Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.54 Anggi cemburu


__ADS_3

Akhirnya Anggi tetap ditemani Diwangga memeriksakan kesehatannya. Walau berat hati meninggalkan calon anak-anaknya bersama Aglian, tapi ia lebih tidak rela bila Aglian yang menemani Anggi sebab tadi pria itu sempat menawarkan diri bagaimana kalau dia saja yang menemani Anggi kalau Diwangga tak mau membolehkan ia menemani Karin dan Kevin.


Kini Anggi sedang berada di ruangan dokter yang bertugas memeriksa Anggi. Dokter yang bernama dokter Syifa itu meminta Anggi membaringkan diri di ranjang pasien. Lalu ia mulai memeriksa mulai dari tekanan darah, denyut nadi, denyut jantung, hingga mata Anggi dan terakhir dokter Syifa menyarankan Anggi tes darah.


"Akan lebih baik bila Bu Anggi melakukan tes darah untuk lebih jelasnya. "


"Apakah harus?" tanya Anggi sebab ia merasa hanya kurang enak badan saja dan kepalanya sedikit pusing. Biasanya ini ia alami bila kurang tidur. Apalagi ia memiliki riwayat anemia, jadi hal seperti ini memang sudah sering terjadi.


"Sebenarnya tidak harus, tapi ini untuk pencegahan Bu, untuk lebih memastikan kesehatan ibu benar-benar baik."


"Betul Nggi, lebih baik kamu segera ikuti saran dokter Syifa. Apalagi sebentar lagi kita akan menikah, aku nggak mau kamu jatuh sakit. Kamu juga harus jaga kesehatan kamu bukan hanya demi kamu sendiri tapi juga demi aku dan anak-anak." ucap Diwangga lembut penuh perhatian


"Oh saya pikir tuan suaminya ibu Anggi " Dokter Syifa terkekeh karena ia salah paham. Tadi ia pikir pria yang menemani Anggi adalah sang suami, ternyata baru calon." Nah, benar kata calon suami ibu. Jadi gimana, ibu bersedia?" tanya dokter Syifa lagi


"Baiklah dok." ujar Anggi lalu dokter Syifa pun mengambil sebuah suntikan, kemudian ia membersihkan bagian lengan Anggi yang akan diambil sample darahnya dengan kapas beralkohol, lalu dokter Syifa pun mulai menancapkan jarum suntik untuk mengambil darahnya.


"Kapan saya bisa mengetahui hasilnya, dok?" tanya Anggi seraya turun dari ranjang pasien


"Kurang lebih satu jam, hasilnya sudah ada. Nanti ibu bisa kembali lagi kesini untuk mengetahui hasil pemeriksaan." sahut dokter Syifa dengan tersenyum ramah


"Awww... Nggi ,kenapa nyubit perut mas, sih" tanya Diwangga meringis kesakitan sebab tiba-tiba saja Anggi mencubit perutnya


"Mas, ngelamunin apa sih? Ish pasti mikirin dokter Syifa ya? Iya, Anggi tau, dokter Syifa lebih cantik dari Anggi,ya kan!" Rajuk Anggi tiba-tiba


"Hah? Apa-apa? Apa kata kamu tadi, Nggi?" tanya Diwangga bingung kenapa Anggi tiba-tiba merajuk


"Dokter Syifa, saya permisi dulu, ya! Nanti satu jam lagi saya akan kembali ke sini." Anggi pamit dengan dokter Syifa, mengabaikan Diwangga yang masih bingung


"Nggi, tunggu!" panggil Diwangga saat tiba-tiba Anggi keluar begitu saja dan mengacuhkannya. Diwangga menggaruk kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1


Tak mau masalah berlarut-larut, Diwangga segera mencekal lengan Anggi dan menariknya menuju taman rumah sakit. Setelah tiba di taman rumah sakit, Diwangga pun mendudukkan Anggi di salah satu bangku panjang yang ada di sana. Sedangkan Diwangga duduk di bawah, menghadap Anggi.


"Nggi, kamu kenapa sih kok tiba-tiba marah? Sumpah, mas nggak ngerti."


Mata Anggi memicing kesal. " Nggak ngerti? Beneran nggak ngerti?" decak Anggi


Diwangga hanya mengangguk bodoh membuat Anggi yang kesal malah mengulum senyum tapi cepat-cepat disembunyikannya lagi senyum itu. Pura-pura menampilkan wajah kesal.


"Mas Angga tadi ngapain liatin dokter Syifa kayak gitu? Matanya hampir mau lepas tau. " kesal Anggi


"Kapan?" tanya Diwangga bingung


"Tadi, waktu Anggi mau diambil sample darahnya. Dasar lelaki ya, nggak bisa liat cewek cantik dan sexy dikit, mulai deh otaknya traveling." sinis Anggi.


"Astaghfirullah... jadi karena itu." ucap Diwangga karena tak habis pikir


"Karena itu?" Anggi mendelik


"Ih malah ketawa. Berarti bener kan!"


"Kamu cemburu, hm?" delik Diwangga sambil mengulum senyum


"Siapa? Aku?" tunjuknya pada diri sendiri "Cemburu? Ngarang." elak Anggi


"Kalau bukan cemburu, jadi namanya apa donk?" Diwangga tersenyum geli, ternyata Anggi tipe wanita yang tak bisa mengontrol emosinya saat cemburu, beda dengan ia yang bisa tetap berpura-pura tenang, padahal hati rasa terbakar seakan ada bom waktu yang siap meledak


"Anggi bukannya cemburu, tapi kesel, tau nggak kesel. Katanya cinta, katanya sayang, katanya sudah lama nunggu, tapi giliran ada cewek cantik di depan mata, langsung deh jelalatan." omel Anggi dengan mata menatap ke arah lain, enggan melihat ke arah Diwangga.


"Nggi." panggil Diwangga. "Please lihat mas!" titah Diwangga yang entah mengapa titah nan lembut itu selalu membuat Anggi patuh dan menurut. Anggi pun memalingkan wajahnya menghadap Diwangga.

__ADS_1


"Tatap mata mas! Apakah pandangan masbtadi kayak gini?" Anggi mengangguk. Memang benar tatapannya sama seperti itu , terlihat dalam tapi tadi ada sedikit guratan tegang di mata Diwangga.


"Kamu salah tadi kalo mengira mas ngeliatin dokter Syifa. Justru Anggi yang mas pandangi."


"Hah, iyalah?" tanya Anggi dan Diwangga mengangguk


"Mas liatin Anggi, mas was-was saat darah Anggi diambil, mas takut hasilnya kurang baik, mas jadi tegang, mas juga tadi, hmmm...maaf, agan terpana." ucap Diwangga malu-malu


"Terpana? Terpana apa maksud mas?"


"Tadi kan dokter Syifa lupa nutup tirai, jadi mas terpana lihat lengan kamu saat lengan baju kamu agak disingkap. Maaf, mas khilaf, harusnya mas memalingkan wajah, karena mas belum boleh melihat aurat kamu." ucap Diwangga malu-malu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali


Seketika Anggi tergelak kencang hingga tanpa sadar air matanya keluar dari sudut mata Anggi. "Astaghfirullah mas, jadi itu! Ish, mas udah buat dosa, jadi harus banyak-banyak istighfar. Sabar ih, nunggu halal baru boleh. Kalo sekarang, no no no. Jadi beneran bukan liatin dokter Syifa? Secara ya, Anggi nyadar diri lho, Anggi kalah jauh dibandingkan dokter Syifa tadi. Dia cantik, langsing, sexy, keren, modis, pokonya Anggi kalah jauh deh." ucap Anggi merasa rendah diri


"Kata siapa kamu kalah jauh? Kamu malah lebih dari dia. Dia yang kalah jauh. Kamu bukan hanya cantik, tapi juga baik, perhatian, pengertian, wanita tangguh, kuat, mandiri, penyayang, kamu bahkan sanggup membesarkan anak-anak dengan baik , dan lebih plus lagi, kamu wanita yang sholehah, kamu menutup aurat kamu, kamu itu calon bidadari surgaku Nggi, aku nggak akan ngelepasin kamu hanya untuk wanita yang belum tentu memberikan ketentraman, kedamaian, dan kebahagiaan hati untukku." ujar Diwangga. Jelas terlihat binar cinta yang besar penuh ketulusan di mata Diwangga, membuat Anggi jadi berkaca-kaca.


"Maaf ya mas, aku udah salah paham."


"Nggak usah minta maaf, mas malah seneng. Artinya pintu hati kamu sudah terbuka makin lebar untuk mas. Besar harapan mas, kamu bisa membalas cinta mas."


"Insya Allah, mas." sahut Anggi dengan tersenyum manis


tring... terdengar suara pesan masuk di ponsel Diwangga. Ia pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan mulai membaca isi pesan itu.


"Nggi, mama sama papa ada di lobi rumah sakit. Mereka mau jenguk si kembar." ujar Diwangga memberitahu


"Eh, mas kasi tau mama sama papa ya?"


"Iya, tadi pagi mas sempat ngasi tau mama terus tadi mama sempat telfon nanyain kabar anak-anak jadi mas kasi tau kalau si kembar masuk rumah sakit." jelas Diwangga

__ADS_1


"Ya udah mas jemput mama sama papa aja, aku mau balik ke ruangan Karin dan Kevin dulu."


Diwangga pun mengangguk lalu mereka pun meninggalkan taman itu.


__ADS_2