Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.113 (S2) Jatuh cinta setiap hari


__ADS_3

"Lho, Fan, kok makan siangmu belum dimakan?" tanya dr. Alan sesaat setelah masuk ke ruang perawatan Stefani. Seperti biasa, ia selalu memeriksa keadaan Stefani di setiap waktu senggangnya. Berbeda dengan perlakuannya pada pasien lainnya. Stefani memang ia istimewakan. Seistimewa wanita itu dalam hatinya.


"Nggak selera." jawab Stefani sambil mencebik. Sering berada di rumah sakit, membuatnya bosan dengan menu-menu yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Walaupun tujuannya untuk kesehatan tetap saja membosankan dan hambar di lidahnya yang biasa mengecap berbagai macam makanan dengan berbagai rasa pula.


"Emang kamu pingin apa, hm?" tanya dr. Alan sambil menatap intens wajah cantik Stefani.


"Emang kamu mau beliin, dok?" tanya Stefani dengan mata berbinar.


"Boleh, apapun kamu mau, akan saya belikan, tapi ada syaratnya." ucap dr. Alan dengan senyum penuh arti.


"Syarat? Ikh, pamrih banget sih!" rengek Stefani. "Emang syaratnya apa? Awas lho kalau aneh-aneh!"


"Nggak aneh, kok! Cuma pingin kamu nggak usah terlalu formal kalo ngomong sama aku. Terus ganti panggilan kamu ke aku. Jangan dok, dok, dok lagi." ujar dr. Alan.


"Jadi aku harus manggil apa dong?" Stefani mengernyitkan dahinya bingung.


"Terserah, boleh panggil nama aja, boleh juga panggil mas." ujar dr. Alan seraya memainkan alisnya naik turun.


Mendengar permintaan dr. Alan untuk memanggilnya mas , membuat Stefani tersipu malu.


"Apa tuh mas , mas, mas, masak aer kali." ujar Stefani sambil terkekeh. "Panggil nama aja deh kalau gitu. Dok eh, A... lan." Akhirnya Stefani lebih memilih memanggil nama saja.


Dr. Alan tergelak hingga tubuhnya berguncang saat mendengar Stefani memanggilnya Alan dengan terbata.


"Ih malah ketawa, jadi nggak beliin makanannya?" tanya Stefani dengan wajah yang sudah cemberut.


"Oke oke " jawab dr. Alan yang masih kesusahan menghentikan tawanya. "Kamu mau makan apa, hm? Nanti aku cariin." ujar dr. Alan.


"Pingin makan bakso, tapi nggak pake kecap sama saos, ya." ucap Stefani dengan wajah berbinar.

__ADS_1


Dr. Alan melongo saat mendengar permintaan Stefani. Wajar saja ia melongo sebab makanan yang dipinta bukanlah menu yang biasanya dimakan untuk makan siang.


"Kamu serius? Kamu kan harus minum obat, Fan. Seharusnya kamu makan nasi terlebih dahulu." ujar dr. Alan lembut.


"Huft, sekali-sekali boleh, ya! Please...!!" Stefani dengan wajah memelas.


Akhirnya dengan terpaksa dr. Alan pun mengiyakan.


.


.


.


Stefani baru selesai makan bakso yang dibelikan dr. Alan. Ia tampak sangat senang karena sudah berapa hari ini ia ingin sekali memakan bola daging berkuah itu. Bersyukurnya dr. Alan mau membelikannya.


Stefani hanya tersenyum simpul menyangsikan kesediaan ayahnya mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Dulu, saat ia masih kecil memang ayahnya sangat menyayanginya, tetapi setelah wanita kedua itu hadir, semua berubah. Sikap ayahnya baik pada dirinya, maupun ibunya benar-benar berubah. Bahkan saat Stefani jatuh sakit pun ia tak acuh. Semua dimulai sejak 7 yang lalu, saat ibunya sakit-sakitan dan setelah diperiksa ternyata ibunya menderita leukemia. Keadaan ekonomi keluarganya yang saat itu memang sedang tidak bagus, membuat sikap ayahnya berubah. Ia tak mempedulikan ibunya yang saat itu sakit-sakitan. Dan tak lama kemudian terdengar kabar ternyata ayahnya menikah lagi tanpa sepengetahuan ibunya. Hanya karena wanita itu memiliki toko kelontong dan dapat menjamin kehidupannya, ayahnya menikahi wanita itu dan mengabaikan ibu dan dirinya.


.


.


.


"Sayang, kamu beneran mau kasiin rumah itu sama mantan mertua kamu?" tanya Diwangga pada Anggi yang sedang setengah berbaring di tempat tidur.


"Hmm ... iya mas, bagaimana pun aku punya kenangan di rumah itu. Mendiang mantan ayah mertuaku dulu sangat baik padaku. Berbeda dengan sikap istrinya. Papa begitu perhatian dan mengayomi. Papa menyayangi Anggi seperti anaknya sendiri. Karena itu Anggi nggak rela kalau rumah itu jatuh ke tangan orang lain. Lagi pula rumah itu bukan dijual dengan sengaja oleh mereka. Anggap saja itu sebagai ganti rumah kami yang Anggi jual tempo hari. Walaupun itu ada hak Anggi, tapi nggak papa. Toh rejeki sudah ada yang ngatur, ya kan mas." papar Anggi dengan seulas senyum keikhlasan.


Ya, rumah Bu Tatik yang sudah dijual Anton dan Adinda telah dibeli kembali oleh Anggi dengan bantuan Diwangga. Ia membeli lagi rumah itu dengan pertimbangan mengenang mendiang ayah mertuanya yang sudah memperlakukannya dengan baik selama hidupnya. Anggi juga berniat mengembalikan rumah itu kepada pemilik sebelumnya, yaitu Bu Tatik.

__ADS_1


"Sayang, percaya nggak kamu dengan jatuh cinta setiap hari?" tanya Diwangga dengan senyum penuh arti.


Anggi mengerutkan keningnya dalam lalu menggeleng. Diwangga balas gelengan itu dengan senyum hangatnya.


"Kalau mas percaya. Sangat-sangat percaya sebab mas sendiri yang mengalaminya. Kamu tau nggak, mas itu jatuh cinta setiap hari sama kamu." ucap Diwangga sembari melabuhkan sebuah kecupan hangat di bibir merah alami Anggi. "Sikap kamu, perlakuan kamu, ketulusanmu, keikhlasan mu, kebaikanmu, kasih sayangmu, semua ... semua yang ada pada dirimu selalu membuat mas jatuh cinta dan jatuh cinta lagi setiap harinya. Mungkin benar kata orang, mas udah benar-benar jadi bucinnya kamu, sayang. " sambung Diwangga sembari kembali melabuhkan sebuah kecupan yang awalnya hanya lembut namun perlahan kecupan itu menjadi semakin menuntut dan dalam.


Anggi yang baru saja mabuk kepayang karena penuturan Diwangga jadi ikut terhanyut dalam buaian asmara yang sedang ditabuh Diwangga. Perlahan Anggi membalas kecupan yang kini telah bermetamorfosis menjadi lum*t*n itu. Tangan kiri Diwangga kini telah bergerak meraih tengkuk Anggi membuat buaian itu makin dalam dan menuntut. Hawa panas kini mulai menjalari tubuh kedua insan tersebut.


Tangan kanan Diwangga sepertinya tak ingin tinggal diam. Ia mulai menjelajahi apa saja yang bisa ia jelajahi dan meraih apa saja yang bisa ia raih di dalam dress satin yang dikenakan Anggi. Hingga sebuah lenguhan keluar dari bibir merah delima Anggi saat tangan nakal Diwangga mer*m*s salah satu bukit kembar milik Anggi.


Diwangga melepaskan pertautan bibir ia dan Anggi sejenak untuk meraup oksigen yang hampir pupus karena kegiatan panas mereka. Kemudian Diwangga menarik dress satin ke atas, melewati kepala Anggi lalu melemparnya ke sembarangan arah hingga hanya memisahkan penutup intinya saja. Tak ingin curang, ia pun melepas semua yang membalut tubuhnya lalu mengambil posisi, mengungkung tubuh mungil Anggi hingga tepat di bawahnya.


Kembali, ia menautkan bibir mereka dengan gerakan yang lebih intens hingga membuat gairahnya kian membara. Bibir itu kemudian bergerak mengecupi setiap inci wajah Anggi lalu perlahan turun ke cuping dan leher, melukis beberapa tanda kepemilikan di sana, membuat tubuh Anggi menggelinjang hebat.


Tangan kanan Diwangga bergerak lincah di bukit kembar Anggi bergantian kanan dan kiri , sedangkan tangan kiri perlahan turun ke area favoritnya. Ia memainkan jemarinya di sana, membuat Anggi melenguh dan nafasnya kian memburu hingga pelepasan pertamanya pun tiba. Diwangga menarik tangannya dari tempat favoritnya lalu menumpukannya di sisi kanan dan kiri Anggi. Dengan gejolak yang kian membara ia pun mulai memposisikan kepunyaannya di depan pintu surga dunia milik Anggi hingga milik mereka kembali bersatu tuk ke sekian kalinya. Awalnya gerakan itu perlahan namun lama-kelamaan gerakan itu makin cepat dan intens membuat Anggi m*ndes*h, mer*c*u, m*lenguh , dengan tubuh bergelinjang hebat hingga kepalanya mendongak ke atas dan tak lama kemudian mereka pun tiba bersamaan sambil mendesahkan nama pasangan masing-masing.


"Mas... Angga ..."


"Anggi ..."


.


.


.


Selamat Hari Kemerdekaan ❤️❤️❤️


Dirgahayu Indonesiaku yang ke 76

__ADS_1


__ADS_2