Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.199 (S2) Belajar Adegan Kissing


__ADS_3

"Na, mbak bisa minta tolong nggak?" tanya Anggi. Karena Aglian sering memanggil Luna dengan panggilan Na, Anggi pun jadi ikut-ikutan memanggil Na,


"Minta tolong apa, mbak? Katakan aja? Kalau Luna bisa, pasti Luna bakal lakuin kok." ujar Luna.


Saat ini mereka sedang berada di ruang tamu rumah Davindra.


"Gini nih, mbak kan ada sampel gaun pengantin gitu yang mau mbak masukkin ke katalog, nah model yang seharusnya memeragakan batalin kontrak tiba-tiba. Sedangkan waktunya itu mepet banget. Kamu mau nggak bantu mbak jadi modelnya?" tanya Anggi dengan mimik wajah meyakinkan.


Luna mengerutkan keningnya, "Emang nggak ada yang lain yang bisa gantiin ya mbak? Kenapa nggak Tita aja? Kenapa harus aku?" tanya Luna dengan ekspresi wajah bingung.


"Tita nggak bisa soalnya besok dia ada ujian." sahut Anggi.


"Model yang lain? Atau kita minta tolong Jeje aja? Dia kan model juga." ujar Luna memberi saran.


"Nggak bisa, Na. Kan perutnya udah lumayan gede. Nggak kayak kamu yang masih terlihat datar jadi nggak masalah. Kamu nggak mau bantuin mbak?" ujar Anggi dengan ekspresi wajah penuh kekecewaan.


"Ah, ng ... nggak kok mbak. Luna cuma ngerasa nggak pantes aja. Apalagi Luna kan cuma model abal-abal, takutnya bukannya bagus malah jadi amburadul hasilnya." ujar Luna seraya terkekeh.


"Duh, cantik gini masih nggak pedean. Lian ajqnbisa tergila-gila ama kamu, masa' masih meragukan kecantikan diri sendiri." desis Anggi.


"Kamu itu cantik kok, Na. Bener kata Anggi, Lian aja sampai jadi bucin karena kamu itu bukan cuma cantik 2ajah, tapi juga hati." Ajeng ikut menimpali. Bagaimana pun, rencana mereka harus berhasil.


"Mama sama mbak Anggi ada-ada aja deh. Luna nanya sama mas Lian dulu ya, mbak, boleh nggak nya." ujar Luna ingin meminta izin pada suaminya terlebih dahulu.


Bagaimana pun, status Luna sekarang adalah seorang istri. Sudah sewajibnya ia menanyakan pendapat sang suami terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.


"Kamu nggak perlu repot-repot, Na, sebelum mbak mu kemari, dia udah minta izin dulu kok sama Lian dan dia setuju." Ajeng kembali menimpali membuat Luna melongo dibuatnya.


"Baiklah kalau mas Lian udah setuju. Emang kapan pemotretannya?" tanya Luna.


"Besok siang di Royal Garden yang ada di Royal Hotel. Jadi kamu harus siap dari pagi ya soalnya walaupun ini hanya pemotretan tapi persiapannya harus benar-benar seperti pengantin. Karena itu, siang ini kamu bakal melakukan perawatan kulit dan spa, creambath, dipakaikan Henna, pokoknya semuanya yang biasanya dilakukan pengantin baru akan kamu jalani juga hasil fotonya lebih hidup dan bagus." ujar Anggi menjelaskan apa-apa saja yang akan Luna jalani nanti.


Luna melotot tak percaya, bukankah ini hanya sekedar foto shoot, mengapa ia harus menjalani semua prosesi seperti pengantin sungguhan.


"Tapi mbak ..."

__ADS_1


"Udah, turutin aja permintaan mbak mu, Na. " pungkas Ajeng membuat Luna tak berani membantah lagi.


...***...


Malam ini adalah malam yang paling spesial bagi pasangan RoSa, yaitu Robi dan Safa sebab malam ini Robi ditemani si Emak, dan duo L siapa lagi kalau bukan Aglian dan Luna baru saja melakukan lamaran yang sesungguhnya. Di malam ini juga, hari pernikahan Robi dan Safa telah ditentukan, yaitu 3 Minggu dari sekarang. Bagaimana hati Robi tak girang, akhirnya ia dapat melepaskan label Jodi pada dirinya. Begitu pula si emak, ia begitu bahagia, selain karena anaknya akan segera melepas masa lajangnya dan label jodinya, ia juga akan memperoleh menantu yang cantik rupawan dan sepertinya akan cocok dengan sifat si emak yang petakilan.


"Gimana? Udah siap jadi suami?" goda Aglian pada Robi dengan wajah datarnya.


"Malah sudah sangat siap, tuan. " ucapnya penuh keyakinan.


"Ya iyalah, anak emak harus siap, kalau nggak kapan emak bisa punya menantu coba? Emak juga pingin nimang cucu." sahut si emak. "Ya kan Bu, Bu Amel juga pingin liat si cantik ini menikah dan punya anak kan , Bu?" tanya si emak pada Amel.


"Iya dong, bu. Umur kita kan makin tua. Nggak tau kapan, kita akan kembali ke yang kuasa. Sebelum itu terjadi, besar harapan kami sebagai orang tua ingin melihat anak-anaknya menikah dan bahagia. Syukur-syukur bisa cepat dapat momongan jadi kita bisa cepat juga nimang cucu. Ya kan, pa ?" ujar Amel seraya meminta dukungan pada sang suami.


"Benar kata mama dan Bu Sutinah." sahut Rusdi seraya ayah Safa. "Apalagi anak-anak sudah cukup umur jadi tunggu apa lagi. Makin cepat makin baik. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan juga." tambahnya.


"Fa, Safa bahagia kan mau nikah sama Abang?" tanya Robi sebelum mereka hendak pulang. Kini Robi dan Safa meminta izin bicara berdua sebentar di taman belakang.


"Bahagia dong, bang. Kalau nggak ngapain Safa terima lamaran Abang yang super jutek, kaku, dan nyebelin." ujar Safa seraya terkekeh.


"Ng ... nggak kok." Sahut Safa yang justru sekarang jadi cegukan membuat Robi gemas.


"Kamu kok gemesin banget sih, Fa. Kenapa Abang baru nyadar ya?"


"Emang Abang selama ini kemana aja sampai nggak tau kalau Safa itu bukan hanya cantik, pintar, tapi juga gemesin." ujar Safa sambil menutup mulutnya karena menahan cegukannya.


"Kamu kok cegukan terus , Fa? Kami grogi ya?" ledek Robi.


Safa mengerucutkan bibirnya membuatnya makin terlihat menggemaskan. "Grogi? Siapa yang grogi, wekkk ...." Safa menjulurkan lidahnya membuat Robi kini malah terpaku melihat bibir merah alami Safa.


Robi meneguk salivanya susah payah karena tiba-tiba saja Robi punya keinginan menirukan apa yang pernah dilihatnya di ruang kerja Aglian.


"Bang ... Abang ... " seru Safa seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Robi.


"Eh, i ... iya Fa." jawabnya gelagapan. Pikiran Robi tiba-tiba tidak fokus karena otaknya yang sibuk traveling ingin merealisasikan apa yang pernah ia lihat itu.

__ADS_1


"Abang kok tiba-tiba grogi gini sih? Hayoooo, lagi mikirin apa? " ledek Safa dengan wajah yang sudah sangat dekat dengan wajah Robi. Bahkan Robi bisa menghirup aroma nafas Safa yang segar dan aroma shamponya yang wangi. Belum lagi aroma parfum Safa pun seolah mengobrak-abrik jiwa Robi yang ingin sekali merasakan bagaimana nikmatnya menyesap bibir merah muda itu.


"Ti ... tidak, Abang tidak grogi kok." sahutnya yang mulai gelagapan.


"Beneran???" goda Safa lagi dengan makin mendekatkan wajahnya.


"Please, Fa, jangan menggoda Abang!" ujarnya dengan nafas tercekat dan mulai frustasi.


Safa mengerutkan keningnya.


"Safa tidak menggoda Abang kok." kilahnya sambil mengulum senyum.


"Dasar gadis keras kepala. "


"Emang Safa ngapain Abang sih sampai Abang segitunya gelagapan?"


"Mau tau? " ujar Robi dengan suara yang mulai serak. Safa mengangguk pasti karena ia pun penasaran apa yang ada di pikiran map plastik laminating itu.


"Abang .... Abang pingin banget melahap bibir kamu sampai kamu kesulitan bernafas." bisiknya pada Safa membuat mata Safa melotot tak percaya dan wajah memerah.


"Abang mes*m." tukas Safa membuat Robi terkekeh.


"Abang serius lho. Tapi sayang, belum halal. Astaga, 3 Minggu kok lama banget sih. Bisa nggak sih pernikahan kita dipercepat besok takutnya Abang nggak bisa nahan."


Safa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sebenarnya Safa juga pingin. Safa itu pingin praktekan adegan kissing nya Park Seo Joon sama Kim Jo Won yang ada di Drakor." bisik Safa membuat pikiran Robi traveling. "Nanti pas udah nikah, kita praktekin yuk bang. Kira-kira Abang udah bisa belum? Kalo belum kita belajar sama-sama." sambungnya.


Robi mengangguk dengan cepat tanda setuju.


"Nanti kita nonton sama-sama ya biar belajar bareng. Abang juga belum bisa." jawabnya lalu mereka tergelak bersama.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2