
Hari yang seharusnya dihabiskan dengan indah di kamar hotel, nyatanya harus berakhir di dalam pesawat pribadi. Itulah yang kini dialami Aglian dan Luna. Aglian memijit pelipisnya karena kesal mengapa tiba-tiba ada masalah seperti ini. Yang makin membuatnya kesal peristiwa itu terjadi di hari pernikahannya. Luna yang belum tau ada masalah apa hanya terdiam memperhatikan gerak gerik Aglian. Raut wajah bahagia yang tadi dilihatnya selepas akad kini berganti awan kelabu.
"Na ..." Akhirnya Aglian mengeluarkan suaranya juga.
"Iya Mas, kenapa?"
"Kamu kok murung?"
"Lha, bukannya Mas sendiri yang murung. Kayaknya lagi ada yang dipikirin."
Aglian tersenyum geli lalu mengacak rambut Luna gemas.
"Iya Mas emang lagi ada yang dipikirkan, tapi kayaknya kamu juga. Masih mikirin masalah kemarin?" tanya Aglian seraya menatap tepat di manik Luna dan Luna pun mengangguk.
"Mas, gimana keadaan Kentang? Apa dia bakal dipenjara lama?" tanya Luna hati-hati.
"Kenapa masih nanyain dia?" Aglian mendelik tidak suka.
"Bagaimana pun dia itu temen Luna Mas, walau udah mengecewakan Luna."
"Jadi? Kamu mau ngelepasin dia?" Aglian memicingkan matanya.
Luna menggeleng, "Kan Luna cuma nanya aja. Idih, Mas cemburu eaaa!" tanya Luna penuh selidik dengan mata menyipit.
"Cemburu? Ge'Er." sahut Aglian seraya terkekeh.
Aglian mengarahkan pandangannya ke awan putih di luar jendela kaca pesawat. Ia menghela nafas berat lalu membalikkan badannya menghadap Luna kembali.
Luna menumpukan dagunya pada telapak tangan kanannya lalu sorot matanya ia pusatkan pada lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu.
"Ada yang mau Mas ceritain?" tanya Luna dan dibalas Aglian dengan senyuman.
Aglian menjepit hidung Luna dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Tau aja, kamu." Lalu Aglian pun menceritakan apa yang telah terjadi di Singapura.
Flashback on
Melani merasa frustasi karena luka wajahnya yang kian membekas membuatnya terlihat sangat jelek. Ia sudah memohon pada Steven maupun Stefani untuk membujuk Aglian agar mau mengeluarkan dana untuk ia menjalani operasi plastik, namun usahanya berakhir sia-sia. Mereka mengabaikannya. Melani pun sakit hati.
__ADS_1
2 hari lagi mereka akan pulang ke Indonesia karena keadaan Stefani yang kian membaik. Melani awalnya bersabar karena ia pikir Aglian adalah kekasih Stefani, artinya ia masih punya waktu untuk membujuk calon menantunya itu agar mau mengeluarkan dana untuk ia melakukan operasi. Namun semua tidak sesuai ekspektasi. Tanpa sengaja ia melihat adegan romantis dari dalam kamar Stefani. Tampak dr. Alan sedang membelai pipi Stefani lalu mengecup bibirnya sekilas. Ternyata mereka baru saja menjalin hubungan membuat Melani meradang.
Tepat saat jam shalat Dzuhur, diam-diam Melani datang ke kamar Stefani sambil menggenggam sebilah pisau. Ia berniat merusak wajah Stefani. Ia ingin, Stefani juga merasakan apa yang ia rasakan.
"Hai anak tiriku yang cantik." sapa Melani sambil menyeringai setibanya di kamar Melani.
Stefani heran melihat kedatangan ibu tirinya itu. Namun, sedetik kemudian, Stefani membelalakkan matanya saat melihat Melani memegang sebilah pisau.
"Ma ... mau apa Tante kemari? Dan pi ...pisau itu untuk apa?" tanya Stefani terbata.
Melani tergelak, "Kenapa? Kau takut? " ujarnya sambil mendelik tajam. "Pisau ini akan mama gunakan untuk membuat wajah cantikmu itu rusak. Salah sendiri tidak mau membantu mamamu ini untuk meminta uang pada pemuda kaya itu agar mama tirimu ini bisa menjalani operasi plastik. Kau lihat, luka-luka ini terlihat sangat menjijikkan. " ucap Melani membuat Stefani ketakutan.
Stefani hendak beranjak saat Melani mulai mendekatinya, namun Melani justru mencekal tangan Stefani yang masih tertancap jarum infus.
"Tan, Fani mohon jangan lakukan itu. Itu bahaya Tan, itu melanggar hukum. Tante nggak takut masuk penjara?" ucap Stefani mencoba membujuk agar Melani tidak melakukan niat buruknya.
"Takut? Lebih baik aku membusuk di dalam penjara dari pada orang-orang melihat wajah jelekku. Sebelum itu terjadi, aku akan memberimu pelajaran. "
"Tan, semua bisa kita bicarakan baik-baik. Jangan bertindak gegabah." bujuk Stefani lagi dengan tubuh yang telah beringsut menempel di dinding.
Namun ucapan Stefani tidak digubris Melani sama sekali, tepat saat ia hendak melayangkan pisaunya ke arah Stefani, sebuah tangan kecil mencekal tangan Melani . Lalu tanpa sadar Melani mengibaskan tangannya hingga cekalan itu terlepas dan tubuh sosok itu terhempas ke belakang.
Melani segera membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berani-beraninya menghalangi niatnya. Seketika matanya membelalak saat melihat sosok itu.
Seketika pikiran Melani jadi linglung sendiri. Stefani yang melihat kekacauan itu segera menekan tombol bantuan. Tak lama kemudian perawat masuk ke dalam ruangan dan matanya membola melihat apa yang terjadi di ruangan tersebut. Tak lama kemudian dr. Alan pun kembali diikuti oleh Steven.
Melihat kekacauan di ruangan itu, gegas perawat memanggil bantuan.
"Fano, apa yang terjadi denganmu nak?" panik Steven. Dilihatnya, tangan Melani masih menggenggam pisau, matanya seketika mendelik meminta penjelasan.
"Bukan, bukan aku pelakunya. Tidak, tidak, Fano, bangun, nak. Katakan pada semua orang bukan mama yang ngelakuin. Fano bangun, mama nggak sengaja. " racau Melani. Ia kini terlihat benar-benar kacau.
"Fani, kamu nggak papa?" tanya dr. Alan panik.
Stefani menggeleng, "Aku nggak papa. Tolong Fano, Lan! Tolong bantu dia!" Mohon Stefani dengan wajah memelas. Dr. Alan mengangguk lalu ia beranjak mendekati Stefano.
Tak lama kemudian, beberapa perawat dan dokter masuk. Dr. Alan membantu menggendong Stefano dan membawanya ke ruangan yang ditunjukkan dokter di sana untuk menjalani perawatan.
Melani yang gemetar ketakutan melemparkan pisau yang ada di tangannya lalu berlari ke luar. Steven tidak mengejarnya karena mengkhawatirkan keadaan Stefano. Namun, belum 1 jam berlalu, petugas datang memberi tahu bahwa Melani mengalami kecelakaan tepat di depan rumah sakit karena menyeberangi jalanan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri lagi. Melani menghembuskan nafas terakhir sebelum ada yang sempat menolongnya. Melani pun meninggal di tempat.
__ADS_1
Steven jatuh terduduk di lantai. Ia tak menyangka, kedatangannya ke Singapura yang bertujuan menyelamatkan nyawa putrinya, malah mengantarkan kematian sang istri. Beruntung, nyawa Stefano dapat diselamatkan karena lukanya tidak terlalu dalam. Steven hanya bisa menangis tergugu. Ia menyesali tak mampu mendidik istrinya menjadi wanita yang penuh rasa syukur. Ia merasa telah gagal, baik sebagai seorang ayah maupun suami.
Flashback off
Luna yang mendengar cerita itu tak mampu berkata-kata. Matanya berkaca-kaca. Ia tak menyangka, kehidupan Stefani pun cukup rumit. Beruntung, sekarang ia telah memiliki pria yang mau menemaninya di saat kapanpun juga.
Luna berinisiatif menggenggam tangan Aglian lalu mengusapnya pelan lalu mengecupnya. Aglian sontak menoleh ke arah Luna. Ini pertama kalinya Luna berinisiatif melakukan hal yang romantis baginya. Aglian tentu saja merasa senang.
"Setelah urusan Stefani selesai, kita langsung honeymoon, ya Na! Nggak usah jauh-jauh, di Singapura aja. Sekalian. " ujar Aglian seraya mengedipkan sebelah matanya. "Malam ini kan malam pertama kita." ujarnya lagi dengan seringai jahil.
Wajah Luna memerah saat mendengar ajakan Aglian. Apakah ia akan segera melakukan hal itu, pikirannya. Otaknya langsung traveling membayangkan apa yang akan dilakukannya bersama Aglian.
'Astaga, gara-gara Mas Lian otak polosku jadi tercemar.' rutuk Luna dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya.
Cup ...
Mata Luna membelalak seketika karena Aglian tanpa rasa malu mencuri ciuman darinya. Padahal di kursi belakang ada Roby.
"Mas Lian, iih! Usil banget sih!" omel Luna.
"Kok usil? Bukannya Nana sengaja ya biar Mas cium?" ujar Aglian seraya terkekeh membuat Luna makin gemas dan menjewer telinganya.
"Awww ... astaga, sakit sayaaaang!" pekik Aglian.
Mereka pun tertawa bersama.
.
.
.
.
💃💃💃
Ea ea ea ...
Yang request MP nanti ya!
__ADS_1
Ada waktunya gitu lho! 😁
Happy Reading 🥰