
Diwangga, Anggi, Karin, dan Kevin kini tengah di perjalanan pulang dari rumah sakit dengan menaiki mobil yang dikendarai oleh Diwangga. Sedangkan, Raju dan Tita naik mobil terpisah yang dikendarai oleh Raju. Anggi senang sebab keadaan si kembar sudah mulai membaik, bahkan mereka sudah bisa bersenda gurau seperti sedia kala.
"Pin, jangan abisin kue Ayin, ih!" protes Karin saat kue coklat kesukaannya terus dilahap Kevin.
"Aaaak ... hap!" Akhirnya potongan kue terakhir pun habis dilahap Kevin dengan tampak tak bersalah membuat Karin berang.
"Aaaa... balikin kuenya, balikin!" teriak Karin sambil memukul-mukul lengan Kevin agar kuenya segera dikeluarkan lagi.
"Udah habis Epin telan, wekk!" ejek Kevin sambil menjulurkan lidahnya
"Huaaa... mama, Epin nakal abisin kue Ayin, ma! Malahin Epin, ma!" teriak Karin sambil menangis
"Cup cup cup ... udah donk sayang, jangan nangis lagi, nanti di rumah mama ganti deh! Tenang aja, sampai rumah ntar Karin bisa makan kue coklat sepuasnya." ujar Anggi menenangkan Karin. Diwangga yang duduk dibalik kemudi hanya menyunggingkan senyum. Betapa ia bangga bisa memiliki calon istri yang bukan hanya cantik, tapi juga sabar dan penyayang.
"Benelan ya, ma! Janji lho!" ujar Karin sambil menyodorkan jari kelingkingnya
"Janji." sahut Anggi dengan tersenyum sambil menyematkan jari kelingkingnya hingga saling bertautan dengan jari kelingking Karin.
"Epin juga mau, ma." seru Kevin
"Ndak boleh, kuenya cuma buat Ayin. Epin udah abisin kue Ayin jadi ndak boleh makan kue lagi " seru Karin sambil melotot ke arah Kevin.
Anggi terkekeh melihat si kembar yang kadang akur tapi tak jarang juga suka bertengkar. Namun biar begitu, mereka saling menyayangi. Bila ada salah satu dari mereka sakit atau terluka, maka yang lain akan bersedih. Bahkan tak jarang siapa yang sakit atau terluka, tapi siapa yang histeris. Seperti saat Kevin dan Karin baru belajar bersepeda, Kevin terjatuh dan kakinya berdarah. Tapi Kevin tetap bersikap santai walau kadang meringis saat lukanya dibersihkan, tapi reaksi menggelikan malah muncul pada Karin. Dia menangis histeris bahkan sampai berjam-jam tak mau diam. Karin baru diam saat diajak Lia berburu es krim ke minimarket dekat rumahnya.
"Tenang aja, Kevin juga dapat. Kuenya banyak. Kalian bisa makan sepuasnya nanti asal sesudahnya nggak lupa gosok gigi. Oke!" seru Anggi sambil mengacungkan jempolnya
"Yeay, asiikkk! Eh, tapi buat om papa ada juga kan, ma!" tanya Karin sambil mendongakkan kepalanya dari sela kursi depan menghadap Anggi dan Diwangga.
"Mmm... kayaknya nggak ada. Om papa bikin sendiri aja nanti ,ya!" goda Anggi sambil memainkan alisnya
"Wah, mama pelit, ih! Ya nggak, Rin!" ejek Diwangga pada Anggi
"Iya, mama pelit,ih! Tenang aja, bial nanti Ayin yang kasi om papa kalo mama ndak mau kasi." tukas Karin
__ADS_1
"Epin juga mau kasi om papa." pekik Kevin
"Wah, sayang-sayangnya om papa emang paling baik, deh! " puji Diwangga pada Karin dan Kevin, sedangkan Anggi hanya mengulum senyum memperhatikan interaksi antara Diwangga dengan Karin dan Kevin yang sudah layaknya ayah dengan anak-anak kandungnya sendiri. Lagi-lagi ia ingat Adam yang tak pernah sedekat ini dengan anak-anaknya. Tapi ia tepis pikiran itu, toh tak ada guna lagi membandingkan dengan masa lalu. Jadikanlah masa lalu sebagai pedoman untuk merajut masa depan yang lebih baik lagi, itu yang menjadi prinsip Anggi saat ini.
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Diwangga pun telah terparkir rapi di depan rumah Anggi. Keadaan rumah terkunci. Saat dibuka, hanya kesunyian yang menyambut kepulangan mereka. Bahkan ruang tamu tampak gelap karena semua tirai tertutup membuat Anggi mengernyit heran.
Lalu Anggi mulai menggeser tirai satu per satu agar cahaya mentari pagi dapat masuk ke dalam rumah, menerangi hingga ke hati para penghuninya.
"Karin, Kevin, mau istirahat di kamar atau di ruang nonton?" Anggi memberikan pilihan. Rumah Anggi memang dilengkapi ruangan khusus untuk anak-anak. Tiada kursi ataubkeja di ruangan itu, hanya lantainya saja yang dilapisi karpet berbulu tebal untuk memberikan kenyamanan saat anak-anak merebahkan tubuh mereka. Begitu pun Lia, Luna, dan Tita, mereka juga hampir setiap malam menghabiskan waktu bersama sambil bersenda gurau di sana. Kadang-kadang Raju dan Aji juga ikut bergabung membuat rumah itu selalu ramai akan canda dan tawa.
"Di luang nonton aja, ma!" sahut Kevin dengan nada cadelnya yang tak bisa menyebutkan huruf R , begitu pun Karin.
"Iya ma, kami mau nonton Upin dan Ipin." timpal Karin
Lalu Anggi dan Diwangga pun menggiring Karin dan Kevin menuju ruang nonton.
"Surprise..."
"Selamat pulang kesayangan onty dan om yang cantik dan ganteng."
"Onty , Abang, ... Ayin kangen."
"Om ... Ayin juga kangen sama om Aji. Kalau om Laju kan udah ketemu semalam." kekeh Karin. Raju mencebikkan bibirnya berpura-pura kesal
"Jangan malah ya om, Laju. Nanti Ayin kasi kue, mau!" bujuk Karin sambil mengerjap-ngerjapkan matanya membuat Raju gemas.
"Beneran, ya! Awas kalau ,nggak! Nanti om kelitikin tanpa ampun." ancam Raju
"Iya om, selius deh!"
"Eh, tapi kan kata Karin tadi kuenya mau bagi sama om papa, kok malah mau dibagike om Raju, nanti om papa nggak kebagian donk!" kini giliran Diwangga yang mengerucutkan bibirnya berpura-pura kesal.
Karin tampak berpikir keras bagaimana solusinya.
__ADS_1
"Aha, gimana kalau Epin yang kasi om Laju kue telus Ayin yang kasi kue ke om papa?" tanya Karin meminta persetujuan Kevin.
"No!" teriak Kevin. "Epin mau kasi om papa, om Laju sama Ayin aja."
Karin mengerucutkan bibirnya. Matanya sudah berkaca-kaca. Anggi pun ikut bingung sebab ia tak tahu akan ada kejutan ini. Ia cuma tau kalau kemarin Tita membuatkan mereka kue untuk dimakan sepulang Karin dan Kevin dari rumah sakit, tapi tidak tau sebanyak apa. Anggi khawatir kuenya tak cukup.
Sebelum tangis Karin meledak, segera Tita mendekat dan mengatakan solusinya.
"Kalian nggak usah bertengkar. Karin dan Kevin biar tetap kasi om papa. Soalnya om Raju udah ada jatahnya. Onty buat kuenya banyak kok. Ada yang keju juga. Om Raju kan sukanya yang banyak keju."
"Wah, kayaknya Tita perhatian banget nih sama , Raju!" ejek Aji yang lalu dibalas getokan di kepalanya oleh Raju membuat Aji meringis kesakitan.
"Kuenya datang." teriak Luna sambil mengeluarkan berbagai macam jenis kue dan minuman dari dapur dibantu Lia dan Damar.
"Wah, kuenya banyak banget! Asikkk." teriak Karin kegirangan. Lalu Karin segera mengambil piring dan beberapa macam jenis kue. Ia duduk di dekat Diwangga. "Aaaak, pa!" ucapnya seraya mengangkat sepotong kue hendak menyuapi Diwangga yang disambut Diwangga dengan membuka lebar mulutnya.
"Curang banget ih, cuma om papa aja yang disuapin. Mama nggak!" Anggi mencebik dan menolehkan kepalanya ke arah lain membuat Diwangga terkekeh. Lalu Diwangga meminta kue yang ada di piring Karin, lalu menyuruhnya ambil lagi saja yang baru dan Karin pun menurut.
Karin pun mengambil kue yang baru , ia hendak makan bersama Damar.
"Bang, makan kue yuk! Aaaak ..." seru Karin sambil menyodorkan sepotong kue ke arah Damar.
"Makasih dek." ucap Damar sambil mengunyah kue.
"Bang, nanti ajalin Epin gambal lagi, ya!" pinta Kevin yang memang hobi menggambar sama seperti kakaknya.
"Ayin juga mau." seru Karin.
"Oke. Habisin dulu kuenya." perintah Damar.
"Aaaak ...!" seru Diwangga tepat di depan wajah Anggi, membuat wajah Anggi merona karena perlakuannya. Anggi pun membuka mulutnya malu-malu saat Diwangga menyuapkan sepotong kue coklat-keju kepadanya. Lalu Anggi mengalihkan matanya ke arah lain agar mereka tidak saling bertatapan.
"Ada yang malu-malu kucing tuh!" ledek Luna saat melihat adegan suapan itu membuat Anggi makin menunduk malu.
__ADS_1
"Wah, kita yang muda kalah sama yang tua nih!" teriak Aji sok frustasi sambil menepuk jidatnya. "Li, suapin gue juga donk!" ujar Aji memelas
"Ogah!" sahut Lia singkat, padat, dan jelas membuat Aji mendengkus sebal, semua orang pun terkekeh melihat ekspresi wajahnya.