Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.156 (S2) Berkunjung ke Panti


__ADS_3

Hari ini Luna, Tita, Lia, Raju, dan Aji, minus Anggi hendak berkunjung ke panti tempat mereka dibesarkan. Memang mereka sudah mengagendakan kunjungan rutin setiap bulannya begitu pun Anggi. Namun, karena hari ini Anggi ada meeting dengan pengusaha kosmetik lokal yang sedang booming, Anggi pun tidak bisa ikut berkunjung ke rumah ke-dua nya itu.


Setibanya di panti, ke lima orang itu di sambut dengan antusias oleh anak-anak panti. Terlihat senyum dan tawa bahagia yang terukir jelas di setiap wajah anak-anak. Bagi mereka, tempat melepas penat selain jalan-jalan ya mengunjungi adik-adik mereka di panti.


"Kakak ...." pekik anak-anak panti.


"Yeay ada kakak cantik dan kakak ganteng." sambut anak-anak panti.


"Kakak kangen ..."


"Hai, sayang, kakak juga kangen kalian." ujar Tita.


"Wah, adik-adik kakak udah tambah gede aja nih! Kakak juga kangen." ujar Luna.


Luna, Tita, Lia, Raju, dan Aji pun memeluk mereka satu per satu membuat Bu Yanti tersenyum bahagia. Ternyata anak-anak asuhnya tiada yang melupakan mereka walaupun hidupnya sudah jauh lebih baik.


"Bu ... kangen." ucap Luna manja sambil memeluk Bu Yanti setelah sebelumnya memeluk adik-adiknya.


"Duh, anak gadis ibu yang tak gadis lagi, ternyata masih manja aja." ledek Bu Yanti.


"Ih, ibu, kok malah ngatain sih!" Luna cemberut kesal.


"Iya tuh Bu, udah punya lakik juga, masih mau manja-manja sama ibu." timpal Lia.


"Yeay, iri bilang bos!" sahut Luna sambil menjulurkan lidahnya.


"Hus, sana loe! Gue juga mau peluk ibuk." usir Lia pada Luna. "Bu, Lia juga kangen. Kangeeeen banget." ujar Lia yang tiba-tiba berhambur ke pelukan Bu Yanti.


"Eh eh eh, hati-hati Lia, ntar ibu jatuh!" pekik keempat orang itu bersamaan namun nahas, teriakan mereka terlambat.


brukkk ...


"Aduh, Lia, mau peluk sih peluk, tapi jangan gini dong, udah tau badan kamu lebih gede dari ibu, mana kuat ibu nahan bobot tubuh kamu." decak Bu Yanti sambil mengusap bokongnya yang sakit karena jatuh terduduk.


"Duh, maaf Bu, Lia udah terlalu kangen jadi kelepasan. hehehe ..." tukas Lia merasa bersalah.


"Lia, Lia, dari dulu loe selalu gitu. Nggak sadar sama bobot sendiri." ejek Aji. Lalu ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Bu Yanti takzim seperti yang dilakukan Tita dan Raju.


"Udah triplek, nggak perlu ceramah kalau nggak mau mulutmu dilakban." sinis Lia dengan bibir mencebik.


"Oops, jangan dong bunny, nanti aak Aji nggak bisa ngegombal lagi dong!"


Tita dan Raju hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkah ketiga orang itu yang memang kadang kurang akur tapi selalu kompak.


"Bu, ini ada titipan dari mbak Anggi katanya mohon diterima. Maaf nggak sempat kesini mbak Anggi-nya soalnya ada meeting penting." ujar Tita memberitahu pesan dari Anggi. Lalu Raju memanggil Aji untuk membantu menurunkan bahan-bahan makanan pokok dan buah-buahan untuk para penghuni panti.


"Iya nak, bilangin makasih ya sama Anggi. Bilang juga nggak papa kok, ibu ngerti kesibukan dia. Oh ya, bagaimana kabar mbak Anggi kalian sama kalian semua?" tanya Bu Yanti seraya mengajak kelima orang itu masuk.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, bu. Kandungan mbak Anggi juga sehat. Kami juga Alhamdulillah sehat." sahut Tita lembut.


"Luna, sini nak!" panggil Bu Yanti seraya menepuk sofa di sebelahnya agar Luna duduk di sana. Luna pun menuruti perintah ibu asuhnya itu.


"Iya, Bu."


"Kamu gimana keadaannya? Hubungan kamu dan suami kamu baik-baik aja, kan?" tanya Bu Yanti.


"Alhamdulillah, Bu. Kami baik-baik aja. Mas Lian kan sama kayak mbak Anggi, baiknya nggak ketulungan." ujar Luna sambil terkekeh.


"Ibu nggak nyangka lho kamu malah menikah sama saudara kembarnya Anggi. Tapi ibu seneng banget kalau kamu bahagia. Jaga diri selalu ya, sayang. Ingat, selalu waspada sama orang asing." pesan Bu Yanti dengan sorot mata serius.


"Oh, ibu, udah kayak berpesan sama anak kecil aja pake bilang waspada sama orang asing." ujar Luna sambil terkekeh.


"Ibu serius Luna. Bukan sama orang asing saja sih, orang terdekat pun kadang bisa jadi berbahaya contohnya sahabat kamu itu. Ibu Bersyukur nak Lian menyelamatkan kamu tepat waktu, kalau nggak, huh ibu nggak bisa ngebayanginnya."


"Ibu doain aja, ya. Luna yakin, doa terbaik itu doa dari seorang ibu. Walaupun ini bukan ibu kandung kami, tapi kami yakin doa ibu pasti dikabulkan karena ibu adalah sosok yang paling tulus yang pernah kami kenal." ujar Luna seraya mengusap punggung tangan Bu Yanti. Yang lain pun turut mengangguk tanda menyetujui perkataan Luna.


"Wah, ternyata putri-putri ibu bukan hanya tambah cantik, tapi juga tambah dewasa dan bijak." puji Bu Yanti.


"Lho, kok cuma putri ibu yang dipuji, kami putra ibu nggak." Aji mengomel tak terima saat hanya Luna, Tita, dan Lia saja yang dipuji.


"Emang kamu mau dipuji cantik juga gitu?" ledek Lia yang membuat semua orang terkekeh.


Setelah berbincang sebentar dengan Bu Yanti, lalu mereka menyempatkan diri bermain bersama anak-anak lainnya. Mereka menghabiskan hari itu dengan riang gembira di panti.


Di saat Luna dan yang lainnya sedang berbahagia bersama adik-adik asuh mereka, di luar pagar panti terdapat dua buah mobil yang terparkir dengan tujuan berbeda.


"Kau benar, keselamatan nona Luna ada di tangan kita. Kita harus segera memberikan laporan pada tuan Aglian agar ia bisa meningkatkan kewaspadaan." tukas rekan Reno tersebut.


Di gedung tertinggi Indomarco Coal TBK, Derian tampak terkejut dengan laporan anak buahnya. Walaupun hanya berupa foto, ia yakin siapa yang ada di dalam foto itu.


"Ternyata selama ini kau disembunyikan di dalam panti itu. Dasar sialan!" geram Derian saat melihat wajah Luna sedang bermain bersama anak-anak panti. Wajah Luna yang 90% mirip sang ayah membuat Derian langsung dapat menerka siapa Luna itu. Pun anak buahnya itu, mereka langsung mengenali Luna sebagai sosok yang mereka cari berdasarkan kemiripan wajahnya dengan foto Argadana muda.


"Awasi dan ikuti pergerakannya! Cari tau dimana ia tinggal. Jangan sampai pergerakan kalian menimbulkan kecurigaan!" titah Derian pada anak buahnya.


"Siap, bos." sahut anak buahnya yang tadi mengambil gambar Luna.


...***...


Akhir-akhir ini kesehatan Stefani sudah makin membaik. Ia sudah diizinkan menjalani rawat jalan di rumah. Tentu semua tetap dalam pengawasan dr. Alan. Sang ayah dan Stefano juga kini tinggal di apartemen Stefani. Mereka memutuskan untuk tinggal di sana agar bisa membantu merawat Stefani. Apalagi Stefano yang sudah begitu menyayangi kakaknya tersebut. Stefani memang kecewa dengan perbuatan sang ayah di masa lalu. Tapi bukankah tidak baik menyimpan dendam. Walaupun ia belum bisa bersikap hangat layaknya anak dan ayah, yang penting ia sudah mulai membuka diri. Ia juga tidak membenci adik beda ibunya itu. Apalagi dengan sikap manis sang adik yang begitu perhatian padanya membuatnya justru sangat menyayangi Stefano.


"Kakak mau minum jus?" tawar Stefano.


"Mang Fano bisa bikin jus?" tanya Stefani.


"Bisa ... kan tinggal belajar di YouTube." jawab Stefano sambil menyengir membuat lesung pipinya terlihat jelas.

__ADS_1


Stefani terkekeh karena jawaban lugu adiknya itu.


"Ya udah, Fano bisa buatin kakak jus mangga nggak?" tanya Stefani.


"Bentar ya kak, Fano lihat YouTube dulu caranya." Lalu ia mulai menggulir layar ponselnya lalu menekan tombol mic di kolom pencarian, 'cara membuat jus mangga'. Ucapnya hingga ucapan itu berubah menjadi sebuah tulisan di layar pencarian. Lalu Stefani pun meng-klik pencarian hingga muncullah banyak postingan yang menampilkan cara membuat jus mangga membuat Stefani terkekeh geli.


'Dasar anak jaman, now!' gumam Stefani dalam hati.


Saat Stefano sibuk membuatkan Stefani jus mangga, pintu apartemennya diketuk. Ternyata itu adalah dr. Alan yang seperti biasanya mengunjungi sekaligus hendak memeriksa kesehatan Stefani.


Sekalian modus juga. hehehe ...


"Hm ... udah ku duga, pasti kamu, Lan!"


"Emang kenapa? Nggak suka aku kunjungi, hm? Emang nggak kangen?" ujar dr. Alan seraya menaik turunkan alisnya.


"Apa? Kangen? Nggak tuh. Maksudnya nggak salah lagi." ujar Stefani sambil terkekeh.


"Hmm ... udah pinter ngerjain orang ya!" dr. Alan memicingkan matanya lalu menarik hidung Stefani gemas.


"Lan, emang kamu nggak capek apa datang kemari terus? Aku takut kalau kamu sering kemari, kamu malah jadi cepat bosen sama aku."


"Bosen? Justru sebaliknya, kangen terus. Malah aku pinginnya selalu temenin kamu." tukas dr. Alan dengan tersenyum manis membuat Stefani salah tingkah. "Fan, kita nikah yuk! Biar aku bisa dampingi dan menjaga kamu tanpa takut dengan batasan." ajak dr. Alan to do point'.


"Astaga ... kamu melamar aku, Lan? Nggak ada cara romantis lain apa?" Stefani tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dr. Alan menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena sadar lamaran spontan yang dia lakukan jauh dari kata romantis.


"Maaf, soalnya aku udah nggak sabar mau selalu jagain dan dampingi kamu." ujar dr. Alan membuat Stefani tersenyum lebar.


"Kalau aku sih iyessss, tapi nggak tau kata papa." sahut Stefani santai membuat dr. Alan tersenyum lebar.


"Wah, berarti tinggal minta restu om Steven aja dong!" ucapnya penuh semangat dan Stefani mengangguk.


"Udah, nggak perlu repot-repot bicara sama om, kalau om sih jawabannya samain aja sama yang dilamar, kalau katanya iyesss sih, om ngikut aja. Yang penting putri om bahagia." tukas Steven saat ia muncul tiba-tiba membuat kedua orang itu terkejut.


"Jus mangga dataaaang." pekik Stefano seraya membawa 2 gelas jus mangga. "Ini jus mangga special ala Fano, silahkan dicicipin kak." ujar Stefano seraya menyerahkan segelas jus mangga untuk Stefani.


"Wah, makasih adik kakak yang baik! Hmmm ... jusnya enak." ujar Stefani setelah menyesap jus mangga yang diberikan Stefano mengabaikan dr. Alan yang masih menunggu kepastian.


"Sama-sama kak." sahutnya.


"Fan, jadi gimana ini? Jadi aku diterima kan? Kalau iya, aku bisa segera menghubungi keluargaku untuk melamarmu secara resmi."


"Kan tadi aku udah bilang iyesss, lalu papa juga gitu, mau jawaban apa lagi?" pungkas Stefani seraya menaikkan alisnya.


"Yes, Alhamdulillah. Makasih ya Fan, makasih ya Om, Alan akan segera mengajak orang tua Alan kemari. Kalau gitu, Alan permisi dulu, Om. Bye calon istri." ucap dr. Alan bahagia sambil memberi kecupan di udara kepada Stefani membuat semburat merah di pipinya.

__ADS_1


...***...


...Happy Reading 🥰😘😘...


__ADS_2