
"Mbak, sepi ya nggak ada trio bocil," keluh Luna.
"Iya, tapi ini untuk keamanan mereka juga." sahut Anggi.
"Mbak, kalau udah nikah, mbak Anggi tinggal dimana?" tanya Lia.
"Mbak belum tau juga, Li. Kemungkinan sih di rumah mas Angga. Kalian jangan panggil mas Angga om donk! Mas aja bisa, kan! Seolah mbak itu nikah sama om-om tau, kalau kalian manggil mas Angga om." protes Anggi pada adik-adiknya.
"Cie si mbak, takut dikira nikah sama om-om, ya mbak!" ledek Luna sambil terkekeh.
"Suka-suka kami donk, mbak!" ujar Tita sambil terkekeh.
"Kalian kompak ya mau bikin mbak kesal, mbak potong gaji kalian baru tau rasa!" cebik Anggi dengan sorot mata memicing.
"Udahlah mbak, mbak nggak cocok pasang wajah sinis kayak gitu, lucu iya." Lia menimpali membuat Tita dan Luna tergelak.
"Ah, udah ah ngomong sama kalian kayak ngomong sama tembok, mantul aja, diserap kagak."
Yes Pi sha la la la la ye Pi i so mi Cho ...
Dering ponsel Anggi yang merupakan soundtrack Drakor Full House menggema dari dalam kamar. Anggi segera berlarian untuk melihat panggilan suara dari siapakah itu. Saat melihat nama yang tertera, senyum sontak terukir indah di bibir merah muda Anggi.
Gegas Anggi menggeser tombol hijau ke atas, tak lama kemudian ucapan salam pun terucap dari bibir pria calon imamnya itu. Anggi pun menyahuti ucapan salam itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Nggi, lagi ngapain?" tanya Diwangga.
"Lagi teleponan." sahut Anggi sambil menahan tawanya.
"Yah, itu mah aku juga udah tau." timpal Diwangga sambil terkekeh. "Maksud mas, lagi ngapain tadi , ada yang sedang dikerjain kah?"
"Nggak ada, cuma ngobrol sama Luna, Tita, sama Lia aja. Sepi nggak ada anak-anak." ucap Anggi manja.
"Mau mas percepat nikahnya?" tanya Diwangga. Anggi yang ditanya seperti itu malah mengerutkan keningnya. Bingung, kok yang dibicarakan apa, sahutannya apa.
"Mas Angga udah tidur ya?"
__ADS_1
"Lah, kalo mas tidur jadi yang ngomong ini siapa? Kok jadi ngelantur sih?" Diwangga ikut bingung dibuat Anggi.
"Lah bukannya mas duluan yang ngelantur, karena itu aku nanyain mas udah tidur apa? Aku ngomongin apa malah nyahutin masalah nikah mau dipercepat nggak. Yang aneh siapa coba? Mas Angga kan!" tukas Anggi sambil memanyunkan bibirnya.
Diwangga terkekeh mendengar celotehan calon istrinya tersebut. "Tau nggak kenapa mas nawarin mau nggak nikahnya dipercepat?" tanya Diwangga.
"Nggak." jawab Anggi sambil menggelengkan kepalanya padahal Diwangga pasti tak akan melihatnya.
"Biar kita bisa cepat tinggal bareng terus bisa cepat ngumpul bareng sama anak-anak juga." jelas Diwangga dengan senyum yang terus terukir di bibir merahnya. Hal serupa pun terjadi pada Anggi. Ia ikut tersipu karena ucapan sederhana Diwangga namun sarat makna.
.
.
.
drrtt...drrtt ..
"Lun, ponsel Loe getar tuh!" pekik Lia pada Luna yang sedang asik menonton tv sambil mengunyah keripik bayam kesukaannya.
"Hai, Lun!" sapa seseorang yang nomornya tidak tertera di kontaknya.
Luna hendak meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, malas membalas pesan yang tidak ia ketahui siapa pengirimnya, namun ponselnya kembali bergetar. Ia buka lagi kotak pesan itu, ternyata ada sebuah pesan dari nomor yang sama.
"Balas gadis jutek!"
Kesal seseorang mengatainya gadis jutek, Luna pun segera memainkan jemarinya di atas keypad ponselnya untuk mengetik sebuah balasan.
"Siapa sih loe! Enak aja ngatain gue jutek. Mau gue sleding kepala loe."
"Ampun dah, sadis amat jadi cewek! Amat aja nggak sadis.😁." balas seseorang itu disertai emoji smile.
"Cepet bilang, loe siapa! Jangan buat gue makin kesel ya!" balas Luna.
"Iya iya, ini Lian, Lun. Aglian. Masih ingat kan!" balas orang itu yang ternyata adalah Aglian.
__ADS_1
"Mas Lian? Serius? Tapi tau nomor ponsel ku dari siapa?"
"Ada deh! Kamu nggak perlu tau itu Oh ya, gimana luka kamu? Udah mendingan kah?"
"Udah mendingan. Nggak perlu khawatir."
"Astagaaaaa... jutek banget sih!"
"Bodo'!" balas Luna yang tanpa Luna ketahui perbuatannya membuat Aglian tertawa sendiri.
Baru saja Aglian hendak kembali membalas pesan Luna, tiba-tiba ada pesan lain masuk dari salah seorang anak buahnya.
"Video? Video apa ini?" gumam Aglian pelan. Lalu segera Aglian putar kesan video itu. Seketika dadanya memanas. Tangan Aglian sontak mengepalkan tangannya.
"Kurang ajar!" umpat Aglian saat melihat video yang ternyata sedang viral. " Berani-beraninya dia mengusik keluargaku. Aku takkan pernah mengampuni orang-orang yang berusaha berniat jahat pada keluargaku apalagi dia adalah saudaraku sendiri. Aku pasti akan membuat perhitungan padamu." gumam Aglian sambil menyeringai.
.
.
.
"Apa? Mama serius datang menemui Anggi di tokonya?" tanya Adam saat mamanya bercerita ia mendatangi toko Anggi dan meminta Anggi agar mau kembali bersama Adam.
"Serius lah! Ngapain mama bohong. Tapi mama kesal banget sama mereka ."
"Mereka? Maksud mama?"
"Ya mereka, Anggi sama calon suaminya. Anak-anaknya juga." desis Bu Tatik kesal.
"Calon suami?" Ya, Adam ingat wajah calon suami Anggi. Setiap ingat wajah itu, Adam langsung kesal. Bagaimana tidak, ia seakan dianggap remeh oleh pria itu.
"Iya, ternyata dia seorang pengacara. Anak-anak kamu juga kayaknya lengket banget sama dia dan orang tuanya." jelas Bu Tatik.
"Pengacara?" tanya Adam mencoba meyakinkan takut salah pendengaran. Namun Bu Tatik mengangguk pasti membuat nyali Adam ciut seketika.
__ADS_1
Happy reading.☺️