
Aglian dan Luna kini telah berada di dalam mobil menuju kediaman Anggi. Ya, tadi Aglian sempat menghubungi Anggi dan Diwangga dan memberitahukan perihal peristiwa yang menimpa Luna sehingga saudari kembarnya itu menyarankan Luna dibawa ke kediamannya. Diwangga juga ikut turun tangan sebagai pengacara Luna. Luna sudah Diwangga anggap seperti adiknya sendiri, tentu ia ikut marah saat adiknya hendak dilecehkan bahkan hampir dinodai.
Sepanjang perjalanan, Luna masih tampak terisak. Ia merutuki dirinya sendiri yang hampir saja menjadi korban perkosaan dan hal tersebut dilakukan oleh sahabatnya sendiri. Ia masih ingat bagaimana Kentaro yang hanya memakai penutup pusakanya saja, artinya tinggal sedikit lagi saja semua direnggut olehnya. Dalam hati, ia terus mengucap syukur atas pertolongan Allah melalui Aglian sehingga perbuatan busuk itu bisa dihentikan. Mungkin, bila Aglian datang terlambat sedikit saja atau Aglian tidak mengirimkan pengawal bayangan itu, maka sudah pasti hari ini akan jadi hari kehancuran dirinya.
Luna terus terisak walau tanpa suara membuat hati Aglian sakit. Saat melihat jalanan yang cukup sepi, Aglian pun menepikan mobilnya. Luna yang sadar mobil mereka berhenti di tempat yang tak semestinya, segera menoleh ke arah Aglian untuk meminta penjelasan.
Aglian yang paham, segera melepaskan seat belt mereka berdua dan dengan tangan kekarnya ia segera merengkuh tubuh Luna ke dalam pelukannya.
"Menangis lah sepuasnya untuk hari ini. Luapkan semua rasa sedih, marah, dan kecewamu. Bahu Mas, dada Mas, selalu sedia untukmu." ujar Aglian sambil mengusap pelan punggung Luna. "Tapi cukupkan kesedihan, kemarahan, dan kekecewaanmu hari ini dan sambutlah hari esok dengan senyuman. Jangan terpuruk hanya karena seorang brengsek seperti lelaki itu! Kamu tau Na, apa yang pertama kali buat Mas jatuh cinta pada kamu?" tanya Aglian seraya menatap kedua bola mata Luna dan Luna menggeleng.
"Senyummu. Mas sangat menyukai senyummu. Mas langsung jatuh hati sama kamu karena senyummu. Senyummu itu ibarat mood booster bagi, Mas. So , puas-puasin sedihnya hari ini karena besok dan seterusnya , Nana harus selalu tersenyum supaya Mas selalu sehat lahir dan batin." ujar Aglian seraya menerbitkan senyuman manisnya.
"Ta ... tapi Nana udah kotor, Mas. Nana nggak tau, dia udah ngapain aja. Nana takut ... Nana kotor, Nana ..." Nafas Luna tercekat, tak mampu membayangkan apa yang sebenarnya sudah dilakukan Kentaro padanya. Kesuciannya memang masih terjaga, tapi ia tak tau yang lainnya. Apalagi tadi kancing bajunya sudah hampir terbuka semua. Bisa saja Kentaro sudah mencium bibir, pipi, leher, atau dadanya. Ia merasa insecure terhadap dirinya sendiri.
"Hei, jangan ngomong gitu, sayang. Kamu nggak kotor, kamu masih bersih dan suci. Kamu tenang ya, Na. Mas yakin, dia belum sempat ngapa-ngapain kamu." Aglian mencoba memberi keyakinan. Ia tak mau Nana-nya merasa insecure dengan dirinya sendiri.
"Ta ... tapi tadi baju Nana u ... udah ... kan ... kancingnya ... hiks ... hiks ... hiks ..."
"Dimana kamu merasa kotor? Bagian tubuh kamu yang mana yang membuat kamu merasa kotor, hm? Biar Mas hapus. Biar Mas bersihkan. Atau kamu mau malam ini Mas nikahin kamu segera biar Mas bisa bantu Nana menghapus semua kotoran itu? Biar Mas bisa menghapus perasaan kotor dan jijik pada bagian tubuh kamu? Kalau Nana mau, Mas akan segera telepon papa supaya siapin penghulu malam ini juga buat nikahin kita. Yang penting kita sah dulu jadi Mas bisa membantu kamu membersihkan diri kamu, wajah kamu, tubuh kamu dari semua jejak tak kasat mata kentang busuk itu. Untuk urusan selanjutnya, bisa kita urus besok. Bagaimana, hm?" tanya Aglian dengan sorot mata penuh keyakinan. Bukan tanpa alasan ia melakukan ini. Ia khawatir Luna mengalami trauma bila dibiarkan atau tak segera diatasi. Bukankah lebih baik begini, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Alih-alih ingin menyembuhkan lara hati Luna, ia juga bisa menikahi wanita yang ia cinta .
__ADS_1
Luna membulatkan matanya saat mendengar setiap kata yang dilontarkan Aglian. Ditatapnya lekat mata Aglian, tiada kebohongan, hanya ada kesungguhan yang terpancar nyata dari netranya membuat Luna mematung.
"Bagaimana, Na? Apa jawaban kamu?" tanya Aglian lagi.
Glek ...
Luna menelan salivanya sendiri karena terlalu terkejut.
"Ma ... Mas serius?" tanya Luna gagap dengan nafas tercekat.
"Mas serius. Sangat serius. Mas tinggal menunggu keputusanmu."
***
Jelita menutup rapat pintu kamarnya dan menguncinya. Ia khawatir, benar-benar khawatir pada niat busuk bude dan sepupunya itu. Ia tak menyangka, seorang gadis belia yang bahkan baru lulus SMA bisa memiliki niat sejahat itu. Yang tak ia sangka, budenya sudah terlebih dahulu menerima uang dari Bu Rully sebagai mahar dengan jumlah yang cukup besar. Alih-alih dijodohkan, ia sudah seperti dijual oleh budenya sendiri kepada pria beristri. Dan yang membuatnya makin muak adalah ibu dan anak yang melamarnya itu, alias Bu Rully dan Beno tampak setuju dengan saran tak masuk akal itu.
Padahal dengan pernikahan mereka berharap memiliki, anak tapi dengan teganya ingin membunuh anak yang bahkan belum dilahirkan. Umurnya pun baru menghitung hari.
Diusapnya perut yang masih rata itu dengan lembut. Jelita memang tak pernah mengharapkan kehadiran bayi ini apalagi ia belum menikah, tapi ia tetap menyayanginya. Anak ini adalah anugerah baginya. Anak ini adalah penyemangat hidupnya dan ia akan mempertahankan anak ini.
__ADS_1
Malam kian larut, Jelita pun segera mengemas semua pakaian dan barang berharga miliknya diam-diam. Perlahan, ia membuka pintu kamarnya. Ia tolehkan kepalanya untuk melihat situasi, saat ia merasa aman, ia pun keluar diam-diam dari dalam rumah itu.
Saat telah berada di luar, ia pandang lekat rumah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan itu dengan tatapan nanar. 'Semoga semua baik-baik saja. Semoga yang aku lakukan ini adalah yang terbaik. Ayah, ibu, sampai jumpa. ' gumamnya sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu .
Dengan langkah gontai, Jelita menyusuri jalanan kampung halamannya. Matanya memindai kesana kemari berharap melihat alat transportasi yang bisa membawanya keluar dari kampung itu. Tujuannya adalah ke kota, namun kota berbeda dari kota ia tinggali sebelumnya. Hingga tak lama kemudian, tampak sebuah mobil pick up yang hendak membawa sayuran ke pasar kota. Dengan memasang wajah memelas, Jelita memohon pada pemilik mobil itu agar ia diperbolehkan ikut ke kota. Beruntung, pemilik mobil itu berbaik hati mengizinkannya ikut ke kota hingga kini di sinilah Jelita berada, di sebuah kota yang asing baginya. Tapi tak mengapa, ia sudah biasa. Toh dulu juga seperti itu saat pertama kali menginjakkan kakinya di kota. Lagi pula ini masih sama-sama Jakarta, hanya saja berbeda wilayah. Ia tak masalah. Ia yakin ia dapat memulai lembaran baru dengan anaknya di sini .
Waktu sudah menunjukkan hampir subuh. Jelita yang sudah merasa lelah tapi belum memiliki tempat tinggal, berusaha mencari masjid terdekat untuk beristirahat . Hingga akhirnya ia melihat sebuah masjid cukup besar di seberang jalan tempat ia berdiri. Gegas ia menyeberangi jalanan yang masih lengang itu. Namun, baru saja ia melangkah beberapa langkah, tiba-tiba perutnya terasa kram hingga ia kesulitan melangkahkan kakinya. Bahkan kepala Jelita juga mendadak berdenyut nyeri. Tak jauh dari tempatnya berhenti, dapat ia lihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan sangat kencang membuatnya segera menutup mata. Ia sudah pasrah apa yang akan terjadi nanti. Hingga ...
brukkk......
Ciiitttt ....
.
.
.
.
__ADS_1
HAPPY READING 🥰🥰🥰