
Anggi menatap dalam mata Diwangga, dapat ia lihat ketulusan dan kejujuran dalam sorot matanya. Seketika hati Anggi terasa berdesir bahagia. Haruskah ia memberi keputusan sekarang?
"Mas Angga." panggil Anggi karena Diwangga sedang sibuk menanggapi celotehan anak-anaknya
"Hmm.. Ya Nggi." Diwangga mengalihkan perhatiannya pada Anggi. "Ada apa?" tanya Diwangga saat melihat sepertinya ada yang ingin Anggi sampaikan
"Malam nanti, ... mau makan malam denganku di luar?" tanya Anggi dengan wajah memerah, bukan karena marah, tapi karena menahan malu. Bukankah biasanya seorang pria yang mengajak makan malam di luar, tapi ini dirinya, bahkan ini untuk pertama kalinya, tentu ia merasa malu. Bahkan menatap Diwangga pun ia tak berani. Ia memalingkan wajah ke arah lain, agar Diwangga tak menyadari perubahan rona di wajahnya.
Diwangga sontak terkejut. Benar-benar terkejut. Selama ini ia ingin. sekali mengajak Anggi makan malam di luar berdua saja namun ia belum ada keberanian. Ia takut ,Anggi menilai ia tak menghargai anak-anaknya, hanya menginginkan ibunya, tanpa anak-anaknya. Tapi tunggu, makan malam berdua atau dengan anak-anaknya juga?Batin Diwangga penasaran.
"Mmm... makan berdua atau..."
" Hanya berdua." potong Anggi saat menyadari kelanjutan kalimat yang akan diucapkan Diwangga.
Seulas senyum terukir indah di bibir Diwangga.
Bahagia? Pasti. Diwangga bahagia, akhirnya ia bisa selangkah lebih dekat lagi dengan Anggi. Ternyata kedatangan Lea tadi ada manfaatnya juga, pikir Diwangga.
"Baiklah, nanti biar aku yang tentukan tempatnya. Aku juga yang akan menjemputmu nanti." Anggi pun mengangguk mengiyakan.
.
.
.
Sudah seminggu berlalu sejak kepulangan Adinda dari rumah sakit. Sejak saat itu juga sikap Adam makin berubah. Ia jadi dingin dan acuh. Karena masih belum pulih sepenuhnya, Adinda masih tampak acuh. Malas berdebat.
Makin hari , Adam makin jenuh di rumah. Bagaimana mau tenang, melihat isi rumah yang kotor, berantakan, piring kotor menumpuk di wastafel, begitu pun pakaian kotor, cukup membuat Adam geram setengah mati. Bahkan Adam enggan masuk ke kamar mereka dan lebih memilih tidur di kamar lain, karena tak nyaman melihat kamarnya yang tak ada bersih-bersihnya.
Adam kini sedang merebahkan tubuhnya di kamar. Sorot matanya menerawang ke langit-langit kamar, ingatannya seakan kembali ke masa-masa ia baru mengenal Anggi. Saat itu ia sangat bahagia. Ia sangat mencintai Anggi. Setelah melakukan pendekatan yang cukup lama akhirnya dayung bersambut. Anggi pun mulai membalas cintanya. Hingga akhirnya, tak lama semenjak Anggi menamatkan sekolah SMA'nya, Adam langsung melamar Anggi dari Bu Yanti yang merupakan ibu panti tempat dimana Anggi tinggal.
__ADS_1
Usaha Adam meminta restu dari sang ibu pada waktu itu pun cukup berat. Bu Tatik tidak menyetujui niat Adam tapi karena kegigihannya, akhirnya Bu Tatik merestui Adam dan Anggi menikah.
Ingatan Adam juga berlayar saat-saat manis saat ia baru saja menjadi pasangan suami istri. Mereka sangat bahagia. Anggi gadis baik, penurut, dan sangat tau cara melayani seorang suami. Rumah selalu bersih, makanan enak selalu tersedia, bahkan dengan uang yang ia beri seadanya Anggi masih sempat menabung untuk membeli rumah impiannya walau melalui cicilan.
Ingatan Adam juga berlayar ke masa ia mulai berubah. Ia mulai kasar dan tak menghargai Anggi sebagai istrinya. Adam sungguh menyesal mengingat masa itu. Andai waktu bisa diputar pikirnya, ingin ia kembali ke masa itu dan memperbaiki semua kesalahannya. Tapi sayang, nasi telah jadi bubur.
"Tidak, tidak. Aku masih memiliki kesempatan. Ya masih. Aku yakin, Anggi pasti masih mencintaiku dan aku juga memiliki anak-anak. Mereka membutuhkan sosok ayah di sisi mereka dan hanya aku yang bisa melakukannya." gumam Adam sambil menyunggingkan senyum.
.
.
.
"Mama... ada om papa Angga." panggil Damar memberi tahu ibunya
"Om papa, macuk cini. " Kevin menarik tangan Diwangga agar masuk dan duduk di sofa ruang tamu
"Om papa, om papa, om papa mau ajak mama pelgi ya?" tanya Karin penasaran
"Coalna mama dandan cantik banget. Tapi kata mama Ayin, Epin, ama Abang diculuh tunggu di lumah aja, Ndak boleh ikut." Karin mengerucutkan bibirnya lucu ,membuat Diwangga langsung mengangkat tubuh mungilnya dan meletakkannya di pangkuannya
"Karin, Kevin, dan Abang Damar pingin nggak om papa jadi papa kalian beneran?" tanya Diwangga sambil tersenyum dan memainkan alisnya naik turun
Dengan wajah berbinar dan penuh semangat, ketiga anak itu pun menjawab , "Mau om papa, mau, kami mau." seru mereka kompak
"Nah, kalau kalian mau, izinkan om papa pergi berdua aja sama mama biar om papa bisa bujukkin mama ngizinin om papa jadi papa kalian yang sesungguhnya." jawab Diwangga dengan bahasa yang dapat dimengerti anak-anak
"Oh, om papa pelgi sama mama bial mama bolehin om papa jadi papa kami ya om papa?" tanya Karin dan Kevin. Diwangga menaik turunkan kepalanya dengan cepat.
"Oke deh, om papa. Kami doain cemoga cukces ya om papa." cup cup cup...
__ADS_1
Mereka bertiga mencium pipi Diwangga secar bergantian.
"Tapi pulangna jangan lupa beliin Ayin Cate ya om papa." bisik Karin sambil cekikikan
"Kalau Epin maltabak telul, om papa. "
"Kalau Abang roti bakar isi keju om papa."
Diwangga tersenyum sambil geleng-geleng kepala karena gemas dengan tingkah mereka bertiga. "Oke tenang aja, nanti om papa beliin. Tapi jangan lupa doain om papa biar berhasil,ya!" balas Diwangga sambil berbisik-bisik.
"Oke om papa. Aamiin." mereka pun tergelak bersama
"Ngobrolin apa sih kayaknya asik banget?" tiba-tiba Anggi keluar dan penasaran karena mendengar tawa bahagia ketiga anaknya
Sontak keempat orang itu menoleh ke arah suara karena terkejut. Tapi yang lebih terkejut adalah Diwangga, ntah mengapa di matanya, malam itu Anggi tampil sangat cantik. Dengan dress pink panjang dibalut outer berwarna krem dan hijab pashmina berwarna pink, ditambah make up minimalis membuat Anggi sungguh tampak mempesona. Diwangga sampai nyaris tak berkedip memandangi wajah Anggi. "Masya Allah cantiknya calon bidadariku." gumam Diwangga pelan nyaris tak terdengar
"Om papa... om papa ikh... om papa jangan ngelamun." pekik Karin di telinga Diwangga
Sontak membuatnya jadi gelagapan dan malu sendiri.
"Eh i-iya, ada apa sayang?" tanya Diwangga
"Jadi pelgi nggak?"
"Jadi, emang kenapa?" jawab Diwangga masih setengah sadar
"Kalau jadi cepetan, mama udah nunggu di mobil om papa tuh! Ntar kelamaan, mama kesel, nggak jadi lho " Damar berdecak sebal karena Diwangga tak menyadari bahwa Anggi sudah berlalu dari tadi dan sedang menunggu di dalam mobil
"Astaghfirullah, maaf, maafin om papa yang ngelamun." jawab Diwangga sambil nyengir
"Terpesona sama kecantikan mbak Anggi ya, om?" ledek Luna sambil cekikikan
__ADS_1
"Gitu deh! Mbak kamu emang paling cantik. " jawab Diwangga sambil cengengesan. "Titip anak-anak ya, Lun. Kalau ada apa-apa, telpon om aja. Bye... assalamualaikum." pamit Diwangga
"Wa'alaikum salam." jawab Luna, Lia, Tita, dan anak-anak.