaklah mudah dan semua perlu kejernihan isi kepala agar tak salah langkah.


Aglian bukanlah seorang CEO bodoh yang langsung mengambil kesimpulan tanpa menanyakan atau mencari tahu. Bila bertanya namun tak menemukan jawaban yang memuaskan artinya ia harus memilih jalan memata-matai.


'Semoga Stefani tidak kenapa-napa .' Gumam Aglian seraya berdiri di balkon ruang kerjanya. Memandangi lalu lintas jalan raya yang terlihat sangat padat merayap.


"Bagaimana? Kau sudah tau rumah sakitnya?"


" .... "


"Bagus, kau tetap di sana. Aku akan segera ke sana."

__ADS_1


Setelah mengetahui dimana Stefani dirawat, Aglian segera keluar dari ruangannya menuju mobilnya dan ia meminta sang supir mengantarkannya ke rumah sakit yang dituju. Namun terlebih dahulu ia meminta Robi menghandle beberapa urusannya hari itu.


Aglian kini telah berada di mobil. Dari balik spion, sopirnya mengawasi gerak-gerik atasannya itu yang tanpa memijat pelipis dan merenggangkan lehernya. Dapat ia simpulkan bahwa atasannya itu sedang tidak baik-baik saja. Namun ia tetap mencoba memaksakan diri.


Tak sampai 20 menit mobil Aglian pun telah tiba Di pelataran rumah sakit Cinta Medika. Gegas ia keluar, orang suruhannya pun telah menunggu di lobi rumah sakit. Lalu ia meminta segera mengantarkannya ke ruangan Stefani dirawat.


Setibanya di depan ruangan Stefani, Aglian pun mencoba membuka pintu ruangan itu dengan perlahan. Pandangan Aglian nanar seketika saat melihat beberapa alat penopang hidup menempel di tubuh ringkih Stefani. Di samping Stefani berdiri seorang dokter yang wajahnya tampak tak asing.


"Hai Lian, akhirnya kau tau keberadaan Fani."


"Kau ...."


"Aku Alan, dr. Alan. Stefani adalah pasienku. Aku juga kuliah di tempat yang sama tetapi aku senior kalian. Oh, ya, aku juga yang tadi membawanya ke rumah sakit." Aglian tampak mengangguk saat mendengarkan penjelasan dr. Alan.


"Bisa kau jelaskan penyakit yang diderita Stefani dan sejak kapan?" tanya Aglian to the point.


Dr. Alan tanpa menarik nafas panjang lalu ia mulai menjelaskan.


Hati Aglian serasa diremas saat tahu kenyataan bahwa Stefani sudah mengetahui penyakitnya kurang lebih 1 tahun yang lalu.


"Adakah cara lain yang lebih efektif untuk menyembuhkannya?"


"Stefani telah menjalani kemo tapi sepertinya hasilnya kurang bagus dan jalan satu-satunya untuk menyembuhkannya adalah melalui transplantasi sumsum tulang belakang. Aku sudah berusaha mencari donatur untuknya tapi tidak ada yang cocok." ucap dr. Alan. Nada suaranya bergetar. Dapat Aglian simpulkan dr. Alan memiliki rasa yang tak biasa pada Stefani.


"Bagaimana dengan ayahnya?"


"Dulu aku pernah bertemu beberapa kali, tapi sekarang dia ntah berada dimana. Semenjak menikah lagi, ayahnya pergi entah kemana."


"Kemungkinan terbesar yang memiliki kecocokan sumsum tulang belakang dengan Stefani hanya tinggal ayahnya dan bila ia memiliki saudara, saudaranya memiliki kemungkinan 90%."


"Kalau begitu aku akan mengusahakan mencari mereka."


Aglian berjalan mendekati Stefani dan mengusap pelan rambutnya. Ia juga menggenggam tangan Stefani yang tidak terpasang jarum infus.


'Semoga aku dapat menemukan mereka. Kau harus kuat Stefani, kau harus bertahan. Aku menyayangimu.' gumam Aglian pelan namun masih dapat didengar oleh dokter Alan yang berdiri diujung ranjang Stefani.


.


.


.


"Lun, kita ada pemotretan di Bali, loe ikut kan!" ujar Kentaro melalui sambungan telepon.


"Seriusan Ken, loe nggak lagi bercanda kan!" tanya Luna namun dengan nada suara antusias.


"Ck ... ngapain gue bohongin elo! Loe siap-siap gih, kita berangkat besok malam." titah Kentaro sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Siap bos!" lalu tanpa aba-aba Luna menutup telepon sepihak, membuat Kentaro mendengus kesal.


"Sialan tuh anak, nutup telepon seenaknya. Nggak tau apa gue masih pingin dengar suaranya." gumam Kentaro sambil terkekeh mengingat tingkah konyol sahabat cantiknya itu.


.


.


.


"Yeayyy, Bali, i'm coming." teriak Luna setelah menutup teleponnya.


Lia dan Tita yang sedang menonton televisi sontak menoleh kearah Luna.


"Loe udah gila ya, Lun? Teriak-teriak sambil lompat-lompat udah kayak si onyet loe!" ejek Lia.


"Is, sirik aja loe! Nggak tau apa gue lagi senang. Lagi bahagia. Lagi happy banget tau." sergah Luna tak terima dikatain mirip si onyet, monyet milik tetangga sebelah.


"Lantas, kenapa? Loe bahagia karena apa? Loe tiba-tiba jejingkrakan kayak gitu, ya bikin kami penasaran. Atau loe habis jadian?" Tita ikut menimpali.


"jadian? Jadian sama siapa? Nggak ada cowok yang bikin gue tertarik. Kalo Yang Yang yang ajak gue jadian, baru gue mau." ujar Luna sambil memamerkan senyum manisnya.


"Yang Yang pala loe peyang." ejek Lia sambil terkekeh.


Luna yang tak terima diejek lantas melemparkan bantal sofa yang ada di dekatnya ke arah Lia.


"Pala loe tu yang peyang, gue mah nggak yah! " sergah Luna. "Gue senang soalnya besok malam gue bakal terbang ke Bali, Kentang ada pemotretan di sana. Ah, senangnya. Nggak sabar lagi pingin mantai." ujar Luna dengan wajah berbinar.


"Wah, asik bener loe! Jangan lupa oleh-oleh ya, Lun! Bawain gue pie susu, kacang disco, pia legong, brem, apa lagi ya?" ujar Lia sambil berfikir.


"Idih, makanan aja yang ada di otak loe, Li. Nggak mikir apa, badan loe udah segede gaban itu, imbangin olahraga kek." celetuk Luna kesal. "Gue kesana mau pemotretan sekalian liburan, bukan buat cari makanan. Kalau loe emang pingin, kan tinggal belanja online aja." tambahnya lagi.


"Lia mah gitu Lun, kalau ada yang gratis, ngapain beli." timpal Tita sambil terkekeh. Lalu mereka pun tergelak bersama.


.


.


.


Happy reading and happy weekend.🥰


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2