
Hari makin sore, jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 5 sore, namun Anggi masih berada di rumah Adam. Ia belum pulang karena Diwangga belum juga menjemputnya.
Terdengar suara deru mobil, tapi Anggi tahu itu bukan suara mobil suaminya jadi Ia tetap berdiam diri di sofa sambil berchat ria di grup WhatsApp yang beranggotakan ia dan adik-adiknya. Begitulah cara Anggi mengisi waktu luangnya. Ia memang gemar berkirim pesan dan bersenda gurau dengan adik-adiknya untuk menghilangkan jenuh.
"Anggi " seru Adam tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bahkan Adam sampai mengucek matanya berkali-kali , ia pikir ia sedang berhalusinasi melihat Anggi sedang duduk di sofa rumahnya.
"Kamu nggak mimpi, ini emang aku, Anggi. Kenapa? Nggak boleh aku kemari?" ketus Anggi saat melihat tingkah Adam yang seolah melihat hantu.
"Eh, jadi aku nggak salah liat? Kamu beneran Anggi?" tanya Adam lagi mencoba meyakinkan.
Anggi memutar bola matanya jengah. Ia memang sudah memaafkan Adam tapi namanya rasa sakit itu, takkan begitu saja mudah hilang. Walaupun ia tak lagi mencintai mantan suaminya itu, tapi tetap saja ada rasa perih setiap melihat wajah orang yang pernah sangat ia cintai itu yang sekaligus paling berperan dalam menggoreskan luka di hatinya.
"Iya pak Adam yang terhormat." jawab Anggi jengah membuat Adam salah tingkah hingga tangannya tanpa sadar menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Eh mas Adam, baru pulang?" tanya Sulis saat keluar dari kamarnya. Ia tadi permisi meninggalkan Anggi untuk pergi mandi.
"Eh, iya Lis." jawab Adam singkat.
Saat melihat tingkah Adam yang nampak curi-curi pandang ke Anggi dengan kening berkerut-kerut, Sulis paham pasti kakaknya itu penasaran kenapa Anggi ada di rumahnya.
"Mama tadi kepingin banget ketemu sama Anggi jadi aku temuin dia di kantornya terus langsung ke sini. Anggi belum pulang karena menunggu suaminya mau jemput." jelas Sulis membuat Adam menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Itu ... benar Nggi?" tanya Adam yang tak yakin. Wajar saja ia tak yakin, ia sadar bagaimana sakitnya hati mantan istrinya itu karena sikap sang mama. Apa mungkin ia bisa memaafkan secepat itu? Ah, dia lupa, ini adalah Anggi. Wanita berhati malaikat yang tak pernah menyimpan dendam. Bahkan dirinya saja yang telah sangat banyak menggoreskan luka di hati perempuan itu, bisa ia maafkan.
"Hmmm ... " Anggi hanya menjawab dengan dehaman membuat Adam tersenyum miris. Mantan istrinya memang sudah memaafkan dirinya, tapi sepertinya luka yang telah ia goreskan belum benar-benar sembuh. Adam hanya berharap seiring bergantinya waktu, mantan istri terindahnya itu dapat menghapus luka yang pernah ia torehkan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, suara deru mobil yang sangat dihafal Anggi terdengar di halaman rumah Adam. Seulas senyum terukir indah di bibir Anggi saat menyadari kedatangan suaminya. Namun tanpa ia sadari, seulas senyum manis itu juga telah menggetarkan hati Adam yang masih setia berdiri di tempatnya. Kini ia menyadari, Anggi telah benar-benar melupakan cinta yang pernah ada untuk dirinya dan berpaling pada Diwangga yang memang lebih segala-galanya dari dirinya. Adam mengumpati dirinya sendiri karena telah menyia-nyiakan wanita sesempurna Anggi .
'Ayo Dam, ikhlasin Anggi! Dia berhak hidup bahagia.' batin Adam nelangsa sendiri.
Anggi segera keluar dari ruang tamu untuk melihat kedatangan suaminya. Anggi segera mengangsurkan dengannya untuk mencium tangan Diwangga dan semua itu tak luput dari pandangan mata Adam yang hanya bisa tersenyum miris menertawakan nasib dirinya. Nasib buruk yang tercipta karena ulah bodoh dirinya sendiri.
"Maaf sayang, mas kelamaan ya jemputnya?" tanya Diwangga seraya mengusap puncak kepala Anggi yang tertutup hijab.
"Iya nih. Mas kemana sih, kok lama banget?" tanya Anggi seraya mengerucutkan bibirnya.
Diwangga terkekeh melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
"Maaf, nanti pasti mas ceritain kok. Yang penting kita pulang dulu, yuk!" ajak Diwangga.
Anggi mengangguk. "Tapi Anggi pamit sama Bu Tatik dulu, ya mas!" izin Anggi dan Diwangga mempersilakan.
Setelah Anggi berpamitan dengan Bu Tatik dan Sulis, Anggi pun berlalu dari rumah itu tanpa melihat Adam yang terus menatapnya sendu.
.
.
.
Anggi sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. Namun tiba-tiba ia mengingat pembicaraannya dengan Sulis saat makan rujak bersama.
__ADS_1
"Kamu kayaknya suka banget, Nggi. Biasanya kamu nggak suka makan yang asem-asem kayak gini. Aku jadi ingat saat kamu hamil Damar." ujar Sulis sambil terkekeh mengenang saat Anggi hamil Damar. Saat itu, Anggi dan Adam masih tinggal di rumah orang tua mereka. Jadi ia bisa mengingat dengan jelas masa-masa mengidam Anggi. Anggi yang tak suka memakan buah-buahan yang rasanya asam, jadi sangat suka memakannya. Bahkan 1 piring mangga muda bisa tandas tak bersisa hanya dalam hitungan menit.
Anggi menghentikan sejenak acara makan rujak mangga mentahnya. Ia nampak berfikir, kapan ia terakhir datang bulan. Karena jadwalnya memang tidak teratur, Anggi jadi tak dapat mengingatnya dengan jelas .
Anggi hanya menanggapi perkataan Sulis dengan seulas senyum.
"Mas." panggil Anggi tiba-tiba membuat Diwangga menoleh seketika.
"Ada apa, sayang? Kamu pingin sesuatu?" tanya Diwangga.
Anggi tampak menggigit bibirnya membuat Diwangga mengerutkan keningnya.
"Bisa kita mampir ke apotek sebentar, mas!"
"Kamu sakit, sayang? " tanya Diwangga cemas.
"Nggak sih, cuma masih agak pusing jadi Anggi mau beli obat sebentar."
"Obat apa? Biar mas aja yang turun." tawar Diwangga.
"Eh, nggak usah mas, Anggi bisa sendiri kok." ucapnya gugup membuat Diwangga sedikit heran namun, ia tetap mengizinkannya. Mungkin ada sesuatu yang mau Anggi beli tapi malu menyebutkannya di depannya, pikir Diwangga.
Selesai mampir ke apotek, Diwangga kembali ke melajukan mobilnya ke rumah.
Malam kian larut, semua penghuni rumah kecuali Anggi dan Diwangga telah larut dalam tidur lelapnya. Seperti biasa, sepasang suami istri itu menyempatkan diri sekedar pillow talk untuk berbagi cerita seputar kegiatan yang mereka habiskan di luar. Tujuannya agar terjalin komunikasi yang baik. Tentu semua diceritakan secara jujur tanpa ada satupun yang ditutupi.
__ADS_1
Seperti janjinya, Diwangga pun menceritakan apa yang terjadi sore itu , mengapa ada wanita yang bertukar pakaian dengannya. Ternyata itu tujuannya untuk mengelabui Carlos yang sudah mengintai Anggi sejak di basemen Angkasa Mall. Anggi pun sangat terkejut. Ia tak menyangka, dalang penculikan dirinya saat balita muncul kembali dan hendak kembali mencelakainya. Dan Anggi lebih terkejut lagi tatkala Diwangga mengatakan ternyata Lea adalah putri Carlos. Lea bahkan ikut andil dalam kejahatan kali ini. Anggi benar-benar tak menyangka, dendam bisa membutakan mata hati dan pikiran seseorang. Bagaimana kalau mereka mengalami apa yang ia alami selama ini, pasti mereka akan lebih mendendam lagi. Mereka tak berpikir, siapakah yang seharusnya mendendam dan marah saat ini? Di saat dirinya masih balita, seharusnya ia mendapat limpahan kasih sayang orang tua, justru ia harus terpisah. Bukan satu, dua, tiga, atau lima tahun ia terpisah dengan keluarganya, tapi 23 tahun. Dan setelahnya, ia kembali harus menderita karena perlakuan tidak adil keluarga mantan suaminya hanya karena ia penghuni panti dan tak jelas asal usulnya. Bagaimana kalau Lea yang mengalami hal itu? Apa mungkin ia bisa memaafkan seperti dirinya yang memaafkan setiap orang yang pernah menyakitinya? Anggi akui , tak semua orang mampu memaafkan. Ia pun manusia yang tak sempurna, sakit itu pasti, tapi apakah dengan mendendam hidupmu akan bahagia? Tidak. Justru mencoba ikhlas itu lebih menyenangkan. Namun bukan berarti memaafkan, bisa kembali bersama. Memaafkan baginya mencoba menerima dengan lapang dada apa yang telah terjadi sebagai ujian dari Allah SWT. Tapi tidak dengan kembali bersama. Karena bagi Anggi, apa yang telah dibuang, takkan ia pungut lagi. Semua telah memiliki tempatnya masing-masing.