
Bali adalah sebuah pulau di Indonesia yang terkenal akan keindahan alamnya. Di Bali juga terdapat berbagai macam wisata religi yang sangat menakjubkan. Bukan hanya itu, Bali juga menawarkan banyak wisata hiburan malam yang tak pernah sepi.
Bali, merupakan pulau pertama yang dijejaki Luna sepanjang hidupnya. Ia bahagia bisa berkunjung ke pulau nan indah ini. Tiap harinya, seperti tak pernah lelah Luna berdecak kagum menikmati keindahan alamnya. 1 Minggu yang sangat membahagiakan.
.
.
.
"Apaan sih loe, Tang, main peluk-peluk aja, nggak sopan tau." tegas Luna sembari mendorong kuat tubuh Kentaro agar melepaskan pelukannya. Wajah Luna memerah karena marah apalagi saat ingat tangan Kentaro sempat bergerak seperti meraba-raba. 'Belum apa-apa, sudah mesum, gimana kalau jadi pacar beneran.' decak Luna kesal dalam hati. "Ingat ya, Tang, gue itu kasi kesempatan loe untuk buka hati gue, bukan main asal sosor gitu." gerutu Luna Sakin kesalnya.
"Iya ... iya ... sorry Lun, please jangan marah ya! Nggak lagi deh! Jangan marah lagi, ntar cantiknya hilang, lho!" bujuk Kentaro seraya menoel ujung hidung Luna.
"Ya udah, emangnya kita mau kemana nih?" tanya Luna dengan wajah cemberut. Kentaro terkekeh melihat tingkah Luna yang tampak menggemaskan di matanya.
"Ikut aja, loe pasti suka." ujar Kentaro tak mau memberitahukan tujuannya.
__ADS_1
Hanya dalam waktu 30 menit, mobil yang dikendarai Kentaro telah memasuki area private beach yang sangat indah. Suasana malam di tepi pantai pun sangat mengagumkan. Walau semilir angin terasa dingin saat menerpa kulit, namun Luna tetap sangat menikmatinya.
Hingga tibalah mereka di sebuah restoran yang letaknya tepat di tepi pantai. Lalu mereka keluar dari mobil dan berjalan beriringan ke suatu tempat. Hingga tak lama kemudian, mata Luna membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sudah tersedia sebuah meja lengkap dengan menu makanan dan sepasang lilin sebagai sumber pencahayaan yang membuat suasana terasa begitu romantis.
Awalnya Luna tersenyum senang, namun senyum itu tiba-tiba berganti sebuah cibiran saat Luna menangkap sesuatu yang tak sepatutnya ada. Kentaro mencoba menerka apa yang dipikirkan Luna, tapi ia tak kunjung mengerti.
"Kenapa? Kamu nggak suka, Lun?" tanya Kentaro penasaran saat melihat ekspresi Luna yang mencibir.
"Nih, apaan ini? Ini wine kan!" tanya Luna penuh selidik seraya mengangkat sebuah botol berisi cairan berwarna merah.
"Tang, loe tau kan ini dilarang? Jadi selama ini loe suka minum ini?"
"Mmm ... ya, kadang-kadang. Nggak papa dong Lun, kan sekali-sekali juga, nggak tiap hari. Lagian minuman ini cocok diminum di suasana dingin kayak gini , bisa bikin tubuh kita lebih hangat." jawab Kentaro pelan. Ia menyesal meminta pelayan menyediakan wine. Ia pikir , Luna akan makin takjub . Ia juga berharap, dengan wine ia bisa menghabiskan malam dengan pujaan hatinya tersebut supaya Luna bisa jadi miliknya selamanya.
"No, singkirin! Kalau loe masih mau lanjut dinner sama gue, singkirin nih minuman lucknut." titah Luna . Dengan cepat, Kentaro segera meminta pelayan menyingkirkan minuman lucknut itu dari mejanya. Ia tak mau usahanya membuka hati sang pujaan hati jadi gatot alias gagal total. Akhirnya Luna pun mau mendudukkan dirinya di kursi yang telah disediakan.
__ADS_1
Kentaro tampak menikmati makan malam itu dengan senyum yang tak pernah lekang dari wajah tampannya. Ia tak henti-hentinya menatap wajah cantik Luna. Ia merasa, makin hari Luna makin cantik, membuatnya makin tak sabar memiliki gadis tersebut. Berbeda dengan perasaan Luna, ia justru makin merasa tak nyaman dengan situasi itu. Andai makan malam itu mereka lakukan sebagai sepasang sahabat, mungkin akan lebih menyenangkan pikirnya. Ia jadi merutuki kebodohannya sendiri memberikan kesempatan pada Kentaro untuk membuka hatinya.
Di lain tempat, di sebuah jet pribadi milik keluarga besar Angkasa, tampak Aglian makin uring-uringan, bahkan ia sampai melirik jam berkali-kali, berharap ia tiba secepatnya sebelum kedua orang itu pulang dari tempat yang mereka tuju. Ya, Aglian sudah tau tujuan mereka.
Lama penerbangan Surabaya- Bali adalah sekitar 50 menit. Sejak pesan berisi foto-foto saat tangan Luna dipegang hingga dipeluk seorang lelaki yang ia ketahui adalah model yang kerap di pakai para usahawan di mall-nya untuk mempromosikan produknya, Aglian langsung memerintahkan Robi untuk menyiapkan penerbangan secepatnya menuju Bali.
Entah mengapa, di relung hatinya ada perasaan tak rela bila ada lelaki lain yang mendekati bahkan sampai menyentuh kulit mulus Luna walau hanya seujung kuku.
Aglian mengangkat tangan kanannya lalu meraba dada kirinya. Dapat ia rasakan jantungnya berdebar dengan irama tak menentu. Ia coba pejamkan mata untuk meresapi dan memahami apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini, hingga satu kesimpulan ia dapatkan. ' I'm fallin love, right? Apakah ini cinta? Apakah aku jatuh cinta? Apakah aku benar-benar telah jatuh cinta? Jatuh cinta pada gadis nakal dan bar bar itu ?' gumam Aglian pelan seraya menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak percaya, kalau ia telah jatuh cinta pada Luna. Lalu ia tersenyum lebar setelah meyakini apa yang ia rasakan. Tapi apakah ia harus menyatakannya sekarang? 'No, untuk sementara jangan. Sekarang prioritasku adalah Stefani . Lagi pula saat ini sepertinya Luna belum memiliki rasa apapun pada diriku. Tapi, kalau aku terlambat, bisa saja Luna lebih dulu disabotase orang lain. Aaargh ..." gerutu Aglian seraya meraup kasar rambutnya ke belakang.
Robi yang duduk tak jauh dari bosnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah aneh Aglian. Bahkan hingga jet pribadi itu sudah akan mendarat pun, ia belum mengetahui kemana arah dan tujuan Aglian sebenarnya. Ingin hatinya bertanya, namun saat melihat ekspresi dan tingkah gusar Aglian, ia urungkan niat itu. Ia tak mau kena semprot si bos yang sedang dalam mode galak itu. Cukup tadi saat di telepon, ia menanyakan kebenaran tujuan penerbangan mereka. Bisa-bisa ia mengalami potong gaji atau yang lebih parah dipecat, bila bertindak terlalu kepo. No no no, Robi masih sayang pekerjaannya. Apalagi gaji yang diberikan Aglian bukan hanya di atas UMR tapi sangat besar hingga berkali-kali lipat dari UMR kotanya. Belum lagi bonus bila ia mengerjakan pekerjaan tambahan atau di luar urusan kantor. Gajinya 1 tahun bahkan bisa ia gunakan membangun rumah yang mewah untuk orang tuanya. Bisa bayangkan kan betapa besar gaji yang diberikan si bos mode galak itu.
"Tuan, sebentar lagi pesawat akan mendarat." ucap Robi memberitahu pada atasannya itu.
"Hmmm ... Setelah tiba, langsung perintahkan sopir untuk mengantarkan saya ke alamat ini!" ucap Aglian seraya menunjukkan sebuah alamat yang dikirim melalui pesan chat di ponselnya.
Aglian melirik jam sebentar setelah turun dari pesawat. Lalu ia menelpon untuk mengetahui keberadaan Luna yang ternyata masih di lokasi yang dikirimkan bawahannya itu. Tak butuh waktu lama, sang sopir pun segera mengantarkan mereka ke alamat tujuan.
__ADS_1
'Awas saja kalau dia macam-macam pada Luna-ku! Eh, Luna-ku?" Aglian terkekeh dengan ucapannya sendiri. 'Lama-lama aku bisa gila hanya karena gadis nakal itu.' ucapnya sambil geleng-geleng kepala.