
Hari sudah beranjak sore, tapi Anggi belum juga menampakkan batang hidungnya. Bu Tatik mengerang kesal, sambil menggerutu dalam hati, ia seolah dipermainkan oleh mantan menantunya padahal itu salahnya sendiri datang tak diundang tanpa janji pula.
Detik demi detik berlalu, tak terasa sudah hampir 3 jam Bu Tatik menunggu bahkan karyawan wanita Anggi sudah beberapa kali mengantarkan minuman dan makanan sekadar sopan santun kepada orang yang lebih tua padahal dalam hati mereka juga menggeram kesal. Apalagi melihat tingkah laku Bu Tatik yang seolah-olah ibu dari pemilik Anggrek fashion padahal semua karyawan toko sudah tau siapa wanita itu yang merupakan mantan ibu mertua Anggi.
"Hei kamu, kemari!" panggil Bu Tatik pada seorang karyawan wanita.
"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan wanita itu.
"Itu vas bunganya kenapa di situ, cepat pindahkan kesini biar meja ini jadi keliatan lebih cantik!" titah Bu Tatik.
Para karyawan toko yang ada di sana mengernyitkan dahinya, mereka menatap horor Bu Tatik yang duduk di sofa single sambil menyilangkan kakinya persis seorang bos yang nggak tau diri. Tapi tetap karena sopan santun, terpaksa salah seorang menyahuti permintaan Bu Tatik.
"Maaf Bu, tapi memang meja ini sengaja dibiarkan kosong sebab kadang digunakan mbak Anggi untuk bekerja sambil bersantai." tukas salah seorang karyawan.
"Halah, kamu berani menolak perintah saya, hah? Mau saya laporkan pada Anggi? Saya ini calon mertuanya. Anggi akan kembali lagi pada anak saya, tau! Sudah, cepat lakukan saja perintah saya! Anggi pasti nggak akan menolak perintah saya." ucapnya jumawa
Karyawan Anggi hanya bisa mengelus dada. Malas meladeni orang tua cerewet banyak tingkah seperti Bu Tatik, akhirnya para karyawan pelan-pelan menjauhi Bu Tatik yang memang saat ini sedang menunggu di ruang tamu. Bu Tatik yang menyadari karyawan Anggi menjauhinya, jadi menggeram. Mulutnya sudah komat kamit ingin menyembur para karyawan Anggi tersebut, tapi dia tahan. Dia tak mau bila tiba-tiba Anggi datang dan melihatnya marah-marah, bisa-bisa rencananya gagal.
Bosan menunggu di dalam ruangan, Bu Tatik keluar ruang tunggu itu. Ia pun berkeliling memandangi baju-baju yang dipajang di toko itu, semua tampak sangat bagus membuat Bu Tatik mengumpat dalam hati, ingin segera menjadikan Anggi menantunya kembali agar ia bisa bebas memilih pakaian untuk dipakainya.
__ADS_1
Namun tiba-tiba kegiatannya terinterupsi saat sesosok lelaki sangat tampan, berpenampilan elegan, tubuhnya tinggi, dan berwibawa muncul dari balik pintu kaca. Dapat Bu Tatik liat outfit yang dipakai lelaki itu semuanya barang mahal.
Matanya menilik lekat, ia jadi berkeinginan menjadikannya pasangan Sulis tapi Bu Tatik tidak mengenal siapa lelaki itu. Jadi diam-diam ia mendengar pembicaraan lelaki itu pada salah seorang karyawan.
"Maaf, bisa bertemu bu Anggi?" tanya lelaki itu sopan.
"Maaf pak, Bu Anggi sedang keluar." jawab karyawan wanita itu. "Bapak siapa ya? Apa sudah ada janji?" lanjutnya.
"Oh saya Azam, putra bu Ratna. Ibu saya pelanggan setia Bu Anggi. Tapi saya belum buat janji, apa boleh saya menunggunya?" tanya lelaki itu sambil menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Bu Tatik yang dari tadi menguping mengerutkan dahinya curiga. Ia bisa melihat gelagat aneh lelaki itu, persis saat Adam pertama kali mengatakan padanya kalau ia jatuh cinta pada teman sekolah Sulis. 'Ah, nggak mungkin, nggak mungkin. Nggak mungkin lelaki itu menyukai Anggi.' tepisnya.
"Oh, tunggu sebentar. Ada yang ketinggalan di mobil." Lalu lelaki itu berlari menuju mobil dan kembali lagi sambil membawa paperbag yang tertulis nama toko kue terkenal. Ia pun melanjutkan langkahnya mengikuti langkah kaki karyawan Anggi menuju ruang tunggu yang tadi di tempati Bu Tatik.
Melihat lelaki itu masuk ke ruang tunggu tamu, Bu Tatik pun kembali lagi ke dalam ruangan. Sambil membuka katalog di tangannya, pura-pura mencari sesuatu, Bu Tatik mengawasi gerak-gerik lelaki itu hingga saat ponselnya berdering Bu Tatik tetap mendengarkan pembicaraannya.
"Halo, ya Bu?" tanya lelaki itu saat mengangkat telepon.
"Bagaimana , sudah bertemu sama Anggi, Zam? tanya seseorang di seberang telefon Azam.
__ADS_1
"Belum Bu, dia sedang keluar." Wanita di seberang menghela nafas. "Udah, nggak perlu cemas gitu Bu, ini Azam lagi nungguin. Doain Azam ya Bu biar lancar kenalan sama Anggi ya, Bu. Biar ibu bisa segera dapat menantu idaman ibu." ucap lelaki bernama Azam di telepon genggam miliknya.
Bu Tatik yang sedari tadi menguping tiba-tiba tercekat di tempat. Tenggorokannya terasa kering hingga menelan ludah pun terasa sulit. Bahkan ia sampai meneguk habis teh di gelasnya sakin ia tak percaya dengan apa yang didengarnya. Lelaki itu ternyata mengincar Anggi untuk menjadi calon istrinya. Begitu pun ibunya menginginkan Anggi sebagai menantu idamannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara yang sangat familiar di telinganya. Bu Tatik segera beranjak keluar mencari sumber suara itu. Dilihatnya Anggi sedang berjalan sambil mengobrol dan sesekali tersenyum simpul pada lelaki di sampingnya. Lagi-lagi apa yang dilihatnya membuat Bu Tatik mematung. Bahkan kali ini yang dilihatnya membuatnya lebih terperanjat. Diingatnya kata-kata karyawan Anggi saat ia baru datang tadi. 'Maaf Bu, mbak Anggi nya sedang pergi fitting pakaian pengantin sama calon suaminya.' Kata-kata itu kembali terngiang di telinganya. 'Apakah benar lelaki itu calon suami Anggi? Ah, bagaimana bisa ia mendapatkan lelaki sesempurna itu? Bahkan aku pun mengakui, ia berkali-kali lebih baik dari Adam. Sangat tampan, berkharisma, berwibawa, kelihatan pintar dan mapan juga, tubuhnya pun sangat-sangat bagus.' gumamnya dalam hati. Bu Tatik kembali menggelengkan kepalanya. 'Ah, tidak-tidak. Bisa saja itu salah satu pelanggannya. Bagaimana bisa Anggi mendapatkan pria yang lebih baik dari Adam. Itu nggak mungkin.'
Karena terlalu asik dengan pikirannya, tanpa sadar Anggi sudah berada di hadapannya membuat Bu Tatik terkejut setengah mati.
"Tante ... Tante Tatik ...!" panggil Anggi.
"Astaga ... Kau mengejutkanku, Anggi."
"Maaf Tan, ada perlu apa ya mencari Anggi?" tanya Anggi sopan. Bagaimana pun dan seburuk apapun hubungannya dengan Bu Tatik, tetap ia harus bersikap sopan apalagi Bu Tatik lebih tua darinya. Tapi beda bila ia bersikap tak pantas, maka Anggi pun bisa bersikap sebaliknya. Anda sopan kami segan, itu prinsip Anggi.
'Tante?' gumamnya dalam hati. Ia yang dulu biasa dipanggil mama oleh Anggi kini sepertinya sudah dianggap orang asing.
"Eh, i-iya. Tante mau bicara berdua sama kamu." ucap Bu Tatik terbata.
"Bicara apa ya, Tan? Bukannya kita nggak ada keperluan lagi? Tapi kalau memang Tante memaksa mari ikut saya, tapi maaf, saya tak bisa sendiri, calon suami saya harus ikut." ucap Anggi penuh penekanan terutama pada kata calon suami yang seketika membuat Bu Tatik serasa sesak di dadanya. 'Ja-jadi benar lelaki i-itu calon suaminya.' Seketika tubuh Bu Tatik terasa lemas. Seakan tulangnya dicabut dari raganya. Ia tak menyangka, pesona seorang Anggi , mantan menantunya yang ia campakkan bisa sehebat itu. Ia mampu menaklukkan lelaki yang berkali lipat lebih baik dari putranya. Apakah ada kesempatan untuknya meraih Anggi kembali menjadi menantunya? Itu yang berkutat dipikirkan Bu Tatik saat ini.
__ADS_1