Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.192 (S2) Safa pergi?


__ADS_3

Hari ini hari yang sangat berat bagi Robi. Bahkan lebih berat dari hari saat Aglian menuntutnya menyelesaikan beberapa pekerjaan dalam satu waktu. Pikirannya tak bisa fokus, selalu menerawang kesana-kemari, entah seperti ada sesuatu yang mengganggu dalam benaknya.


Yang Robi harapkan saat ini hanyalah waktu segera beranjak sore. Waktu dimana setiap karyawan membubarkan dirinya untuk kembali ke rumah masing-masing. Tapi untuk kali ini Robi tak ingin pulang, bukan tak ingin benar-benar pulang tepatnya, tapi karena ia ingin mengunjungi suatu tempat. Tempat dimana tinggal seorang gadis yang berapa hari ini mengusik pikirannya. Tempat dimana tinggal seorang gadis yang hanya dalam hitungan hari namun sanggup meluluhkan lantahkan pikiran warasnya. Bahkan dalam hitungan hari saja, gadis itu ternyata mampu menguasai fokusnya hanya untuk memikirkan dirinya. Bayangannya, senyumannya, sikap perhatian, sikap manja, bahkan sikap ketusnya ternyata mampu membuatnya merindu.


Ya, baru kali ini ia merindukan seseorang selain orang tuanya. Sakin merindunya, hingga membuat Robi tak henti melirik arloji yang melingkari lengannya.


Robi mendesah frustasi, mengapa waktu begitu lama menuju sore? Tak tahu kah sang waktu, bahwa Robi sudah tak sabar ingin menemui gadis yang berhasil menyusup ke relung hatinya itu.


Adrian ... Adrian ... Adrian ....


kembali ke Aussie ... kembali ke Aussie ...


Robi menggeleng frustasi mengapa ia begitu terusik dengan kata-kata itu. Ia mengingat saat gadis mungil itu mengatakan lupa menelpon Adrian. Apalagi saat gadis itu mengatakan akan kembali ke Aussie. Entah sadar atau tidak, jantung Robi berdebar tidak karuan.


"Siapa Adrian? Bagaimana kalau dia benar-benar kembali ke Aussie? Aargh ..." Robi menggeram sembari meremas rambutnya.


Lalu ia teringat keinginan si Emak yang ingin makan malam dengan gadis itu.


"Bagaimana kalau dia tidak mau diajak ke rumah untuk makan malam sama Emak? Bagaimana kalau emak kecewa? Semoga saja dia mau." gumam Robi pelan hingga mengabaikan deretan angka di layar komputer yang seharusnya ia periksa sejak tadi.


"Astaga, sebentar lagi meeting dan berkas-berkasnya belum siap! Bisa-bisa pak bos marah lagi." gumamnya seraya memijit pelipisnya.


...***...


"Mas ...!" panggil Luna yang sedang merebahkan diri di sandaran sofa ruang kerja Aglian.


"Ada apa sweetheart? Kamu butuh sesuatu?" tanya Aglian seraya menatap wajah Luna yang tampak lesu.


"Pingin rujak mangga muda campur belimbing sama jambu kristal." ujar Luna.


"Sebentar ya, mas telepon ke rumah minta buatin bibik." ujar Aglian sembari meraih ponselnya ingin segera menghubungi ke rumah.


"Mas ..." panggil Luna lagi.


"Hmmm ..." gumamnya pelan. Baru saja Aglian hendak menekan nomor telepon rumahnya, Luna bergumam sesuatu membuat Aglian sontak menghentikan jarinya yang telah siap menekan tombol bersimbol gagang telepon itu.


"Tapi rujaknya harus buatan Mas Lian sama Mas Robi. Cari buahnya juga harus sama-sama." ujar Luna seraya menyunggingkan senyum lebar hingga menampilkan deretan giginya.


"Serius sayang? Sebentar lagi Mas ada meeting lho!" ujar Aglian. "Mas minta bikinin orang rumah dulu ya terus minta anterin ke sini, gimana?" Luna menggeleng sebagai jawaban. Ia menolak tanpa ragu dengan wajah cemberut


"Mas kan bisa minta mas Robi cariin buahnya terus nanti buatnya baru sama-sama. Luna bisa aja sih minta mas Robi kerjain semua dari beli buah sampai buatnya, tapi apa mas mau anak mas malah mirip sama Mas Robi gara-gara Mas Lian nggak mau bantuin bikinnya?" ujar Luna dengan mata memicing.


Aglian menggeleng dengan keras, 'Enak aja aku yang usaha hampir tiap malam buatnya pas lahir malah mirip orang lain. Entar orang ngira kalau anakku itu anak Robi lagi, oh no way! Takkan ku biarkan itu terjadi.' gumam Aglian dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah, Mas minta Robi cariin buahnya sekarang. Kamu nanti tunggu Mas di sini aja ya! Meetingnya nggak lama kok, cuma sekitar 30 menit sampai 1 jam." ujar Aglian seraya mengusap surai hitam Luna yang beraroma bunga.


Luna pun tersenyum riang lalu ia mendaratkan kecupan di pipi Aglian yang bertepatan dengan terbukanya pintu.


'Astaga, kenapa harus liat adegan romantis gini sih!' gumam Robi pelan nyaris tak terdengar. Lalu ia merapatkan pintu itu kembali dengan pelan-pelan agar kehadirannya tidak diketahui.


Akibat melihat adegan romantis secara live di depan matanya, Robi jadi tersenyum-senyum sendiri. Ia jadi teringat bagaimana ia mencuri ciuman manis dari bibir Safa hingga membuatnya menegang. Jujur saja, saat itu jantung Robi rasanya mau putus sebab itu adalah ciuman pertamanya. Ingin rasanya Robi mengulanginya kembali tapi ia takut dibilang kurang ajar apalagi dituduh melakukan pelecehan karena mencium seorang gadis tanpa ikatan yang jelas.


'Huft, jadi ingat dia lagi kan! Baru aja tenang sebentar sudah kepikiran lagi.' gumam Robi seraya meraup wajahnya karena tak habis pikir dengan kinerja otaknya yang sedikit-sedikit kepikiran gadis cantik pengusik hatinya.


Plak ...


"Kurang ajar! Siapa yang berani-beraninya kurang ajar sama saya,hah!" bentak Robi saat ia merasakan pukulan keras menghantam pundaknya.


Namun, baru saja ia menoleh, tatapan tajam justru ia dapatkan dari seseorang yang ia segani sekaligus hormati.


'Astaga, bisa -bisa aku potong gaji lagi!' gumam Robi dengan tenggorokan tercekat.


"Apa katamu tadi? Kurang ajar, hm? Siapa yang kurang ajar? " tanya Aglian menggeram dengan sorot mata tajamnya.


"A ... anu ... i ... itu tuan, anu ..."


"Anu, ini, itu, apa hah? Kamu mau bilang saya kurang ajar? Begitu? Dasar anak buah nggak ada akhlak, saya pot ..."


Aglian ingin sekali terbahak melihat ekspresi bawahannya itu, tapi ia tahan, lebih menyenangkan mengganggunya dari pada menertawakannya.


"Kawin nggak butuh biaya, bod*h!" cibir Aglian, "Kalo nikah baru butuh biaya apalagi resepsi, butuh lebih besar lagi biaya." ujar Aglian sembari tersenyum sinis. Dalam hati, ia mati-matian menahan keinginannya untuk tertawa saat melihat ekspresi bodoh Robi.


"Saya sudah berdiri dari tadi di sini, kamu malah tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila, pasti mikirin yang aneh-aneh!" sindir Aglian.


Robi melongo, "Benarkah tuan? Maaf, saya tidak sadar."


Aglian berdecih lalu mengambil berkas yang dipegang Robi.


"Kamu tidak usah ikut meeting. Tolong Carikan jambu kristal, belimbing, dan mangga muda beserta bahan-bahan untuk bumbu rujaknya. Setelah meeting, bantu saya membuat rujak." ujar Aglian sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang meeting. Robi menggaruk-garuk kepalanya lalu menggeleng-geleng tidak habis pikir dengan tugas dari atasannya tersebut.


Sudah hampir satu jam tapi Robi tak kunjung menunjukkan wajahnya membuat wajah Luna ditekuk masam.


"Mas Robi mana sih ,Mas? Kok lama banget."


"Tadi dia telepon katanya susah menemukan buah belimbing, sweetheart. Jadi dia keliling toko buah. "


Ceklek ...

__ADS_1


Tiba-tiba pintu terbuka, hingga menampakkan wajah lusuh Robi. Tak ada lagi Robi yang selalu rapi sebab bajunya sudah keluar kesana kemari, lengan bajunya terlipat , dasinya mengendur, dan rambutnya berantakan membuat Luna dan Aglian penasaran.


"Mas, kok penampilan kamu?"


Bruk ...


Robi menghempaskan tubuhnya ke sofa single di ruangan Aglian setelah meletakkan sekantong besar berisi buah jambu kristal, mangga muda, dan belimbing.


"Haus." gumam Robi.


Luna yang iba lantas menyerahkan sebotol air mineral yang belum ia minum kepada Robi.


Setelah ia minum, baru ia bicara.


"Saya udah cari-cari belimbing di beberapa toko buah tapi nggak ketemu. Pas di jalan, saya melihat ada pohon belimbing di halaman rumah orang. Jadi saya ke sana. Saya udah teriak-teriak panggil pemiliknya tapi hingga 15 menit berlalu, pemiliknya nggak keluar jadi saya panjat aja pohon itu mau ambil beberapa buah aja, eh tau-tau pemiliknya pulang yang ternyata habis jalan- jalan dengan anjingnya. Anjingnya itu yang membuat saya kayak gini. Beruntung si anjing gila itu nggak menggigit, kalau menggigit, yah bisa-bisa saya wassalam." desah Robi frustasi membuat Luna dan Aglian mengulum senyum, menahan tawa.


"Ya sudah, sebagai ungkapan terima kasih, kamu boleh pulang sekarang." ucap Aglian yang sukses membuat wajah lesu Robi seketika berbinar bahagia.


"Beneran kak bos? Nggak ada istilah potong gaji kan? Kalau nggak, aku mau pulang sekarang?" ujar Robi penuh semangat.


Aglian pun mengangguk dengan pasti. Tak mau membuang waktu, Robi lantas segera berdiri , bersiap-siap untuk pulang, ah yang lebih tepatnya mengunjungi rumah gadis pengusik hatinya.


Kurang lebih 45 menit waktu yang dihabiskan Robi untuk tiba di rumah Safa. Sebelum turun dari mobilnya, Robi terlebih dahulu mematut wajah dan penampilannya di rear mirror mobil. Saat dirasa penampilannya sudah meyakinkan, Robi pun turun dengan senyum terkembang dan seikat bunga mawar merah di tangan.


Setibanya di depan pintu, Robi segera memencet bel rumah itu hingga tak lama kemudian asisten rumah tangga keluarga Safa pun keluar.


"Maaf den, Aden cari siapa?" tanya asisten rumah tangga Safa.


"Bisa saya bertemu dengan Safa?" tanya Robi dengan raut wajah bahagia.


"Oh, temennya non Safa ya, den? Sayang sekali, non Safa dan Bu Amel sudah pergi ke Australia. Mereka ikut penerbangan siang tadi." ujar asisten rumah tangga Safa.


Jeduar ...


Dunia Robi seakan runtuh. Baru saja ia hendak berjuang, kenapa malah ia ditinggalkan.


'Mungkinkah aku masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan mu?' lirih Robi seraya menatap lekat buket bunga mawar merah di tangannya.


Ia menyandarkan kepalanya di balik kemudinya. Matanya terpejam. Wajah Safa kini kian menari-nari di benaknya.


'Bodoh, bodoh, bodoh!' makinya pada diri sendiri seraya memukul kepalanya. 'Itulah akibat kebodohanmu, Robi, setelah ia pergi kau baru menyadari kalau kau mulai menyukainya.' lirih Robi dengan mata memerah.


...****...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2