
Dengan tergesa, Kentaro mulai mengemudikan mobilnya secepat mungkin menuju apartemen miliknya. Ia tak mau membuang waktu, lebih cepat lebih baik, lebih cepat pula ia bisa memiliki Luna.
Akal sehat Kentaro kini sudah tak berfungsi lagi. Yang ada dipikirannya hanya bagaimana cara memiliki Luna secepatnya, istilahnya jalan pintas. Ia tak memikirkan apa konsekuensi dari perbuatannya. Begitulah bila seseorang mengutamakan n*fsu dari pada akal sehat.
Mobil Kentaro tengah membelah jalanan dengan begitu kencang, khawatir efek obat tidur yang ia masukkan ke dalam jus alpukat Luna menghilang sehingga menggagalkan niat busuknya. Ia merasa beruntung, malam itu jalanan cukup lengang sehingga ia tak perlu bermacet ria menuju apartemennya.
Mobil Kentaro kini telah memasuki lobi apartemen miliknya. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar, Kentaro segera keluar dari mobil dan membopong tubuh Luna yang masih belum sadarkan diri.
Apartemen Kentaro berada di lantai 7, sehingga ia harus naik ke atas dengan lift. Di dalam lift, tidak hanya ada dia sendiri, tetapi juga ada 2 orang lain yang mungkin merupakan penghuni apartemen lain. Kentaro tak mempedulikannya, ia juga tak memikirkan pendapat mereka saat melihatnya membopong tubuh seorang perempuan yang tengah tak sadarkan diri. Yang ada dipikirannya hanya ingin segera masuk ke kamarnya lalu membaringkan tubuh Luna di tempat tidurnya, membuka satu persatu baju mereka, lalu menikmati setiap inci tubuh gadis yang sudah lama disukainya itu.
Ting ...
Suara denting lift telah tiba di lantai tujuan, segera ia keluar dari ruangan berbentuk kotak itu dan berjalan menuju apartemennya. Setelah berada tepat di depan pintu apartemennya, Kentaro segera menempelkan jarinya di finger machine yang ada di depan pintu hingga terdengar suara klik tanda pintu telah terbuka.
Gegas ia masuk ke ruangan itu lalu menutup pintu menggunakan kakinya. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Segera Kentaro membaringkan tubuh Luna. Seulas senyum tercipta saat ia sedang menikmati wajah cantik Luna membuat tubuhnya seketika memanas. Tak mau membuang waktu, ia mulai membuka satu persatu baju yang melekat di tubuhnya dan melemparnya sembarangan hingga hanya meninggalkan penutup senjatanya saja.
Kentaro segera naik ke atas ranjang untuk mengungkung tubuh Luna yang sedang tak berdaya. Baru saja ia hendak mendekatkan wajahnya pada wajah Luna, tiba-tiba perutnya bergejolak hebat. Kentaro segera duduk untuk menetralisir gejolak di perutnya. Tapi bukannya berkurang, gejolak itu malah makin menjadi-jadi. Tak tahan dengan gejolak perutnya yang seperti ingin segera meledakkan laharnya, ia segera berlari menuju kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya.
Huek ... huek ... huek ...
Kentaro berupaya memuntahkan isi perutnya tapi ternyata yang keluar bukannya isi perut, melainkan cairan bening. Membuat Kentaro bingung, apa mungkin ia sakit magh. Tapi ia menampik dugaan itu sebab ia tak memiliki riwayat sakit magh. Lagi, lagi, dan lagi, perutnya seakan dikocok-kocok membuatnya yang baru saja hendak keluar dari kamar mandi, kembali memuntahkan isi perutnya di wastafel. Setelah merasa lebih baik, ia segera membasuh mulutnya dan berkumur. Ia pun kembali berpikir, mungkinkah ia salah makan hari ini, namun apa yang ia makan tak ada yang aneh.
"Akh, udahlah, itu urusan nanti! Yang penting sekarang urusan gue sama Luna." gumam Kentaro.
Gegas dengan tubuh yang hanya tertutupi bagian senjatanya saja, ia kembali merangkak ke atas tubuh Luna. Lalu ia mulai membuka satu persatu kancing baju yang dikenakan oleh Luna, tapi belum selesai aksinya itu, sebuah dobrakan terdengar dari arah pintu membuatnya membelalakkan mata seketika.
Brakkk ...
__ADS_1
"Bangs*t!!!" murka seseorang yang baru saja membuka pintu apartemennya secara paksa diikuti beberapa pria berbadan kekar dan pihak keamanan.
Tiba-tiba nafas Kentaro tercekat, tenggorokannya seakan tersumbat biji salak hingga kesulitan menelan salivanya sendiri.
Tak dapat mengontrol emosi yang telah mencapai ubun-ubun, pria itu pun segera menghantamkan tinjunya ke wajah Kentaro.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ...
Tak puas menggunakan bogem mentah ya, pria itu juga menerjang Kentaro tepat di ulu hati membuat Kentaro tersungkur bahkan memuntahkan darah di sela batuknya.
Dengan gerakan matanya, pria itu memerintahkan para pengawalnya menahan Kentaro yang sudah terkulai lemas. Wajah pria itu tampak makin memerah karena amarahnya. Sepertinya emosinya telah mencapai titik didih tertinggi apalagi saat melihat beberapa kancing baju Luna terbuka membuat dua aset kembar Luna sedikit mengintip dari dalam cangkangnya. Pria menarik nafas panjang untuk menetralkan gemuruh dalam dadanya. Setelah itu, ia segera mendekati Luna yang matanya mulai mengerjap. Dengan cepat, pria itu pun menarik tubuh Luna untuk didekapnya.
Gemuruh dalam dadanya sepertinya belum juga reda. Ia mengumpat dalam hati, bagaimana bila ia terlambat sebentar saja? Bagaimana bila ia tidak mengirim orang untuk menjaga dan mengawasi Luna? Pikirannya sungguh berkecamuk. Jantungnya berdentam hebat hingga membuat tubuhnya bergetar. Ia tak dapat membayangkan bagaimana jadinya.
"Mas Lian ... Kok ada Mas Lian di sini?" tanya Luna seraya merenggangkan pelukan Aglian.
Luna mengedarkan pandangannya ke sekeliling, matanya membelalak saat netranya bersirobok dengan netra sayu Kentaro.
"Kentang, lho, kamu kenapa?" tanya Luna panik saat melihat wajah babak belur Kentaro. Baru saja Luna hendak beranjak dari tempat tidur menuju Kentaro, Aglian menghentikan langkahnya.
"Kenapa Mas?" tanya Luna heran.
Aglian berbisik tepat di telinga Luna. "Pasang dulu kancing baju kamu. Kamu nggak mau kan si kembar putih mulus itu di liatin orang-orang di sana."
Luna yang masih linglung segera melirik kancing bajunya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, kok bisa?" tanya Luna dengan mata melotot ke arah Aglian.
"Tanya aja sama sahabat bajingan kamu itu." ucap Aglian sambil melirik Kentaro dengan sorot mata tajam.
"Maksudnya? Oh iya, ini dimana? Kenapa Luna di sini? Sebenarnya ini ada apa sih? Tadi seingat Luna, Luna kan sedang ..." ucapannya terhenti dengan sorot mata beralih ke Kentaro membuat wajah Kentaro memucat.
'Habislah gue! Pasti Luna bakal benci sama gue.'
"Mas, bisa tolong jelasin!" tanya Luna dengan sorot mata tajam ke arah Kentaro.
"Dia udah kasih kamu obat tidur melalui minuman kamu dan membawa kamu kesini untuk di ... Kamu pasti tau kelanjutannya kan, Na?" jeda Aglian. "Beruntung anak buah Mas mengikuti kalian trus telepon Mas ngasi tau apa yang dia lakuin dan Mas pun segera ke sini , nyelamatin kamu."
"Dia udah ngapain Luna apa aja, Mas?" tanya Luna dengan nafas tercekat. Ia khawatir, orang yang sebentar lagi jadi mantan sahabatnya ini telah melakukan sesuatu yang tak ia inginkan.
"Mas nggak tau Na, cuma ya seperti tadi, kancing baju kamu udah sempat dia buka. Tapi kayaknya, dia belum sampai ke arah itu." ujar Aglian pelan. Ia tak mau membuat Luna makin terpukul.
Tanpa sadar, air mata mengalir dari pelupuk mata Luna. Ia tak menyangka, orang yang ia anggap sahabat akan berbuat sekeji itu padanya. Ia tak menyangka, orang yang ia anggap sahabat berniat menodainya. Apakah pria itu dendam karena penolakannya? Tapi hal tersebut tak dibenarkan untuk dijadikan alasan. Ia marah. Ia kecewa.
"Benar apa yang Mas Lian katakan, Ken?" tanya Luna dengan suara sarat emosi. Ia bahkan tak menyebut nama panggilan seperti biasanya.
"Maaf Lun, maafin gue, gue khilaf. Please, maafin gue. Jangan marah sama gue! Jangan benci gue!" ucapnya pelan sambil meringis menahan sakit.
"Gue nggak nyangka, ternyata loe bajing*n. Gue nggak nyangka ternyata gue bersahabat sama seorang brengs*k seperti loe! Gue benci sama loe, Ken. Gue jijik sama loe. Gue ... gue ... hiks ... hiks ..." Luna meraung sambil memukul-mukul dadanya karena sesak. Ia tak menyangka, benar-benar tak menyangka, sahabatnya ternyata seorang bajing*n.
Aglian yang tega melihat kesedihan Luna, segera mendekap tubuhnya dan mengusap punggungnya untuk menenangkan.
"Pulang sama Mas, ya!" ajak Aglian dan Luna mengangguk.
"Lun ..." panggil Kentaro lirih tapi Luna tak mengacuhkannya. Ia sudah terlanjur kecewa.
__ADS_1
"Bawa bajing*n tengik ini ke kantor polisi segera. Jangan biarkan dia bisa bebas dengan mudah!" titah Aglian pada anak buahnya.