Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.159 (S2) Erika & Azam


__ADS_3

Jarak rumah yang cukup jauh di suasana malam yang dingin ternyata menjadi sebuah keberuntungan tersendiri buat Erika si gadis pecinta dalam hati. Malu malu tapi mau, Erika justru mengeratkan pelukannya ke punggung Azam. Wajahnya juga ia sandarkan di punggung tegap itu, membuat wajahnya merona bahagia.


'Kapan lagi coba ada keberuntungan kayak gini? Ibarat dapat durian runtuh, hahaha, ih senengnya! ' monolog Erika dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.


Azam yang merasakan punggungnya beradu dengan tubuh bagian depan Erika jadi pun menegang. Jantungnya berdebar kencang seakan meronta ingin keluar dari dalam rongga dadanya. Ia yakin, Erika yang tengah memeluknya dari belakang dapat merasakannya. Bagaimana tidak berdebar saat ada sesuatu yang begitu kenyal menempel erat di punggungnya. Apalagi ini untuk pertama kalinya dalam hidup ada seorang gadis yang memeluknya dari belakang. Bukan berarti, ia sudah pernah dipeluk gadis dari depan, oh no, ia juga belum pernah dipeluk seorang gadis dari depan. Walaupun usianya sudah menginjak 28 tahun, tapi urusan dekat dengan wanita, ia masih sangat-sangat polos.


Cuaca malam itu padahal sangat dingin, ditambah terpaan angin karena mengendarai motor, harusnya membuat mereka berdua kedinginan, tapi yang terjadi sebaliknya, mereka merasakan kehangatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.


"Ka ..." panggil Azam pada Erika.


"Ya, Zam, kenapa?" sahut Erika seraya memajukan wajahnya agar ia dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Azam.


"Alamat apartemen kamu dimana? Apa di apartemen yang waktu itu kita ketemu?" tanya Azam sebab ia belum tau alamat Erika. Bisa saja tempat ia bertemu tempo hari bukan miliknya.


"Bukan, aku nggak tinggal di sana. Aku tempo hari kesana untuk menemui teman aja. Apartemen aku ada di Sudirman Park." beritahu Erika.


Azam tampak hanya mengangguk-angguk saja.


"Eh, kamu tinggal dimana? Langsung ke rumah kamu aja, ntar aku bisa pulang sendiri." ujar Erika tak mau merepotkan.


Azam mengerutkan dahinya. Bila perempuan lain senang hati diantar ke rumah oleh seorang pria, Erika justru lebih memilih pulang sendiri setelah mengantarkan dirinya.


Azam menggelengkan kepalanya menolak ide itu. Tak mungkin ia pulang dengan aman ke rumah, lalu Erika ia biarkan pulang sendiri di tengah malam nan dingin dengan mengendarai motor sport gedenya ini. Namun, ia tak mengeluarkan sepatah katapun. Begitulah Azam, irit bicara, banyak bekerja. Talk Less Do More.


Namun Erika tak menyadari arti gelengan kepala itu sebab kini ia kembali asik menyandarkan kepalanya di punggung lebar Azam. Hingga tiba-tiba motor telah berhenti, baru ia mendongakkan kepalanya kembali. Erika sontak membelalakkan matanya saat melihat dimana dirinya kini berada.


"Lho, kok kamu anterin aku pulang, Zam? Terus kamu gimana? Kita ke rumah kamu dulu aja, terus baru aku pulang setelah kamu sampai di rumah." ujar Erika yang masih setia duduk di boncengan Azam.


"Azam melepaskan helm yang dipakainya, lalu mengalihkan pandangannya ke Erika. Erika yang ditatap dalam jarak sangat dekat sontak gelagapan sendiri. Ia bahkan sampai kesulitan menelan salivanya sendiri.


"Aku pria , nggak masalah pulang sendiri, sedangkan kamu itu perempuan." ucapnya santai sambil menatap anak-anak rambut Erika yang berantakan karena tertiup angin. Tanpa sadar ia tersenyum tipis karena melihat rambut Erika yang berantakan itu membuat Erika seketika terpana.


"Jadi kamu mau pulang naik apa? Ini udah tengah malam lho, taksi udah jarang lewat, taksi online atau ojek online, biasanya kosong kalau jam segini, jadi kamu mau pulang pakai apa? Oh gini aja, kamu bawa aja motor aku, besok aku bisa naik ojek online." ujar Erika seraya meletakkan tangannya di bahu Azam sebagai tumpuan lalu turun dari motornya.


Azam pun memakai kembali helmnya. Sebelum pergi, Azam membuka kaca helmnya, " Besok aku jemput kamu jam 7." ucapnya yang lebih seperti sebuah perintah yang tak boleh dibantah.

__ADS_1


Setelah mengatakan beberapa patah kata itu, Azam pun melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi membuat Erika melongo di tempat.


'Astaga, mimpi apa gue semalam bisa dianterin, diboncengin, eh besok dijemputin juga sama si pria idaman hati. hahaha... Eits, tapi bentar lagi dia nikah, hiks ... Udah Erika, don't be sad! Anggap aja ini semua sebagai kenangan. Seenggaknya, loe pernah ngerasain Deket sama dia. Okay Erika, fighting! ' gumamnya seraya melangkahkan kaki menuju apartemen miliknya.


...***...


Hari sudah sangat larut, dengan wajah lelahnya, Aglian melangkahkan kaki menaiki undakan tangga satu per satu. Ya, hari ini ia cukup sibuk. Bukan karena ada masalah dengan perusahaannya tetapi ia sedang mengorek banyak informasi tentang Indomarco Coal TBK. Banyak informasi yang ia dapatkan yang bisa ia jadikan senjata untuk menghancurkan orang tertinggi di perusahaan itu. Beruntung ia memiliki orang-orang kepercayaan yang dapat ia andalkan di saat-saat genting seperti ini.


Aglian membuka pintu kamarnya secara perlahan. Kamar itu nampak gelap. Dapat ia lihat, Luna sudah berbaring. Sepertinya Luna sudah terlelap. Gegas ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu memakai pakaian yang ternyata sudah disiapkan Luna sebelumnya. Setelah itu, ia pun mulai membaringkan diri dan memasuki selimut yang membungkus tubuh ramping istrinya itu.


Deg ...


Tiba-tiba Aglian terkejut saat merasakan kulitnya beradu dengan kulit mulus Luna. Diintipnya ke dalam selimut.


Deg ...


Lagi-lagi ia terkejut, ternyata Luna sedang memakai lingerie yang begitu tipis menerawang membuat adik kecilnya seketika terbangun.


'Astaga, sweetheart, mau godain mas, hm! Hah, sayangnya kamu udah tidur, coba tadi selesai lebih cepat, bisa nananina kita.' gumam Aglian dalam hati.


"Emang apa lagi yang mas pikirin? Mana bisa mas mikirin yang lain kalau ada sesuatu yang indah terpampang jelas di depan mata." goda Aglian. "Apa mas udah bisa buka puasa malam ini?" tanya Aglian seraya mengendus harum tubuh istrinya itu.


"Menurut mas?" tanya Luna dengan nada manja


"Sepertinya ... udah bisa." bisiknya seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Luna dan melemparnya sembarangan.


"Ish, Mas, malu, biarin Nana pake selimutnya!" ujar Luna merengek sambil mengerucutkan bibirnya membuat Aglian gemas dan memberikan kecupan kilat.


"Untuk apa pakai ini kalau masih ditutup selimut? Bukankah lebih indah kayak gini?" bisiknya parau dengan tangan sudah sibuk menjelajahi setiap inci kulit Luna. "Kamu tau sweetheart, tadi mas itu sedang lelah banget, tapi setelah liat yang beginian, lelah mas langsung berganti semangat. Kamu emang istri yang pintar." puji Aglian membuat pipi Luna memerah apalagi saat tangan Aglian menyentuh bagian sensitif dalam tubuhnya.


Luna mulai terhanyut dalam buaian Aglian. Akhirnya mereka pun menghabiskan malam panas mereka dengan berbagi peluh dan kehangatan. Ia memang sengaja melakukan ini sebab kasihan suaminya sudah 5 hari berpuasa. Biasa, karena tamu bulanan.


Bukankah menyenangkan suami itu ibadah!


Yuk, ah!

__ADS_1


Pagi hari,


"Pagi, ma, pagi, pa." ucap Aglian dan Luna serempak saat tiba di meja makan.


"Pagi sayang." sahut Ajeng.


"Pagi juga, nak. Ayo, kita sarapan bersama." ajak Davindra.


Lalu Aglian menarik kursi dan mempersilakan istrinya untuk duduk kemudian disusul dirinya.


Seperti biasa, mereka pun menyantap sarapan sambil bercengkrama dengan penuh kehangatan. Luna tak henti-hentinya bersyukur karena dapat kembali merasakan kehangatan keluarga yang telah lama ia rindukan.


"Oh ya, Na, kata Lian kamu suka make up ya? Kamu juga pernah jadi MUA di agensi model kan!" tanya Ajeng seraya menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.


"Iya, Ma." sahut Luna singkat.


"Kamu nggak pingin apa punya salon sendiri?" tanyanya lagi.


"Pingin sih, Ma, tapi ..."


"Tapi kenapa? Nggak ada biaya? Ck ... kalau soal biaya, minta aja sama suami kamu itu. Tabungannya kan banyak. Mau kamu pake jalan-jalan keluar negeri setiap hari juga nggak bakalan habis." ujar Ajeng sambil terkekeh. Davindra yang mendengar pun ikut terkekeh, sedangkan Luna hanya tersenyum simpul. 'Benarkah uang Mas Lian sebanyak itu?' gumam Luna sambil geleng-geleng kepala.


"Iya, duit Lian emang banyak, mau jalan-jalan tiap hari ke luar negeri nggak masalah, tapi apa mama nggak kasian sama Lian? Bisa-bisa Lian sakit meriang, merindukan kasih sayang. Mama ditinggal papa satu hari aja nggak bisa tidur, gimana sama Lian kalau ditinggal mulu." protes Aglian dengan wajah kesalnya.


Semua yang ada di meja termasuk art di rumah itu terkekeh geli mendengar protesan Aglian. Mereka tak menyangka, Aglian yang terkenal datar, santai, dan tenang, bisa tiba-tiba ketar-ketir hanya karena kata-kata sang mama.


...***...


Pagi ini, sesuai ucapnya, Azam telah tiba di lobi apartemen Erika. Tak lama kemudian, denting lift berbunyi, tampak seorang gadis cantik dengan rambut hitam sebahu yang terurai indah keluar dari dalam lift. Awalnya, Azam masa bodoh dengan gadis yang keluar dari dalam lift tersebut karena dari penampilannya, bukan gadis itu yang ia tunggu. Tapi itu hanya sesaat. Mata Azam seketika membelalak saat ia menoleh ke arah perempuan yang memanggil namanya itu. Dihadapannya, telah berdiri seorang gadis cantik dengan tubuh dibalut dress selutut berwarna peach dan cardigan berwarna navy, membuat gadis itu terlihat anggun dan menawan. Tak lupa sebuah kacamata hitam bertengger di depan matanya dan sepatu high heels setinggi 7 cm berwarna cream membuat Azam seketika terperangah.


Siapakah dia???


...***...


...Happy Reading 🥰🥰 🥰...

__ADS_1


__ADS_2