Pesona Mantan Istri Yang Disakiti

Pesona Mantan Istri Yang Disakiti
Ch.193 (S2) Emak sakit ???


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, namun Robi tak kunjung mendapatkan kabar mengenai Safa. Alhasil, ia selalu merasa uring-uringan sendiri. Makan tak tenang, tidur tak nyenyak, kerja tak fokus, karena yang ada di pikirannya saat ini hanyalah SAFA, SAFA, dan SAFA.


Memang benar kata bang Haji Rhoma Irama, kalau sudah tiada baru terasa, kalau kehadirannya sungguh berharga, sungguh berat aku rasa kehilangan dia, sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia.


"Ck ... kok aku jadi nyanyi dangdut sih!" gerutu Robi pada dirinya sendiri seraya menepuk jidatnya keras.


Kenal 3 hari, hilang kabar 1 Minggu, ternyata cukup mampu membuat Robi si map plastik laminating frustasi.


Tak cukup ia sering diteror Luna dan Aglian dengan tatapan tajam penuh kesal, di rumah pun ia jadi bahan omelan si Emak yang kecewa karena calon menantu idamannya kabur ke negeri orang.


ddrrt ...


Ponsel Robi bergetar, dilihatnya nama yang tampil di layar segi empat itu, ternyata bik Leha lah yang menghubunginya. Diliriknya jarum jam yang baru menunjukkan pukul 1, malas mengangkat karena berapa hari ini panggilan yang biasa ia khawatirkan itu justru berubah jadi panggilan teror, maka ia letakkan kembali ponsel itu ke atas meja.


"Ah, pasti ujung-ujungnya kena omel lagi! Malas ah! Nggak lama lagi juga pulang." gumam Robi pelan.


Lalu ia melanjutkan kembali memainkan jari jemarinya di atas keyboard. Mengetik beberapa urutan angka dan meletakkannya ke dalam tabel dan mengubahnya menjadi grafik dan kurva . Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan kewarasan yang tinggi. Walaupun kadang konsentrasinya tiba-tiba lenyap karena satu nama yang entah bagaimana keadaannya, namun sekuat tenaga ia usahakan agar fokusnya tak mengacau pekerjaannya karena salah meletakkan satu angka saja , maka akibatnya akan fatal.


Jam kerja sudah hampir habis. Ia akhirnya dapat menghela nafas lega. Sepulang dari kantor, ia kembali berencana mendatangi rumah Safa. Ya, sudah satu Minggu ini ia memiliki kebiasaan baru yaitu mendatangi rumah Safa untuk mengetahui kabarnya. Syukur-syukur, saat datang ia dapat bertemu dengan orang yang dicarinya itu, tapi sepertinya nasib sial sedang betah menempel padanya sebab setelah selama satu Minggu penuh ia mendatangi rumah itu, tak sekalipun ia mendapatkan kabar berita dari gadis pengusik hatinya itu.


"Astaga, apa dia nggak bakal balik lagi ya! Bisa kacau kalau memang benar dia nggak balik-balik lagi kesini. Bisa-bisa Emak setiap hari marah-marah melulu." Robi menghela nafas berat sembari menelungkupkan wajahnya pada kemudi mobil miliknya.


"Safaaaaa ... kapan kamu balik lagi sih? Kenapa kamu hadir kalau hanya untuk mengacaukan hidupku lalu pergi tanpa pamit, hah?" Robi menggeram frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri. "Apa ini balasanmu atas sikap menyebalkanku dan meninggalkan dirimu sendirian tanpa peduli perasaanmu? Kalau iya, aku mohon maaf, Fa! Aku mohon maafkan aku. Aku ... aku ... Aku merindukanmu." lirih Robi dengan nafas tercekat dan mata memerah. "Mengapa dadaku sesak sekali, Fa, mengapa dadaku sesak sekali saat tau kau pergi? Aku tak mengerti dengan perasaanku ini, Fa, aku sungguh tak mengerti mengapa aku seperti merasa sangat kehilangan saat kau tiada. Katakanlah aku ini bodoh, Fa, bahkan mungkin sangat bodoh karena tak bisa menafsirkan perasaanku sendiri tapi yang pasti aku sangat-sangat merindukan dirimu, Fa." lirih Robi yang kini benar-benar frustasi.


Dengan wajah kusut, Robi pun kembali mengendarai mobilnya menuju ke rumah. Baru saja ia berdiri di depan pintu rumahnya, suara berisik bik Leha membuatnya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ada apa bik? Kok bibik kayak panik gitu?" tanya Robi heran saat melihat ekspresi tak biasa dari bik Leha.


"Itu den, Emak ... Emak ..."


Seketika wajah Robi memucat khawatir, "Emak, emak kenapa, bik?" tanya Robi panik. Dengan langkah lebarnya, Robi segera memasuki kamar si emak. Di sana Si Emak sedang terbaring lemas dengan wajah pusatnya.


"Mak, emak kenapa? Emak sakit? Kita ke rumah sakit ya ? " Robi terlihat sangat panik sekarang.


"Baru mikirin emak, kamu hah? Tadi siang kemana saat bik Leha coba telepon kamu? Dasar anak nggak ada perasaan." omel si Emak seraya memalingkan wajahnya.


"Maaf Mak, maafin Robi, siang tadi Robi sibuk dan butuh konsentrasi penuh untuk menyelesaikan pekerjaan Robi makanya Robi nggak sempat angkat panggilan dari bik Leha. Maafin Robi, Mak. Kita berobat ke rumah sakit, ya?" ajak Robi dengan wajah memelas.


"Nggak, biarin aja emak sakit, kamu kan juga tega sama emak. Udah nggak peduli sama emak. Nggak peduli juga perasaan emak yang udah kangen sama Safa. Mana Safa? Apa yang sebenarnya kamu lakuin sih, Bi sampai neng geulis pergi gitu? Atau kamu selingkuh jadi neng Safa kabur ke luar negeri, hah?" cecar Si Emak membuat Robi meraup kasar wajahnya.


"Robi nggak pernah selingkuh, Mak. Robi juga nggak ada hubungan apapun sama Safa . Jangan bahas Safa dulu ya, Mak! Kita berobat dulu, nanti baru bahas Safa lagi." bujuk Robi.


"Mak, yang anak emak itu Safa apa Robi sih kok kayaknya emak lebih peduli sama Safa sih?" protes Robi kesal.


"Kamu berani marah sama Emak sekarang? hiks ...hiks ... hiks ... almarhumah bapak kamu aja yang super nggak peka gitu nggak pernah marah sama Emak. Dia tau caranya membahagiakan Emak, tapi kamu malah hiks ... hiks ... hiks ... Bapak, emak kangen. Robi anak kita udah nggak sayang emak lagi. Biarin Emak sakit, anak Emak juga udah nggak sayang Emak lagi." ujar Si emak seraya menangis terisak.


"Mak, maafin Robi Mak, maafin Robi, Robi nggak sengaja. Bukan maksud Robi kayak gitu. Robi udah usaha Mak cari Safa , bahkan Robi ke rumahnya tiap hari berharap bisa ketemu tapi hasilnya nihil, Mak. Robi udah usaha, tapi Safa emang nggak kembali-kembali. Bisa jadi ia kembali menetap di sana kan selama ini selama 10 tahun terakhir dia tinggal di sana, Mak." ujar Robi frustasi.


"Mak mau tanya sama kamu, tolong jawab yang jujur sama Emak, kamu suka nggak sama Neng Safa?" tanya Si Emak serius membuat jantung Robi berdetak kencang.


"Robi ... Robi ..."

__ADS_1


"Jawab! Jangan gugup kayak anak ABG baru mau nyatain cinta aja pake gugup segala." tegas Si Emak. Entah wajah lemah, letih, lesunya tadi menghilang kemana. Yang ada hanyalah si Emak dengan tatapan mengintimidasinya.


"Robi ... Robi sebenarnya udah mulai suka sama Safa." ujar Robi terbata .


"Kalau kamu suka ya perjuangkan, bod*h! Bukan cuma mencari ke tempat yang jelas-jelas dia nggak ada di sana. Kalau perlu, susul sana Neng Safa nya ke Australia, pasti dia bakal senang dan langsung klepek-klepek sama kamu." ujar Si Emak dengan nada tegas membuat pikiran Robi menerawang, 'Haruskah aku menyusul ke sana? Tapi memang benar kata emak, kalau suka ya perjuangkan, sebelum ada yang lebih gentle sanggup merebut hatinya.' monolog Robi dalam hati.


"Baiklah Mak, Robi akan perjuangkan.. Robi mohon doa restunya ya, Mak. Secepatnya kalau perlu malam ini Robi akan terbang ke sana dan mencari keberadaan Safa." ujar Robi dengan wajah sumringah dan Si emak tampak tersenyum bangga.


Lalu Robi meminta Bik Leha menjaga si Emak. Kalau sakitnya makin parah, bisa bahaya.


Setelah Robi keluar, Si Emak dan Bik Leha ber'high five ria, "TOS." seru Si Emak dengan senyum lebarnya.


"Wah, akting Emak emang luar biasa. Kenapa Emak nggak jadi artis aja sih!" puji bik Leha membuat Si Emak tertawa pelan seraya membusungkan dadanya begitu bangga.


Sedangkan di negeri kangguru sana, tampak seorang gadis dengan rambut terurai panjang sedang melamun di balkon kamarnya. Pikirannya menerawang, benarkah jalan yang ditempuhnya ini? Apakah rencana mereka akan berhasil? Ia masih penasaran. Ia khawatir rencana orang-orang itu justru makin menjauhkannya dari Robi. Hingga suara dering telepon genggamnya berbunyi dan saat ia angkat bukan suara orang yang hendak berbicara dengannya lah yang terdengar, melainkan suara pembicaraan antara 2 orang berbeda usia membuat gadis itu mengerutkan dahinya saat mendengar pembicaraan itu. Namun rasa terkejut itu hanya terjadi beberapa saat, sebab setelah kedua orang itu selesai bicara , bibir gadis itu seketika tersungging manis sekali. Jantungnya berdebar, dadanya bergemuruh, "Mungkinkah ia benar-benar datang?" tanya Safa pada dirinya sendiri.


...***...


Eaaaa .... eaaa .... Bang Obi, mo nyusul yaaa!!!


...***...


...Lanjut besok ya! Jari-jari ampe kaku ngetik ribuan kata per hari. 🤣😂 Tp demi para readers, othor rela asal setia stay tune, like, komen, vote, dan kasi hadiah. 😄🤣🙏...


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2