
30 menit yang lalu,
dddrrtt ...
Ponsel Robi yang berada di dalam saku jasnya bergetar, ia pun segera meminta izin Safa untuk mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum bulek, ada apa ya ? Apa Mak sakit?" cecar Robi cemas.
"Wa'alaikum salam, Bi. Makmu sehat kok cuma itu, tadi pagi-pagi sekali dia maksa mau pulang ke Jakarta sendirian. Bulek udah cegah, tapi Mak tetap maksa. Mungkin sebentar lagi udah sampai di Jakarta. Kamu buruan jemput, ya bulek takut terjadi apa-apa sama Mak mu. Maaf baru sempat telepon, baru isi pulsa soalnya." ujar Bulek Robi.
"Astaghfirullah, baik bulek. Robi segera pergi ke stasiun. Makasih ya bulek udah kasi kabar."
"Iya, bi. Sama-sama. Nanti tolong kabarin bulek ya kalau sudah ketemu sama Mak kamu."
"Iya bulek. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Robi pun segera menutup teleponnya dan kembali menyimpannya di dalam saku jas.
Setelah itu, ia segera mendekati Safa untuk berpamitan pulang terlebih dahulu. Ia sebenarnya tidak enak hati meninggalkan Safa seorang diri di pesta itu, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus segera pergi ke stasiun, sedangkan jarak dari hotel itu ke stasiun memakan waktu hampir 30 menit jadi ia tidak punya waktu lagi untuk mengantarkan Safa pulang ke rumahnya.
Ia dapat melihat raut kecewa di mata Safa. Tapi ia tidak dapat berbuat banyak. Ia harap Safa tidak melaporkannya pada Aglian bahwa ia ditinggalkan begitu saja di pesta pernikahan Stefani-Alan.
...***...
__ADS_1
Pasangan Aglian & Luna serta Anggi & Diwangga serta tiga bocilnya kini telah tiba pesta pernikahan adik kakak Azam dan Kentaro.
Acaranya cukup megah dengan para tamu yang didominasi para anggota kepolisian dan keluarga serta rekan sesama model and partner yang biasa memakai jasa Kentaro. Di beberapa sudut ruangan bahkan terdapat kameraman yang siap sedia mengabadikan moment indah itu bukan hanya sebagai dokumentasi tapi juga untuk di jadikan bahan berita baik di media cetak maupun elektronik.
...***...
"Hai Tang, hai Je, selamat ya! Semoga keluarga kalian selalu bahagia. Aku seneng akhirnya kalian bisa bersatu." ujar Luna yang kini sedang berada di atas pelaminan berhadapan dengan Jelita.
Biarpun Luna bersahabat dengan Kentaro, tapi kini ia menjaga jarak, bukan hanya karena masalahnya terdahulu, tapi juga karena kini status mereka berdua telah berbeda. Jadi ia harus menghormati pasangan masing-masing.
"Makasih ya, Lun. Semoga loe juga bahagia." ucap Jelita tulus.
"Iya, Lun, makasih juga loe udah bersedia datang ke mari. Semoga loe bisa menikmati acara kami ini. " sambung Kentaro.
...***...
Safa kini telah tiba di rumahnya. Amel yang melihat putrinya pulang seorang diri, tidak seperti saat pergi tadi yang dijemput Robi, tampak mengerutkan keningnya, merasa heran. Raut masam wajah Safa sudah menunjukkan ada yang tidak beres dengan putrinya tersebut. Ingin bertanya, tapi ia urungkan. Ia akan menunggu Safa sudah lebih tenang terlebih dahulu.
Safa tampak membenamkan wajahnya di bantal. Air mata yang tadi ia tahan, akhirnya tumpah juga. Ia mengerti, Robi tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Ia hanya melaksanakan tugas yang diberikan Aglian, tapi haruskah ia bersikap begitu acuh tak acuh bahkan tidak peduli dengan menyuruhnya pulang sendiri. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padanya saat dalam perjalanan pulang? Bagaimana ia akan bertanggung jawab pada keluarganya dan Aglian?
Kenyataan ini menampar dirinya untuk lebih membentengi diri. Ia tak mau jatuh lagi. Walaupun baru 2 kali bertemu dengan Robi, ia tau Robi pria yang baik. Tapi Robi itu terlalu ketus, kaku, dan tak memiliki rasa peduli. Kecewa, pasti, tapi kenapa? Ia saja tak memiliki hubungan apapun dengan Robi.
"Sudahlah, untuk apa menangis. Ayo Safa, semangat! Untuk apa memikirkan sesuatu yang hanya akan memberimu rasa sakit. Ya, benar, untuk apa. Lebih baik kau fokus saja pada keluargamu. Selama di sini aku akan bersenang-senang, setelah puas aku akan kembali ke Aussie. Kalau perlu, aku akan mengajak mama tinggal di sana." gumam Safa seorang diri.
...***...
__ADS_1
Robi telah tiba di stasiun kereta api. Matanya terus bergulir menyapu sekitar, mencari sosok sang ibu yang seharusnya telah tiba sejak beberapa menit yang lalu. Hingga matanya menangkap pada sosok wanita paruh baya yang selalu tampak sumringah sedang bercengkrama dengan seorang pengamen cilik. Segera Robi menghampiri sang ibu.
"Mak." panggil Robi membuat sang ibu pun menoleh.
"Duh, Le, kok kamu di sini? Pasti bulek kamu yang kasi tau Mak balik ke sini ya?" cecar Si emak.
"Mak, Mak nggak tau gimana khawatirnya Robi pas tau Mak datang tanpa ngabarin Robi dulu." kesal Robi.
"Mak kan cuma mau kasi kamu kejutan." ujar si emak sambil terkekeh.
"Udah ah Mak, yuk pulang." ujar Robi malas berdebat. Lalu ia mengambil tas si emak dan mencangklongnya di pundak.
Setelah melalui perjalanan sekitar 1 jam, Robi pun telah tiba di rumahnya. Rumah yang dibeli Robi dari keringatnya bekerja dengan Aglian selama 5 tahun ini. Rumah yang cukup besar. Ia bercita-cita, ingin tinggal dengan keluarga kecilnya dan si emak di rumah itu. Tapi sayang, ia belum juga bisa membina keluarga kecil sebab ia belum menemukan gadis yang tepat dan mau menerima dirinya apa adanya.
(Gimana mau ketemu bang Rob, dicari aja kagak. Ada cewek depan mata dicuekin, ya nggak pemirsah? 😆)
...***...
...Halo epribadeh, ini ada nupel baru othor. Jangan lupa mampir dan di favorit'in ya!...
...***...
...Happy Reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1