Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.104 Je t'aime , Te quiero, ich liebe dich, I love you


__ADS_3

"Jadi Lea sekarang berada di mana, mas?" tanya Anggi sambil membaringkan kepalanya perlahan di dada bidang Diwangga.


"Dia tadi hendak kabur ntah kemana. Untungnya, anak buah kami selalu ngikutin pergerakan dia jadi saat Lea udah tiba di bandara, para bodyguard langsung bergerak meringkusnya. Dan sekarang, Lea udah berada di balik jeruji besi. Dia memang pernah jadi temanku, tapi tindakannya sudah di luar batas toleransi ku. Dan kini, dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya." tegas Diwangga seraya membelai surai Anggi yang panjang.


...Sesaat sebelumnya, di kantor polisi...


Hari sudah beranjak malam, namun seorang wanita tampaknya masih betah dalam ketidaksadarannya. Hingga tiba-tiba sesuatu yang dingin menyergap seluruh bagian wajah hingga sedikit membasahi bagian atas pakaiannya.


"Arrgh ... apa-apaan ini sih! Brengsek!" umpat Lea saat tersadar dari pingsannya dengan wajahnya yang sudah sangat basah. Ternyata ia baru saja diguyur dengan segelas air putih oleh Erika, si polwan cantik.


Erika terkekeh geli saat mendengar Lea mengumpat padanya.


"Ck ... masih sempat mengumpat ni cewek. Woy, bangun! Ini bukan hotel. Malah enak-enakan tidur." sergah Erika pada Lea yang masih belum sadar sepenuhnya.


Gleg ...


Lea menelan ludahnya sendiri saat mendengar suara Erika. Ia belum menyadari dimana ia berada saat ini. Dalam posisi menyandar di sebuah kursi panjang, matanya berputar-putar , mencoba menerka-nerka dimana ia berada. Lalu ingatannya kembali saat ia berada di bandara lalu tiba-tiba kehilangan kesadarannya saat salah seorang pria bertubuh kekar bicara padanya dengan pelan namun sarat intimidasi.


"Kepala loe nggak terbentur kan waktu loe jatuh pingsan di bandara tadi?" ejek Erika saat melihat Lea tak kunjung menyadari dimana ia berada saat ini.


Mata Lea menatap wajah Erika intense. Lalu matanya membola saat ada seseorang masuk seraya memberi hormat pada Erika. Yang membuatnya shock adalah seragam yang dipakai petugas itu. Lalu matanya kembali menatap Erika yang sedang memberi instruksi pada salah seorang polisi.


"Po-polisi." gumam Lea pelan namun masih dapat ditangkap oleh indra pendengaran Erika.


"Ya, polisi. Gue polisi. Bapak ini juga polisi karena loe sekarang sudah berada di kantor po-li-si. Tempat yang bakal jadi rumah kedua loe sementara waktu sampai loe dinyatakan bebas setelah menerima hukuman yang setimpal." sinis Erika dengan salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas.


"Nggak, nggak, itu nggak mungkin. Nggak mungkin gue di kantor polisi. Angga nggak mungkin setega itu sama gue." gumam Lea bernada frustasi.


"Memang atas dasar apa kau menilai aku takkan menjebloskan mu ke kantor polisi setelah apa yang kalian rencanakan?" tanya Diwangga tiba-tiba sesaat setelah ia masuk ke dalam ruangan Erika.


Lea terkesiap saat mendengar suara Diwangga. Gegas ia berdiri seraya mencengkram kedua lengan Diwangga.


"Ngga, loe nggak mungkin setega ini kan sama gue. Ngga, gue ini temen loe. Gue juga cinta banget sama loe. Loe nggak mungkin sejahat ini, kan! Pasti ini permintaan perempuan sialan itu, kan!" racau Lea frustasi.


"Tutup mulutmu, Lea! Kau pikir kau siapa bisa bicara sembarangan tentang istriku,hah! Kau harusnya sadar diri, siapa yang perempuan sialan itu, dan yang pasti itu bukan istriku. Dia bahkan tak pernah mengusikmu satu kali pun." desis Diwangga emosi saat Lea menghina Anggi. "Sekali lagi ku tanya, atas dasar apa kau menilaiku takkan menjebloskan mu ke kantor polisi, hah? Setelah apa yang telah kau dan ayahmu perbuat." geram Diwangga.

__ADS_1


Tubuh Lea bergetar hebat saat melihat wajah lain dari seorang Diwangga. Sosok dingin namun tetap ramah, tak pernah terlihat marah, kini tampak sangat murka hanya karena seorang wanita.


"Kau tahu Lea, perbuatanmu ini sudah sangat fatal. Dan kau tahu, penderitaan yang Anggi terima selama ini sumbernya dari ayahmu. Ayahmu memerintahkan ibunya menculik dan bahkan membunuh Anggi saat masih balita. Bayangkan Lea, balita. Namun aku bersyukur nenekmu masih memiliki hati nurani jadi ia tak membunuh Anggi. Namun tetap saja, akhirnya ia harus menderita karena jauh dari orang tua, dicemooh, direndahkan, dihina, bukan hanya oleh orang lain, tapi juga oleh mantan suami dan mertuanya, semua hanya karena asal usul Anggi yang tak jelas, dan siapa penyebab semua itu. Itu karena ayahmu, Lea. Bahkan kau pun pernah bukan, jadi bagian orang-orang yang merendahkan Anggi." seru Diwangga dengan sorot mata tajam.


Bruk ....


Lea sontak berlutut dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.


"Maaf, maafin aku Ngga, aku mohon maafin aku . Aku tau aku salah, aku mohon maafkan aku. Aku mohon bebaskan aku, Ngga. Aku nggak mau dipenjara. Aku mohon Ngga, maafin aku. Aku janji, aku takkan mengusik hidupmu dan Anggi lagi. Aku janji Ngga, aku janji, jadi aku mohon, lepasin aku. Bebaskan aku. Aku mohon Ngga. Aku mohon." ucap Lea memelas dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya.


"Sorry Le, aku nggak bisa. Kau tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Bila penjahat dapat bebas hanya dengan satu kata maaf, lalu apa gunanya penjara?" sinis Diwangga membuat nafas Lea kian tercekat.


.


.


.


.


"Sayang, bangun." ucap Diwangga pelan seraya menggoyang-goyangkan bahu Anggi agar terbangun sebab jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 7. Untung saja hari itu weekend, jadi mereka tak perlu terburu-buru bangun untuk beraktivitas.


"Bentar mas, Anggi masih ngantuk ni. Hoaaam ..." sahut Anggi dengan mata terpejam. Bahkan Anggi masih sempat-sempatnya menguap lebar tapi dengan refleks, Anggi menutup mulutnya itu.


Mata Anggi mengerjap beberapa kali, membuat bulu matanya yang panjang nan lentik bergerak-gerak lucu sambil tersenyum lebar menatap Diwangga yang sedang menatapnya intens. Dilihatnya pemandangan di depannya, suaminya bahkan sudah mandi dan wangi, tapi ia malah masih asik tiduran.


"Emangnya ini udah jam berapa mas kok kamu udah mandi?" tanyanya polos.


"Ini udah mau jam 7 , sayang. Kok tumben kamu malas-malasan gini." tanya Diwangga. Tampak keningnya berkerut-kerut karena terlalu penasaran.


"Oh, mungkin itu karena ...." sahut Anggi terjeda karena tangannya sibuk membuka laci di naks samping tempat tidurnya.


"Ini." sambung Anggi lagi seraya menyerahkan sebuah benda pipih berwarna putih ke tangan Diwangga.


Diwangga meraih benda pipih itu yang ternyata sebuah testpack. Dipandanginya benda pipih itu mencoba menelaah arti dari dua garis merah di permukaannya.

__ADS_1


Pandangan Diwangga beralih ke Anggi yang masih tampak tersenyum simpul.


"Ini maksudnya apa , sayang? Mas nggak ngerti." tanya Diwangga membuat Anggi terkekeh geli .


"Gini ya kalo nikah sama bujangan polos, gini aja nggak ngerti ." Lalu Anggi meraih bungkusan bekas testpack itu dan menyerahkannya pada Diwangga untuk dibaca. Diwangga yang paham maksudnya, langsung meraih bungkusan itu dan mencerna kata demi kata yang tertulis di sana. Dipandanginya bungkusan dan testpack itu secara bergantian, hingga sebuah senyuman terulaa sangat-sangat lebar dengan mata yang berkaca-kaca. Ia terharu. Sangat terharu.


"I-ini benar, sayang? Jadi yang mau kamu beli kemarin ini?" tanya Diwangga lalu Anggi mengangguk mantap. "Jadi di sini sudah ada calon buah cinta kita sayang? Mas nggak bermimpi kan?" tanyanya lagi seraya mengusap pelan permukaan perut Anggi yang masih rata.


"Iya mas, itu garis dua artinya ada calon buah hati kita di sini, buah cinta kita. Adiknya anak-anak." sahut Anggi dengan mata yang ikut berkaca-kaca karena terharu melihat ekspresi Diwangga yang begitu bahagia.


"Masya Allah, walhamdulillah, wa lailahaillah, Allahuakbar." seru Diwangga seraya memeluk erat tubuh Anggi.


Tak ingin dihantui rasa penasaran. Selepas sarapan , Diwangga segera memboyong Anggi menuju rumah sakit. Ia ingin memeriksakan secara langsung kebenarannya dengan dokter. Namun setibanya di sana, dokter bagian obgyn yang bertugas saat itu hanya ada dokter lelaki. Diwangga tak menyukai itu. Ia tak mau bila istrinya dilihat bahkan disentuh oleh dokter lelaki. Ia sadar, saat pemeriksaan pasti baju Anggi akan disingkap, apalagi saat melahirkan, ah Diwangga tak sanggup membayangkannya. Jadilah ia menelfon salah seorang dokter obgyn yang pernah menjadi kliennya dan yang pastinya dokter itu adalah seorang wanita.


Dan kini , disinilah mereka , di sebuah ruangan serba putih dengan Anggi yang sedang berbaring di ranjang khusus pasien.


Tampak seorang perawat membantu dokter Weli mengusapkan cairan di perut Anggi. Lalu sang dokter pun menempelkan sebuah transducer di atas perut Anggi seraya menatap layar berwarna hitam putih.


Seulas senyum pun terbit di bibir merah bergincu dokter Weli.


"Selamat pak Diwang, Anda akan jadi seorang ayah dan benar, istri Anda sedang hamil sekarang." ucap dokter itu sumringah membuat Diwangga bahagia bukan main.


Baru saja Diwangga hendak memeluk tubuh Anggi , tapi gerakannya langsung terhenti saat dokter Weli tampak mengernyitkan dahi seraya menatap layar di depannya. " Tunggu..." seru dokter Weli.


"Ada apa dok? Apa ada masalah dengan kandungan ku?" tanya Anggi cemas saat melihat ekspresi tak biasa dari dokter Weli.


"Ada apa, dok? Tidak terjadi sesuatu yang bahaya kan dengan anak dan istriku?" Saat ini Diwangga sama paniknya dengan Anggi.


Lalu dokter Weli kembali menoleh ke arah Anggi dan Diwangga dengan tatapan kagum.


"Tidak, tidak ada yang berbahaya kok. Justru aku kagum. Selama 20ntahun menjadi dokter kandungan, baru kali ini aku bisa melihat kuasa Tuhan yang tak terhingga. " ucap dokter Weli terjeda . "Kalian mendapatkan triplet." serunya


Anggi dan Diwangga saling tatap , masih belum mengerti. Dokter Weli yang paham dengan ekspresi itu , segera meminta mereka mengalihkan perhatian ke layar hitam putih itu.


"Lihat, di sini ada 3 titik yang merupakan calon anak kalian artinya kalian akan memperoleh anak kembar 3. Sekali lagi selamat " jelas dokter Weli membuat Anggi dan Diwangga terkesiap namun sedetik kemudian, mereka tersenyum lebar, bahkan sangat lebar hingga tanpa sadar air mata mereka telah mengalir d pipi mereka berdua.

__ADS_1


"Mas nggak nyangka, Nggi, nikah sama kamu buat mas dapat untungnya double-double. Awalnya nikahi 1 dapat 4, dan sekarang, karena nikahi 1 bakal dapat 7. Mas bahagia banget , sayang. Sangat-sangat bahagia. Makasih ya, Nggi, kehadiranmu menyempurnakan kebahagiaan, Mas. Je t'aime mon ange, Te quiero, ich liebe dich, I love you." seru Diwangga lalu ia menebarkan ciuman di seluruh wajah Anggi membuat wajah Anggi memerah karena malu, maklum ia masih di ruangan dokter Weli sekarang.


__ADS_2