
Menjadi seorang ibu adalah impian hampir seluruh wanita di dunia. Dan momen melahirkan adalah momen yang paling dinantikan oleh setiap calon ibu di dunia. Mau proses melahirkan secara caesar maupun normal, tentu semua memiliki sensasi tersendiri. Jangan mengatakan Anda baru menjadi seorang ibu sesungguhnya bila melahirkan secara normal, sebab setiap orang memiliki alasan. Toh tidak ada yang ingin melahirkan dengan risiko, bukan . Terlebih pada calon buah hatinya. Tak jarang, seorang ibu lebih mengutamakan keselamatan calon buah hatinya, dibandingkan dirinya sendiri. Seorang ibu bahkan rela berkorban nyawa demi sang buah hati tercinta.
Peluk hangat untuk semua ibu di dunia. 🤗
Detik demi detik telah berganti, bahkan sudah hampir 24 jam Diwangga masih terpaku menatap wajah pucat Anggi. Sesekali matanya melirik layar monitor di sana, untuk memastikan detak jantung sang istri masih berjalan normal. Sepertinya Anggi masih begitu betah terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Namun, Diwangga akan tetap setia menanti dan akan terus menanti hingga sang pujaan hati kembali menatap dunia.
Triple baby Anggi dan Diwangga pun sepertinya sangat mengerti bagaimana kondisi sang bunda saat ini. Sejak di adzankan , mereka tampak betah tertidur di dalam inkubator. Berat badan mereka yang sedikit lebih rendah dibandingkan bayi lainnya membuat mereka harus masuk ke tabung khusus itu agar kondisi fisik mereka lekas stabil. Kehangatan di dalam tabung itu juga diatur sedemikian rupa, membuat mereka tertidur begitu lelap. Mungkin mereka merasa masih berada di dalam kandungan bundanya karena itu mereka merasa begitu tenang dan damai, tapi tidak dengan pikiran ayah mereka.
Dengan menggenggam tangan Anggi, tak henti-hentinya Diwangga melafazkan doa dan dzikir, memohon Sang Penguasa Kehidupan agar memberikan kesempatan hidup kedua untuk sang istri tercinta.
"Ngga, kamu makan dulu ya! Udah seharian lho kamu belum makan. Ingat, tanggung jawabmu itu bukan hanya pada Anggi tapi juga pada anak-anak kalian. Kalau kamu tidak makan, bagaimana kamu bisa menjaga anak-anak kamu. Kalau Anggi tau kamu sampai tidak makan kayak gini karena nungguin dia, pasti dia akan sedih. Kamu nggak mau kan buat Anggi sedih?" bujuk Sofi sambil mengusap pucuk kepala Diwangga.
Sofi sengaja datang kembali ke rumah sakit di saat sudah hampir dini hari begini setelah mendapat kabar kalau putranya itu tak kunjung makan selama di rumah sakit. Tentu sebagai seorang ibu , ia merasa khawatir. Ia pun sebenarnya begitu sedih melihat kondisi sang menantu, tapi ia mencoba tuk kuat di hadapan putranya yang tengah rapuh. Untuk pertama kalinya, Sofi melihat putra tunggalnya itu terlihat sangat rapuh. Bahkan begitu rapuh. Ia sangat tau, betapa sang putra mencintai Anggi dengan segenap jiwa dan raganya. Hal itulah yang membuatnya kian terpuruk. Bahkan sepanjang usia Diwangga dari beranjak remaja hingga dewasa, baru kali ini ia melihat air mata tumpah dari pelupuk mata putranya itu. Dari air mata itu, Sofi dapat menyimpulkan arti seorang Anggi bagi Diwangga.
"Kamu mau kan makan?" tawar Sofi pada putranya.
Diwangga terdiam sejenak kemudian mengangguk.
Sofi menepuk pundak Diwangga, menyalurkan ketenangan.
__ADS_1
"Bersabarlah, mama yakin, Anggi akan segera sadar. Anggi wanita sekaligus ibu yang kuat. Ia pasti akan berjuang demi anak-anaknya. " ujar Sofi lalu ia pun segera menyiapkan makan yang tidak bisa lagi dikatakan makan malam karena waktu sudah menunjukkan dini hari.
Setelah makanan terhidang, Sofi pun meminta Diwangga segera makan. Seakan tidak rela, Diwangga pun segera melepas genggaman tangannya dan segera duduk di sofa untuk menyantap makanan yang disiapkan sang ibu.
Diwangga sekarang benar-benar sedang tak berselera makan. Tapi ia terpaksa, demi anak dan istrinya. Bahkan menelan pun, terasa sangat sulit. Tenggorokannya seakan begitu kering untuk dilalui sesendok nasi. Sofi hanya bisa menghela nafas berat, saat Diwangga hanya mampu menghabiskan sedikit sekali makanan itu. Sofi paham dan maklum, apa penyebabnya.
Keesokan harinya,
Rumah sakit tampak ramai, tapi bukan karena banyaknya pasien, tapi pengunjung dan keluarga pasien lah yang datang silih berganti. Begitu pun dengan Anggi, mungkin karena terlalu banyak yang mencintai dirinya, akibatnya, pengunjung pun membeludak. Semua orang dari teman hingga rekan kerja, bahkan yang hanya sekedar tau dengan sosok Anggi , datang berkunjung. Mereka turut bersedih dan berdoa, berharap Anggi diberikan kesehatan dan kepulihan serta segera sadarkan diri.
Mulai dari Azam dan Erika, Kentaro dan Jelita, Ratna, Stefani dan Alan, bahkan Adam dan Sulis pun ikut mengunjunginya.
Dada Adam seketika sesak saat mengingat hari-hari indah yang pernah ia lalui bersama Anggi. Saking sesaknya, sebutir air mata memaksa menerobos keluar, membobol pertahanannya. Sulis yang melihat itu pun, netranya ikut memanas , tak butuh waktu lama bulir-bulir kristal telah membasahi wajah Sulis. Tapi tangis itu kemudian berganti senyuman. Ia bahagia sebab kini Anggi ada malaikat penjaganya sendiri. Tidak seperti dirinya, yang harus berjauhan dari sang suami . Sulis teringat satu bulan yang lalu, dimana ia harus berjuang melahirkan putrinya seorang diri. Hanya Adam yang setia menemani tanpa kenal lelah. Kini mereka hanya tinggal bertiga , sebab beberapa bulan yang lalu sang ibu telah terlebih dahulu menghadap sang pencipta akibat penyakit yang telah komplikasi.
"Mas Adam, ayo kita pulang,! Kasian Sonia ditinggal lama-,lama." ujar Sulis mengajak sang kakak untuk pulang. Toh percuma berada di sana, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa demi kesembuhan Anggi, sang Dewi penolong berhati malaikat. Ia juga mengkhawatirkan putrinya yang hanya ditinggalkan dengan art milik mereka.
"Baiklah." lalu Adam berdiri kemudian ia berpamitan dengan Diwangga yang bola matanya seakan tak mau lepas dari menatap Anggi.
Selepas kepergian semua orang, Diwangga kembali meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Bangunlah sayang, mas merindukan mu. Anak-anak juga. Bangunlah sayang, mas mohon." ucapnya lirih seraya mengecup punggung tangan Anggi.
Seakan merespon, tiba-tiba jemari Anggi bergerak, membuat Diwangga terpekik kaget bercampur senang. Ia lantas segera menghubungi dokter agar segera ke ruangannya. Tak lama kemudian, dokter dan perawat pun berhambur memeriksa keadaan Anggi. Hingga tak lama kemudian, mata Anggi mulai mengerjap menyesuaikan pendar penglihatannya yang silau akibat pencahayaan di ruangan serba putih itu hingga sebuah suara mengalihkan seluruh atensinya.
"Sayang ..." panggil Diwangga lirih
Anggi menoleh, lalu seulas senyum terbit dari bibirnya. Diwangga yang melihat itu pun sontak berhambur memeluk Anggi dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
"Terima kasih, sayang telah berjuang. Terima kasih sayang telah kembali. I love Yo, more and more. We love you, so much." bisik Diwangga sambil mengecup seluruh permukaan wajah Anggi.
Anggi tersenyum melihat betapa bahagianya lelaki halalnya itu. Ia berdoa semoga selalu diberikan kesehatan dan umur yang panjang agar ia selalu dapat mendampingi suami dan anak-anaknya kelak.
"I love u too, my love." sahut Anggi seraya tersenyum membuat hati Diwangga makin membuncah bahagia.
Setelah memeriksa Anggi dan menyatakan kesehatannya yang sudah jauh lebih baik, dokter dan perawat itu pun keluar. Diwangga segera mengambil posisi di samping Anggi dan menceritakan tentang ketiga baby mereka yang bernama Arditta Ananda Yudhistira, Arletta Ananda Yudhistira, dan Arasya Putra Yudhistira. Diwangga juga sudah menghubungi semua keluarganya dan mengabarkan bahwa Anggi telah sadarkan diri. Mereka semua merasa sangat bahagia dan bersyukur, akhirnya Anggi telah melewati masa kritisnya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1