Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch 135 (S2) Keputusan


__ADS_3

Tak terasa, besok sudah 1 bulan semenjak Kentaro meminta Luna memberinya kesempatan membuka pintu hatinya. Dan besok juga, Luna sudah berjanji akan makan malam berdua dengan Kentaro sepulang bekerja. Ia yakin, pasti Kentaro akan menagih janjinya dan menuntut jawaban.


Di kamar, Luna tampak merenung dengan mata terpejam sambil memegang dada kirinya, mencoba merasakan isi hatinya sebenarnya berlabuh pada siapa. Perlahan tapi pasti, ada sosok wajah yang akhir-akhir ini selalu memenuhi hati dan pikirannya. Seseorang yang selalu bisa membuatnya tersenyum, bahagia, kesal, dan yang pasti nyaman. Sikapnya yang perhatian dan posesif justru membuat Luna merasa sangat dicintai. Dan kini, ia telah yakin , pada siapa hatinya berlabuh.


Luna tahu, pasti Kentaro nanti akan merasa kecewa dengan jawabannya, tapi mau bagaimana lagi, soal perasaan tak dapat dipaksakan. Mau Kentaro bersikap bagaimana pun, hatinya tetap tak mau berlabuh pada pemuda itu. Ia hanya menganggap Kentaro sebagai teman, tak lebih. Apalagi, kini hatinya telah menemukan pelabuhan yang sebenarnya. Luna menguatkan hatinya untuk segera memberi keputusan. Ia tak mau berlama-lama lagi, ia tak mau memberi harapan palsu pada sahabatnya itu, dan ia juga sudah tak sabar untuk mengungkapkan isi hatinya pada seseorang yang kini juga tengah menunggu jawabannya.


Luna membuka matanya perlahan, sudut bibirnya naik ke atas hingga tercipta seulas senyum menawan.


Tak lama kemudian, dering ponsel menginterupsi lamunan Luna. Senyumnya makin lebar saat membaca nama sang penelepon. Gegas ia mengangkat panggilan itu . Jantungnya makin bertalu-talu saat mendengar suara sosok yang sedang dirindukannya itu.


"Assalamualaikum, Na." ucap Aglian sesaat panggilannya diangkat.


"Wa'alaikum salam, Mas." sahut Luna.


"Lagi apa, hm?" tanya Aglian.


"Lagi ... nggak lagi ngapa-ngapain, kok." jawab Luna gugup.


"Na, Mas kangen. " ucap Aglian membuat Luna tersipu.


"Kan baru 3 hari nggak ketemu." sahut Luna sambil terkekeh. Ya, 3 hari ini Aglian sedang berangkat ke luar negeri untuk membahas proyek kerja sama perusahaannya dengan perusahaan asal Korea Selatan.


Aglian menghela nafas panjang, "Iya, emang baru 3 hari, tapi kok rasanya kayak 3 tahun. Lama banget. Mas udah bener-bener kangen sama kamu. Besok Mas jemput, ya?"


"Eh, bukannya lusa Mas pulang, kok besok udah mau jemput?" tanya Luna heran.


"Namanya juga kangen, jadi Mas usahakan percepat kepulangan Mas. Besok pagi, jam 7 waktu Korea Mas berangkat, jadi sekitar jam 12 siang, Mas udah landing di Jakarta."


"Emang lama penerbangannya 5 jam, ya Mas?" tanya Luna penasaran.


"Bukan 5 jam, tapi 7 jam, karena waktu Korea 2 jam lebih cepat dari Indonesia, jadi yang seharusnya pesawat mendarat jam 2 waktu Korea, jadi jam 12 waktu Jakarta." jelas Aglian membuat Luna membulatkan mulutnya karena baru paham.


"Tapi ntar Mas capek. Penerbangannya itu lama lho, masa' sorenya udah mau jemput."


"Nggak masalah, justru ketemu kamu itu bisa mengobati segala lelah Mas."

__ADS_1


"Hais, gombal." sahut Luna sambil terkekeh. "Tapi Mas, besok Luna ada janji makan malam sama Kentang." ujar Luna pelan. Ia takut Aglian kecewa.


Aglian menghela nafas pelan lalu terdiam. Luna tau, pasti Aglian kecewa karena tak bisa bertemu dengannya. "Mas ... Mas marah ya sama Nana?" cicit Luna pelan.


"Nggak, Mas nggak marah kok. Cuma, ya ... mungkin Mas cemburu, apalagi dia emang suka sama Nana, kan. Mas takut Nana ..." ucapan Aglian terjeda. Ia bingung sendiri bagaimana mengekspresikan ketidaksukaannya pada Kentaro.


"Mas nggak usah khawatir. Nana nemuin dia buat kasi keputusan, Nana. Nana udah tau apa yang ada di hati Nana, yang pasti bukan Kentang." ujar Luna sembari tersenyum manis. Tangannya kini sudah berada di atas dadanya. Susah payah ia mencoba mengendalikan debaran jantungnya yang makin menggila. Rasanya ia tak sabar untuk berjumpa tambatan hatinya itu.


Pun Aglian, jantungnya terasa bagai ditabuh genderang. Perasaannya campur aduk. Bila bukan si kentang yang jadi pilihan Luna, apakah mungkin ia yang memiliki kesempatan itu. Rasanya ia makin tak sabar menunggu hari pertemuan mereka nanti.


"Mas sabar, ya! Lusa kita jalan, gimana?"


"Hmm ... gadis nakal Mas udah mulai belajar bernegosiasi, ya! " sahut Aglian seraya tersenyum. "Oke deh! As you, wish my sweet heart." ucap Aglian membuat Luna makin berbunga-bunga.


***


"Lita, kamu udah siap-siap belum? Bu Rully dan keluarganya sebentar lagi datang." pekik bude Jum seraya menyiapkan kue-kue untuk dihidangkan pada tamu-tamunya nanti.


Jelita mengerutkan keningnya, ia pikir budenya membuat banyak kue karena banyak pesanan, ternyata itu untuk tamu yang sangat tidak ia harapkan. Ia pikir juga, budenya itu sudah tak berniat menjodohkannya dengan pria beristri bernama Beno itu, tapi ternyata ia salah. Budenya tetap pada pendiriannya.


"Jangan membantah kamu! Cepat siap-siap. Bude tak mau tau, pokoknya kamu harus mau menerima pinangan mereka. " bentak Bude Jum.


"Sekali Lita bilang tidak tetap tidak. Pokoknya Lita nggak mau menikah sama si Beno Beno itu." tukas Jelita lalu ia segera berlari masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam .


Bude Jum yang tidak terima penolakan itu segera beranjak dan menggedor-gedor pintu kamar Jelita.


"Hei kamu keponakan tak tau diuntung, bude nggak mau tau, awas kalau kamu tidak segera siap-siap. Tak ada alasan bagi kamu buat menolak lamaran itu. Mengerti tidak!" pekik bude Jum namun tidak disahuti oleh Jelita membuat bude Jum geram dan melempar foto pernikahan mendiang orang tuanya.


brakk...


"Bude, kau ..." pekik Jelita geram saat tau bingkai foto pernikahan orang tuanya yang tergantung di dinding sudah pecah.


"Itu akibatnya bila kau masih keras kepala."


Satu jam kemudian, rombongan keluarga Bu Rully pun tiba di rumah kediaman Jelita. Jelita tetap bersikap masa bodoh dan tak mau keluar kamar. Bude Jum kebingungan saat Bu Rully meminta Jelita keluar menemui mereka. Akhirnya, ia terpaksa membuat alasan.

__ADS_1


"Maaf Bu, Lita-nya sedang nggak enak badan jadi ia enggan keluar kamar. Dia malu karena mukanya yang pucat ." ujar bude Jum. Ia tidak berdusta, beberapa hari ini memang Jelita tampak sedang tak enak badan. Wajahnya terlihat pucat dan kadang disertai mual. Bude Jum berpikir mungkin Jelita sedang masuk angin.


"Duh, padahal kami pingin banget ketemu dia. Oh gini aja, kami langsung ke kamarnya aja gimana?" ucap Bu Rully memberi saran.


"Ng ... saya coba tanya dulu, Bu. Permisi." ucap Bude Jum ragu-ragu.


Namun , baru saja Bude Jum hendak beranjak dari tempat duduknya, Jelita sudah keluar terlebih dahulu menemui mereka.


"Nah, ini anaknya!" ucap Bude Jum dengan wajah berbinar. Akhirnya Jelita keluar juga.


"Nak Lita, sini nak, duduk dekat Beno." ajak Bu Rully.


Jelita melirik sekilas kearah Beno, namun ia enggan duduk di sampingnya karena tujuannya keluar kamar bukan untuk menerima lamaran itu. Tampak wajah Beno langsung berbinar saat melihat Jelita keluar dari kamar. Dalam hati, ia mengumpat, betapa cantiknya wajah Jelita.


"Maaf Bu, saya ke sini bukan hendak menerima lamaran kalian." ucap Jelita lantang.


"Lita." bentak Bude Jum. Pakde Asrul, suami bude Jum, hanya bisa terdiam. Ia sebenarnya juga menolak keinginan istrinya itu. Bagaimana pun, Jelita berhak menentukan hidupnya sendiri. Tapi ia tak punya daya karena Jelita adalah anak dari saudara istrinya sendiri. Bude Jum selalu mengatakan ia tak punya hak ikut campur dengan urusannya dan keponakannya. Akhirnya, ia hanya bisa diam.


"Apa alasanmu menolak lamaran kami?" tanya Bu Rully tegas.


Lalu Jelita merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah benda pipih dari sana. Lalu ia lemparkan benda pipih itu ke meja, membuat semua orang membelalakkan matanya.


"Ka ... kamu..." ucap Bu Rully terbata saat melihat garis dua pada benda pipih tersebut.


"Iya Bu, saya sedang hamil jadi saya tak mungkin menerima lamaran ini." ujar Jelita tegas membuat wajah Bude Jum pias seketika.


.


.


.


.


Happy Reading All 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2