Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.119 (S2) Lian vs Robi


__ADS_3

Jet pribadi Aglian kini telah mendarat mulus di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Setelah turun dari pesawatnya, Aglian yang melihat Luna berjalan di depannya segera mengambil langkah panjang dan merangkul bahu Luna. Luna yang terkejut, sontak menoleh sambil mengernyitkan dahinya.


"Apa-apaan sih, Mas? Kayaknya tangan Mas ini makin hari makin gatal, dikit-dikit rangkul. Luna cabein baru tau rasa." omel Luna seraya mencubit lengan Aglian membuatnya meringis kesakitan tapi ia tetap tak mau menurunkan lengannya.


"Bukan gatal, Mas cuma mau lindungin kamu dari tatapan lapar lelaki lain. Lihat tuh-tuh, mata mereka kayak udah mau lompat keluar saat liatin kamu." Alasan Aglian. Dalam hatinya tersenyum karena bisa-bisanya dia membuat kebohongan seperti itu. " Jadi kalo mereka lihat kamu Mas rangkul pasti mereka mikir , oh cewek itu udah punya pacar toh! Apalagi Mas kan gantengnya pake banget pasti mereka minder sendiri." sambungnya lagi sambil terkekeh.


"Itu mah Mas-nya aja yang kepedean." cibir Luna sebelum mereka masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Di dalam mobil, lagi-lagi mereka berdua berdebat mengenai berbagai hal, tapi tak pelak hal tersebut malah memicu pecahnya tawa para penumpang mobil itu. Robi pun sampai heran melihat tingkah laku kekanakan atasannya tersebut. Belum pernah selama bekerja di bawah perintah Aglian, ia melihat tawa pecah dari Aglian.


"Mas, boleh Luna nanya?" tanya Luna hati-hati.


"Hmm ... mau nanya apa, hm?" jawab Aglian seraya memainkan ujung surai Luna tapi langsung ditepis Luna dengan mata melotot yang malah membuat Aglian makin suka mengusilinya.


"Tadi pas di pesawat, Luna denger Mas bicara sama Mas Robi tentang test sumsum tulang belakang. Biasanya kan kalo bicarain sumsum tulang belakang pasti ada hubungannya dengan penyakit kanker darah. Bener nggak dugaan Luna?" tanya Luna ragu-ragu namun diangguki oleh Aglian pertanda membenarkan. "Siapa? Emang siapa yang sakit, Mas, sampai Mas harus repot turun tangan sendiri?" lanjut Luna menanyakan apa yang ada di benaknya.


Aglian menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Terlihat sekali beban berat sedang Aglian pikul membuat Luna makin bertanya-tanya.


Aglian menatap wajah Luna, lalu ia mulai bercerita tentang siapa yang mengidap penyakit leukimia tersebut.


"Stefani." jawabnya singkat.


"Hah!" seru Luna yang terkejut. "Mak ... maksudnya? Maksud Mas apa? Mbak Stefani kenapa?"


"Yang mengidap penyakit leukimia itu adalah Stefani."


"Ya Allah, jadi gimana keadaan Mbak Stefani sekarang Mas?" tanya Luna yang ikut khawatir.

__ADS_1


"Dia sedang dirawat di rumah sakit. Penyakitnya sudah parah dan butuh penanganan segera. Dia sudah menjalani pengobatan kemoterapi tapi penyakitnya masih saja menyebar dan satu-satunya jalan hanyalah melalui cangkok sumsum tulang belakang. Sebab itu Mas terbang ke Surabaya untuk mencari ayahnya dengan harapan sumsum tulang belakang ayahnya itu cocok jadi Stefani bisa menjalani operasi." jelas Aglian pada Luna.


Luna menggamit jemari Aglian dan menggenggamnya erat seraya menguatkan.


"Mas sabar ya, insya Allah mbak Stefani pasti sembuh." ucap Luna sembari tersenyum hangat.


Karena jarak mereka yang hanya berapa jengkal, wajah cantik dan senyum manis Luna jadi terlihat sangat jelas. Aglian seketika terpesona hingga tanpa sadar tangan Aglian menarik genggaman tangan itu, membuat tubuh mereka saling bertubrukan. Aglian pun segera mendekap erat tubuh Luna. Entah insting dari mana, Luna justru membalas pelukan itu. Robi yang duduk di depan seketika melotot melihat adegan 18+ di belakangnya. Mulutnya sampai bergerak komat kamit tanpa suara, mencibir aksi atasannya itu. Sedangkan sang sopir hanya bisa mengulum senyum melihat tingkah laku Robi yang mencibir atasannya tanpa suara. Tanpa ia sadari, Aglian melihat tingkah laku asisten pribadinya itu. Aglian pun segera melepaskan pelukannya lalu matanya mengarah kepada Robi. Robi seketika terkesiap saat menyadari sorot mata tajam Aglian mengarah padanya. Sontak ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Sepertinya aku akan melakukan pengurangan karyawan." ucap Aglian ambigu. Luna yang tidak paham hanya mengernyitkan dahinya.


"Emang kenapa harus dikurangi, Mas?" tanya Luna polos.


"Sebab sepertinya di perusahaan banyak karyawan yang suka mencela atasannya sendiri dari belakang." ucap Aglian dengan sorot mata menajam ke arah Robi.


Robi yang masih menutup mulutnya dengan tangan sontak geleng-geleng kepala.


"Bagus, berarti kamu sadar kalau kamu salah satunya." sinis Aglian.


"Ampun tuan, jangan pecat saya tuan. Saya cuma bercanda aja, kok. Jangan dianggap serius ya, tuan, nanti cepat tua." Robi kembali membekap mulutnya lagi karena lagi-lagi mulutnya asal bicara.


Luna yang melihat tingkah konyol Aglian dan Robi sontak tertawa lebar.


"Iya, Mas, bener kata Mas Robi, jangan terlalu serius apa lagi marah-marah, nanti cepat tua. Nanti mbak Fani nggak mau lagi sama Mas Lian baru tau rasa lho!" ucap Luna asal membuat Aglian mendengus.


"Nggak perlu nunggu Mas keliatan tua aja Mas udah diputusin ." ucap Aglian santai.


"Hah!" seru Luna dan Robi bersamaan.

__ADS_1


"Kok bisa?" seru Luna lagi , tapi ucapannya diabaikan Aglian .


"Kamu Rob, setibanya di kantor segera beresin barang-barang kamu." tegas Aglian dengan mata memicing.


"Aduh Mas, stop, nggak usah mengalihkan pembicaraan. Aku tanya, kok bisa sih? Kalian kan pacarannya udah lama? Apa Mas buat kesalahan sama mbak Fani?" cerocos Luna membuat Aglian mendengus kesal.


"Kepo banget sih!"


"Kepo kan nama belakangku, Mas." ujar Luna cengengesan.


Aglian hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Luna.


"Dia pinginnya sahabatan aja kayak dulu. Dia lebih nyaman jadi sahabat, katanya."


Luna tampak manggut-manggut, "Iya sih, namanya perasaan kan nggak bisa dipaksakan. Apalagi kalau udah nyaman jadi temen, tiba-tiba jadi pacar pasti rasanya aneh. Terus kalau Mas, gimana? Maksudku, perasaan Mas Lian kayak gimana ke mbak Stefani?"


Aglian menatap mata Luna. "Awalnya Mas menolak, tapi sepertinya apa yang Stefani ucapkan memang benar. Kami sudah terjerat rasa nyaman hingga salah menafsirkan perasaan. Dan sekarang Mas yakin perasaan Mas kayak gimana ke Stefani. Soalnya Mas saat ini malah baru menyadari Mas menyukai seseorang. Rasanya memang berbeda, sangat berbeda. Hal itulah yang menguatkan Mas kalau perasaan Mas selama ini ke Stefani memang bukanlah cinta. " jelas Aglian.


"Tuan, sudah sampai." ucap Robi menginterupsi pembicaraan antara Luna dan Aglian.


"Kamu pulanglah terlebih dahulu. Jangan lupa istirahat!" ucap Aglian seraya mengusap surai Luna. Mobil mereka telah berhenti tepat di depan rumah Anggi yang ditempati Luna, Lia, dan Tita. Luna mengangguk lalu ia pun keluar dari dalam mobil setelah mengucapkan terima kasih pada Aglian. Aglian hanya membalas ucapan Luna itu dengan tersenyum .


"Antarkan saya ke rumah sakit, sekarang!" titah Aglian seraya menatap layar ponselnya yang terdapat foto Luna di dalamnya.


...


Mohon maaf semua yg udah nungguin update selanjutnya, update semalam sampai sekarang ntah kenapa belum direview Noveltoon juga! Padahal udah dari jam 10 semalam lho, kok sampai sekarang blm terbit jg. Terima masih yang masih setia. Makasih jg buat yg udah rajin baca, like, komen, vote , kasih hadiah. Semoga semuanya sehat selalu. 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2