
Diwangga POV
Jika ada yang bertanya, apa yang paling membahagiakan dalam hidupku?
Jawabannya adalah bertemu lagi dengan gadis kecilku dulu. Gadis kecil cinta pertamaku. Sosok yang memporak-porandakan hati dan jiwaku hingga tak bersisa untuk kehadiran wanita lain.
Dia adalah Anggi Saraswati.
Aneh, aku pun merasa diriku aneh. Bertahun yang lalu aku bertemu dengannya tanpa sengaja. Saat itu ia diganggu oleh dua orang preman. Dengan memakai seragam sekolah SMA dia coba meronta dari gangguan para preman itu. Tapi apalah daya, dia hanyalah seorang gadis kecil, tenaganya takkan sebanding dengan para preman itu. Aku yang sedang mengendarai mobil , hendak pulang dari suatu tempat, tak sengaja melihat adegan itu. Dengan sigap aku menghentikan mobilku dan membantu gadis kecil itu melepaskan diri dari para preman itu. Akhirnya, dengan susah payah , aku pun berhasil mengalahkan para sampah masyarakat itu.
Anggi Saraswati, itulah nama yang tertulis seragam sekolahnya dan aku memanggilnya dek Anggi. Setelah itu, kami pun berpisah tanpa berkenalan terlebih dahulu yang membuatku menyesal hingga bertahun.
Sejak pertemuan pertama itu, duniaku seakan hanya berputar untuknya, padanya. Sejak saat itu juga , wajahnya, senyumnya, sorot matanya selalu membayang di relung batinku. Tak pernah terlupa dan takkan pernah terlupa. Terucap doa di setiap sujudku, semoga kelak aku dapat berjumpa lagi dengannya.
Bertahun sudah berlalu, namun wajah itu masih lekat dalam sanubariku ,hingga suatu waktu aku melihat story' WhatsApp ibuku, ntah mengapa saat melihat foto-foto anak-anak itu, langsung mengingatkanku pada wajah cantik gadis kecilku dulu. 'Ah, apa kabarmu, dek Anggi?' gumamku saat itu.
Berapa hari kemudian, aku melihat sosok wanita yang sedang mendorong sepeda motornya dengan 2 orang anak kecil yang duduk di atasnya, membuatku teringat sepertinya aku pernah melihat mereka. Ah, aku akhirnya ingat, pernah melihat mereka di lampu merah tapi dengan membonceng 3 anaknya.. Sungguh wanita yang tangguh pikirku. Tanpa pikir panjang, aku pun menghentikan mobilku di dekat motornya. Awalnya ia terlihat takut, namun saat aku mendekat , justru aku yang terkejut. Wajah itu, wajah yang sangat ku rindukan. Yah, dia gadis kecilku. Tapi hatiku seakan teriris saat melihatnya, ia tampak lusuh, raut lelah pun tercetak jelas di wajahnya. Yang paling membuatku terkejut adalah ternyata dia telah memiliki anak 3. Anak itu adalah anak yang fotonya di-posting ibuku. Hmm.. pantas saja saat melihat foto anak-anak itu, aku langsung teringat wajah gadis kecilku dulu.
__ADS_1
Aku mendekati mereka untuk mengetahui apa yang terjadi dengan motor mereka, ternyata bannya kempes, jadi aku menawarinya bantuan untuk mengantarnya ke tujuan. Awalnya ia menolak, namun setelah ku bujuk akhirnya ia mau. Saat ku tanya hendak kemana, ia menjawab mau ke pengadilan agama. Mendengar itu tentu aku terkejut, kenapa, ada apa? Setelah ku tanya, rupanya ia ingin menggugat cerai suaminya. Ah apakah ini kesempatan untukku mewujudkan doa-doaku? Ya Allah, bukan aku bermaksud jahat mengharapkan perpisahan dua insan yang sudah terikat dalam satu hubungan, tali pernikahan, tapi melihat penampilannya, belum lagi cerita mama kalau ia mengalami KDRT, bukankah wajar bagiku mengharapkan dirinya , aku sungguh ingin membahagiakannya Tuhan.
Dan kini, perceraian itu telah terjadi, tiba giliran ku untuk berjuang, berjuang mendapatkan cintanya, cinta dari gadis kecilku yang nampak kuat di luar namun rapuh di dalam. Ya Tuhan, semoga ini jawaban atas setiap doaku di sepertiga malam.
Hingga saat itu, aku pun memberanikan diri menyatakan perasaan , namun ia tolak. Tapi aku pantang menyerah, hingga saat ada kesempatan ku coba sekali lagi ,namun jawabannya cukup membuatku tercengang, ia akan memikirkan, ia meminta waktu untuk beristikharah, memohon jawaban dari Yang Kuasa, hingga akhirnya malam ini, doa-doaku terjawab sudah, ia pun menjawab secara tersirat melalui sebuah cerita mimpi yang ia alami.
Yang intinya ia menerimaku. Bukan hanya memberikan kesempatan membuka hati, tapi juga memberi kesempatan untuk menjadikanku pendampingnya. Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya ia menerimaku. Alhamdulillah ya Allah, akhirnya doa-doaku Engkau ijabah. Sujud syukurku pada-Mu Rabbi, atas karunia-Mu yang tiada tara ini.
.
.
.
Ya , akhirnya Anggi memiliki jawaban atas penantian Diwangga. Perasaannya lega, sangat lega. Setelah menceritakan mimpi-mimpi yang dialaminya yang berakhir dilihatnya sosok Diwangga dalam mimpinya, membuat keyakinannya menerima Diwangga menjadi bertambah.
Anggi tersenyum-senyum sendiri, masih teringat jelas bagaimana reaksi Diwangga saat mendengar penuturan cerita Anggi. Dan kejadian selanjutnya, mampu membuat pipinya memerah, karena rona bahagia yang tak mampu ia sembunyikan.
__ADS_1
Flashback on
"Jadi?" Diwangga hendak menanyakan bagaimana dengan hubungan mereka
"Ya, seperti kataku tempo hari, aku bukan hanya akan memberikan mas kesempatan mas membuka hatiku, tapi juga memberikan kesempatan bagi mas untuk..." ucapan Anggi terjeda membuat jantung Diwangga makin berdegub tidak karuan. Seakan ingin melompat dari sarangnya. "Menjadi pendampingku." lanjutnya dengan wajah menunduk menyembunyikan malu.
"Masya Allah, walhamdulillah ya Allah." seru Diwangga .
Diwangga sontak melompat dari tempat duduknya dan melakukan sujud syukur di tempat, membuat Anggi melongo, bahkan Diwangga ikut menjadi tontonan pengunjung lain. Sebahagia itukah seorang Diwangga dapat menjadikannya yang hanya wanita biasa sebagai pendamping hidupnya? Anggi sungguh tidak mengerti apa , yang ia tahu , ia turut bahagia. Ia dapat melihat pancaran kebahagiaan yang nyata menyala di mata Diwangga. Semoga kali ini ia tidak salah melangkah.
"Makasih Nggi, insya Allah, aku akan selalu membahagiakan kamu dan anak-anak." ucap Diwangga tulus.
Lalu Diwangga tampak merogoh saku celananya. Dari sana , ia tampak mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru langit. Saat ia buka kotak itu, tampaklah sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian blue safir Ceylon. Sungguh cantik, sangat-sangat cantik. Anggi seketika terpesona saat melihatnya. Belum pernah ia melihat cincin secantik ini.
"Mas, i-ni, ini sangat cantik. Apa ini tidak berlebihan? Aku-aku takut untuk menerimanya." ucap Anggi terbata saat melihat cincin itu
__ADS_1
"Ini belum apa-apa ,Nggi. Ini hanya sebagai pengikat hubungan kita agar orang-orang tau bahwa kau sudah ada yang memiliki. Segera, secepatnya, aku akan membawa mama dan papa menemuimu untuk melamarmu menjadi pendamping hidupku. Mau kah kau menjadi istriku Nggi, menjadi pendampingku saat susah maupun senang, menjadi ibu dari anak-anakku sebagai mana aku yang bersedia menjadi ayah dari anak-anakmu, kita menua bersama, saling melengkapi satu sama lain. Will you marry me ,sayang?" ucap Diwangga sambil duduk bersimpuh dengan satu kaki ditekuk ke lantai
dengan sorot mata teduh menatap lekat ke arah Anggi.