Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.115 (S2) Otw Bali


__ADS_3

Malam makin larut, Aglian tampak bersantai di balkon hotel yang menghadap langsung ke pemandangan kota Surabaya. Dengan ditemani secangkir kopi hitam kental , matanya nampak menengadah ke arah langit malam yang kelam .


Pikiran Aglian tampak melanglang ke pertemuannya dengan Steven yang merupakan ayah kandung Stefani. Berharap ada secercah sinar harapan Steven mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya bilamana hasilnya cocok setelah menjalani pemeriksaan.


Flashback


"Selamat malam tuan." sapa Aglian saat tampak pria paruh baya membukakan pintu untuknya sesaat setelah ia memencet bell rumah.


Steven tampak mengerutkan dahinya saat memandang wajah Aglian. Ia pandangi lekat wajah Aglian. Walau samar, tapi ia masih ingat wajah itu. Wajah seorang pria tampan yang kerap mengantarkan anaknya pulang selepas pulang kuliah. Bahkan pria baik hati itu kerap membantu keluarga mereka saat mereka kesusahan keuangan dan membayarkan uang kuliah Stefani.


"Ka ... kamu ..." suara Steven tampak bergetar dengan jari telunjuk mengacung ke arah Aglian. Aglian balas mengangguk seraya tersenyum seperti paham dengan dugaan yang ingin diucapkan Steven.


"Si ... silahkan masuk, nak Lian! Benar kan namamu, Lian?" Steven masih ragu-ragu menyebutkan nama itu. Ia takut salah nama. Walau ia tahu, seumur hidup, teman lelaki Stefani yang kerap berkunjung ke rumahnya hanyalah Lian. Steven hanya tau nama panggilannya saja. Ia tidak tahu jelas siapa Aglian sebenarnya.


"Benar, tuan. Terima kasih." ucap Aglian sopan sambil mendudukkan dirinya di sofa yang ditunjuk Steven , yang diikuti pula oleh Robi.


"Siapa, pa?" tampak wanita paruh baya keluar dari sebuah pintu, yang ntah pintu kamar atau bukan. Lalu ia duduk tepat di samping Steven. Alisnya terangkat ke atas seolah bertanya siapa mereka saat melihat 2 pemuda yang bertamu ke rumahnya di malam hari seperti itu.


"Oh ini, dia teman Stefani, ma. " jelas Steven terbata.

__ADS_1


Wanita itu mengernyitkan dahinya seraya menaikkan sebelah bibirnya, tersenyum sinis seolah tak suka melihat kehadiran Aglian .


"Mau apa mereka kemari?" ketus wanita paruh baya yang diketahui namanya Melani.


"Papa juga belum tau, ma. Kamu tolong buatkan minum untuk mereka ,ya!" ucap Steven lembut namun malah diacuhkan.


"Tidak perlu tuan, kami sudah minum di hotel tadi." tolak Aglian karena ia sadar istri Steven sepertinya tidak menyukai kedatangan mereka. "Saya langsung ke intinya saja tuan. Putri Anda, Stefani kini sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Ia terkena leukimia." Aglian terdiam sebentar untuk melihat reaksi Steven.


"A ... apa , Fani, Fani-ku menderita leukemia?" Steven tergugu dalam diamnya. Wajahnya pias seketika saat tahu kenyataan bahwa sang putri pun mengidap penyakit yang sama dengan ibunya. Sedangkan Melani, hanya diam memperhatikan kedua orang itu. Tatapannya datar, seolah tak peduli sama sekali.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Steven setelah berhasil menenangkan diri.


"Keadaannya saat ini sangat mengkhawatirkan. Ia sudah menjalani pengobatan dan kemoterapi, tetapi hasilnya kurang bagus. Menurut dokter yang menanganinya, peluang kesembuhan hanya bisa didapatkan melalui transplantasi sumsum tulang belakang. Kami sudah berupaya mencari donor yang cocok, tetapi hingga sekarang kami belum menemukannya. Besar kemungkinan yang memiliki kecocokan hanya orang tua kandung dan saudara kandungnya. Karena itu, saya mendatangi tuan untuk memohon kesediaan tuan mendonorkan sumsum tulang belakang tuan, bila setelah diperiksa terdapat kecocokan." ucap Aglian dengan sorot mata menatap intense kedua orang di hadapannya.


Steven menoleh ke arah Melani, ia tak menyangka istrinya langsung menolak mentah-mentah permintaan Aglian tanpa perlu menunggu jawaban dari dirinya.


"Mengapa nggak boleh, ma? Stefani juga anakku. Darah dagingku. Sudah cukup waktu itu aku menyia-nyiakan istri dan anak kandungku. Apapun pendapatmu, aku akan memeriksakan diri. Aku ingin mendonorkan sumsum tulang belakangku untuknya." sergah Steven sesaat setelah mendapat larangan dari istrinya.


"Pokoknya sekali tidak tetap tidak. Kalau mas, masih berupaya menjadi pendonor, maka siap-siap saja angkat kaki dari rumah ini." pungkas Melani. Lalu ia berdiri , hendak beranjak dari ketiga orang yang ada di ruangan itu, namun langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Aglian.

__ADS_1


"Saya mohon tuan memikirkannya baik-baik. Keselamatan Stefani ada di tangan Anda dan keluarga Anda. Anda tak perlu khawatir, transfer sumsum tulang belakang takkan berpengaruh besar pagi pendonor. Anda akan segera pulih hanya dalam 2-6 Minggu. " jelas Aglian. "Bila anda bersedia Anda bisa menghubungi nomor asisten pribadi saya, Robi. Kami akan segera menjemput Anda dan ini, kartu ini berisi saldo 200 juta . Kartu bisa segera Anda pergunakan bila Anda telah menyatakan bersedia dan Anda akan mendapatkan lagi tambahannya setelah operasi selesai." jelas Aglian seraya memberikan sebuah kartu nama milik Robi dan kartu ATM pada Steven. Setelah itu, Aglian dan Steven pun beranjak, keluar dari rumah itu.


Aglian menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi belakang mobil yang dikemudikan sopir , sedangkan Robi duduk di samping sang sopir. Ia ingat beberapa waktu lalu, Robi sempat memaparkan kehidupan Steven pasca meninggalkan Stefani dan ibunya. Ternyata setelah ibu Stefani meninggal toko kelontong milik Melani mengalami kebangkrutan sehingga mereka terpaksa gulung tikar. Bahkan rumah mereka pun sampai terjual. Akhirnya Melani memilih pulang kampung ke Surabaya yang diikuti oleh Steven. Di kampung Melani memiliki tanah yang cukup luas, jadilah mereka menjual seluruh tanahnya untuk membangun usaha kembali. Namun usaha mereka lagi-lagi harus gulung tikar, hingga akhirnya Steven berakhir menjadi buruh bangunan.


Aglian sengaja menyodorkan kartu berisi uang 200 juta itu sebagai pancingan. Ia tahu, kehidupan ekonomi pasangan suami istri itu sekarang tak baik, pasti mereka akan dengan senang hati menjadi pendonor bila mereka disodorkan uang dengan nilai yang tidak sedikit. Walaupun Steven tampaknya dengan senang hati ingin menjadi pendonor, tapi berbeda dengan sang istri yang menolak mentah-mentah. Aglian berharap, uang itu dapat mencairkan kekeraskepalaan Melani sehingga mengizinkan Steven mendonorkan sumsum tulang belakangnya.


Flashback off


Lamunan Aglian seketika tersadar saat terdengar suara pesan masuk di ponselnya. Gegas ia membuka pesan itu. Aglian seketika membelalakkan matanya saat melihat beberapa pesan masuk yang berupa foto. Tiba-tiba saja dadanya bergemuruh, tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih, dan wajahnya pun memerah. Ia benar-benar tak bisa mengontrol emosinya saat ini. Hingga tanpa sadar gelas berisi kopi hitam yang tergeletak di meja ia hempaskan ke lantai hingga pecah berhamburan.


Aglian segera menekan nomor seseorang, lalu menempelkan ponselnya di telinganya. Dalam hitungan detik, panggilan itu diangkat dan terdengar suara seseorang di seberangnya.


"Ada yang Anda butuhkan, tuan?" tanya Robi yang sekarang berada di kamar tepat di sebelah kamar Aglian. Kamar di sebelah kamar Aglian memang disediakan khusus untuk asisten pribadinya itu untuk mempermudah bila tiba-tiba atasannya membutuhkan bantuannya.


"Siapkan penerbangan ke Bali, sekarang!" titah Aglian dengan suara tegas menggelegar.


"Apa tuan? Bisa tolong ulangi lagi? Saya takut salah mendengar." ucap Robi takut-takut. Ia merasa tak ada kepentingan di pulau Dewata tersebut karenanya ia takut salah mendengar saat Aglian mengucap kata Bali.


"Aku katakan, siapkan penerbangan sekarang juga menuju Bali. Masih belum jelas, hah?" teriak Aglian frustasi. Robi terhenyak saat mendengar geraman dari seberang sana.

__ADS_1


"Baik tuan. Saya siapkan segera." jawab Robi lalu Aglian segera memutuskan panggilannya.


✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️✈️


__ADS_2