
Setelah melalui perjalanan kurang lebih 45 menit, akhirnya Diwangga dan Anggi telah sampai di rumah sakit. Diwangga tampak menggendong Kevin, sedangkan Anggi menggendong Karin. Dengan petunjuk perawat , mereka membawa Karin dan Kevin ke ruang pemeriksaan.
Tak berselang lama, seorang dokter wanita pun masuk ke ruangan dan mulai memeriksa Karin dan Kevin dengan seksama , sementara Anggi dan Diwangga diminta menunggu di luar ruangan.
Anggi tampak murung dan panik. Sudah lama sekali sejak terakhir si kembar sakit hingga terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Dari dulu memang mereka bila satu sakit, yang lain ikut sakit. Ikatan batin mereka berdua seakan sangat kuat. Mungkin karena mereka kembar yang hanya berjarak 15 menit, membuat ikatan batin itu pun saling terikat satu sama lain.
Melihat raut wajah khawatir di wajah Anggi membuat batin Diwangga cukup terusik. Batinnya meronta, ingin sekali merengkuh tubuh ringkih itu ke dalam dekapannya , berbanding terbalik dengan otaknya yang berteriak jangan sebab akan membuat Anggi marah. Namun sepertinya pergolakan antara otak dan batin itu, dimenangkan oleh batin saat melihat Anggi terisak pilu.
Perlahan Diwangga mendekat, sambil menggumamkan kata maaf, ia menarik tubuh ringkih Anggi ke pelukannya. Dengan perlahan ia mengusap punggung Anggi yang bergetar karena menangis.
"Kamu tenang ya, Nggi. Kita berdoa sama-sama supaya Karin dan Kevin nggak kenapa-kenapa dan semoga mereka cepat sehat. Kamu tau, aku tuh kagum banget sama kamu. Kamu bukan hanya seorang wanita yang baik dan cerdas, tapi juga seorang ibu yang kuat dan hebat. Kamu mampu membesarkan dan mendidik anak-anak dengan baik. Membuat mereka menjadi anak yang pintar, baik, dan berbakti. Walau mantan suamimu mengabaikan dirimu tapi kamu tetap mampu melakukan semua sendiri tanpa mengeluh. " Diwangga menjeda sejenak ucapannya untuk menarik nafas.
"Nggi, kamu yakin dan percaya sama aku ya, aku yakin anak-anak kita nggak kenapa-kenapa. Karin dan Kevin itu anak-anak yang kuat ,aku yakin mereka akan baik-baik saja. Kamu percaya sama aku, kan!"
Anggi mencoba melonggarkan pelukan Diwangga dan mencoba menatap manik pria di hadapannya itu.
"Anak kita?"
"Ya anak kita, bukankah sebentar lagi mereka juga akan jadi anak-anakku?"
Anggi tersenyum mendengar pertanyaan yang juga merupakan sebuah pernyataan tersebut."Ya, mas benar, sebentar lagi mereka juga akan jadi anak-anak,mas. Terima kasih mas, sudah selalu ada buat aku dan anak-anak dan sudah menerima aku dan anak-anak dengan tulus." ucap Anggi dengan mata berkaca-kaca
__ADS_1
Diwangga mengangkat tangannya lalu mengusap pucuk kepala Anggi yang ditutupi hijab. "Nggi, mulai saat ini dan seterusnya mas akan berusaha selalu ada untukmu, menjagamu, melindungi mu juga anak-anak. Mas juga akan menjadi sandaranmu, jadi jangan pernah ragu untuk membagi setiap kesusahanmu pada mas, berikan mas kepercayaan untuk membahagiakanmu juga anak-anak. Mas sangat menyayangimu dan anak-anak." ucap Diwangga tulus
Anggi pun mengangguk dengan antusias diiringi seulas senyum manis yang menyejukkan hati. 'Semoga bukan hanya sekedar ucapan.'
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan Karin dan Kevin. Anggi dan Diwangga pun sontak berdiri untuk mengetahui bagaimana keadaan Karin dan Kevin .
"Bagaimana dok keadaan anak-anak saya? Mereka sakit apa?" tanya Anggi panik
"Anda ibunya?" tanya sang dokter dan Anggi pun mengangguk
"Mari ikut ke ruangan saya untuk jelasnya. " ajak sang dokter yang diikuti Anggi dan Diwangga. "Silahkan duduk." ucap sang dokter saat mereka telah tiba di ruangan dokter yang bernama dokter Aisyah tersebut.
"Anak ibu, secara fisik memang hanya mengalami demam biasa, Bu. Tapi .." dokter Aisyah menjeda membuat Anggi makin panik bercampur bingung
"Tapi apa dok?"
"Tapi sepertinya penyebab mereka sakit adalah sebuah tekanan psikis. Apakah mereka sebelum ini mengalami sesuatu yang membuat pikiran mereka terbebani atau tertekan? Atau bisa juga mereka mengalami kekerasan verbal seperti sebuah bentakan atau ucapan dengan nada-nada tinggi?" tanya dokter Aisyah penuh selidik
Anggi tampak berfikir, ia selama ini tidak pernah marah sampai membentak anak-anaknya. Ia juga tak pernah berbuat sesuatu yang membuat anak-anaknya tertekan dan terbebani, jadi apa yang membuat psikis anak-anaknya terganggu, batinnya bermonolog. Tiba-tiba Anggi mengingat sesuatu dan menoleh ke arah Diwangga, Diwangga yang melihat tatapan itu seperti paham apa yang ingin diucapkan Anggi.
Anggi ingat semalam saat sebelum tidur, Damar sempat berbicara berdua dengannya. Saat itu Karin dan Kevin telah terlelap.
__ADS_1
"Ma..." panggil Damar seraya membaringkan kepalanya di paha Anggi
"Iya , sayang. Ada apa, hmm? Ada yang menggangu pikiranmu?" tanya Anggi seakan sudah paham kemana arah pertanyaan sang anak
"Itu ma, tadi Karin dan Kevin sangat ketakutan saat papa datang. Awalnya takut biasa, tapi saat Karin dan Kevin mendengar suara marah-marah papa dari dalam kamar, trus ngamuk-ngamuk, Karin dan Kevin jadi gemetar, ma. Mereka nangis nggak mau berhenti karena itu Damar makin takut keluar. Karin dan Kevin sampai sembunyi di balik selimut sambil nutup telinga karena ketakutan." cerita Damar
Setelah mengingat cerita Damar itu, Anggi pun mencoba menceritakannya kepada dokter Aisyah untuk mengetahui apa masalah itu juga bisa jadi penyebab Karin dan Kevin tertekan dan jawaban dokter Aisyah cukup memukulnya telak. Ternyata kemungkinan besar memang hal tersebut lah yang jadi penyebab si kembar sakit. Anggi kembali terisak mendengarkan penjelasan sang dokter.
" Bu, pak, bukan hanya orang dewasa saja yang bisa terkena gangguan psikis, tapi juga anak-anak. Karena itu kita harus benar-benar mengawasi setiap perubahan anak. Apalagi anak-anak belum bisa mengendalikan emosi mereka. Dan bisa jadi kali ini anak ibu mengalami yang namanya gangguan kecemasan. Mereka mengalami rasa cemas berlebih dan rasa takut yang dahsyat karena mendengar teriakan-teriakan, bentakan-bentakan, dan segala caci maki dengan nada yang tinggi . Rasa cemas dan takut yang dahsyat inilah yang akhirnya memicu mereka mengalami demam tinggi." tutur dokter Aisyah
"Jadi kami sebaiknya bagaimana dok?" kini giliran Diwangga yang mengajukan pertanyaan
"Kalian tak perlu terlalu khawatir, karena gangguan kecemasan pada anak Anda masih dalam tahap biasa atau belum parah, kalian cukup selalu mendampingi dan senantiasa menghibur dengan suatu hal yang relalistis. Dan yang utama karena penyebabnya adalah sikap ayahnya yang kasar dan suka berbicara keras dan terkesan membentak, bagusnya kalian bekerja sama dengan mantan suami Anda agar tidak lagi bersikap seperti itu. Kita tidak bisa menjauhkan mereka dari ayahnya, karena itu cara terbaik adalah menjelaskan dan bekerja sama agar tidak melakukan hal serupa apalagi di depan anak-anak." jelas dokter Aisyah
"Baiklah dok, kami akan coba bicarakan ini dengan ayah anak-anak. Terima kasih atas penjelasannya,dok." ucap Anggi ,lalu mereka pun keluar ruangan dokter Aisyah dan berlalu menuju ruangan dimana Karin dan Kevin dirawat.
Hati Anggi serasa diiris sembilu saat melihat anak-anaknya tertidur dengan selang infus menancap di lengan mereka.
"Lekas sembuh ya ,sayang. Mama sayang kalian." ucap Anggi sambil mengusap kepala Karin dan Kevin secara bergantian
"Om papa juga sayang kalian. Kalian cepat sembuh ya! Kalian pingin kan om papa jadi papa kalian beneran? Kalau iya, kalian harus cepat sehat. " ucap Diwangga sambil menggenggam erat dan mencium punggung tangan Karin dan Kevin secara bergantian
__ADS_1