Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.70 Wanita tua congkak


__ADS_3

Kini Anggi, Damar, si kembar, dan Diwangga sudah dalam perjalanan menuju rumah Bu Sofi. Perjalanan itu seperti biasa diisi dengan canda tawa anak-anak Anggi. Anggi dan Diwangga tiada hentinya mengulum senyum bahkan kadang sampai terbahak akibat ulah si kembar yang super jahil. Mereka berdua memang berbeda dengan sang kakak yang cenderung pendiam.


Sebenarnya dulu Damar anak yang periang, apalagi saat sifat Adam masih sangat baik dan penuh perhatian. Tapi semenjak sifat Adam berubah jadi tak acuh dan sering melakukan kekerasan pada Anggi, ia jadi anak yang pemurung. Untungnya dia memiliki saudara alias adik kembar yang ceria dan sedikit usil yang selalu saja bisa menghiburnya. Walaupun Adam tak pernah kasar pada anak-anaknya, tapi sikap dingin, tak acuh, dan suka membentak itu cukup meninggalkan luka di hati anak-anaknya terutama Damar.


Anggi menyadari itu, itulah sebabnya Anggi selalu berusaha lebih dekat dengan anak-anaknya, serta berusaha selalu ada dan mau mendengarkan apa saja baik itu keluh kesah ataupun cerita-cerita anak-anaknya. Bukankah kedekatan itu dimulai dari mendengarkan. Ingatlah, seorang anak akan lebih dekat kepada orang yang mau mendengarkan setiap keluh kesah dan cerita-ceritanya jadi jangan bosan mendengarkan curahan hati anak-anak,ya!


"Bang, gambal Epin jelek, Ayin nggak mau walnain gambal Epin," ungkap Karin.


"Siapa juga yang mau kasiin gambal Epin ke Ayin, ora sudi, wekkk!" ujar Kevin sambil menjulurkan lidahnya ke arah Karin


Damar terkekeh melihat tingkah kedua adiknya. Begitu pun Diwangga dan Anggi.


"Bang ..." rengek Karin


"Ya udah, nanti Abang gambarin khusus buat Karin. Karin mau minta gambarin apa?" tanya Damar


"Pemandangan sama bunga-bunga," ungkap Karin antusias.


"Oke." ujar Damar sambil mengacungkan kedua jempolnya


"Mas, persiapan pernikahan kita udah sampai mana?" tanya Anggi pada Diwangga yang sedang mengemudikan mobil


"Sudah 75% hampir rampung." jawab Diwangga dengan tersenyum


"Secepat itu?" tanya Anggi tak percaya. Bagaimana tidak , belum 1 Minggu mereka menyatakan akan menikah di hadapan ibu dan ayah Diwangga, tapi persiapan pernikahan mereka sudah hampir rampung.


"Kamu nggak tau aja kerjaan mama, semua kenalan dan koleganya dikumpulin semua untuk membantu persiapan pernikahan kita."


"Hah! Apa nggak terlalu merepotkan mama, mas?" Anggi merasa tak enak hati.


Diwangga tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Anggi yang merasa tak enak hati.


"Repot? Nggak tuh, malah mama senang. Ini tuh pernikahan anaknya satu-satunya lho, belum lagi emang pernikahan ini udah mama nanti-nantikan sejak lama jadi wajar mama sangat antusias." ungkapnya dengan semangat. "Oh ya, makan malam sama keluarga Aglian udah ditentuin besok malam, gimana? Kamu bisa kan!" tanya Diwangga.


"Lho, kok nyampeinnya ke mas Angga sih, biasanya langsung ke Anggi?" Anggi heran.

__ADS_1


Diwangga tersenyum. "Emang kenapa? Nggak boleh? Atau jangan-jangan ..."


"Jangan-jangan apa?" potong Anggi mendelik tajam.


"Nggak kok. heheheh... Sebenarnya aku sama Aglian udah lumayan dekat sekarang. Bahkan kita udah sering ketemuan di luar." ungkapnya lagi yang lagi-lagi membuat Anggi terkejut.


"Emang mas Angga sama Aglian ada urusan apa?" tanya Anggi penasaran.


"Adalah. Pokoknya hal urusan yang sangat penting. Nggak lama lagi kamu juga tahu kok."


Anggi mengernyit bingung. "Emang ada hubungannya dengan aku?" tanya Anggi dan Diwangga mengangguk.


"Oh, pasti berhubungan dengan pembukaan cabang Anggrek Fashion di Angkasa Mall ya, mas!"


Diwangga ingin menyahut bukan, tapi takut Anggi malah makin penasaran dan makin banyak bertanya, jadi ia mengalihkan pembicaraannya.


"Oh ya, pesta pernikahan kita nanti akan diadakan di Deluxe hotel, Nggi."


"Apa? Mas serius? Itu hotel mewah kan! Apa nggak boros ,mas? Pasti biayanya besar banget itu." desis Anggi


"Mas serius?" Diwangga mengangguk yakin. Padahal itu semua bohong. Yang sebenarnya malah Diwangga tak mengeluarkan sepeserpun untuk biaya sewa tempat di ballroom Deluxe hotel itu. Aglian sendiri yang menawarkan. Diwangga sudah menolak, tapi Aglian memaksa dengan alasan karena ini adalah pernikahan adiknya jadibia ingin mempersembahkan yang terbaik membuat Diwangga terpaksa menerima.


Ya. Hasil test DNA yang dilakukan Aglian telah keluar dan hasilnya adalah 99,99% positif, Anggi adalah anak dari Davindra dan Ajeng. Tentu hal tersebut membuat Aglian sangat bahagia, setelah sekian lama ia dan ayahnya melakukan pencarian saudara kembarnya yang hilang bak ditelan bumi, justru saudara kembarnya itu muncul sendiri dengan cara tak terduga. Hal tersebutlah yang membuat Aglian turut berpartisipasi untuk memeriahkan pesta pernikahan kakak kembarnya itu secara diam-diam. Aglian sudah tak sabar lagi ingin mengungkapkannya. Namun ia harus bersabar menunggu saat yang tepat.


Mobil Diwangga kini telah memasuki halaman rumah keluarga besarnya. Dengan sigap, Diwangga membantu calon putra putrinya turun dari mobil. Dia pun membantu Anggi membawakan semua perlengkapan anak-anaknya yang sebenarnya tidak terlalu banyak karena semua sudah disiapkan calon ayah itu jauh-jauh hari untuk persiapan kalau-kalau calon anak-anaknya itu ingin menginap di rumahnya. Hanya kebutuhan Damar saja yang lebih banyak, terutama perlengkapan sekolahnya.


Damar, Karin, dan Kevin pun memasuki rumah besar itu dengan riang gembira. Tak kalah sambutan dari Bu Sofi dan Suseno membuat anak-anak itu makin berbinar bahagia. Kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan saat mereka masih menjadi bagian keluarga Adam. Hanya almarhum kakeknya saja lah yang selalu menyambut mereka dengan senyum lebar, yang lainnya tidak. Apalagi semenjak kakek mereka tiada, mereka jadi enggan walau hanya menapakkan kaki di kediaman Bu Tatik darp pada ujung-ujungnya mereka direndahkan, dihina, dimarahi, lebih baik tidak kesana sama sekali.


Setelah mengantarkan Damar, Karin ,dan Kevin ke rumah keluarganya, Diwangga dan Anggi segera menaiki mobil kembali untuk menuju bridal house milik Tante Rena untuk hunting baju pengantin yang akan mereka gunakan. Di sana juga sudah tersedia penata rias jadi mereka tak perlu repot mencari make up artist (MUA) untuk mendandani mereka.


Anggi telah memilih gaun pengantin berwarna putih yang tertutup karena ia sudah berhijab sekarang. Sedangkan Diwangga telah memilih tuxedo berwarna hitam membuatnya makin gagah dan tampan. Anggi juga telah memesankan tuxedo warna senada dengan milik Diwangga untuk Damar dan Kevin, serta gaun putih untuk putri kecilnya yang cantik.


Setelah dari bridal house, mereka terlebih dahulu mampir ke kedai bakso. Ternyata fitting baju pengantin pun cukup melelahkan hingga membuat mereka berdua merasa lapar.


.

__ADS_1


.


.


tap tap tap


Suara derap langkah memasuki toko Anggrek Fashion terdengar nyaring. Seorang wanita yang merupakan karyawan toko tersebut pun segera menghampiri orang tersebut yang merupakan seorang wanita paruh baya. Dengan gaya congkaknya, wanita paruh baya itu langsung menanyakan sang pemilik toko kepada karyawan wanita itu. Karyawan wanita itu masih ingat dengan jelas siapa wanita paruh baya itu jadi ia mencoba menjawab dengan sopan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.


"Selamat siang Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya sang karyawan wanita


"Saya mau bertemu pemilik toko ini, di mana dia?" tanya wanita itu dengan gaya congkak


"Apa ibu sudah buat janji?" tanya karyawan wanita itu sopan.


Wanita paruh baya itu berdecih sinis, "Tak perlu banyak tanya, panggilkan saja dia kemari!" titahnya angkuh.


Ingin rasanya karyawan wanita itu mengumpati wanita tua itu. Bosnya saja tidak pernah berkata sombong dan kasar, tapi si wanita tua ini malah berlagak songong gumamnya dalam hati.


"Maaf Bu, mbak Anggi nya sedang pergi fitting pakaian pengantin sama calon suaminya." Karyawan wanita itu berujar. Tak mau menutupi, ia sengaja berkata jujur ingin melihat reaksi wanita tersebut.


"Apa? Calon suami? Jadi dia mau menikah? Dengan siapa?" tanya wanita paruh baya itu bertubi.


Karyawan wanita itu berusaha memasang senyum palsunya. "Maaf Bu, kami kurang tau."


"Sudah berapa lama?"


"Sudah cukup lama Bu, mungkin sudah hampir 3 jam."


"Kalau begitu saya akan menunggu kepulangannya di sini." ujar wanita paruh baya itu berlagak bossy.


"Baiklah Bu, silahkan duduk. Kalau begitu, saya permisi."


'Cih, dasar wanita sombong! Belagu amat jadi orang. Palingan dia penasaran sama calon suami mbak Anggi karena ia dia bela-belain nunggu.' ujar karyawan wanita itu dalam hati sambil terkekeh.


'Seperti apa calon suami si Anggi itu, jadi penasaran. Ternyata dia hebat juga udah punya calon suami lagi. Ah palingan calon suaminya itu duda beranak banyak sama kayak dia. Dengan perut gendut, kulit hitam, kepala botak.' kekehnya dalam hati seolah Anggi tak mungkin bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada anaknya.

__ADS_1


__ADS_2