Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.108 (S2) Story' of Stefani


__ADS_3

Stefani membuka pintu apartemennya lalu menutupnya dengan keras. Ia lempar sembarangan tasnya dan segera menghempaskan tubuh ringkihnya di kasur lalu ia pun menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa Tuhan? Kenapa harus aku? Apakah aku tak berhak bahagia? Aku pun ingin bahagia Tuhan." raungnya sambil mencengkram sisi bantal. Membenamkan wajahnya hingga air matanya membasahi bantal.


Hampir 2 jam Stefani meraung sendirian meratapi nasibnya. Ayahnya menduakan ibunya setelah mengetahui ibunya menderita sakit kanker darah, dan karena depresi, ibunya pun pergi tuk selamanya 3 tahun yang lalu. Lalu kini, ntah kapan dimulai, penyakit yang sama tumbuh subur di dalam tubuhnya. Sudah hampir satu tahun ia mengetahuinya dan selama 1 tahun itu juga diam-diam ia menjalani pengobatan. Namun karena pengobatannya yang tidak teratur, penyakit itu bukannya pergi, malah makin menjadi. Hingga membuatnya di titik ingin menyerah.


Kehadiran Aglian adalah kebahagiaan bagi Stefani. Ia selalu menjaga, melindunginya, dan menjadi sandarannya dalam hal apapun semenjak kuliah. Aglian bagaikan malaikat tak bersayap bagi Stefani. Awalnya mereka hanya sahabat, tapi lama kelamaan rasa itu tumbuh, ntah siapa dan kapan dimulai, semua orang tahunya mereka adalah pasangan kekasih karena mereka tak pernah terpisahkan.


Stefani sejak dulu kerap dibully. Alasannya satu, hanya karena gadis-gadis itu iri , lelaki pujaan mereka hampir semua menyukai Stefani. Stefani memang memiliki kecantikan di atas rata-rata. Dia juga gadis yang baik hati jadi lelaki bodoh mana yang takkan tertarik. Hingga suatu saat, kedatangan Aglian yang merupakan mahasiswa pindahan yang super tampan dan anak pengusaha ternama menggempar seisi kampus.


Seperti biasa, lagi-lagi Stefani dibully. Bahkan ia sampai disiram air kotor hingga membuat bajunya basah. Aglian yang melihat kejadian itu tepat di depan matanya emosi. Ia segera melepaskan cardigan coklat yang membalut tubuhnya hingga hanya meninggalkan kaos putih yang menutupi tubuh sixpack-nya lalu membalutkannya di tubuh Stefani. Para pembully hendak kabur hingga hardikan Aglian menghentikan langkah mereka.


"Segera minta maaf dan berjanji takkan mengulanginya lagi atau saya buat orang tua kalian menyesal memiliki putri seperti kalian karena berkat kalian usaha mereka hancur lebur! Cepat!!!"


Tubuh para mahasiswi itu bergetar hebat. Mereka tak menyangka, di balik sifat ramah Aglian, terdapat sifat keras , tegas , dan mengintimidasi.


Perlahan mereka membalik tubuhnya dan meminta maaf bahkan sampai ada yang bersujud pada Stefani. Stefani gadis yang baik. Ia pun segera memaafkan gadis-gadis nakal itu . Dan sejak hari itulah, Aglian menjadi sahabat Stefani dan setelah lulus kuliah barulah mereka menyatakan bahwa mereka pasangan kekasih, mengikuti apa yang selama ini orang-orang katakan. Jadi dalam hubungan mereka tak ada istilah katakan cinta. Mereka hanya mengikuti alur. Hingga seiring bergantinya waktu, mereka mulai membiasakan diri mengatakan cinta tanpa mereka sadari apakah perasaan yang mereka miliki benar-benar cinta atau ada perasaan lain yang belum mereka pahami.


dddrrt ...


Ponsel Stefani bergetar hebat seakan meraung-raung meminta segera dijawab. Stefani yang sempat tertidur karena kelelahan menangis berusaha membuka matanya perlahan. Kepalanya berdentam hebat, namun tak pelak membuatnya hirau pada ponselnya. Segera ia beranjak mengambil tasnya yang terkapar di bawah ranjang. Ia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Tertera nama pemanggil di ponsel itu adalah dr. Alan. Gegas ia mengangkat panggilan itu.


"Halo ..." sapa Stefani.


"Fan, loe kemana aja? Kenapa nggak datang ke rumah sakit? Loe nggak lupa jadwal loe kan!" berondong dr. Alan.


Huftth ...


Terdengar hembusan kasar nafas Stefani setelah mendapat berondongan pertanyaan dari dr. Alan. Dr. Alan adalah mantan senior Stefani di kampus.


"Untuk apa, Lan? Untuk apa gue kesana? Untuk apa gue lanjutin? Toh semuanya udah terlambat, kan! Semua percuma. Gue juga udah nyerah." ujar Stefani lirih. Air matanya kini kembali menggenang di pelupuk matanya.


"Loe nggak boleh nyerah gitu, Fan. Loe harus kuat. Loe harus bertahan. Loe nggak mikir gimana sedihnya orang-orang terdekat loe kalau tau keadaan loe kayak gini."

__ADS_1


"Siapa? Siapa orang itu? Bokap gue? Ah, bahkan dia pun nggak peduli sama nasib gue dan nyokap gue dulu. Apalagi sekarang, mereka udah punya anak baru, anak lama udah dilupain. Bokap gue nggak pernah nganggap gue."


"Terus Lian, gimana? Loe nggak mikirin dia."


"Gue nggak mau bikin dia khawatir, Lan. Cukup 8 tahun dia jadi pelindung gue, gue nggak mau ngebebani hidup dia lagi."


"Tapi kan dia kekasih loe, Fan. Jadi wajar klo loe ngebebani dia. Lagian itu juga bukannya ngebebani tapi tanggung jawab. Itu udah tanggung jawab dia buat melindungi loe."


"Tapi Lan, gue nggak mau buat dia sedih dan terpukul nanti saat tiba-tiba gue pergi. Gue nggak mau melihat wajah sedihnya saat tau gue sakit. Gue pingin dia bahagia, Lan. Lagian gue nggak yakin kami saling cinta." ujar Stefani sambil terkekeh. "Kami cuma terbiasa bersama. Kami emang saling menyayangi, tapi untuk cinta , gue meragukannya. Loe tau kan , insting perempuan itu lebih tajam. Dia cuma menyayangi gue sebab saat itu ia sangat merindukan saudara kembarnya yang hilang. Saat lihat gue, dia ngerasa harus ngelindungi gue, alih-alih ngelindungi saudaranya."


"Terus gimana perasaan loe ke dia?"


"Perasaan gue? Hmm ... sepertinya kurang lebih sama. Ah udah deh, kok malah nanyain perasaan gue, sih. Pusing gue."


"Fan, please, kamu mau ya lanjut berobat?"


"Nggak , Lan. Gue udah bener-bener nyerah. Untuk siapa juga gue bertahan kalau ujung-ujungnya gue masih sendirian. Lagian, gue udah nggak kerja lagi. Belum resign sih. Tapi gue nggak mau datang lagi ke sana. Jadi gue bakal nggak ada duit buat lanjutin kemo." tukas Stefani.


"Loe nggak usah pikirin biaya, Fan. Biar itu jadi tanggung jawab gue ."


"Kenapa? Kenapa biar jadi tanggung jawab elo?" tanya Stefani to do point.


"Karena gue sayang elo. Bahkan mungkin lebih dari itu, maksud gue, gue cinta sama elo, Fan. " jawab dr. Alan membuat Stefani membatu.


.


.


.


"Eh, Lian, kok pulang-pulang lemes gitu?" tanya Ajeng saat Aglian menghempaskan tubuhnya di sofa, dekat sang mama yang sedang menonton televisi.


"Nggak papa kok, ma. Lian cuma capek aja. Itu ada suara rame-rame, ada anak-anak ya, ma?" tanya Aglian saat mendengar suara tawa Damar dan si kembar dari taman belakang.

__ADS_1


"Iya. Sementara anak-anak mama ajak kesini, kasian kalau dibiarin sama Anggi. Anggi lagi morning sickness parah. Jadi harus banyak istirahat. " jelas Ajeng dan Aglian tampak mengangguk paham.


"Lian mau main sama anak-anak aja, ah biar nggak bete." tukas Aglian seraya melangkahkan kaki menuju taman belakang.


"Halo keponakan-keponanakan om yang ganteng. Lagi main apa, nih?"


"Lagi main pelosotan, om." jawab Karin. "Om mau ikut?"


Aglian terkekeh. "Itu perosotannya bisa patah kalo om yang naik. Karin nggak liat, badan om segede ini."


"Kan bial dibeliin yang balu, om." timpal Kevin.


"Oo, jadi gitu ya caranya biar dapat mainan baru. Hmm ... kalian mau belajar curang, hm?" tanya Aglian dengan mata pura-pura memicing.


"Heheh ... kan kalau perosotannya hancur, om. Kalau nggak ya nggak beli lagi. Makanya kita cobain dulu." ujar Damar sambil menarik-narik lengan Aglian. Karin dan Kevin pun turut membantu. Hingga akhirnya dengan terpaksa Aglian naik ke atas tangga perosotan itu , dengan perlahan ia duduk di puncak perosotan, belum juga ia meluncurkan bokongnya, tiba-tiba ...


brakkk ....


Perosotan itu benar-benar patah, dan Aglian terduduk di bawah sambil memegang bokongnya yang sakit karena terhempas ke rurumputan.


"Yeay, bisa beliin yang baru yang lebih gede." Ketiga anak itu bersorak ria sambil ber-high five membuat Aglian tercengang.


"Dasar anak nakal, ya! Sengaja mau ngerjain, om, ya!" pekik Aglian pura-pura marah membuat Damar, Kevin, dan Karin ketakutan, namun ketakutan itu berganti tawa saat Aglian berpura-pura menjadi monster mengejar mereka bertiga.


"Grandmaaaaa .... tolong kami, ada monsteeeel." teriak ketiga Bocil itu. Ajeng yang melihat itu hanya tertawa apalagi saat mereka sampai ada yang bersembunyi di balik punggung Ajeng dan ada yang bersembunyi di bawah meja.


.


.


.


Holaaa semua...

__ADS_1


Good night and sleep tight, ya!


Love u all.🥰


__ADS_2