
Di saat Robi sedang sibuk mengejar cinta Safa untuk ia jadikan istri sekaligus menantu idaman sang emak, di pusat kota Jakarta, Aglian tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan sebagai kejutan ulang tahun untuk sang istri tercinta, yaitu Luciana Calista atau yang kini dikenal dengan nama Luna.
Untuk kali ini ia tidak mengandalkan Robi seperti biasanya, karena ia paham asisten pribadinya itu sedang berusaha menaklukkan hati seorang perempuan yang kini sedang di negeri orang. Beruntung ia memiliki keluarga yang begitu peduli dan pengertian. Dengan dibantu orang tuanya, Anggi dan Diwangga, serta pasangan Raju-Tita dan Aji-Lia.
Ia sudah mempersiapkan pesta pernikahan sesuai impian sang istri yang ingin mengusung konsep pesta kebun. Undangan yang disebar tidak sebanyak seperti pernikahan Anggi tempo hari sebab ia ingin pesta pernikahannya lebih privat. Belum lagi kondisi Luna yang sedang hamil muda tentu ia tidak ingin istrinya kelelahan dan membahayakan dirinya dan kandungannya. Ia hanya mengundang keluarga besarnya, teman-teman, beserta rekan bisnisnya. Khusus untuk karyawan Angkasa Grup, ia akan mengadakan family gathering, selain untuk merayakan pernikahannya , hal tersebut juga bagus untuk mempererat rasa kekeluargaan di antara para karyawan dan karyawati.
"Gimana Li persiapannya?" tanya Anggi yang kini sedang berada di kantor Angkasa Grup.
Aglian bangkit dari kursi kebesarannya lalu mendudukkan dirinya di sofa berseberangan dengan Anggi.
"Semuanya sudah hampir rampung. Semua sudah jalan 70%.. Semoga saja semuanya berjalan lancar. Oh ya, anak-anak jangan ketemu sama Nana dulu ya, Nggi. Aku nggak mau mereka keceplosan, bisa gagal dong kejutan aku." ujar Aglian.
"Iya, iya, takut banget sih. " ujar Anggi seraya terkekeh.
"Oh ya, gimana kabar calon ponakan aku?" tanya Aglian seraya menunjuk perut Anggi dengan dagunya.
"Alhamdulillah, baik. Malah makin aktif. Aku sampai susah tidur. Kamu masih suka mual gitu, Li?" tanya Anggi.
"Hmm ... aku sampai pusing sendiri kalau mau makan. Tapi anehnya kalau Nana yang suapin, aku nggak mual. Malah jadi makin lahap." ujar Aglian seraya terkekeh.
"Itu mah kamunya aja yang keenakan disuapin." ledek Anggi.
"Suami manja sama istri kan wajar sayang." timpal Diwangga yang baru masuk ke ruangan Aglian.
Lalu ia mengambil posisi duduk di samping Anggi dan mengecup pipinya sekilas.
"Ck ... nyambung listrik, bayar oy!" desis Aglian kesal karena Diwangga datang-datang langsung menimpali obrolannya dengan Anggi.
Diwangga terkekeh pelan, "Udah kaya juga, masih minta bayar, pelit banget punya adik ipar. Padahal mas ngomong bener ya kan, sayang, kalau manja-manja sama istri itu wajar. Yang nggak wajar itu manja sama cewek lain apalagi istri orang. Minta suapin cewek lain atau istri orang itu baru nggak wajar."
Anggi mengangguk, "Iya ya, Mas. Sama kayak istri, wajar manja-manjaan sama suami asal jangan manja suami orang, bisa-bisa kena talak tilu." sahut Anggi yang juga ikut terkekeh apalagi saat ia tiba-tiba ingat lagu Dadido Aca Aca Nehi Nehi.
"Ah, liat kalian mesra-mesraan jadi ingat Nana. Jadi pingin pulang nih." kesah Aglian saat melihat keuwuan Anggi dan Diwangga di hadapannya.
"Situ kan bos, tinggal pulang aja, beres. Anak buah ada juga."
__ADS_1
"Iya kalo Robi ada sih enak, tapi Robi sedang nggak ada, di kan lagi mengejar cintanya yang minggat ke Aussie." ujar Aglian.
"Kamu serius?" tanya Anggi dan Diwangga kompak yang diangguki Aglian.
Anggi dan Diwangga pun tergelak kompak membuat Aglian menggeram kesal .
"Dasar, saudara dan kakak ipar nggak ada akhlak." desis Aglian yang membuat duo A itu makin tergelak.
...***...
"Safa ..." pekik Robi. Membuat Safa menghentikan langkahnya, namun ia tak membalik badan. "Saat ini emang kamu bukan siapa-siapa Abang, tapi nanti Abang ingin jadikan kamu istri Abang , kamu mau kan jadi istri Abang?" tanya Robi seraya membuka sebuah kotak beludru berwarna merah hati.
Safa yang terkejut dengan pernyataan itu lantas membalik badannya dan menghadap Robi. Di ujung tangga, Robi tampak melipat sebelah kakinya sambil membuka kotak beludru yang dipegangnya.
"Will you marry, me?" ucap Robi lantang.
"Bang, kamu lagi ngigo ya? Oh, aku tau, mungkin efek jetlag jadi kamu kayak gitu."
"Aku serius Safaaaa ... " kesah Robi.
"Ya ampun bang .... Orang dimana-mana itu kalau mau melamar itu mbok ya mandi dulu, yang wangi, yang ganteng, yang rapi, di tempat yang romantis, bukan di undakan tangga kayak gini, mana ini di rumah orang, astagaaaa ... Safa jadi bingung mau jawab apa." ujar Safa sambil geleng-geleng kepala.
Ingin rasanya Robi membenamkan dirinya di dalam lubang semut terkecil karena rasa malu yang mengakar akibat kebodohannya.
"Dia itu siapa, Fa?" tanya Adrian yang kini telah menyusul Safa dan berdiri di sampingnya. "Kamu nggak selingkuh dariku kan?" ujar Adrian dengan tatapan tajam terarah ke Robi. Safa yang mendengar kata-kata itu lantas menoleh ke arah Adrian dengan tatapan melotot.
"Safa ... jadi ... jadi kamu udah ..." kata-kata yang ingin Robi keluarkan tiba-tiba seakan tersangkut di tenggorokan. Ia menatap Safa dengan raut kecewa.
Robi menghela nafas berat langsung membalik badannya seraya menatap cincin yang masih berada ada di dalam kotaknya.
"Bang Obi ..." pekik Safa saat melihat Robi hendak pergi meninggalkannya.
Tapi Robi seolah-olah menulikan pendengarnya. Baru saja mau berjuang, nyalinya udah ciut duluan.
"Bang Obi iiikh ..." Safa berdecak kesal. "Kamu sih, Yan jadi orang usil banget." Safa mencebik lalu ia segera turun dari undakan tangga dan berlari menyusul Robi sebelum ia benar-benar hilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Bang Obi, Safa manggilin kok diacuhin sih? Emang Abang nggak mau denger jawaban Safa?" ujar Safa dengan bibir mengerucut saat ia berhasil menghadang langkah Robi.
"Abang harus apa dan gimana kalau kamu udah punya pasangan, Fa. Abang nggak mau jadi perusak hubungan orang." lirih Robi.
"Yah, dikerjain gitu aja nyalinya langsung ciut, giman sih Fa pacar kamu itu." ledek Sofiyan , kakak Safa.
Robi lantas mengangkat wajahnya dengan dahi yang berkerut. Lalu ia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Sofiyan.
"Adrian itu adik ipar saya. Dan saya kakak Safa, Sofiyan" ujar Sofiyan singkat. Sedangkan Adrian hanya tersenyum tipis karena berhasil mengerjai Robi.
. Robi lantas menatap Safa dengan tatapan berbinar, "Jadi Abang masih punya kesempatan kan?"
"Bukan cuma dikasi kesempatan, tapi udah diterima." jawab Safa santai.
"Maksudnya?" tanya Robi belum paham maksudnya.
"Kalau mau yang lebih jelas, Abang harus siapkan lamaran spesial malam ini, gimana?" tanya Safa seraya menaikturunkan alisnya.
Mata Robi kian berbinar saat mendengar ucapan Safa.
"Oke, Abang akan siapkan ulang. Maaf, yang tadi jauh dari kata romantis. Abang janji, Abang akan siapkan lamaran spesial malam ini." ujar Robi dengan semangat.
"Safa tunggu ya! " ujarnya sambil terkekeh.
"Ya udah, Abang pergi dulu ya! Abang capek banget. Mau mandi dan makan dulu juga."
"Eh, Abang nggak mau nginap di sini aja? Di sini juga banyak kamar kok." tawar Safa. "Iya kan kak?" tanyanya pada Sofiyan .
"Iya, bener kata Safa." sahut Sofiyan.
"Tidak usah, kak. Saya udh pesan kamar di hotel nggak jauh dari sini . Kalau gitu, saya pamit dulu ya kak ." pamit Robi pada Sofiyan yang diangguki oleh Sofiyan.
"Abang pergi dulu, ya Fa. " ujar Robi lembut seraya mengusap kepala Safa membuat hati Safa menghangat.
"Hati-hati, ya bang." ujar Safa saat Robi mulai masuk ke dalam mobil yang membawanya tadi.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...