
Azam yang sudah menunggu kurang lebih satu jam di ruang tunggu tamu tampak sibuk memeriksa email yang masuk ke ponselnya. Namun saat asik dengan gadgetnya itu, sayup-sayup ia mendengar suara perempuan yang mengalun merdu di telinganya. Padahal suara itu tampak hanya sebuah obrolan biasa, tapi anehnya di telinga Azam malah seperti sebuah nyanyian merdu. Ia pun penasaran dengan sumber suara itu, lalu Azam melangkahkan kakinya menuju sumber suara. Matanya sontak berbinar saat melihat wanita yang ada tak jauh darinya berdiri.
"Selamat sore, ini Bu Anggi, kan?" sapa Azam ramah menginterupsi pembicaraan antara Anggi dengan Bu Tatik.
"Iya benar, Anda siapa ya?" tanya Anggi penasaran karena merasa tidak mengenal lelaki itu.
"Oh iya, perkenalkan, nama saya Azam. Saya putranya Bu Ratna yang biasa memesan pakaian di sini." ucap Azam
"Oh, anaknya Tante Ratna. Kalau boleh tau, ada keperluan apa ya?"
Azam menggaruk tengkuknya yang tak gatal untuk menetralisir kecanggungan. Azam bingung harus menjawab apa. Dijelaskan kalau ia ingin berkenalan, rasanya terlalu canggung. Jadilah Azam membuat alasan ingin memesan pakaian batik untuk acara lamaran temannya.
Reaksi berbeda ditunjukkan Diwangga. Diwangga justru bersikap waspada sebab ia bisa membaca gelagat Azam yang agak aneh. Dari tingkah lakunya, dapat Diwangga lihat kalau lelaki bernama Azam itu memiliki ketertarikan pada Anggi. Ia memang percaya pada Anggi yang tak mungkin mudah berpaling hati, tapi ia harus tetap bersikap waspada bukan. Oh ya, jangan lupakan keberadaan Bu Tatik yang wajahnya sudah masam karena merasa diabaikan. Diwangga juga merasa waspada akan keberadaan mantan mertua calon istrinya tersebut. Beruntung, Anggi mengikutsertakan dirinya nanti saat Bu Tatik ingin bicara secara pribadi pada Anggi.
"Saya mau memesan pakaian batik untuk acara lamaran teman saya," tutur Azam. "Oh iya, ini ada titipan mama. Mama baru saja ada pembukaan cabang toko kuenya yang baru. Jadi mama ingin Bu Anggi mencicipi kue hasil toko kue milik mama," tutur Azam seraya menyerahkan sebuah paperbag yang menurutnya berisi kue tersebut.
Merasa tak enak hati menolak, Anggi pun menerimanya dengan tersenyum tulus seraya mengucapkan terima kasih. Ia tak tahu kalau senyum tulusnya itu justru menghipnotis Azam hingga membeku di tempat karena terlalu terpana akan senyum manis dan wajah cantik nan ayu milik Anggi.
"Ehem ..." Diwangga berdeham untuk membuyarkan lamunan Azam. Anggi yang menyadari maksud Diwangga hanya tersenyum simpul.
"Oh ya mas Azam, kalau begitu silahkan ikuti karyawan saya untuk mengukur badan dan memilih jenis dan motif kain." Anggi pun menitahkan salah seorang karyawannya untuk mengukur tubuh Azam dan mengajaknya melihat-lihat jenis dan motif kain yang dikira cocok sesuai keinginannya.
"Kalau begitu saya dan calon suami saya permisi dulu mas Azam," ujar Anggi sambil sedikit menganggukkan kepala sebagai sopan santun.
Duar...
__ADS_1
Seketika tubuh Azam menjadi lesu. Ia pikir Anggi masih sendiri begitu pun pikir mamanya, karena itu ia memberanikan diri datang ke toko untuk berkenalan walau dengan alih-alih memesan pakaian. Ingin membuktikan apa yang didengarnya tidak salah, Azam juga coba menanyakan pada karyawan Anggi siapa lelaki yang berdiri tegak di samping Anggi itu dan jawaban sama pun diberikan oleh karyawan Anggi tersebut. Acara mengukur baju yang tadinya penuh semangat pun berubah menjadi lesu dan tak bersemangat.
Di ruangan Anggi
Kini Anggi, Diwangga, dan Bu Tatik sudah duduk di sofa di ruang kerja Anggi. Anggi pun mulai menanyakan tujuan Bu Tatik menemuinya. Bukankah terasa aneh, mantan mertua yang biasa selalu bersikap ketus, tak ramah, bahkan suka mencemooh, tiba-tiba datang menemuinya dengan memasang wajah ramah dengan senyum palsu yang selalu terukir di bibir berpoles lipstik maroon tersebut.
"Ada perlu apa ya Tante menemui saya?" tanya Anggi to do point. Ia tak mau banyak berbasa basi dengan Bu Tatik. Kalau bisa, ia malah tak mau lagi bertemu dengan salah satu sumber pemberi luka dalam hidupnya. Bukan sedikit waktu dan usaha yang dilakukan Anggi meluluhkan hati Bu Tatik agar mau menerima kehadirannya, tapi semua sia-sia. Tak pernah satu kali pun usahanya dihargai. Justru caci maki yang selalu diterimanya.
"Nggi, kenapa kamu manggil mama tante-tante terus sih dari tadi. Biarpun kamu sudah pisah dengan Adam, mama kan tetap mama kamu. Nenek dari anak kamu dan Adam." Bu Tatik mengabaikan pertanyaan Anggi. Dia justru mengajukan protes karena dipanggil Tante oleh Anggi.
Anggi mengernyitkan dahinya. Ia tak habis pikir dengan pola pikir mantan mertuanya ini. Sebenarnya apa maunya wanita ini!
"Maaf tante, saya nggak bisa. Saya kan bukan menantu Anda lagi, jadi tak pantas saya memanggil Tante mama." ucap Anggi seraya tersenyum lebar.
Diwangga yang melihat interaksi antara Anggi dan mantan mertuanya itu hanya mengulum senyum. Dia pun sama penasarannya dengan Anggi, apa tujuan wanita tua itu datang menemui Anggi dengan memasang senyum devil seperti itu.
'Menyuruhku kembali lagi sama mas Adam? Heh, aku nggak setolol itu nyonya , mau masuk ke kubangan yang sama.' rutuk Anggi dalam hati.
'Hei, enak aja! Anggi itu itu milikku. Hanya milikku nyonya. Enak aja nyuruhnya kembali ke sisi bajing*n itu.' monolog Diwangga dalam hati.
"Terima kasih atas tawaran Tante, tapi maaf saya tak bisa." jawabnya berusaha tetap sopan. "Karena sebentar lagi saya akan menikah dengan mas Angga. " lanjutnya.
"Halah, palingan dia pelarian kamu aja kan! Udahlah, mending kamu balikan sama Adam. Lagian kamu cocoknya sama Adam, kerjaannya bagus, dari pada dia, pasti kerjaannya nggak jelas. Tampang aja yang ganteng, penampilan oke, tapi aslinya kere. Mama yakin, dia pasti manfaatin kesuksesan kamu buat berpenampilan kayak gini kan!" Bu Tatik mendelik.
Anggi dan Diwangga melongo, sontak mereka terkekeh tapi masih dalam tahap kesopanan.
__ADS_1
"Maaf Bu, saya bukanlah benalu seperti yang ibu pikir. Saya ini seorang pengacara. Saya memiliki firma hukum dan usaha sendiri. Penghasilan saya lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan Anggi. Tanpa saya bekerja pun, simpanan saya masih cukup untuk membiayai kehidupan Anggi dan anak-anaknya hingga 20 tahun ke depan," ujar Diwangga dengan menyunggingkan senyum senyum percaya dirinya. Sedikit menyombongkan diri di hadapan mantan mertua calon istri yang congkak, boleh bukan!
"Oke kalau kamu ngerasa kaya, tapi apa anak-anak Anggi mau menerima kamu? Saya yakin, anak-anak pasti akan lebih memilih tinggal dengan ayah kandungnya, dari pada ayah sambung yang belum tentu bisa menyayangi mereka sepenuh hati." sahut Bu Tatik lagi.
Lagi-lagi Diwangga menyunggingkan senyum lebarnya sambil mengotak-atik ponsel di tangannya. Anggi hanya melirik saja apa yang dilakukan Diwangga. Sama seperti Diwangga, kini Anggi turut tersenyum lebar saat Diwangga menunjukkan layar ponselnya yang sedang bervideo call dengan calon anak-anaknya.
"Hai om papa ... Hai mama ...!" teriak trio bocil berbarengan.
"Halo juga sayang." sahut Anggi dan Diwangga. "Gimana, enak tinggal di rumah Oma?" tanya Diwangga.
"Enak banget om papa, Oma sama opa beliin kami banyak mainan. Nggak sabar bisa main bareng sama mama dan om papa juga. " teriak Damar.
"Iya om papa, cepetan dong jadi papa kami. bial Ayin, Epin, sama Abang bisa main baleng sama mama dan om papa." ujar Karin.
"Om papa, nanti main bola sama Epin ya!" teriak Kevin.
Diwangga tersenyum lebar melihat tingkah lucu calon anak-anaknya itu.
"Kalian main aja dulu bertiga ya, nggak lama lagi kita pasti bisa main bareng." ucap Diwangga.
"Siap om papa. Bye om papa, kami mau belenang diajak opa." Karin pun segera menutup video call itu.
Setelah video call itu ditutup, pandangan Diwangga dan Anggi beralih ke arah Bu Tatik yang sudah memasang wajah masam. Dapat mereka lihat , mata Bu Tatik telah merah menahan gejolak amarah. Namun berusaha ia tahan.
"Tak usah pamer kebahagiaan kalian. Nggi, mama yakin kamu nggak akan bahagia sama dia. Mama berharap kamu masih mau balik lagi sama Adam. Bagaimana pun Adam adalah ayah kandung anak-anak. Belum tentu kasih sayangnya akan tetap sama apalagi saat kalian punya anak nanti. Dia pasti akan lebih menyayangi anak-anaknya dan itu pasti akan membuat anak-anakmu dengan Adam sedih. Jadi mama sarankan, lebih baik kamu kembali pada Adam, demi kebaikanmu dan anak-anak."
__ADS_1
Usai mengucapkan itu, Bu Tatik pun berlalu sambil menghentakkan langkah kakinya karena menahan geram atas penolakan Anggi. Terlebih saat ia melihat bagaimana interaksi antara Diwangga dan anak-anak Anggi, tentu ia merasa kesal, bagaimana orang asing bisa begitu dekat dengan anak-anak Anggi dan Adam hingga seperti itu. Bahkan anak-anak itu sudah menganggap ibu dan ayah Diwangga seperti nenek dan kakek kandungnya sendiri.