
Adam dan Lea keluar dari ruangan Aglian dengan wajah pias. Bagaimana tidak, mereka hanya diberikan dua pilihan yang sama-sama mengerikan. Tapi tetap saja, mereka harus memilih salah satu. Akhirnya, pilihan yang mereka pilih adalah menjadi cleaning service.
Di meja kerjanya, Lea tampak mengepalkan tangannya. Ia geram, kesal, marah, mengapa Anggi bisa menang segala-galanya dari dirinya. Menjadi anak pengusaha terbesar dan terhebat, lalu menikah dengan seorang pengacara handal dan tampan yang sudah jadi incarannya sekian lamanya. Sedangkan dirinya, kini ia harus terjebak dan turun jabatan menjadi cleaning service. Bagaimana ia bisa berkutat dengan sapu dan kain pel, serta membuat minuman , dan lainnya, sedangkan ia tak pernah sekalipun mengerjakan pekerjaan rendah seperti itu. Walaupun ayahnya dulu sekian tahun tidak pulang ke rumah, tapi Ia meninggalkan harta yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup Lea dan ibunya. Di rumah pun ia tak pernah mengerjakan apapun sebab sudah ada pembantu rumah tangga yang bertugas melaksanakan semua pekerjaan seperti bersih-bersih, memasak, dan mencuci.
Dan hari ini, harga dirinya seperti diinjak-injak lalu dijatuhkan dari puncak Monas. Bagaimana tidak, ia hanya diberikan 2 pilihan oleh atasan sekaligus saudara kembar dari rivalnya, yaitu wanita yang paling ia benci. Pilihan yang berat dan menyebalkan, berhenti kerja tanpa pesangon dan di-blacklist dari perusahaan lain atau menjadi cleaning service sampai batas waktu yang ditentukan CEO Angkasa Grup tersebut. Andai ia punya kuasa seperti keluarga Anggi, ingin sekali Lea mengebom perusahaan Angkasa itu hingga rata dengan tanah.
Akhirnya dengan terpaksa Lea memilih menjadi cleaning service dengan batas waktu yang ditentukan Aglian itu, entah berapa lama ia tak tahu.
'Aku akan membalas penghinaan kalian ini.' geramnya dalam hati.
Lalu Lea mengambil ponselnya dan menelfon seseorang yang baru 3 tahun ini kembali ke kehidupannya.
"Halo ...."
"....."
.
.
.
"Onty, Abang sama Kevin main tembak-tembakan itu, ya!" izin Damar.
"No, onty, Ayin kan ndak bisa main itu!" tolak Karin dengan wajah cemberut.
"Ayin main yang lain aja, itu mainan untuk anak cowok kayak Epin dan Abang." saran Kevin.
"Iya, Rin, kan Karin bisa main yang lain." timpal Damar.
"Emang boleh onty?" tanya Karin dengan wajah berbinar.
"Emang Karin mau main apa?" tanya Luna sambil membungkukkan badannya agar sejajar dengan Karin.
Mata Karin mengitari ke sekeliling arena bermain itu. Lalu matanya tampak berbinar ke salah satu permainan.
__ADS_1
"Ayin mau main itu." seraya mengacungkan jari telunjuknya ke arah sebuah permainan.
"Capit boneka?" tanya Luna dan Karin mengangguk dengan antusias.
"Oke. Abang jagain Kevin ya! Onty mau temenin Karin main di sana." ucap Luna seraya menunjuk tempat permainan capit boneka. "Nih, kartunya!" tambahnya lagi.
Lalu Damar dan Kevin serta Luna dan Karin pun berpencar ke tempat tujuan masing-masing.
Tampak Damar sedang bermain sembari mengajari Kevin menembak. Senjata yang digunakan menyerupai senjata laras panjang. Mereka tampak begitu gembira saat berhasil menembaki satu per satu musuhnya. Semakin tinggi level yang berhasil di menangkan, maka semakin banyak pula kupon hadiah yang akan diperoleh. Kupon-kupon tersebut nantinya dapat ditukarkan dengan berbagai macam hadiah.
Sedangkan di tempat lain Karin tampak antusias ingin mencapit boneka yang diinginkannya. Namun sayang berkali-kali ia mencoba tetap saja gagal. Akhirnya Luna pun turun tangan untuk membantu Karin, tapi hasilnya sama saja.
Tampak Karin sudah cemberut dan hampir menangis. Luna sudah beberapa kali mencoba sampai limit kartunya habis dan membuatnya terpaksa mengisi saldo lagi, tapi hasilnya nihil. Luna sudah gelagapan saat melihat keponakan-keponakannya itu nampak berkaca-kaca. Sudah dapat dipastikan, dalam hitungan detik, tangis Karin akan pecah.
"Luna ..." seru seseorang saat melihat Luna tampak berusaha mendapatkan boneka dari box permainan.
Merasa namanya disebut, Luna pun menoleh ke arah suara itu berasal. Luna tampak mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat siapa pria yang sedang berjalan menuju tempatnya berdiri sekarang. Bahkan pria tersebut tak segan-segan melebarkan senyumnya yang manis membuat para wanita yang berdiri di sekitar sana terpana.
"Onty kenal olang itu?" tanya Karin yang juga ikut mengalihkan perhatiannya kepada seseorang berwajah tampan itu.
"Onty aneh!" cibir Karin saat melihat tingkah Luna yang mengangguk seperti mengiyakan namun berubah menjadi menggeleng.
"Hai, Lun! Makin cantik aja nih!" sapa pria itu.
Luna mengerutkan dahinya penasaran dengan sosok tampan di hadapannya. Sungguh ia lupa, sangat lupa, siapakah gerangan engkau pria tampan, gumam Luna dalam hati.
"Kok bengong? Loe lupa sama gue?' pria itu memicingkan matanya. Luna mengangguk.
"Astaga, baru juga 1 tahun berpisah, masa' udah lupa!" cibir pria itu. "Oh gue tahu, mungkin karena gue nggak pakai kacamata gue kali, ya, jadi loe nggak bisa mengenali wajah gue. Apalagi tampang gue sekarang udah makin cakep." celoteh pria itu.
"1 tahun? pakai kacamata? Setahu gue temen gue yang pakai kacamata cuma ada 1, yaitu si kentang , nggak ada yang lain. Loe nggak mungkin kentang, kan?" sahut Luna tak yakin.
"Ck ... Emangnya apa yang nggak mungkin? Apa gue dulu sejelek itu di mata loe, Lun? Emang bener, gue Kentaro Anggoro yang suka loe panggil Kentang." tukas Kentaro kesal
"Serius loe! Loe beneran Kentang? Sohib kental kesayangan gue?" seru Luna dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Kentaro tersenyum lebar. "Kenapa? Nggak percaya karena gue sekarang nggak cupu lagi?" ucapnya sinis
"Whoaaa ... kentaaang, i Miss you!" pekik Luna langsung berhambur ke pelukan Kentaro.
"I Miss you too, my sweety." gumam Kentaro pelan nyaris berbisik membuat Karin yang berdiri di samping Luna hanya melongo.
"Onty, gimana ambil bonekanya?" rengek Karin .
"Astaga, maafin onty Luna ya, Rin! " ringis Luna. "Uncle, can you help me, please!" bujuk Luna sambil mengerjap-ngerjapkan matanya membuat Kentaro merasa gemas sendiri.
"Okay, ponakan uncle mau boneka yang mana?" tanya Kentaro, lalu Karin menunjuk sebuah boneka Pororo yang sangat lucu.
Tak butuh waktu lama , Kentaro berhasil mendapatkan boneka incaran Karin.
"Whoaaa ... ankel hebat! Onty payah ankel, dali tadi ndak bisa-bisa ambilnya ." seru Karin kegirangan.
"Uncle Ken, gitu lho! Udah tampan, hebat lagi." puji Kentaro untuk dirinya sendiri.
"Is, narsis banget sih loe! Loe ada hutang sama gue Ken buat jelasin kenapa loe bisa berubah sedrastis ini trus loe kemana aja selama ini!" tukas Luna meminta penjelasan.
"Oke, nanti aja tapi ya! Gue ada briefing sama rekanan yang mau gunain jasa gue sebagai brand ambassador produknya." ujar Kentaro. "Nih kartu nama gue. Awas ntar malam loe nggak telfon gue!" ancam Kentaro seraya memberikan kartu namanya pada Luna.
Luna tampak melongo saat membaca kartu nama tersebut.
"Ini nggak salah? Dia ...."
.
.
.
.
Setelah Adinda keluar dari rumah sakit, ia melangkahkan kakinya yang pincang tak tentu arah. Sesekali ia berhenti dan meringis menahan sakit di kakinya, namun selanjutnya ia kembali melangkahkan kakinya. Ia tak memiliki tujuan. Tak ia pedulikan lukanya yang kembali berdarah, yang ia tahu , ia ingin secepatnya pergi.
__ADS_1
Adinda juga tak mau lagi kembali ke apartemen Anton. Ia sudah berniat ingin menyudahi segala perbuatan buruknya. Ntah bagaimana nasibnya nanti, yang pasti ia ingin pergi dari semua, menjauhi semua, dan memulai lembaran baru, menjadi Adinda yang lebih baik lagi.