Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.62 Terpesona


__ADS_3

"An, udah ada kabar dari orang yang mau beli rumah itu?" tanya Adinda pada Anton. Rumah yang dimaksud Adinda adalah rumah milik Bu Tatik. Tanpa sepengetahuan Bu Tatik, Adinda dan Anton telah mengambil sertifikat kepemilikan rumah Bu Tatik. Mereka juga mengambil barang-barang berharga milik Bu Tatik. Beruntung mereka tak ketahuan karena saat itu Adinda dan Sulis sibuk mengurusi Bu Tatik yang masuk rumah sakit.


"Tenang aja, kata mereka dalam 1-2 hari ini mereka akan segera melakukan pembayaran dan kita bisa bersenang-senang." ucap Anton bahagia dengan tubuh saling memeluk dalam selimut.


"Biar mereka rasakan. Gue benci banget sama keluarga itu. Belagu, sok kaya, sombong, cih benci banget pokoknya." ucapnya sinis dengan sebelah bibir naik ke atas


"Udah, nggak perlu sampai benci segitunya, cuma bikin nyesek diri sendiri aja. Cukup kita balas perbuatan mereka dengan santai. Aku juga udah lama nggak suka sama keluarga itu karena itu aku jarang pulang dengan alasan kerja . Aku seringnya balik ke sini. Biar apartemenku kecil, yang penting nyaman. Malas ngeladenin si mulut kubangan yang cuma bisa ngomel dan banding-bandingin orang. Kamu nggak papa kan tinggal di apartemen kecil ini?" tanya Anton sambil mengusap punggung polos Adinda


"Nggak masalah sih, asal shoping tetap bisa jalan." ujarnya sambil terkekeh


"Dasar matre." ejek Anton mendelik


"Biarin. Yang penting happy. Oh ya satu lagi, yang nggak masalah tinggal di apartemen kecil ini, asal kamu bisa selalu puasin aku." ujar Adinda sambil menyeringai


"As you wish, baby." ujar Anton sambil terkekeh dengan tangan sudah menjalar kesana kemari, bermain-main di di titik-titik sensitif Adinda membuat hasratnya kembali membara.


"Kau memang selalu bisa membawaku melayang tinggi, An." ujar Adinda dengan nafas memburu


"Kita ini ibarat simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Kau bisa menyenangkan ku dan aku pun akan membalasnya dengan lebih baik lagi." ujar Anton dengan nafas terengah


.


.


.


"Nggi, kau ingat kan kita punya janji untuk makan malam bersama." ujar Aglian


"Tentu aku masih ingat. Apa kau sudah menentukan waktunya?" tanya Anggi

__ADS_1


"Ya, Minggu depan. Ku harap kau mengusahakannya. Mama pasti sangat senang melihatmu." ujar Aglian ambigu mengundang tanda tanya di benak Anggi. 'Mama senang? Memang kenapa mamanya senang bertemu kami? ' baru saja Anggi ingin menyuarakan rasa penasarannya, Karin menginterupsi pembicaraan mereka


"Ma, onty Tita sama om Laju jadi kan temenin kita malam ini?" tanya Karin


"Iya ma, kami udah kangen sama onty Tita. Minta onty buatin kami kue ya ma. " pinta Kevin


"Insya Allah jadi, tapi kalian janji jangan nakal ya. Sudah makan, jangan lupa minum obat, terus tidur biar cepat sehat." pesan Anggi


"Siap, ma." ujar Karin dan Kevin bersamaan


"Memang kamu malam nanti mau kemana, Nggi?" tanya Aglian


"Oh, aku mau temenin Mas Angga ke pesta pernikahan temannya." ujar Anggi memberi tahu sambil mengusap kepala Karin


"Oh, jadi anak-anak nanti dijaga siapa? Siapa itu onty Tita sama Om Laju?" tanya Aglian yang membuat Anggi dan Luna terkekeh karena Aglian ikut-ikutan Karin memanggil Raju , Laju.


Aglian melongo, "Oh , kirain. Laju. Makanya bingung, baru ini ada nama orang Laju, ternyata Raju. Oh iya, Raju itu yang jadi asisten pribadi kamu tempo hari, kan!" ujar Aglian


Anggi menggeleng -gelengkan kepalanya karena geli sendiri. "Tita dan Raju itu adik angkat aku. Sama kayak Luna, aku udah anggap mereka kayak adik kandung aku sendiri. Sebab saat mereka kecil, aku sendiri yang bantu bunda Yanti membesarkan dan mengurus mereka. Nah, itu ingat siapa Raju." ujar Anggi sambil terkekeh.


Aglian mengusap dagunya sambil tersenyum, ia merasa salut dengan kerendahan hati seorang Anggi yang begitu menyayangi adik-adik sepantinya.


"Oh ya Lun, bukannya kamu ada kelas sore?" tanya Anggi pada Luna yang memang sedang mengikuti kelas make up untuk memperdalam kemampuan meriasnya


"Oh iya mbak, mulai jam 5. Bentar lagi Luna juga mau pulang trus siap-siap." ujar Luna sambil melirik jam di pergelangan tangannya


"Kamu seorang mahasiswa?" tanya Aglian pada Luna


"Bukan mas, aku ikut kelas make up. Soalnya aku punya cita-cita jadi make up artis terus buka salon kecantikan sendiri." ucap Luna dengan mata berbinar

__ADS_1


"Wah, adik-adik kamu hebat semua Nggi. Aku jadi ikut bangga mendengarnya. " ucap Aglian tulus yang dibalas Anggi dengan senyuman hangat.


.


.


.


Malam telah tiba, kini Anggi tengah bersiap-siap untuk menemani Diwangga ke pesta pernikahan temannya. Seperti biasa, Anggi mengandalkan Luna untuk merias wajahnya. Sedangkan busana, ia telah menyiapkan sebuah gamis berwarna hitam dengan aksen renda berwarna gold di sepanjang lengan, dada, dan pinggangnya. Tak lupa ia mengenakan pashmina gold juga dan high heels berwarna senada. Malam itu Anggi tampak sangat cantik dan elegan, bahkan Luna yang seorang perempuan saja ikut terpana melihat penampilan Anggi.


Deru mobil sudah terdengar di halaman rumah. Tapi Anggi tak dapat mengenali suara mobil siapa itu. Sehingga ia meminta Lia melihat suara mobil siapa yang memasuki halaman rumahnya. Tak butuh waktu lama, Lia sudah kembali dengan senyum yang memancing curiga.


"Suara mobil siapa itu, Li? Kita kedatangan tamu?" tanya Anggi yang saat ini sedang dipoles bibirnya oleh Luna dengan lipstik berwarna merah untuk mempertegas kecantikan Anggi. Apalagi acaranya diadakan malam hari di sebuah hotel besar, jadi ia memilih warna yang dapat memberikan kesan tegas dan elegan pada Anggi. Tentu hal itu juga disesuaikan dengan warna kulit Anggi.


"Iya mbak kita ada tamu. Tapi bukan tamu yang nggak diundang." ujar Lia ambigu


"Maksudnya?" tanya Anggi penasaran


"Mbak udah selesai kan dandannya? Kalo udah, keluar aja biar nggak penasaran." ujar Lia sambil tersenyum-senyum membuat Anggi makin penasaran. Sedangkan Luna yang tau kemana arah pembicaraan Lia hanya bisa ikut tersenyum.


"sudah mbak, keluar aja. Nggak akan rugi kok nyambut Tami satu itu." ujar Luna ikut menimpali


Anggi melirik jam di dinding weker di atas meja riasnya sejenak. Lalu ia berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Seketika mata Anggi terpana melihat pemandangan di hadapannya begitu pun sang tamu, seketika jantungnya berdebar makin kencang.


'Fix aku udah nggak sabar nungguin 10 hari lagi . Ya Tuhan, kenapa nunggu 10 hari aja terasa lama banget sih.' gerutu Diwangga dalam hati


'Ya Allah, jantungku kenapa bisa berdebar hebat kayak gini. Udah kayak anak remaja baru jatuh cinta aja.' kekehnya dalam hati saat melihat penampilan Diwangga malam ini.


Dengan setelan jas slimfit berwarna hitam dengan dalaman kemeja putih dipadukan celana kain berwarna senada dan kakinya dibalut pantofel hitam menambah kadar ketampanan Diwangga. Padahal ia sudah beberapa kali melihat penampilan Diwangga yang memakai setelan jas, tapi ntah malam ini penampilan Diwangga terasa berbeda.

__ADS_1


__ADS_2