
Jet pribadi milik keluarga Angkasa telah mendarat di pangkalan khusus Bandar Udara Internasional Juanda. Dengan setelan celana bahan hitam, sweeter putih, dan masker yang menutupi sebagian wajahnya, tak lupa sebuah tas selempang berwarna coklat untuk menyimpan beberapa barang pribadinya, Aglian turun dari jet pribadinya menuju luar bandara.
Setibanya di luar bandara, sopir yang disiapkan khusus pihak hotel yang juga berada di bawah naungan Angkasa Grup sudah siap untuk mengantarkan tuannya itu menuju hotel. Tak butuh waktu lama, mobil itu telah tiba tepat di depan pintu masuk hotel. Iring-iringan para petinggi hotel telah tampak berjajar rapi untuk menyambut kedatangan sang CEO muda itu.
Para karyawan yang belum pernah melihat secara langsung atasan tertinggi mereka hanya bisa berdecak kagum saat melihat Aglian berdiri di hadapan mereka. Padahal wajah Aglian masih tertutupi masker , namun ketampanannya tampaknya tak dapat disembunyikan. Bahkan sorot matanya yang tajam mampu menghipnotis para karyawan wanita maupun para tamu hotel yang ada di sana. Tak mau menyia-nyiakan waktu, mereka segera mengeluarkan ponsel dan mengaktifkan kamera untuk mengambil gambar dan video pengusaha terbesar abad ini. Ingin mereka mendekati Aglian untuk foto bersama tapi sayang semua hanya angan sebab semua penjaga dan pihak keamanan hotel telah dikerahkan untuk menghalangi masa yang mendesak mendekati Aglian.
.
.
.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Karena lelah Luna hanya uring-uringan di kamar. Ingin tidur tapi belum waktunya, jadilah ia hanya bermain ponsel sembari bergelut dengan selimut. Hingga dering ponselnya menginterupsi kegiatannya.
"Ya, halo!" ketus Luna.
"Luna sayang, kok ketus gitu sih sama aak Kenta." ujar Kentaro dengan nada dibuat-buat manja.
"Ampun deh, Tang, nggak usah lebay deh! Sayang-sayang, pala loe peyang." sahut Luna bersungut kesal. "Ngapain sih, Tang, gangguin gue istirahat aja. Nggak tau apa orang lagi capek kayak gini ." tambahnya lagi.
"Gimana sih, Lun, masa' manggil calon kekasih aja disebut lebay." Kini giliran Kentaro yang kesal. Kesal bohongan maksudnya.
__ADS_1
"Calon kekasih dari mana? Dari Jongol? Udah deh, Tang, jangan ngajakin gue bercanda mulu, sumpah gue lagi capek banget tau." Luna berdecak kesal.
"Iya, maaf. Gue cuma mau ngajakin loe makan malam. Loe belum makan, kan? Makan malam di luar yuk! Aku tau tempat makan yang bagus, enak, dan menyenangkan, mau ya, please! Mau ya, apalagi kita besok sore udah pulang, kapan lagi coba bisa keluar malam sambil menikmati keindahan alam di Bali?" Kentaro tak gentar untuk membujuk sang pujaan hati.
"Tapi gue lagi bener-bener nggak mood, Tang. Gue capek banget ini." tolak Luna.
"Ayolah Lun, please! Besok sore kita udah balik lho dan kita nggak tau kapan lagi bisa kemari." bujuk Kentaro pantang menyerah.
"Hufth ... ya sudah. Gue ganti baju dulu. Tapi jangan lama-lama ya!"
"Oke tuan putri, siap laksanakan!" ucap Kentaro lantang seperti seorang petugas polisi.
Tak butuh waktu lama, Luna pun telah siap. Karena efek sedang sangat lelah, ditambah sedang kedatangan tamu bulanan, membuat Luna sangat Badi mood. Ia sebenarnya malas sekali bepergian malam ini, tapi ia tak enak bila menolak permintaan Kentaro. Apalagi benar seperti yang Kentaro katakan, besok sore mereka sudah pulang ke Jakarta, jadi kapan lagi mereka bisa menikmati keindahan malam kota Bali selain malam hari ini.
Luna tampak menggembungkan pipinya menahan kesal karena ia sedang merasa benar-benar lelah. Tapi demi sahabat dan demi menikmati malam terakhir di Bali, akhirnya Luna terpaksa mengikuti keinginan Kentaro
Tampak Kentaro sudah menunggu sambil memainkan ponselnya di salah satu tempat duduk yang disediakan pihak hotel. Wajah Kentaro mendongak saat merasa ada yang berjalan mendekatinya. Mata Kentaro seketika berbinar dengan senyum lebar yang merekah hingga deretan gigi putihnya terlihat jelas karena terlalu terpesona atas kecantikan dak kesederhanaan Luna.
"Udah liatinnya? Lama-lama bola mata loe bisa gelinding keluar dari cangkangnya kalo liatin gue kayak gitu terus." ketus Luna membuat Kentaro terkekeh.
"Namanya juga terpesona, Lun. Loe tuh cantik banget, tau nggak. Jadi nggak rela loe diliatin orang. Pinginnya cuma gue aja yang nikmatin kecantikan loe."
__ADS_1
"Makin hari loe makin lebay aja sih , Tang. Mungkin kalau cewek lain yang dengerin gombalan loe bisa kelepek-kelepek, tapi gue nggak. Serius, makin hari makin enek gue dengerin gombalan loe yang garing. Jangan keseringan deh kalau nggak mau buat gue jadi ilfeel." ucap Luna sambil berlalu dari hadapan Kentaro.
"Iya iya. Loe ini aneh deh Lun, kok susah banget sih rayu loe? Atau udah ada cowok yang loe suka jadinya hati loe susah banget buat gue buka?" tanya Kentaro sambil menatap lekat wajah Luna. Mereka kini berjalan bersisian.
"Suka? Hmmm ..." Luna tampak berfikir tapi ia tak dekat dengan lelaki lain selain Aglian, Aji, Raju, Diwangga, dan Kentaro. Tapi kadang yang paling sering mengajaknya bicara hanya Kentaro dan Aglian. Ia merasa nyaman bicara dengan kedua orang itu, namun ia bisa jadi sosok yang manja hanya pada Aglian. Ia juga sering senyum-senyum sendiri saat bersama Aglian. 'Aku nggak mungkin kan suka sama Mas Lian? No, jangan, mas Lian kan udah ada mbak Stefani. Aku nggak mau jadi perebut pacar orang. Palingan itu cuma rasa nyaman sebagai adik dan kakak, iya itu. Itu bukan suka apalagi cinta.' batin Luna, kepalanya sambil manggut-manggut. "Nggak ada. Gue nggak ada suka sama orang lain." jawab Luna santai.
"Tapi loe mau kan kasih gue kesempatan?"
"Kesempatan apa?"
Lalu Kentaro meraih tangan Luna dan menggenggamnya sesampainya mereka di depan pintu keluar hotel. Di bawanya tangan itu ke depan dadanya. "Kesempatan buat dapatin hati loe? Please, kasih gue kesempatan buat dapetin hati loe, Lun? Loe tau kan, gue udah sayang dan cinta loe dari SMA, jadi please kasih gue kesempatan buat buka hati loe buat gue!" mohon Kentaro dengan wajah memelas.
Sebenarnya Luna enggan memberikan kesempatan itu. Ia takutnya hanya memberikan kesempatan palsu sebab ia yakin ia tak memiliki perasaan apapun pada Kentaro. Namun ia tak tega untuk menolaknya mentah-mentah. 'Apa yang harus aku lakukan? Apa gue kasi aja kesempatan itu? Ya, nggak ada salahnya, bukan!' batin Luna .
Luna menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Oke gue kasi kesempatan itu, tapi cuma 1 bulan. Kalau dalam 1 bulan gue tetap nggak ngerasain perasaan apa-apa sama loe, please lepasin gue!" ucap Luna tegas membuat Kentaro senang bahkan ia refleks menarik tubuh Luna dan memeluknya erat.
Tanpa mereka sadari, ada yang memotret setiap apa yang mereka lakukan. Begitu pun di balik pintu hotel, sudah berdiri Jelita dengan wajah sendunya. 'Kamu jahat Ken, kamu tega, kamu kejam, ternyata bener, loe cuma manfaatin gue sebagai friend with benefit doang.' gumamnya pelan hingga tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi Jelita.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading.🥰