Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.43 Cemburu?


__ADS_3

Mata Anggi seketika kembali berkaca-kaca, bahkan tanpa sadar bulir itu turun melalui ekor matanya membasahi pipi putih mulus Anggi.


Anggi tak mampu berucap banyak kata, hanya anggukan kepala yang mewakili kesediaannya, hingga terdengar tiga kata meluncur bebas dari bibir Anggi, "Yes, i do."


Diwangga tersenyum lebar. 3 kata yang terdengar begitu indah di telinganya. 3 kata yang sanggup menerbangkannya ke langit tertinggi. 3 kata yang sekian lama ia nanti, akhirnya terucap dengan pasti dari bibir merah delima wanita pujaannya


Diwangga pun segera mengambil cincin yang sedang dipegang Anggi, dan dengan izin Anggi, cincin itu pun ia sematkan di jari manis wanita pujaan hatinya tersebut.


Setelah cincin itu melingkar sempurna di jari manis Anggi, segera ia gamit tangan Anggi, dan dengan penuh perasaan ia kecup jemari yang dilingkari cincin itu.


"Terima kasih Anggi, terima kasih sayang, terima kasih my sweeetheart, terima kasih karena telah hadir kembali dalam hidupku, terima kasih engkau telah menerima cintaku, terima kasih atas kesempatan yang kau beri ,dan terima kasih engkau telah memberikan kesempatan bagi diriku untuk jadi pendamping hidupmu. Insya Allah, aku akan melakukan segala yang terbaik untukmu, anak-anak kita, keluarga kita, dan kebahagiaan keluarga kecil kita kelak." ucap Diwangga tulus membuat Anggi makin terisak bahagia.


"Mari kita berjuang bersama, mas."


Flashback off


Keesokkan harinya


Siang ini Anggi sudah tampil rapi namun tetap anggun dengan busana muslim yang dipakainya. Rencananya ia hari ini akan menemui Aglian untuk menandatangani kontrak kerja sama pembukaan cabang Anggrek Fashion di Angkasa Mall. Rencananya ia akan pergi menemui Aglian ditemani Diwangga sebab ia yang lebih paham masalah hukum yang mengikat kerja sama tersebut. Selain itu, ia sudah ada janji dengan Diwangga untuk ikut dengannya menemui orang tuanya untuk membahas perihal pernikahan mereka.


Anggi sedang duduk di 4 tamu menunggu kedatangan Diwangga. Karena terlalu asik melamunkan keromantisan Diwangga kemarin saat melamarnya, membuatnya tak sadar kalau Luna sedang memanggil-manggiil namanya.


"Mbak... mbak Anggi... Mbak Anggi. Pooh ngelamun wae! " pekik Luna membuat Anggi terlonjak kaget


"Astaghfirullah, Luna! Kamu bikin kaget mbak aja. Untung mbak nggak punya riwayat sakit jantung, kalo ada mungkin mbak udah masuk UGD dari kemarin-kemarin." omel Anggi sambil mengusap dadanya


"Abis mbak Anggi ngelamun terus sampai pipi mbak merona sakin merahnya udah kayak kepiting rebus, tau nggak mbak." ledek Luna sambil terkekeh


"Cie cie... kayaknya ada yang lagi jatuh cinta ,nih?" timpal Tita


"Wah, jatuh cinta sama siapa mbak? Kasi tau donk,please!" tanya Lia.

__ADS_1


Anggi mendelik sebal sambil memutar bola mata malas, adik-adiknya sekarang kok makin bawel dan usil.


"Idih, ngarang. Siapa yang lagi jatuh cinta? " dusta Anggi sambil mengulum senyum


"Udahlah mbak, dari wajah mbak itu udah keliatan jelas tau. Tuh kan tercetak jelas di jidad mbak Anggi, kamu liat kan Ta, Lia, ada tulisan I LOVE YOU MAS ANGGA di jidad mbak Anggi" Tita dan Lia pun membenarkan ucapan Luna sambil tergelak


"Ih kalian mau ngerjain mbak, ya! Emangnya jidad mbak ini layar ponsel, tulisannya bisa diliat." ujar Anggi sambil mentoyor kepala Tita, Luna, dan Lia.


"Nah, kan , berarti bener yang aku bilang, emang tulisannya I Love You Mas Angga, itu secara tidak langsung mbak membenarkan." mereka bertiga masih cekikikan menertawakan Anggi yang wajahnya telah mewah karena malu


"Udah ah, kalian ngerjain mbak melulu." ujar Anggi sambil mengerucutkan bibirnya


"Mama, om papa datang." teriak Kevin yang sedang main di teras depan.


"Assalamualaikum." ucap Diwangga saat sudah tiba di depan pintu


"Wa'alaikum salam, mas. Silahkan duduk dulu,mas. Mas, mau minum dulu ataubkita langsung aja?"


"Kita langsung ke Angkasa aja gimana?"


"Cie... cie.... Kapan nih om ,mbak Anggi nya dihalalin? " ledek trio julid


"Insya Allah, segera. " ucap Diwangga sambil tersenyum simpul


"Wow... Kami nggak salah denger ini kan om? Tebakan kami bener ya om kalo om sama mbak Anggi ada ekhem ekhem.." tanya trio julid antusias


"Jangan ngomong sembarangan ,ih! Nggak enak didengar orang, nanti mereka mikir yang nggak-nggak. " sergah Anggi


"Tapi mbak, mbak jujur gih, emang mbak sama om Angga beneran..."


"Insya Allah doain aja! Oke." ucap Anggi tegas

__ADS_1


"Yeay, kami bental lagi punya papa! Yeye... yeye... kami punya papa. Yeye .. yeye... om papa jadi papa kami benelan. Yess!" teriak Kevin dan Karin tiba-tiba, ternyata si kembar dari tadi ikut ngupingin pembicaraan mereka


"Allahuakbar, ini gara-gara kalian ini!" Anggi menepuk jidatnya lalu melotot ke arah trio julid


"Hehehe... ampun mbak, peace!" ucap trio julid sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, tapi Anggi malah melengos.


"Karin, Kevin, mama pergi dulu ya! Mama ada kerjaan. Kalian jangan nakal ya sayang. Jangan keluar pagar. Abang bentar lagi pulang sama kak Aji. Kalian tungguin di dalam rumah aja ya." pesan Anggi pada si kembar


"Oke ma. Eh ma, mama mau pelgi kemana emannya? Mama mau pelgi jadiin om papa ,papa kami ya?" tanya Karin


"Huftth... belum sayang. Mama mau kerja untuk pembukaan cabang toko kita yang baru. Kalo kalian emang pingin om papa jadi papa kalian, makanya jangan lupa sholat trus berdoa, oke!"


"Oke, ma. Nanti kami sholat telus beldoa bial om papa cepat jadi papa kami." ucap Kevin dan Karin sambil tersenyum lebar


"Mama sama om papa pergi dulu ya sayang, assalamualaikum." ucap Anggi setelah mencium pipi kedua anak kembarnya, begitu pun Diwangga.


"Wa'alaikum salam , mama, om papa. Hati-hati di jalan."


Setelah Anggi masuk ke mobil Diwangga, disusul Diwangga masuk ke bagian kemudi, Diwangga pun melajukan mobilnya menuju Angkasa Mall.


Hanya dalam waktu 30 menit, tibalah mereka di Angkasa Mall. Setelah mobil terparkir dengan baik , mereka pun turun dari mobil hendak menuju ke ruangan Aglian. Sama seperti saat pertama kali Anggi memasuki Angkasa Mall tempo hari, kali ini pun sama, Anggi sibuk dikerumuni para penggemarnya.


Untung saja , Robi, asisten pribadi Aglian sigap dan telah siap menunggu tak jauh dari lift. Jadi dengan sigap dan mengerahkan beberapa tim keamanan untuk membantu mengawal Anggi agar bisa masuk ke lift dengan aman.


Di ruangan Aglian


"Selamat datang, Nggi. Silahkan duduk." ucap Aglian, membuat Diwangga mengernyitkan dahinya. 'Sudah sedekat apa pemilik Angkasa Mall ini dengan Anggi sampai bisa memanggil nama saja tanpa embel-embel seperti rekan kerja biasanya?' batin Diwangga penasaran


"Terima kasih, Lian. Oh ya, kenalkan ini Diwangga. Dia seorang pengacara." ucap Anggi pada Aglian. "Mas, ini Aglian ,CEO Angkasa Grup." ujar Anggi pada Diwangga, ia hendak mengenalkan keduanya.


"Aglian Saputra." ucap Aglian tegas dengan sorot mata tajam sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman

__ADS_1


"Diwangga Yudhistira." balas Diwangga dengan nada sama tegas dan berwibawa. Ia pun menyambut uluran tangan Aglian. Mereka saling tatap sejenak, seperti sedang saling menilai orang yang ada di hadapannya ini.


Lalu mereka duduk di sofa ruang kerja Aglian. Aglian pun menawarkan minum pada tamunya. Tapi Diwangga justru menangkap ada sesuatu dari sorot mata Aglian. Mulai dari cara berbicara, cara menatap, cara memperlakukan seperti Anggi adalah seseorang yang istimewa bagi seorang Aglian Saputra dan Diwangga tak menyukai itu. Perasaan apa ini, batin Diwangga bermonolog. 'Apakah ini yang dinamakan cemburu?'


__ADS_2