Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.178 (S2) Lowongan istri kedua?


__ADS_3

"Kak Lian, Safa kangen." pekik Safa girang.


Aglian yang khawatir Luna melihat, segera mendorong tubuh Safa agar pelukannya terlepas.


Tapi terlambat, Luna telah lebih dulu melihat drama ikan terbang itu.


Tapi Luna dapat bernafas lega saat melihat Aglian berusaha melepas pelukan itu. Walau dada Luna sedang bergemuruh, tapi tetap ia coba tuk mengontrolnya. Lalu dengan santainya Luna duduk di sofa yang ada di belakang Aglian tanpa ia sadari.


"Ih kak Lian, kok dilepas sih! Safa kan masih kangen. Udah hampir 10 tahun lho Safa nggak ketemu kak Lian. Emang kak Lian nggak kangen Safa." ujar Safa manja sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nggak. Ngapain kangen. Kan kamu sendiri yang pergi tanpa pamit." ujar Aglian acuh tak acuh.


"Tapi kan Safa tinggalin Kak Liam surat, emang mama nggak kasiin ke kakak!" tanya Safa sambil menatap mata Amel yang terlihat salah tingkah. "Ma, mama beneran kasiin suratnya sama kak Lian kan!" Safa menuntut penjelasan.


"Emm ... maafin mama, Saf, mama lupa meletakkan suratnya dimana. Pas mama cari-cari, udah nggak ada." ujar Amel seraya menggaruk kepalanya. Ia merasa bersalah pada Safa. Ia bilang pada Safa suratnya sudah ia berikan pada Aglian, padahal tidak karena suratnya hilang. 'Atau jangan-jangan, surat itu berisi tentang perasaannya pada Lian karena itu ia menempuh pendidikan di Australia dengan santai-santai saja sebab ia yakin Lian akan menunggunya. Kacau ...!'


"Ja ... jadi , kak Lian nggak pernah baca surat aku dong! ini semua salah mama, mama jahat sudah bohongi Safa! " Safa terisak di depan Aglian.


Aglian yang merasa kasihan lalu mengusap punggung Safa yang sedang menangis. Aglian dulu memang cukup dekat dengan Safa karena ia sudah menganggap Safa seperti adiknya sendiri.


"Udah ih! Kamu jelek kalau nangis jadi udah ya!" ucap Aglian lembut. Ia tak sadar Luna memperhatikan interaksi mereka berdua. Amel yang mulai menyadari ekspresi Luna yang mulai merasa tak senang pun berdeham berharap kedua orang itu sadar, ada orang lain yang memperhatikan mereka.


"Kak ..." panggil Safa.


"Ada apa?" jawab Aglian datar.


"Kata mama ... kakak udah menikah, itu beneran?" cicit Safa hati-hati.


Takut, ia benar-benar takut dan khawatir apa yang dikatakan mamanya itu tidak benar. Ia harap. Bila benar, bisa sia-sia penantiannya.


Deg ...


Seketika mata Aglian membola, ia baru ingat dimana istrinya. Ia khawatir Luna salah paham melihat interaksi antara dirinya dan Safa.


"Iya, apa yang dikatakan Tante Amel itu benar. Kakak udah menikah." sahut Aglian dengan sorot mata menyapu ke sekitar, mencari dimana istrinya. Lalu pandangan matanya bertemu dengan mata Amel. Amel memberi kode dimana keberadaan istrinya. Lalu Aglian memutar kepalanya ke arah belakang deg ...

__ADS_1


Luna tampak tersenyum tipis padanya. Tapi senyum itu terasa aneh dan mencurigakan.


'Kacau! Pasti Nana liat nih? Semoga dia nggak salah paham dan berakhir hilangnya jatah harian ku.'


"Eh, sweetheart, kok nggak manggil mas sih kalau udah selesai ganti bajunya?" tanya Aglian seraya melangkahkan kakinya ke arah Luna yang tengah duduk dengan tangan bersedekap di depan dada.


Safa yang tadinya ingin menangis karena mendengar penuturan Aglian bahwa ia sudah menikah lantas mengarahkan arah pandangannya ke arah yang dituju Aglian.


Safa membelalakkan matanya saat melihat Aglian bersikap sangat manis pada Luna. Bahkan tanpa malu-malu, ia mengecup bibir Luna di hadapan semua orang yang ada di sana. Para karyawan wanita yang ada di sana tersenyum malu-malu melihat adegan 17+. Safa hanya bisa berdecak kesal dan kecewa karena cintanya bukan hanya bertepuk sebelah tangan, tapi juga harus kalah sebelum berjuang.


'Apa aku mesti jadi pelakor ya biar bisa dapetin kak Lian? Ah, tapi aku nggak mau. Bisa jatuh dong harga diriku.'


"Gimana Nana manggil mas kalau mas aja sedang sibuk. Aku nggak mau dibilang pengganggu." ujar Luna datar. Jantung Aglian sudah jumpalitan, ia tak pernah mendengar nada datar dari Luna. 'Wah, alamat beneran nggak dapat jatah nih padahal udah malam Jum'at nih!'


"Kamu nggak ganggu kok. Itu tadi Safa, anaknya Tante Amel. Dia temenan sama Mas sejak kecil. Mas udah anggap Safa seperti adik mas sendiri." jelas Aglian. Ia harus cari aman dengan menjelaskan. Bisa kacau kalau Luna benar-benar marah padanya.


"Iya nak Luna, apa yang Lian katakan tadi benar kok. Jadi kamu jangan sampai salah paham, ya!" Amel ikut berbicara. Bagaimana pun, iabtak mau sampai rumah tangga anak sahabatnya jadi kacau karena putrinya.


"Aku nggak papa kok Tante." sahut Luna santai padahal dalam hati sudah mau teriak-teriak. 'Itu elus-elus punggung tadi apa? Rasanya pingin aku cabein tuh tangan seenaknya pegang-pegang perempuan lain.'


"Hai." Safa mencoba menyapa Luna. "Kenalin, aku Safa anaknya Tante Amel." Safa mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Luna.


"Luna, istrinya Mas Lian." ucapnya santai tapi penuh penekanan.


"Boleh aku duduk?" tanya Safa sambil menunjuk sofa yang ada di samping Luna.


Luna pun mengangguk sebagai jawaban, "Silahkan."


"Udah lama nikahnya?" tanya Safa tanpa basa-basi.


Alis Luna bertaut saat mendengar pertanyaan itu. Sedangkan Safa tampak menunggu jawaban sambil memandangi Luna. 'Masih muda banget. Kayaknya umurnya masih sekitar 20'an. Tapi kok Kak Lian bisa suka sama dia sih? Apa selera kak Lian emang yang muda kayak gini? Tapi kan aku masih cukup muda juga. Baru juga 24, Kak Lian 26, cocok banget kan seharusnya. Eh, atau dia yang godain kak Lian ? Kira-kira, mana yang bener ya?'


"Belum lama kok. Belum sampai 2 bulanan." jawab Luna tenang, sedangkan Aglian sudah ketar ketir memandangi wajah Luna. Berusaha membaca ekspresinya.


"Tapi kok mama baru telepon dan kabarin aku beberapa hari yang lalu, ma?" Safa meminta penjelasan pada Amel.

__ADS_1


"Itu, mama juga baru tau sewaktu Tante kamu, Ajeng bilang kalau Lian sama menantunya mau kesini beli baju untuk kondangan." ujar Amel jujur.


"Lho? Emang mama nggak diundang?" cecar Safa.


"Bukan nggak ngundang ,Fa, tapi emang belum soalnya resepsinya menyusul. Mungkin nggak lama lagi. Semoga aja kamu belum balik lagi ke Aussie jadi kamu bisa datang." Kini Aglian yang turut mengeluarkan suara.


"Lho, kok nikah duluan? Kalian bukan nikah cepat-cepat karena hamil duluan kan!" celetuk Safa tanpa basa-basi.


"Safa ..." pekik Amel takut Aglian tersinggung.


"Nggak papa tante. Safa cuma penasaran aja kok." sahut Luna seraya mengusap punggung tangan Amel. "Kami emang nikah cepat-cepat, tapi bukan karena saya hamil. Tapi ya karena ..." Luna tampak malu-malu ingin bicara. Aglian tak dapat membaca apa yang ingin diucapkan Luna.


'Apa dia mau kasi tau alasannya kami nikah cepat-cepat? Semoga nggak.'


"Karena Mas Lian nya yang udah nggak sabar. Iya kan, Mas." ucap Luna sembari mengerlingkan sebelah matanya membuat Aglian tersedak ludahnya sendiri.


"I .. iya, karena Mas udah nggak sabar lagi mau nikah sama Nana soalnya Mas udah cinta banget sama Nana. Mas nggak mau kehilangan Nana apalagi sampai Nana diambil orang lain. Mas bisa gila kalau itu sampai terjadi." ujar Aglian membuat hati Safa panas.


'Kayaknya Kak Lian emang cinta banget sama nih cewek.'


"Oh, gitu!" sahut Safa. "Na ..." panggilnya.


"Ya ..." Luna mengarahkan pandangannya ke Safa.


"Ada lowongan buat jadiin aku istri kedua nggak? Aku nggak masalah kok jadi yang kedua asal bisa jadi istrinya kak Lian, aku udah bahagia." ujar Safa dengan senyum innocent'nya.


Ukhuk ...ukhuk ... ukhuk ...


Aglian dan Amel tersedak karena terlalu terkejut atas perkataan Safa, sedangkan Luna justru menatap horor ke Safa.


'Aneh! Baru ini aku dengar ada cewek nawarin diri jadi yang kedua! Gila ... benar-benar gila.'


...***...


...Sekali lagi, makasih yg sebanyak-banyaknya buat yg terus voting apalagi sampai ada yg rela tukerin poin jadi bintang demi melindungi karya ini. ...

__ADS_1


...***...


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2