
Anggi dan Diwangga kini sedang dalam perjalanan menuju tempat yang hanya Diwangga yang tau. Perjalanan memakan waktu cukup lama, yaitu sekitar 40 menit. Anggi dan Diwangga melalui perjalanan tersebut dengan perasaan canggung. Mereka bingung harus bicara apa jadi mereka hanya bisa terdiam.
"Mas..." panggil Anggi
"Hmmm... ada apa?" jawab Diwangga lembut dengan mata masih fokus ke depan
"Kita mau makan dimana?" tanya Anggi
"Kamu liat aja nanti." ucap Diwangga dengan senyum manis yang tak pernah hilang dari bibirnya
Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai belok ke tempat parkir yang cukup luas. Diwangga membukakan pintu untuk Anggi. Ia melayani Anggi layaknya seorang putri yang perlu dijaga dan dilayani sebaik mungkin.
Setibanya Anggi di depan sebuah menara yang sangat tinggi, membuat Anggi berdecak kagum ."Apa kami akan makan di dalam sana? Tinggi banget tempatnya." gumam Anggi pelan namun masih dapat didengar Diwangga
"Ayo Tuan putri, mari kita masuk." sungguh, apa yang diucapkan Diwangga membuat wajahnya memerah. Ia sampai menunduk untuk menyembuhkannya ronanya.
"Nggak usah nunduk, udah keliatan kok. Kamu udah kayak kepiting rebus." ledek Diwangga sambil terkekeh
Mendengar ia dikatain kepiting rebus, sontak Anggi memukul pelan dada Diwangga, membuat Diwangga makin gemas karena tingkahnya.
"Kita udah kayak ABG ya! Tapi sumpah, baru kali ini aku kayak gini ke perempuan." ucap Diwangga jujur. Lalu Diwangga mengajak Anggi masuk ke dalam lift dan menekan nomor 56. Ya mereka akan naik ke lantai tertinggi di menara itu.
Anggi mengernyit bingung. Ia merasa tak percaya atas apa yang diucapkan Diwangga.
"Kenapa? Nggak percaya?" tanya Diwangga setelah berada di dalam lift
"Emang selama kamu pacaran, kamu nggak pernah ajak pacar kamu ke sini?" tanya Anggi polos
Diwangga tersenyum. Memang tak ada satu orang pun yang percaya bila ia bilang seperti itu. Bukan hanya Anggi, tapi orang lain pun begitu.
__ADS_1
"Aku nggak pernah pacaran, Nggi. Karena itu aku bilang cuma kamu, hanya kamu yang ada di dalam sini." ucap Diwangga mengingatkan kembali ,ia tadi di kantor juga mengatakan seperti itu sambil menunjuk dada sebelah kiri.
"Kamu nggak bercanda kan atau cuma mau cari perhatian aku kan, mas?" Anggi memicingkan mata
"Apa aku keliatan lagi bohong sama kamu, Nggi? Look into my eyes?" Diwangga meminta Anggi menatap ke dalam matanya. "Adakah kebohongan di dalam sana?"
Anggi pun mengalihkan pandangan matanya menuju mata Diwangga. Ditatapnya lekat sorot mata teduh penuh kehangatan itu. Tiada terlihat dusta di matanya. Yang ada hanya ketulusan dan......
Cinta.
Seketika Anggi terkesiap. Jantungnya berdegup dengan begitu kencang. Darahnya mendesir. Anggi mengulurkan tangannya memegang dada kirinya. Degupnya begitu kencang, hingga ia merasa malu sendiri, takut suara debarannya terdengar ke telinga Diwangga.
Diwangga yang melihat tingkah Anggi pun seketika tersenyum . Ntah dapat keyakinan dari mana, ia yakin seyakin yakinnya bila perempuan di sampingnya kini pun memiliki rasa yang sama dengannya.
Lamunan mereka pun terinterupsi saat denting lift berbunyi. Pintu lift seketika terbuka tepat di lantai tertinggi menara itu. Lalu Diwangga menuntun Anggi berjalan ke suatu tempat yang belum pernah ia pijak sebelumnya.
Seketika matanya membola. Tampak binar kagum menghiasi netra itu saat ia melihat pemandangan di sekitarnya.
Ya mereka kini sedang berada di SKYE Bar and Resto yang terletak di lantai 56 Menara BCA.
Sebuah restoran yang menawarkan pemandangan indah Kota Jakarta dari puncak tertinggi menara BCA bagi para pengunjungnya.
Seketika mata Anggi berkaca-kaca. Hingga tak sanggup mengeluarkan walau sepatah kata. Ini terlalu indah. Terlalu memukau. Terlalu mengagumkan. Hingga ia reflek menggenggam tangan Diwangga tanpa sadar.
"M.. mas... ini...!" ucapnya terbata
"Indah bukan? Kau suka?" tanya Diwangga dengan sorot mata menatap lekat wajah Anggi. Senyumnya pun makin lebar saat menatap tangannya yang digenggam erat oleh Anggi. Rasa di dalam dadanya membuncah seketika. Bila bisa, ingin sekali malam ini ia halalkan segera wanita yang tengah menggenggam tangannya ini, tapi sayang itu belum bisa ia lakukan.
__ADS_1
Seandainya bisa, ah betapa bahagianya ia malam ini, pasti, gumamnya dalam hati.
"Iya mas, aku suka. Suka banget malah. Makasih ya ,mas." ucap Anggi tulus dengan sorot mata yang kini beralih ke sosok pria yang ada di sampingnya membuat mata mereka bersirobok. Namun mereka segera memutus pandangan itu.
"Ayo kita duduk di sana!" tunjuk Diwangga pada salah satu meja yang posisinya tepat menghadap ke spot terbaik di tempat itu.
Namun saat akan melangsungkan kakinya, Anggi tiba-tiba tersadar kalau tangannya tengah menggenggam erat tangan Diwangga.
"Ah, maaf mas, nggak sengaja." ucap Anggi sambil melepaskan genggaman tangan itu.
Diwangga hanya menanggapinya dengan seulas senyuman.
Setibanya di meja yang dituju, Diwangga segera menarik kursi untuk Anggi.
"Makasih ,mas "
Tak lama pramusaji datang memberikan daftar menu. Anggi yang masih buta terhadap berbagai macam makanan yang tertulis di daftar itu, menyerahkan semuanya ke tangan Diwangga. Tak butuh waktu lama ,pramusaji pun datang kembali membawakan makanan yang telah Diwangga pesan. Mereka pun mulai menikmati hidangan dengan tenang dengan sorot mata sesekali saling memandang.
Setelah makan mereka usia dan piring-piring telah dibereskan, mereka berbincang sambil menikmati hembusan angin malam yang menyejukkan dengan mata sibuk berkeliling memperhatikan keindahan malam di kota Jakarta dari atas sana. Hingga sebuah kalimat, mengalihkan fokus Anggi untuk menatap lekat pria di hadapannya itu.
"Gimana Nggi, apakah kamu sudah ada jawabannya?" tanya Diwangga dengan sorot mata menatap lekat wajah Anggi yang makin terlihat cantik di malam itu.
"Boleh Anggi bercerita?" Diwangga awalnya agak bingung, kenapa ditanya jawaban malah dijawab ingin bercerita, tetapi ia tetap mengiyakan.
"Mas, sesuai permintaan Anggi tempo hari, Anggi mau beristikharah dulu dan Anggi benar-benar melakukannya, berharap Allah memberikan jawaban terbaik untuk masa depan Anggi. Dan pada hari pertama Anggi melaksanakan istikharah, Anggi mimpi." ucap Anggi terjeda. Ia menarik nafas, lalu menghembuskannya perlahan, kemudian ia lanjutkan lagi ceritanya.
"Anggi mimpi melihat sosok lelaki berbaju putih. Ia tampak gagah dengan setelan putih itu. Tapi sayang , wajahnya tertutup binar cahaya, jadi Anggi belum bisa menebak siapa sosok itu. Hari kedua, Anggi kembali mimpi hal yang sama, tapi binar cahaya yang menutupinya agak berkurang, walau masih menutupi, hingga Anggi belum bisa mengenali wajah siapakah yang mendatangi Anggi itu. Hampir tiap hari Anggi memimpikan hal yang sama. Hingga puncaknya malam tadi." Anggi menjeda lagi ceritanya untuk menarik nafas. "Saat mimpi itu hadir lagi, binarnya telah berganti menjadi binar wajah yang tampan nan teduh. Mas Angga tau wajah siapa itu?" tanya Anggi dengan sorot mata teduh tapi mampu menghanyutkan seorang Diwangga hingga bertahun-tahun pun tak kunjung mampu melupakannya.
Diwangga menggeleng tanda tak tahu.
__ADS_1
"Wajah itu, sosok itu adalah Mas Diwangga Yudhistira." ucap Anggi pasti dengan senyum manis yang mengembang sempurna membuat Diwangga seakan berhenti bernafas sakin terpesonanya ia terhadap senyum itu.