Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.180 (S2) Calon mami dan papi


__ADS_3

Sesuai pembicaraan Aglian dan Luna siang tadi, sebelum mereka pulang ke rumah, Aglian mampir dahulu ke apotek untuk membeli alat test kehamilan atau yang lebih sering disebut testpack.


"Permisi, ada alat untuk mengetest kehamilan?" tanya Aglian dengan wajah datarnya.


Karyawan apotek yang melihat sosok pria tampan, gagah, berwibawa dengan setelan mahal melekat di tubuhnya berdiri tegap di depannya justru mematung. Ia tak sadar sudah memandang penuh minat pada Aglian membuat Aglian jengah sendiri karena apa yang dikatakannya tidak didengar sama sekali.


'Ya Alloooh, cakep pisan euy! Udah punya pacar belum kak? Kalo belum Eneng mau.'


"Mbak ... halo mbak ... halo halo halo ..." panggil Aglian berulang kali. 'Ni orang budek kali ya, dipanggil-panggil malah senyum-senyum sendiri. Udah kayak orang stres.'


"Mbakkkk ..." sergah Aglian dengan intonasi naik satu oktaf. Bahkan matanya sudah melotot. Andai sinar laser bisa keluar dari bola mata itu, pasti karyawan apotek itu sudah terbakar habis.


"Eh iya tuan, ada apa tuan, maaf." karyawan apotek itu tampak gelagapan saat sudah sadar dari lamunannya.


Aglian yang mendengus kesal , "Saya minta alat test kehamilan yang terbaik dari toko ini sebanyak 3 buah. Sekarang!" tegas Aglian dengan sorot mata tajam.


"I ... i-iya tuan I ... ini testpack nya." ujar karyawan apotek itu dengan tubuh gemetaran. Peluh terlihat jelas mengalir dari sela-sela rambutnya.


'Ini semua gara-gara kamu mata, nggak bisa liat cowok cakep dikit udah kepincut.'


"Berapa totalnya?" tanya Aglian seraya mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Seratus empat puluh empat ribu rupiah, tuan." ujar karyawan wanita itu seraya tertunduk malu.


'Beli testpack, berarti udah punya bini dong! Eh bisa juga pacar. Taulah orang-orang zaman sekarang. Aish, kok ghibah sendiri sih!'


"Ini." Aglian menyerahkan 2 lembar uang seratus ribuan ke karyawan wanita itu.


Lalu Aglian segera membalik badan, keluar dari apotek itu.


"Tuan, kembaliannya!" pekik karyawan wanita tadi.


Aglian hanya melambaikan tangan tanpa menoleh apalagi membalikkan badan.


'Wah, apa hari ini hari keberuntungan ku ya! Udah bisa liat cowok super cakep, dapat duit lebihan juga. Lumayan buat makan bakso mang Jojo.' karyawan wanita itu tertawa bahagia.


"Kok lama, Mas?" tanya Luna dengan mata memicing.


"Karyawan wanitanya ganjen. Bukannya meladeni pembeli, malah senyam senyum nggak jelas." sahut Aglian seraya memasang seatbeltnya.


"Alah, palingan Mas nya aja yang kepedean." Luna mendelik.

__ADS_1


"Harus dong Mas PD. Cowok mana coba yang nggak PD kalau semuanya ia miliki, tampan iya, gagah iya, keren iya, mapan juga iya." sahut Aglian santai sambil melirik wajah Luna yang tampak cemberut. Pura-pura nggak dengar.


'Kayaknya masih marah tapi marah kenapa ya? Masalah sama Safa tadi kan udah kelar tapi kok masih cemberut.' Aglian takut marahnya Luna belum kelar. Bisa terganggu dong kesejahteraan belalainya. Bisa-bisa, bukan hanya pintu kehangatannya saja yang ditutup, tapi juga pintu kamarnya.


Tak lama kemudian, mobil yang membawa Aglian dan Luna telah tiba di rumah. Dengan wajah datar, Luna turun tanpa menghiraukan Aglian. Aglian hanya bisa menghela nafas panjang karena masih bingung salahnya apa dan yang mana.


Baru saja Aglian memasuki pintu kamarnya, Luna sudah berdiri sembari berkacak pinggang menghadap dirinya. Aglian mengerutkan keningnya.


"Sweetheart, ke ..."


"Sini, ikut Nana!" titah Luna memotong kata-kata Aglian membuat Aglian menelan salivanya sendiri dengan mata melotot.


Dengan patuh, Aglian mengikuti langkah kaki istri kecilnya itu yang ternyata menuju kamar mandi. Saat telah berdiri di kamar mandi, Luna mengambil dompet dan ponsel yang terselip di dalam saku jasnya. Setelah itu, tanpa aba-aba, Luna menyalakan shower membuat Aglian terkejut karena disiram padahal ia masih memakai pakaian lengkap.


"Sayang, kamu kenapa hm, kok Mas disiram gini?" tanya Aglian penasaran. "Oh, mas tau, kamu udah nggak sabar lagi pingin mandi berdua sama Mas, ya? Oke, tapi seharusnya kamu kasi tau dulu, Mas masih berpakaian lengkap kayak gini." sambungnya lagi.


Lalu dengan santainya, Luna berlalu dari hadapan Aglian lalu menutup pintu, meninggalkan Aglian mandi sendiri di kamar mandi.


"Sweetheart, kok Mas ditinggal sih? Sayang ... nggak jadi mandi barengnya?" teriak Aglian dari dalam kamar mandi.


krik ... krik ...


Tak ada sahutan membuat Aglian kalang kabut, bingung memikirkan ada apa gerangan.


Malam harinya,


"Sweetheart, kamu kenapa sih kok diam melulu? Terus tadi kok kamu nyiram mas pakai shower, kirain kamu mau ajak mas mandi bareng, taunya kamu malah molor." protes Aglian sambil menjepit hidung Luna.


"Mas belum nyadar salah mas dimana,?" tanya Luna dan Aglian menggeleng.


Luna menghela nafas, lalu menjelaskannya.


"Nana nyiram Mas kayak gitu soalnya badan mas udah terkontaminasi sama pelukan Safa. Nana nggak suka apalagi sampai aroma parfumnya lengket banget di baju Mas." Luna cemberut saat mengingatnya. "Terus tuh tangan Mas juga tadi kayaknya anteng banget elus-elus punggung si Safa itu. Nggak inget? Atau Mas pikir Nana nggak liat? Gimana kalau gantian, Nana minta elus-elus sama cowok lain, boleh nggak? Biar adil." cecar Luna dengan tatapan tajamnya.


Aglian membeliakan matanya, "Sebelum orang itu menyentuhkan tangannya ke tubuh kamu, akan mas patahin duluan tangannya." tegas Aglian. Namun setelahnya, baru ia menyadari kesalahannya, "Astaga, jadi kamu marah karena itu sweetheart. I'm so sorry my sweetheart, Mas nggak sengaja. Kan yang peluk bukan Mas, terus itu bukan elus-elus sayang, cuma usap aja waktu Safa nangis. Nggak tega aja, kan mas udah kenal dia dari kecil. Mas kenal sama Safa karena mama dulu sering bawa Mas ke butik Tante Amel jadi kami dekat. Tapi sumpah deh, sayang, mas nggak ada niat apa-apa apalagi perasaan apapun, selain menganggap Safa kayak adik sendiri." ujar Aglian menjelaskan. "Sekarang, kamu udah maafin mas kan, sweetheart?"


Luna mengangguk lalu tersenyum.


"Jadi jatah malam Jumat nya masih boleh kan? Belalainya udah kedinginan dari tadi lho! Nana harus tanggung jawab." ujar Aglian dengan nada menggoda.


"Dasar mes*m." ujar Luna sambil terkekeh.

__ADS_1


"Mes*m sama istri sendiri nggak papa, yang salah itu mes*m sama perempuan lain apalagi istri orang." sahutnya sambil terkekeh lalu Aglian mencuri satu ciuman di bibir Luna. "Na, belalainya udah nggak sabar masuk ke dalam rumahnya, boleh kan!"


Belum sempat Luna menjawab, Aglian telah lebih dulu membungkam bibir Luna dengan bibirnya lalu terjadilah yang seharusnya malam Jumat kemarin terjadi karena malam ini sudah malam Minggu.


Di kediaman Safa,


"Nak, jujur sama mama kamu seriusan yang bilang mau jadi kedua tadi atau emang bener-bener prank?" tanya Amel.


Lalu Safa merebahkan kepalanya di pangkuan Amel, "Safa cuma mau mengetest mereka aja kok ma. Malu atuh kalo Safa jadi pelakor. Jujur nih ya Ma, tapi hanya mama yang boleh tau, jangan kasi tau yang lain!" ucap Safa dan Amel mengangguk, "Safa sebenarnya emang masih suka sama kak Lian tapi bukankah cinta nggak bisa dipaksakan! Apalagi emang Safa udah nggak punya kesempatan apa-apa. Safa nggak pernah ada dalam hati kak Lian, jadi nggak ada yang bisa Safa perjuangkan." jelas Safa. Amel pun mengusap kepala Safa dengan sayang.


"Kamu benar nak, mama mendukung apapun keputusan mu asal itu tidak di jalan yang salah. Tentang siapa yang mau Lian kenalkan besok, jangan dipaksakan ya! Kalau cocok Alhamdulillah, kalau nggak pokoknya jangan kamu paksakan. Mama hanya ingin melihat kamu bahagia, sayang." peringat Amel.


"Makasih, ma. Sayang mama." ucap Safa manja seraya membenamkan wajahnya di perut Amel.


Pagi hari, tampak Aglian berdiri di ambang pintu kamar mandi. Ia sudah seperti setrika, mondar mandir tiada henti. Kedua tangannya saling meremas, seakan sudah tidak sabar menanti kabar gembira dari perempuan yang sudah masuk ke kamar mandi sejak 5 menit yang lalu.


"Astaga, 5 menit aja kok kayak lama banget!" gumam Aglian.


Aglian lantas menempelkan telinganya di pintu kamar mandi, "Sweetheart, gi ..."


Cekrek ...


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, Aglian dapat menangkap ekspresi murung sang istri. Lalu ia pun segera memeluknya dengan erat.


"Udah, sabar ya sayang! Mungkin ini belum rejeki kita." bisik Aglian pelan di telinga Luna. Tapi Luna malah terkekeh geli di pelukannya membuat Aglian merasa bingung.


"Mas, liat nih!"


Lalu Luna menunjukkan 3 buah testpack dan ketiganya menunjukkan 2 garis merah.


Wajah Aglian sontak berbinar cerah.


"Sweetheart, kamu ...." Mata Aglian tampak berkaca-kaca.


Lalu ia pun segera menghujani wajah Luna dengan ciuman mesra, dari mata, kening, hidung, pipi , dan terakhir bibir.


"Terima kasih sayang. Terima kasih calon, mami. I Love You. Cup ..."


"Love you too, calon papi."


...***...

__ADS_1


...Happy Reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2