Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.76 Air mata kebahagiaan


__ADS_3

Ruangan itu kini hening. Karin dan Kevin pun tak bersuara seperti biasanya karena rasa kantuk yang mulai menyerang mata mereka, sedangkan Damar masih tetap fokus pada apa yang diucapkan Aglian. Ia tak mengerti apa yang dimaksud, tapi ia ikut mendengarkan saja.


Aglian berjalan mendekati kedua orang tuanya, lalu ia melipat kedua kakinya, berjongkok hadapan kedua orang tuanya. Aglian menjulurkan tangan lalu menggenggam kedua tangan ibunya dengan hangat dan penuh cinta.


"Ma, pa, aku sudah berhasil menemukan putrimu, saudara kembarku. Ma, pa, usahaku bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil. Aku menemukannya." ucap Aglian lirih dengan mata berkaca-kaca.


"A-apakah itu benar, sayang? Ka-kau tak bohong kan sama mama?" tanya Ajeng tergugu.


"Benar Lian, kamu tak bohong, kan! Jangan kau berikan harapan pada kami orang tuamu dengan sebuah kebohongan. Kau tau, mama dan papa sudah bertahun-tahun berusaha menemukannya tapi tak kunjung mendapatkan hasil. Tolong nak, jangan buat kami berharap terlalu tinggi." ujar papa Aglian lembut dengan suara serak menahan tangis. Davindra pria yang tegas dan keras, tapi bila diingatkan tentang keberadaan putrinya yang hilang, pertahanannya langsung runtuh. Air mata pun lolos dari kedua pelupuk matanya.


"Lian nggak bohong, pa. Lian serius. Lian sudah membuktikannya sendiri." Aglian berujar lembut seraya menyeka air mata kedua orang tuanya dengan ibu jarinya.


Semua orang di ruangan itu seakan ikut terhanyut dalam kesedihan hingga mata mereka berkaca-kaca , pun Anggi. Ia pun sebenarnya penasaran dengan apa yang diungkapkan Aglian, 'putri keluarga itu? saudara kembarnya sudah ditemukan, tapi siapa? Siapa wanita beruntung itu yang bisa berjumpa lagi dengan orang tuanya', Anggi turut penasaran.


"Lian, apa perempuan yang kau maksud adalah ... adalah perempuan can-tik yang duduk bersama Angga, putra om Suseno-mu itu, nak?" tanya Ajeng terbata.


Semua mata sontak mengalihkan pandangannya ke arah Anggi seperti yang ditanyakan Ajeng.


Deggg...


Jantung Anggi tiba-tiba berdebar hebat, ntah mengapa, ia sendiri tak mengerti. Mungkinkah tanpa sadar ia pun berharap apa yang diucapkan Ajeng itu sebuah kebenaran. Ah tidak mungkin pikirannya. Ia telah mengubur impiannya bertemu kedua orang tuanya itu sekian lama. Ia pun tak mau berharap lebih lagi. Tapi kalau bukan dia siapa lagi sebab wanita yang diucapkan Aglian adalah saudara kembar, artinya umur perempuan itu sama dengan Aglian, sedangkan di ruangan itu tidak ada perempuan lain yang seumuran dengan Aglian selain dirinya. Luna, Tita, dan Lia umurnya masih 18 tahun, jadi siapa lagi kalau bukan dia. Dan lagi, hanya dia perempuan dewasa yang sedang duduk dengan Angga alias Diwangga. Tapi itu kan baru tebakan mama Aglian. Bisa jadi salah. Bisa saja ternyata ada perempuan lain yang bersembunyi untuk memberi kejutan pada kedua orang tua Aglian.


Aglian diam, hanya seulas senyum tipis yang ia berikan pada kedua orang tuanya. Lalu Aglian berdiri dan berjalan. Semua mata terpaku mengikuti kemana arah langkah kaki Aglian . Semua orang di ruangan itu pun ikut berdebar menyaksikan momen-momen bertemunya orang tua dengan anaknya yang terpisah setelah sekian tahun.

__ADS_1


Langkah kaki Aglian pun berhenti tepat di hadapan Anggi. Anggi yang melihat Aglian ada di hadapannya jadi salah tingkah. Jantungnya berdebar. Hatinya bertanya-tanya, mengapa Aglian berhenti di hadapannya.


Aglian pun mulai berujar.


"Anggi, senang berjumpa denganmu lagi, saudara ku, saudara kembarku, saudara serahimku. Ikutlah denganku menemui kedua orang tua kita. Kami sangat merindukanmu, Nggi. Sangat-sangat merindukan. Tiada satu hari pun yang luput dari doa dan harapan kami dapat berjumpa kembali denganmu. Mari kita bergabung bersama kedua orang tua kita." ucap Aglian seraya mengulurkan tangannya agar dapat menggenggam dan menggandeng tangan menuju meja kedua orang tuanya.


Air mata lolos begitu saja dari mata Anggi. Ia nampak kebingungan kini. Antara mimpi dan nyata, Anggi tak dapat membedakannya. Haruskah ia menyambut tangan itu, pikirnya.


Diwangga yang melihat gelagat kebingungan Anggi segera meraih tangan kanannya dan mengusapnya secara perlahan. Anggi mendongakkan wajahnya menghadap Diwangga. Diwangga tampak tersenyum tulus dan sedikit menganggukkan kepalanya seakan memberi isyarat 'ikutlah'.


Di meja lainnya, tampak Ajeng dan Davindra sudah berdiri dengan mata yang telah basah. Benarkah apa yang dikatakan Aglian bahwa perempuan yang bernama Anggi itu anaknya. Sorot mata mereka tak lepas dari mengawasi wajah Anggi. Mereka memegang dada masing-masing, mereka dapat merasakan debaran yang berbeda saat melihat Anggi. Lalu mereka mencoba membandingkan kedua wajah antara wajah Aglian dan Anggi, ternyata memang sangat mirip. Yang membedakan mereka hanya Anggi versi perempuan sedangkan Aglian versi laki-laki. Besar harapan mereka terhadap ucapan Aglian adalah sebuah kebenaran. Mereka berharap itu adalah kenyataan. Tak mudah menjalani 23 tahun tanpa bisa melihat tumbuh kembang buah hati mereka sendiri.


"Lian, a-apa yang kau ucapkan itu benar? Kamu nggak sedang ngeprank kami, kan?" tanya Anggi yang justru membuat tawa Aglian pecah.


"Hey, buat apa juga aku ngeprank'in orang tua aku sendiri. Bukannya mereka bahagia, yang ada tambah sedih. Ayo berdiri, kita temui orang tua kita ." ucap Aglian santai namun dapat Anggi lihat tiada kebohongan dari pancaran mata Aglian.


Bagaimana pun ia seorang wanita. Hatinya lemah. Selama ini ia memang sering menyembunyikan air matanya. Ia tak mau orang-orang melihat kelemahannya. Namun kini, hari ini , ntah mengapa ia menjadi sangat sensitif. Ia lelah berharap terlalu tinggi terhadap sesuatu. Ia tak mau serakah. Cukup, ia sudah cukup bahagia memiliki Diwangga sebagai calon suami sekaligus ayah yang baik bagi anak-anaknya. Ia tak mau serakah mengharapkan orang tua orang lain sebagai orang tuanya.


"Itu bisa, Nggi kalau Allah sudah menakdirkan kalau kamu adalah saudaraku, saudara kembarku, anak dari mama dan papaku, orang tua kita. Semua ada ceritanya, Nggi. Nanti aku ceritakan. Tapi , apakah kau tak mau memeluk mama dan papa? Atau kau masih mau bukti?" Aglian meraih tangan Anggi, memintanya berdiri. Lalu Aglian memegang dagu Anggi , mendongakkan wajahnya agar ia dapat melihat jelas wajah saudara kembarnya itu.


"Nggi, apa kamu nggak heran saat tiba-tiba Robi datang menawarkan kerja sama padahal biasanya kalau ada yang mau menyewa kios, harusnya si penyewa yang datang, tapi ini, diriku sendiri yang menawarkan kerja sama itu? Angkasa Mall bukan mall biasa, lho! Lalu kami bisa menyewa kios dengan harga murah, difasilitasi juga, apa kamu nggak mikir aneh."


"Aku mikir sih, emang aku sebodoh itu. Aku juga konsultasi sama mas Angga." Anggi mendelik di sela Isak tangisnya. Aglian dan Diwangga tersenyum mendengar sanggahan Anggi.

__ADS_1


"Tapi ya tetap aku masih bingung, apa mungkin. Bisa aja kamu salah. Aku ... Aku takut terlalu berharap tinggi. Aku pun ingin sekali merasakan kasih sayang orang tua. Tapi ... Tapi aku takut, itu hanya ilusi. " ucap Anggi terbata sambil menyeka bulir-bulir air mata yang mengaliri pipi putihnya.


"Oke, kalau kamu belum percaya! Ayo ikut aku ke meja mama." Aglian pun menarik tangan Anggi , mengajaknya menuju ke meja orang tuanya.


Lalu Aglian menunjukkan amplop putih yang dipegangnya tadi.


"Lihat ini! Di dalam amplop ini ada sesuatu yang bisa menjadi bukti bahwa kita adalah saudara, kamu adalah anak mama dan papa."


Mata semua orang termasuk Anggi , Ajeng, dan Davindra pun kini terpusat ke sebuah amplop putih yang berlogokan nama sebuah rumah sakit ternama tempat Karin dan Kevin di rawat. Lalu Aglian mengeluarkan sebuah kertas putih yang di dalamnya tertulis sesuatu yang dapat membuat Anggi percaya akan ucapannya.


"Ini adalah hasil test DNA yang aku lakukan diam-diam saat kamu periksa di rumah sakit tempo hari. Ingat, saat aku menyarankan kamu periksa , pasti kamu ditest darah juga. Sebenarnya test darah itu dilakukan atas permintaanku untuk dijadikan sampel test DNA. Dan hasilnya sudah keluar. Kalian bisa baca sendiri hasilnya." Aglian merentangkan kertas tersebut.


Lalu Anggi, Ajeng, dan Davindra membacanya dengan seksama. Mereka fokus pada satu kalimat.


...Probability of Parentage 99,948% ...


Tak lama air mata mereka bertiga mengalir deras setelah membaca isi keseluruhan surat keterangan hasil test DNA tersebut.


'Apakah ini mimpi, Tuhan? Bila ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku.' gumam Anggi, Ajeng, dan Davindra dalam hati mereka.


Anggi dan Ajeng tak dapat membendung air mata mereka lagi. Lalu Anggi menatap satu per satu wajah mulai dari Ajeng, Davindra, dan Aglian.


"Tolong ... tolong katakan ini bukan mimpi! " ucapnya sambil terisak .

__ADS_1


Anggi berlari mendekati Diwangga, "Mas, tolong katakan ini bukan mimpi! Mas, tolong cubit aku atau tampar aku untuk membuktikan aku tidak sedang bermimpi. Mas ....!" pekik Anggi histeris sambil mengguncang-guncang bahu Diwangga.


Setelah yakin kalau Anggi adalah putri mereka, Ajeng dan Davindra segera mendekati Anggi, menarik tubuhnya, lalu mendekapnya dengan erat. Mereka pun sambil berpelukan bersama diiringi Isak tangis yang menggema ke seisi restoran.


__ADS_2